
Setelah menempuh perjalanan udara selama beberapa jam. Akhirnya mereka mendarat juga di bandara Abdulrachman Saleh, Malang Jawa Timur. Dion yang lebih memilih memejamkan matanya karena kurang tidur sejak semalam. Sedangkan Kania memilih untuk tidak mengganggu pria aneh itu. bagaimana tidak, sekarang dirinya kelaparan. Perutnya sudah berisik minta diisi, tetapi tak mungkin Kania meninggalkan pria itu sendirian di sana.
Kania menoleh ke sembarang arah, barang kali Ia melihat kafetaria di sana. Namun sayangnya Ia malah bertemu dengan pria asing. Sosok tampan, tinggi menjulang dan berbadan kurus jika dibanding Dion.
“Hei Cewek! Sendirian nih?” pria itu menggoda gadis bertubuh kecil itu, menatapnya dari atas ke bawah sambil tersenyum mengejek.
“Kok kecil? Seleranya udah ganti kayaknya! haha... ” suara tawa pria itu terdengar tak asing bagi pentolan geng yang terbangun mencari Kania.
“Heh, jangan kurang ajar ya!” bentak Kania. gadis itu hendak pergi, namun langkahnya dihadang kembali oleh pria itu.
“Wah, kecil-kecil galak juga, Biasanya si Kampret suka yang gemesin dan berisi kayak Dis - ...”
“Woy!!”
Suara Dion memecah ketegangan itu dan menghampiri keduanya. Kania takut jika kedua pria itu akan baku hantam, mengingat Dion sangat mudah tersulut emosi. Namun gadis itu terkejut, saat Dion menghampirnya dengan raut sumringah.
“Hahaa... Masih hidup Lo?” sapa Dion, mereka berdua melakukan tos tinju dan berpelukan.
“Haha, sial! Oh ini, penggantinya si Bohay?” Iwan menertawakan Dion yang sepertinya putus asa karena gagal move on dari anak kepala sekolah, istri dari Vicky.
“Heh Kania, kenalin Ini Iwan kawan Gue yang lainnya.” Dion mencari-cari dimana partner pria cungkring itu, karena sejak tadi Dion tak melihat Yoshi, gadis tomboy kekasih Iwan.
“Langsung aja Bro, Yoshi lagi di kafe, doi belum sarapan saat gue ajak terbang tadi.” Kania melihat kedua pria itu, benar-benar berbeda. Semua teman Dion adalah pria yang pengertian dan perhatian kepada gadisnya, namun sangat berbanding terbalik dengan pria brengsek di depannya ini.
‘Mungkin karena Dion tak pernah memiliki hubungan yang benar dengan seorang perempuan, membuat hatinya menjadi dingin.’ Kania bergumam sambil mengedikkan bahunya.
Gadis tomboy berambut coklat melambaikan tangan saat melihat Iwan dan Dion dari kejauhan. Yoshi berlari dan merangkul Dion dan melakukan tos seperti sebelumnya.
“Heh, masih suka berantem Lo?” tanya Dion.
__ADS_1
“Masih Lah, siapa lagi kalau bukan Gue yang bakal jagain si cungkring ini!” ledek Yoshi. Tatapan gadis itu beralih kearah Kania yang hanya tersenyum melihat keakraban mereka semua.
“Hai! Lo pasti pacarnya si kampret ini ya? jangan kesal ya, emang Dion setelan pabriknya begitu! keras, tapi baik kok.” terang Yoshi kepada Kania, “ya Kan sayang?”
“Ayo lah udah siang! Gue ngantuk nih!” mereka berempat menaiki mobil jemputan dari hotel yang sudah di booking Vicky. namun sayang formasi mereka belum lengkap, karena Bayu juga Vicky tak ada disana. Iwan menceritakan banyak hal tentang kejadian di Bandung saat kedua temannya kembali ke Jakarta.
“Haha... Lo telat Wan, mahluk yang Lo maksud udah nyangkut di rumah Gue!” Dion berkata sambil menatap Kania. Melihat reaksinya, sepertinya tak terjadi apa-apa. Mereka berencana menghabiskan waktu sambil menyusun rencana dengan perjanjian yang dibuat oleh Papanya Dion.
“Lo berdua udah...?” tanya Iwan, alisnya naik turun meledek teman sebangkunya dulu.
Dion meninju lengan pria cungkring itu yang mengaduh. Kedua temannya sama saja brengseknya. Nggak Vicky nggak juga Iwan, kenapa terus menerus menanyakan hal itu. mereka tahu, Dion tak akan pernah bisa melakukannya, dengan gadis yang tak Dion cintai. Sayangnya sampai kapanpun keinginan itu tak akan bisa terjadi.
“Ah, Gue curiga, kalau selama ini Lo itu ... hahaha....” Iwan dan Yoshi menertawakan Dion yang tampak mati kutu saat membicarakan hal-hal yang menjurus kesana.
Setibanya di hotel Yoshi mengajak Kania untuk memeriksa kamarnya. Sayangnya Yoshi tak mau diajak sekamar dengan gadis itu. tujuan mereka ke Malang adalah untuk melarikan diri dari kejenuhan kesibukan mereka. Juga membantu Dion untuk menemukan perasaannya.
“Bagaimana Lo bisa kenal dengan pentolan geng itu? Pasti Lo nggak nyangka kan? kalau pria sekeren dia masih jomblo, ehem... maksud gue masih, ya You know lah Kania.” Yoshi memberikan sebuah paper bag kepada gadis itu.
Setelah masuk ke kamarnya, Kania menuju pintu kaca besar yang terhubung ke balkon. Menarik napas dalam-dalam dan melepaskan segala kepanatan yang terjadi dalam hidupnya. Sepertinya keputusan keluar dari rumah adalah hal yang benar, namun kenapa dirinya justru terperengkap dengan pria seperti Dion.
Gadis itu merebahkan diri di ranjang besar yang nyaman. Ia memejamkan mata disana, namun setelah beberapa saat menyadari, hanya ada satu tempat tidur disana.
‘Kenapa hanya ada satu?’ Kania bangkit dan mencari ranjang yang lain, namun tak kunjung ia temukan. Mungkin Kania berpikir dirinya salah mendapatkan kamar, dan Gadis itu keluar tepat dengan seseorang masuk ke dalam.
Brukk!!
“Aduh!” pekik Kania, sembari mengelus keningnya yang membentur sesuatu yang keras di sana. Saat mendongak ternyata Dion.
“Mau kemana Lo?”
__ADS_1
“A-anu, Gue rasa Gue salah kamar!”
“Nggak ada yang salah, memang Cuma satu ini yang udah di pesan. Kalau nggak percaya ya sudah!”
Pria itu melewati Kania dan merebahkan dirinya di tempat tidur. Dion merasakan sakit kepala, dan tak ingin berdebat dengan siapapun. Tak sampai setengah jam gadis itu kembali, karena semua kamar ternyata sudah dipesan. Adapun kamar dengan harga yang membuatnya geleng-geleng kepala, membuat gadis itu memutuskan untuk menghemat uangnya.
“Dion, Lo nggak lapar? kita berdua belum makan dari pagi?” lirih gadis itu. karena tak ada jawaban Kania hendak pergi namun tangannya diraih dengan cepat oleh Dion.
“Heh, Gue mau tanya sama Lo?”
“Tanyanya nanti saja ya, Gue udah nggak kuat mau makan.” Dan benar saja tenaga gadis itu seperti lenyap saat dengan sedikit tenaga Dion menarik perelangan tangan Kania, hingga nyaris menimpa tubuh Dion.
“Berapa banyak Duit yang Lo terima?” lirih Dion ke telinga gadis itu.
Kania menatap Dion serius. Ia takut jika diminta untuk mengembalikannya, bahkan harus mengabdi seumur hidup di perusahaan Pak Chandra pasti juga belum cukup untuk melunasinya.
“Ke-kenapa tiba-tiba, Lo bertanya tentang uang itu? Lo bu-butuh uang?”
Kania memundurkan diri, karena wajah serius Dion sungguh menakutkan.
“Katakan saja,berapa? seratus , dua ratus, lima ratus?”
Hening...
“Sa-Satu Milyar ...,”
Dion tersenyum, sepertinya perhitungannya tidak meleset. Untuk seorang gadis polos seperti Kania nominal tersebut pasti sangat banyak, dan jika diminta untuk mengembalikan uangnya pasti Ia tak akan mampu.
“Nanti Malam, Lo harus mulai “bekerja” karena Lo udah terima duit pemberian Nyokap gue! sekarang Gue mau istirahat dulu, menyiapkan diri buat makan Lo!”
__ADS_1
Dion kembali tidur, sedangkan gadis itu? mematung seakan tak percaya dengan apa yang ia dengarkan.
“Bekerja...? Nanti malam...? Makan Gue...?”