
Kania yang baru sadar merasa tertegun melihat kehadiran Dion. Bahkan mengecup keningnya di depan Sigit. Kania bingung dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Seingatnya, Ia dan Sigit tengah berdebat perihal ketakutan kekasihnya.
Sigit yang manis, perlahan menjadi paranoid dan rendah diri. Takut akan ditinggalkan oleh Kania, yang terus diikuti Oleh Dion. Apalagi sekarang Ia mengetahui, bahwa ternyata Kania telah hamil anak pria itu. Kesempatan Sigit untuk bersama Kania semakin kecil.
Jo dan Richie, hendak membawa Sigit pergi karena urusan administrasi dengan pihak rumah sakit telah selesai. Kania meminta Sigit untuk membawanya. Namun Sigit, meninggalkan Kania setelah mencium tangan gadis itu tanpa sepatah kata.
“Sigit tunggu!” panggil Kania dengan suara mengiba. “Kamu beneran mau ninggalin Aku di sini, hm?”
Richie menghentikan mendorong kursi roda itu, Ia menangis melihat drama percintaan bos nya yang teramat baik.
“Sudahlah Kania, biarkan pria itu pergi, dia yang sudah menyebabkan kecelakaan itu terjadi,”
“Hentikan Pak, please! Ini masalah pribadi Kania sama Sigit.” Sela gadis itu. Melihat Sigit tak bergeming, Kania melanjutkan ucapannya.
“Bukannya Kamu memintaku untuk bangun? Bukannya kamu yang menungguku? Sekarang kamu mau pergi begitu saja?”
Sigit tak sanggup melihat Kania menangis, Ia pun tak menatapnya. Menjawab pertanyaan itu sambil lalu.
“Selesaikan dulu urusan kalian, Aku akan kembali nanti! Ayo Richie!” Sigit pergi meninggalkan mereka berdua.
“Setelah Lo keluar dari pintu ruangan ini, Gue pastikan Lo akan menyesal. Pergi, urusin tuh Ibu baru Lo!” kesal Dion.
Ketiga pria itu meninggalkan Kania dan Dion. Dan beberapa menit berselang sepasang suami istri memasuki ruangan Kania di rawat.
“Kania, Gue mohon Lo ngerti kondisi Lo sekarang ini.” Dion memeluk Kania yang terus marah, karena pria yang berstatus bos nya telah mengacaukan hubungannya dengan Sigit.
Dion menangkup wajah mungil gadis cantik itu, dan meyakinkan Kania jika Dion telah mencintainya dan takut kehilangannya.
“Gue sayang sama Lo, takut kehilangan Lo. Bahkan saat tahu Lo hamil dari dokter, Gue semakin yakin kalau Lo emang harus jadi milik Gue!”
Gadis itu menangis. Dan tak berani menatap Dion. Sekarang Sigit, Richie dan Jo pun tahu, jika Kania hamil anak dari pria lain.
“Percaya sama Gue, Lo nggak akan menyesal sayang. Mau Lo lari ke ujung dunia, kalau Lo emang ditakdirkan jadi istri Gue, Lo nggak bisa apa-apa.”
Kania pasrah, Saat Dion meredakan amarahnya. Mencium bibirnya singkat.
“Ehm, kebiasaan!” tegur Agnes mengejutkan keduanya. Dion semakin salah tingkah. Melihat Mamanya datang tidak dengan tangan kosong.
“Tante... Tahu dari mana Kania di sini?” Kania menyalami keduanya. Chandra yang khawatir, sejak kapan hidup Kania penuh kekacauan seperti ini. Selama bekerja dengannya tak pernah sedikitpun Kania mendapat masalah.
Pandangannya kini tertuju pada pria muda dengan kemeja flanel. “Dion, Dion, Kamu apain lagi anak gadis orang?”
“Tuh Lo dengar Kania! Gue lagi yang jadi sasaran Bos besar. Padahal tadinya Gue mau datang ke acara pernikahan Yoshi.”
Semuanya menatap Dion. Padahal Dion tak jadi datang, tapi kenapa Dion memanggil gadis itu dengan sangat akrab. Kania pun terhenyak. Dion mengambil duduk di sisi ranjang Kania terbaring, supaya bisa melihat reaksinya saat Ia mencoba menceritakan masa lalunya.
“Jadi Pa, Ma, Yoshi itu adalah pacar Iwan. Yoshi dan Dias dulu teman satu bangku di sekolah. Dion dengan Dias sedangkan Iwan dengan Yoshi. Sayangnya Dion tak sampai dua bulan kemudian putus. Sedangkan hubungan Iwan berjalan sampai kemarin yang kurang lebih berjalan lima tahun.”
“Yang benar kamu Dion? Jangan mengarang cerita kamu!”
__ADS_1
“Ck, tanya Vicky. Iwan saja sampai masuk rumah sakit Ma!”
Kania menarik kemeja Dion. Membuat pria tampan itu menoleh dan tersenyum.
“Kenapa sayang? Kamu butuh sesuatu?”
“Sayang, sayang...” sahut Chandra, menggoda keduanya.
“Benar Pak, Yoshi menikah dengan Pak Dewa?” tanya Kania memastikan kepada orang tua Dion yang menghadiri acara itu.
“Benar Nak, Mama kamu juga tadi sempat foto bersama. Mungkin gadis yang bernama Yoshi tak mengenali kami berdua, karena memang belum pernah bertemu.” Dion tersenyum, saat Chandra meminta Kania untuk memanggil Agnes dengan sebutan Mama.
Agnes mengusir Dion untuk pindah tempat. wanita cantik itu mendekat ke arah Kania dan mencoba pendeketan kembali. Karena hubungan mereka berdua sempat hambar beberapa saat lalu.
“Sayang, Kami langsung kemari saat Dion memberi kabar. Kami khawatir, tak ada yang merawatmu. Pulang ke rumah ya Nak, temani Tante mengurus bocah badung itu.” Tunjuk Agnes kepada Dion.
Kania tertunduk. Air matanya menetes. Agnes benar, Kania tak ada tempat bersandar sekarang. Keluarga Wijaya memang sangat berjasa untuk kehidupannya.
“Kania, pikirkan baik-baik. Kami semua sayang sama kamu. Dion juga kan?” Agnes merapikan rambut panjang Kania, karena hanya memiliki anak laki-laki yang badungnya tak karuan, Agnes menginginkan Kania.
“Kamu mau kan, menikah sama anak Tante? Memang sih, nakal. Tapi kami yakin kamu bisa membuatnya menjadi pria yang bertanggung jawab. Contohnya seperti sekarang.”
...
Sigit dalam perjalanan ke rumah. Ia tak ingin kembali ke rumah sakit. Perkataan Dion benar-benar menyinggungnya. Sayangnya setibanya di rumah Sigit tak menemukan Mamanya.
“Benar Mas, kami berdua bisa bergantian merawat Mas Sigit di rumah.”
“Tolong antar Saya ke kamar ya Richie!”
Richie dan Jo meninggalkan Sigit sendirian di kamar. Melihat laci mejanya berisi botol obat yang Ia konsumsi secara rutin. Semangat hidupnya bukan dalam botol-botol itu. Tetapi gadis kulit putih dengan tahi lalat di bawah bibir.
Sesekali Sigit tertawa, selepas itu Ia menangis. Dadanya sesak, menyaksikan Dion tiba-tiba datang dan menghancurkan semuanya.
“Arrrgggghh”
Sigit berdiri, dan membuang benda berbahan stainless dengan roda itu.
“Kania, kenapa Aku tidak bisa membuat keputusan semudah itu! Kenapa...! Hanya untuk menjawab Ya atau tidak saja, Aku butuh banyak waktu untuk berpikir. Aku benar-benar mencintaimu Kania, Aku menerimamu, bahkan dengan kehamilanmu itu...”
Sigit terpuruk di sudut ruangan. Dengan menelungkupkan wajahnya di lipatan kedua tangannya.
“Kania, Aku bisa mati tanpamu. Tolong jangan pergi!”
...
“Yang, Dion mengirim pesan kalau Kania kecelakaan.”
Vicky yang sedang berbaring di pangkuan Dista pun memeriksa pesannya.
__ADS_1
“Coba telepon Dion Yang, Aku mau dengar penjelasannya kenapa bocah itu tak membalas pesan kita kemarin.”
“Kamu aja nih, Nanti marah lagi!”
Vicky tertawa. Pria dingin itu menghubungi Dion dengan nomor istrinya. Dan benar saja baru satu kali berdering, sudah langsung diangkat.
Vicky
[Bocah brengsek! Giliran nomor Dista aja cepat banget Lo angkat teleponnya!]
Terdengar suara tawa di seberang. Memang sudah terekam di alam bawah sadarnya. Panggilan dari Dista adalah panggilan spesial yang harus di utamakan. Namun, itu dulu. Kini prioritas Dion berganti haluan kepada Kania Dinara.
Dion
[Bro, kita jadi berbesan kan?]
Vicky
[Dasar bocah sableng, Katanya Kania kecelakaan malah ngajakin besanan. Oh iya, Iwan udah di Jakarta. Kalau ada waktu kita kesana.]
Dion
[Beres! Gue sekarang masih di Bogor. Nanti Gue ke rumah Lo kalau Kania udah boleh balik. Sekalian balikin mobil Lo!]
Vicky
[Santai Bro, Oh iya si Yoshi mau honeymoon ke Bali sama si Om. gimana kalau kita susulin ke sana?]
Dion
[Ajak Iwan gitu? Nanti kalau Si cungkring bikin keributan gimana?]
Vicky
[Memang itu rencana Gue! Jangan sampai nunggu lima tahun nggak dapat apa-apa, Lo paham kan maksud Gue? Gue tunggu Lo di rumah.]
Hahaha...
‘Brengsek si Vicky, kalau urusan begituan aja cepat banget. Tapi benar banget sih. Minimal sekali dua kali lah ngicipin.’
“Cepat sembuh ya, Gue sama anak-anak mau ke Bali. Dista lagi ngidam. Kamu mau ikut?”
Agnes memberi kode pada gadis itu untuk mengiyakan. Tangan Agnes terulur dan mengusap perut Kania dengan lembut.
“Kalian berdua sekalian, Oke!”
“Tapi Tante...”
...
__ADS_1