Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 145. Kebahagiaan Iwan


__ADS_3

Iwan Bruggman, sosok cungkring yang jarang marah. Suka berkelakar dan solid dalam pertemanan. Meskipun anak orang kaya, tetapi Iwan tak terlihat mencolok.


Nilai-nilai akademisnya tak pernah jauh dari Dion Wijaya. Bedanya Iwan mau berusaha meskipun akhirnya mentok di situ-situ juga. Pria humoris dan lembut, bertemu dengan gadis keras kepala dan pantang menyerah seperti mantan atlet taekwondo, Yoshi.


Setelah mendapatkan barang belanjaannya, Yoshi berlari mengejar Iwan yang ternyata hanya duduk bergabung dengan tukang parkir untuk menghilangkan rasa kesalnya.


Huuh.. huuh...


“Brengsek Lo Cungkring, pakai acara ngambek begitu sama Gue!” umpat Yoshi.


“Sudah?”


Yoshi memberikan telapak tangannya ke arah Iwan, untuk menunggunya lima menit lagi. Ia terengah kehabisan napas. Takut di tinggalkan sendirian lagi seperti dulu. Iwan menahan tawa melihat kelakuan Yoshi yang tidak pernah berubah. Sesekali perlu memberi pelajaran kepada Yoshi.


“Maksud Gue, sudah sadar belum pikiran Lo?”


“Hehe, Sorry Gue khilaf. Gue nggak akan pernah bilang seperti itu lagi, juga nggak akan pernah berpikiran buruk lagi Beb!” rayu Yoshi.


“Lo udah nggak marah kan? Baikan?” Yoshi memberikan jari kelingkingnya dan mengajak Iwan untuk segera kembali rumah konglomerat itu.


...


Saat yang lain tengah berpesta menikmati barbeque di balkon. Yoshi menyelinap ke kamar mandi. Membawa benda ajaib yang diusulkan temannya. Diam-diam gadis berambut coklat itu mencoba salah satu alat tes kehamilannya. Namun Ia bingung bagaimana cara menggunakannya. Ia lupa membawa ponselnya ke toilet.


“Gimana ini cara pakainya? Duh, mana udah tanggung begini.” Yoshi mondar-mandir di dalam kamar mandi. Setelah membaca aturan pakaianya Ia semakin pusing karena tak wadah untuk menampung cairannya.


Tak kehabisan ide, Yoshi keluar untuk mengambil botol air mineral dan membuang airnya. Membelahnya menjadi dua dan mengeringkannya. Yoshi seperti berada dalam dunianya sendiri. entah kenapa, setelah melihat Iwan kecewa dengannya Yoshi semakin bersemangat untuk memeriksa kondisinya.


“Ayo keluar... ayo...!” gumam Yoshi. Menunggu wadah itu terisi hingga setengahnya. Ia mengikuti semua aturan dalam balik kemasan itu. Merendam alat itu sampai Ia diharuskan menunggu 5-10 detik untuk melihat garis merah atau biru yang bergerak naik.


Jantung Yoshi berdegup, seperti menunggu hasil pengumuman kelulusan. Saat baru mulai muncul satu garis merah, terdengar suara ketukan pintu yang mengejutkannya.

__ADS_1


“Beb, Lo di dalam?”


Saking kagetnya Yoshi menjatuhkan tampungan wadah itu dan mengenai bajunya.


‘Ah, Sial! Pakai acara tumpah lagi, gimana ini pakaian Gue, pasti bau.’


“Beb!”


“Tunggu sebentar!”


Yoshi terus mengumpat, sembari membasuh pakaiannya dengan air. Hingga Ia melupakan strip yang Ia letakan di tempat yang kering. Setelah membereskan kekacauannya, gadis tomboy itu keluar dan menjitak kepala Iwan karena terus mengganggunya.


“Ada apa sih? Ganggu banget tahu nggak sih Lo!”


“Cie begitu marahnya, nih ponsel Lo bunyi terus dari Sigit. Ada hubungan apa Lo sama dia?” cecar Iwan. Keduanya pun meninggalkan kamar mandi dan segera menghampiri teman-temannya. namun sebelumnya, Yoshi ingin meminjam pakaian Kania yang bersih. Ia merasa tidak nyaman dengan baju yang kotor itu.


Setelah memilah beberapa pakaian Kania, hanya ada satu dres yang pas dengan ukuran Yoshi. beda tinggi badan mereka pun menjadi perkara besar. Pasalnya Yoshi seperti gadis muda yang mengidap busung lapar. Tubuh kurusnya memakai pakaian diatas lutut dengan perut buncit seperti kembung. Kania pun menghibur Yoshi karena memang tak ada lagi yang pas dengan bentuk tubuhnya.


...


Di Negara lain, Sigit diminta Rosi untuk menghubungi Yoshi. Kondisi Ayahnya telah membaik dan ingin bicara dengan gadis tomboy itu. Pria yang sudah tak muda lagi juga sakit-sakitan.


Dengan tubuhnya sudah sering terpasang peralatan medis, dan juga pernah terbaring di meja operasi. Obat-obatan menjadi makanan sehari-hari. Jika bukan karena pengorbanan anak gadisnya, mungkin pria itu sudah tinggal nama. Pria itu ingin meminta maaf untuk semua beban yang Ia berikan kepada Yoshi.


Rosi juga mengatakan kepada pria itu, jika Yoshi adalah gadis yang baik. Ia melakukan kewajibannya sebagai anak yang berbakti, meskipun judulnya adalah sebuah keterpaksaan.


“Nanti akan saya coba hubungi lagi Pak, lebih baik Anda istirahat dulu.” pinta Rosi.


Mendapati kode dari Mamanya, Sigit mengedikan bahu karena memang belum ada respon dari Yoshi. Mantan kekasih Kania itu terus mengirimkan pesan. Bukan hanya Yoshi saja yang mendapatkan pesan itu, tetapi juga Kania. Membuat yang lain merasa khawatir.


“Yoshi, Lo udah dapat pesan dari Sigit kan?” tanya Kania.

__ADS_1


“Tadi kata Iwan, ada telepon dari Sigit Cuma Gue belum tahu buat apa Dia hubungin Gue.”


“Ini tentang Ayah Lo Yoshi, Gue tanya ke Sigit tapi nggak ada balasan lagi.” Sampai berganti pagi pun tak ada kabar lagi dari Rosi maupun dari Sigit.


...


Mereka semua bangun kesiangan akibat begadang hingga larut, termasuk sang pemilik rumah. Kecuali seorang kepala rumah tangga yang satu ini. Ia dan istrinya berkutat di dapur, memasak banyak makanan untuk membangunkan seisi rumah dengan aroma masakannya yang lezat.


Sebab masih pagi dan hanya bibi pengurus rumah yang baru bangun, mereka berdua bisa menggunakan dapur seperti rumahnya sendiri. Sesekali Vicky ingin mengerjai teman-temannya dengan aturan yang Ia buat. Akibat dua pasangan itu bangun bersamaan, mengakibatkan mereka berebut untuk menggunakan kamar mandi.


“Yang nggak mandi, dilarang makan masakan Gue!” pesan Vicky untuk seisi rumah. Termasuk Chandra dan Agnes yang terus minta kelonggaran, karena masakan pria itu sudah dipastikan menggugah selera. Bibi pengurus rumah pun tertawa melihat kediaman besar itu menjadi hiruk pikuk di jam yang masih terbilang pagi.


“Apa ini?” Dion mengambil sebuah benda yang tergeletak di atas wastafel. Setelah mandi Ia membawanya turun ke bawah. bisa dipastikan benda itu milik salah satu temannya. Hanya Dion yang turun paling akhir. Saat semua sudah duduk di meja makan, tak mau melewatkan sarapan paginya kali ini.


“Wah pada gercep kalau soal makan, Oh iya Gue nemuin sesuatu nih di kamar mandi.” Dion menunjukan benda itu. seketika semua orang di meja makan kesulitan menelan makanannya, karena Ingin segera mengatakan sesuatu.


“Kayaknya Gue tahu itu punya siapa, hasilnya pasti positif kan?” ucap Vicky.


“Bukan, disini nggak ada tulisan positif. Cuma ada tanda sama dengan nih.” balas Dion.


Vicky ingin mengumpat temannya yang satu itu. Kalau bisa ingin sekali menghajarnya karena gregetan. Bahkan Dista, Agnes dan Chandra pun menutup wajahnya karena menahan antara tawa dan malu dengan kelakuan pria tampan itu.


“Astaga Nak, Mama nggak bisa berkata-kata apa lagi soal kamu. Vicky, tolong ditatar bocah itu! Tante menyerah, Nak.” ungkap Agnes. Kania pun hanya tertawa melihatnya.


Vicky meminta Dion untuk duduk, dan mengambil benda itu dari tangan Dion lalu menyerahkan kepada pemiliknya yang sesungguhnya. Yang tak lain dan tak bukan pasti si tomboy. Vicky menghampiri Iwan dan mengatakan jika sebentar lagi hajatnya akan terpenuhi.


“Dan ini punya Lo kan, selamat nyonya Yoshi sebentar lagi Lo akan menyusul kedua wanita itu.” tunjuknya kepada Kania dan Dista yang mengangkat gelasnya.


“Gue Hamil?”


...

__ADS_1


__ADS_2