
Baru kali ini Chandra melakukan perjalanan jauh tanpa ditemani seorang sopir. Seperti sedang melakukan perjalanan dengan keluarga, Sigit mengambil alih posisi itu. Dengan Kania duduk di depan, menemani mantan kekasihnya.
Meskipun canggung, tetapi keduanya mencoba seolah tak pernah terjadi apa-apa. Chandra bertanya perihal keluarga Sigit dan pria dua puluh satu tahun itu menceritakannya secara detail, termasuk ibu mudanya yang ternyata teman dekat Dion Wijaya.
“Om sudah mendengar tentang Yoshi, apa kamu tidak canggung? Lebih cocok menjadi kekasihmu dari pada menjadi istri Papamu, Om hanya bercanda, jangan diambil hati,” kelakar Chandra memecah keheningan.
“Tidak apa-apa Om, Sigit justru jarang bercanda dengan Papa, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. soal kekasih, Sigit sudah memiliki gadis pilihan Om,” ucap Sigit sembari melirik gadis dengan tahi lalat di bawah bibir itu.
“Wah, siapa gadis yang beruntung itu? buruan dinikahi nanti kayak nasib Dion yang patah hati bertahun-tahun, untung saja ada Kania jadi Om tidak perlu susah payah mencari gadis untuknya.”
Tanpa Chandra sadari, ucapan pria itu menusuk hatinya. Rupanya memang benar, ternyata dirinyalah yang memasuki kehidupan Kania dan pria sok jagoan itu. semenjak obrolan itu, mereka bertiga tidak ada yang mengatakan sepatah katapun.
Sigit menuju minimarket yang berada di sisi jalan. membeli kebutuhan untuk mereka bertiga selama perjalanan. Kania pun tersenyum mendapati hal itu.
“Wah, kamu tahu banget kalau aku butuh ini, thanks ya Git!” sebuah permen asam pereda mual dalam perjalanan. Chandra melihat keakraban dua anak adam itu, pria itu berfikir mereka selayaknya rekan kerja. Kania seorang sekretaris dan Sigit adalah seorang penerus pengusaha besar.
“Kania, kamu sudah menghubungi Dion?” tanya Chandra.
“Belum Pa, ponselnya terhubung tetapi tidak diangkat, Papa istirahat saja kita masih separuh perjalanan!” Kania memberikan sebotol air mineral untuk Papanya sebelum pria itu memejamkan matanya.
“Kamu sangat berbeda dengan Dion, anak Om lebih mirip Mamanya apalagi kalau di minta mengemudi seperti ini, mana bisa Om istirahat, haha...”
“Papa...” bujuk gadis itu, yang mulai keberatan jika ada yang membanding-bandingkan Dion dengan Sigit. Pria yang terus tersenyum di balik kemudi mengacak rambut Kania, karena merasa lucu.
...
Tengah malam Dion dan Gunawan menuju tempat yang tertulis dalam catatan itu. Lokasi pergudangan itu berada tak jauh dari rumah sakit. Ia melihat banyak pekerja yang sedang mengemas obat-obatan terlarang yang siap di kirim ke pelabuhan.
“Gila Bang! ini serius punya Dewa?”
“Benar, kemarin kita baru menutup satu pabrik dan pria itu tak pernah kembali ke Jakarta, kamu sadar dengan hal itu?”
“Ehm, Dia juga sering melakukan kekerasan kepada istrinya. Sepertinya kita berurusan dengan orang yang berbahaya.”
“Bukannya Lo jagoan? Haha...”
__ADS_1
Gunawan menghubungi anggotanya dalam jumlah besar untuk menggeledah dan menangkap para pekerja itu. Saat kembali untuk mengajak Dion ke mobil rupanya pria berlesung pipi itu sudah tak ada di sana.
Gunawan mencari suami Kania juga terus menghubunginya, tetapi nomornya menjadi tidak aktif. perwira dalam balutan pakaian sipil segera kembali ke mobil namun, Dion juga tak ada di sana.
Menjelang fajar, penggerebekan gudang itu pun akhirnya selesai. puluhan pekerja diringkus dan ratusan paket berisi obat-obatan terlarang berhasil disita, akan tetapi Dion juga masih belum ada kabar sampai Gunawan kembali ke hotel tempat mereka menginap.
Gunawan meminta anak buahnya untuk mencari Dion, tetapi juga tak ada petunjuk sedikitpun tentang pentolan geng itu. Sampai sebuah panggilan masuk ke ponselnya dari Chandra, Gunawan memintanya untuk menuggu di lobby hotel tempat dirinya menginap.
Chandra
[Nak Gunawan, apakah Dion sedang tidur? atau sibuk, nomornya tidak bisa dihubungi sejak pagi.]
Gunawan
[Anda berada di Bandung? Baik Pak tunggu saya di Rumah sakit saya akan segera kesana.]
Gunawan mengenakan jaketnya, Ia merasa ada yang aneh sejak semalam. Setelah menutup pabrik itu, anak buahnya telah menyisir gudang itu untuk mencari Dion. Namun tak juga ditemukan, Ia berusaha untuk tetap tenang meskipun Ia juga harus mengurus jasad dokter muda itu yang ditemukan banyak kejanggalan di tubuhnya.
Kania dan Sigit memeriksa bangunan rumah sakit yang hampir jadi sepenuhnya. Suasana yang sejuk membuat gadis itu betah berlama-lama, meskipun aroma cat dan beberapa material di sana membuatnya tidak nyaman.
“Kamu bisa bekerja denganku kalau kamu mau, bukankah itu cita-cita kita kemarin sayang.” goda Sigit yang melihat Kania menutup hidungnya.
“Hmm, tanya sama diri kamu sendiri dulu deh. Kamu sendiri yang tidak yakin dengan hubungan kita waktu itu, benarkan?” Kania berjalan cukup jauh dari Sigit sampai Ia memasuki sebuah ruangan kosong dan gelap.
‘Ruangan apa ini? ehm, baunya...’
Krieett...
Kania tanpa sengaja menginjak balok kayu rapuh yang berserakan di sana, membuatnya nyaris jatuh akibat tergelincir banyaknya material di sana. Gadis itu sudah menutup matanya, khawatir akan jatuh mengenai kerasnya lantai di ruangan itu.
“Eh,” Sebuah tangan sudah menangkap tubuhnya. Ia berpikir jika itu Sigit Virgiawan, seperti yang sering pria itu lakukan. Siap sedia dimanapun Kania membutuhkannya. Sayangnya, itu bukan.
“Kenapa kamu bisa sampai di sini, hem...?” suara itu membuat Kania merinding, dan menoleh ke belakang.
“Ssi—apa kamu?”
__ADS_1
Dengan cepat tangan halus gadis itu sudah tak bisa digerakan lagi.
“A—apa yang sedang kamu lakukan? Siapa kamu? lepaskan aku!” berontak Kania dengan mengeraskan suaranya yang menggema dalam ruangan gelap itu. tubuhnya terus bergerak membuat pria di belakangnya sedikit kualahan.
“Pantas saja Sigit sangat menyukaimu, ternyata kamu begitu aktif dan menyenangkan, hem...”
“Ssi—sigit? Kamu...?”
“Aww...” gadis itu merasa kesakitan saat kedua tangannya sudah terikat sempurna.
“Kenapa? Kamu kaget ya?” sudah lama saya menunggu momen seperti ini, tetapi kalianlah yang datang sendiri menjemput ajalmu!”
Dari arah kejauahan terdengar suara Sigit memanggil nama Kania berulang kali, Kania yang menyadari hal itu segera menyahut tetapi pria di depannya yang tak tampak dalam kegelapan menampar pipinya dua kali untuk menghentikan suaranya.
“Sshhtt, hentikan! Kamu sudah banyak menyakitinya, jangan ganggu dia lagi!”
“Pak Dewa...?”
Haha...
Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senternya. Tangannya menyorot ke salah satu arah yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Kamu lihat dia? Kamu menghancurkan hati Sigit hanya untuk bersamanya...”
Kania mengikuti arah sorot cahaya itu, dan berteriak mencoba melepaskan diri saat melihat ciri-cirinya sama seperti dengan suaminya, tubuhnya telah bersimbah darah, tetapi Kania dapat mengenal dengan baik pria berlesung pipi itu.
“Apa yang kamu lakukan padanya?” isak Kania.
Sampai sebuah benda tajam telah melingkar di leher jenjang milik gadis itu. Dewa memintanya untuk tidak banyak berbicara saat Ia mendengar langkah kaki semakin mendekat ke arah ruangan dimana mereka berada.
‘Kania?’
“Lepaskan dia!”
...
__ADS_1