Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 39.Dilema


__ADS_3

Pagi – pagi pria cungkring itu menyusuri lorong rumah sakit dengan membawa bungkusan. Suasana masih tampak lengang di luar, namun saat memasuki lantai ruangan Kania terbaring, banyak orang sudah sangat sibuk. Lantas membuat Iwan penasaran, siapa sosok pengusaha besar yang akan menikah di rumah sakit ini?


Iwan memasuki ruangan Kania, tetapi pandangannya tak lepas dari pintu di seberangnya.


“Eh Lo kenapa nggak tidur Kania? baru jam Enam, Lo perbanyak istirahat siapa tahu besok bisa pulang.” Kania berusaha meninggikan bantalnya. Melihat gadis itu kesulitan Iwan membantu membetulkan posisinya.


“Nggak tahu Wan, padahal Gue udah ngantuk berat dan berusaha tidur, tapi matanya susah diajak kompromi. Entah kenapa perasaan Gue nggak enak, sejak kita tiba di rumah sakit ini.” Kania merasakan sesak dalam dadanya, namun tak ingin mengungkapkan kepada pria itu. Iwan duduk di samping bed tempat Kania , memberikan segelas air minum untuknya.


“Kenapa? Lo mikirin Dion?”


Raut wajah Kania tak bisa berbohong, perasaan benci, cemas dan khawatir itu tetap ada. Namun sekali lagi Kania benci pria brengsek itu yang sudah mengambil kehormatannya. Kania menunjukan puluhan chat dan juga belasan panggilan tak terjawab dari pentolan geng itu. Iwan, hanya tersenyum kecut.


“Kenapa nggak Lo angkat, siapa tahu Dion mau minta maaf! Gue udah tahu alasan Dion berbuat seperti itu, Ya... meskipun menurut Gue Dion udah keterlaluan, tapi pasti ada yang memicunya hingga berbuat seperti itu. Coba ceritakan sama Gue, tentang peristiwa malam itu!” bujuk Iwan


Hah...


“Wan, Andainya Lo jadi cewek dengan keadaan seperti Gue, Lo pasti nggak akan bicara segampang itu.”


“Memangnya keadaan seperti apa yang Lo maksud? Gue lihat Dion suka kok sama Lo! memang caranya aja yang anti mainstream, nggak semua orang bisa tahan dengan kelakuannya.”


Kania menceritakan bagaimana pertama kali dirinya bertemu Dion, sangat konyol dan menyebalkan. jika selama bekerja beberapa tahun dengan Pak Chandra, baru kali ini bertemu anaknya yang kelakuannya di luar akal sehat.


Hahaha... Iwan tidak tahan mendengar pengakuan Kania. Bagai mendapat cerita humor dari kisah cinta Dion yang selama ini tak pernah terekspos, bagaimana selama ini Dion berinteraksi dengan para gadis.


Setahu Iwan, Dion memang suka bercanda, tetapi tidak dengan sembarang orang. Hanya Dista, Dias dan Yoshi, gadis yang bisa sangat akrab dengan pria itu. Sedangkan yang lain hanyalah sebatas penggemar seorang Dion Wijaya.


“Kania, Gue berteman sama bocah itu cukup lama. sejak masuk SMA sampai sekarang, Dion Cuma memperlakukan gadis itu dengan dua cara berbeda karena pria jagoan itu terlalu jujur, tak boleh ada yang disembunyikan. Suka atau Benci, Lo hanya akan melihat dua sisi itu dari Dion.” jelas Iwan.


Kania mengangguk, karena Ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana saat Dion begitu ingin menyingkirkan sang mantan, dan juga bagaimana Dion begitu mendewikan Dista. Namun cara Dion kepadanya berada ditengah-tengahnya.


“Lalu, bagaimana perasaanmu sebenarnya, Cuma itu saja yang perlu Lo sadari.”


“Gue, nggak tahu, sampai peristiwa malam itu terjadi, Gue yakin Dion sangat marah!”


...


Pukul Tujuh, Yoshi dan Dista turun dari mobil. Vicky tak ikut turun karena sudah di tunggu di kantor. Sedangkan halaman parkir rumah sakit saat ini sepertinya cukup padat, membuatnya susah mencari jalan keluar. Tiba-tiba Mobil seseorang datang dan menghalangi mobil Vicky yang hendak melaju, membuat suami Dista mengejar pemilik mobil itu.


“Bro, sorry ...!” sapa Vicky.


Pria dengan kemeja navy itu, berbalik saat Vicky menepuk punggungnya. Tatapan keduanya bertemu, mereka baru sadar jika pernah bertemu sebelumnya. Apakah ini yang dinamakan kebetulan? Seperti tak ada tempat dan waktu lain saja untuk bertemu.


“Eh, Mas yang waktu itu kan? Saya Sigit, yang bertemu Kania waktu itu, masih ingat kan?”


“Oh, Sigit! Ya Gue ingat.” Reaksi Vicky seperti biasa saja. karena Yoshi pernah bilang jika tindakan Dion, ada kaitannya dengan dirinya juga.


“Sorry Bro mobil Lo nutupin jalan, jadi Gue kejar Lo sampai kemari, Gue lagi buru-buru soalnya!”

__ADS_1


“Oh Maaf Mas, tadi saya juga ada ... ehm, keperluan mendesak. saya pindahkan mobil dulu.” Dari belakang Vicky dan Sigit seorang pria menyusul dan menginterupsi obrolan mereka berdua.


“Biar saya saja Pak Sigit yang memindahkan...,” ucapan Pria itu menggantung, Sigit mengedipkan matanya cukup lama seakan memberi kode untuk diam dan tidak mengganggu dirinya yang tengah berbincang.


“Nggak perlu, biar Saya saja.” Sigit meminta pria itu untuk pergi dan melanjutkan obrolannya dengan Vicky.


“Kerja di sini?” pertanyaan dari pria dingin, membuat Sigit begitu canggung.


“Iya Mas, saya bekerja di Kafe sebelah rumah sakit, Mas sendiri siapa yang di rawat di sini? Pacarnya?”


“Bukan, tapi teman istri saya yang sakit. Gue cuma mengantar sampai lobby. Kita sambung lain kali Bro, masih ada pekerjaan, thanks!” ucap Vicky sambil lalu.


...


Setelah kepergian Vicky, Sigit kembali ke ruangannya untuk memperingatkan beberapa staf nya untuk tidak menyapa dirinya di depan umum jika tidak sedang bertugas. Ia tak ingin banyak orang tahu tentang profesi dirinya yang sebenarnya. Terlebih dengan sebutan “Pak”, mengingat pria itu baru berusia 21 tahun.


“Maaf Mas!” semua staf serentak meminta maaf.


“Ya sudah, kalian boleh kembali bekerja.” Sigit melanjutkan pekerjaannya. Namun kedatangan Vicky pagi ini dan pertemuannya dengan Dion kemarin membuatnya penasaran. Dan ingin mencari tahu siapa pasien yang tengah di rawat di rumah sakit ini.


Sigit


[Kania, kamu lagi apa?]


Kania


Sigit tersenyum berbalas pesan menggunakan emoticon seakan lebih dekat dengan gadis manis itu, Sigit juga meminta alamat dimana Kania tinggal, jika ada waktu mereka bisa menghabiskan waktu bersama.


Sigit


[Berarti kamu sudah kembali ke Jakarta dong? Aku baru saja bertemu dengan temanmu, Dia mengantarkan istrinya menjenguk temannya yang sedang sakit.]


‘Tunggu! Jika Sigit melihat Vicky dan Dista disini, berarti Pria itu juga berada di rumah sakit ini kan, Gue harus menanyakan lagi. dimana mereka bertemu dan di rumah sakit mana itu.’


Kania


[Kamu bertemu mereka dimana?]


Sigit


[Di rumah sakit Permata Medika, Kenapa? Kamu tahu rumah sakit itu? Aku bekerja disana]


...


Kania hendak membalas pesan dari Sigit, namun sudah melihat Yoshi diambang pintu. Tetapi gadis tomboy itu sendirian, tak melihat sosok Dista disana. Yoshi juga terus menoleh ke arah tempat sumber suara yang mengganggu.


“Berisik banget ini rumah sakit!” keluh gadis itu.

__ADS_1


“Beb, Jangan berdiri di pintu! Ayo masuk! Iwan menarik gadis itu masuk ke ruangan, tak ingin pacaranya menjadi biang gosip akhirnya mereka bertiga di dalam membicarakan masalah kesehatan Kania.


Menyadari ponselnya bergetar Kania buru-buru membuka pesan itu.


“Ehm, Kalian tahu dimana Gue di rawat?” tanya Kania penasaran, hanya untuk memastikan keberadaan pria yang bernama Sigit.


...


Selama Hamil Dista menjadi sering ke kamar mandi. Sama seperti pagi ini, sibuk mencari toilet yang berada di lantai bawah namun semuanya sedang di bersihkan. Tak mau rekannya menunggu, Dista Meminta Yoshi untuk pergi lebih dulu. Sampai Dia memasuki lift yang menuju ke tempat Kania.


Ting!


Pintu lift nyaris tertutup sempurna, hanya ada dirinya saja di dalam ruangan kotak besi itu. Tiba-tiba ...


Brak!!


Suara hentakan kaki yang menahan pintu lift yang menjepit kakinya, hingga pintu itu kembali terbuka. Dista terkejut dan nyaris jatuh. Namun dengan cepat tubuhnya dapat ditopang dengan sempurna oleh pria didepannya. keduanya saling tatap hingga beberapa detik, bisa bertemu di tempat seperti ini, dalam situasi yang sangat tidak diinginkan.


“Lo nggak apa-apa?”


Dista menelan saliva nya, melihat pria dengan setelan kemeja formal dengan sangat rapi menahan bobot tubuhnya. Dista melepaskan dirinya perlahan.


“Harusnya Gue yang tanya, kenapa Lo bisa ada disini! ... Lo juga balik ke Jakarta begitu aja, nggak ada rasa tanggung jawabnya Dion!” Dista meluapkan rasa kesalnya dan menekan tombol lift tempat dimana Dias dan Kania di rawat, Dion yang melihatnya segera membatalkannya dan menggantinya dengan lantai gedung paling atas.


“Lo sakit?” Dion Khawatir.


“Bukan Gue, tapi – ...”


“Dista, Gue nggak bisa jelaskan kondisi Gue saat ini! Waktu Gue nggak banyak. Gue hubungi kalian juga nggak ada yang respon, terlebih Kania, apa dia juga ikut kembali ke Jakarta?” Dion terlihat khawatir.


Pria itu membawa Dista ke rooftop. Menitikkan air matanya di bahu kecil wanita itu. Sangat susah menjelaskan posisinya saat ini. Hatinya teramat sakit, namun merubah keputusan dalam detik-detik terakhir, tentu saja dapat mencoreng nama baik keluarganya.


Dion menggenggam tangan Dista dan meminta kekuatan darinya. Wanita muda itu bingung, karena Dion terus diam dan menundukkan kepalanya. Dasar hati Dista yang sensitif dan mudah iba, mengusap punggung temannya yang kuat itu.


“Sebenarnya ada apa sama Lo, cerita Dion!”


Sembari menetralkan hatinya, Dion membuat satu permintaan.


“Gue mau ketemu Kania, sebentar saja! Lo bisa kan bantu Gue?” pinta Dion.


...


Dista turun ke lantai VIP, dengan langkah tanpa tenaga dan pikiran yang tidak fokus, Ia melihat ruangan seberang yang ditunjukkan oleh Dion. Dista tak habis pikir jika Dias masih saja terus mengganggu dirinya dan teman-temannya. Saat Ia sedang melamun menatap pintu itu, Seorang wanita cantik dengan setelan kebaya rose gold melihat kearahnya lalu menghampirinya.


‘Duh gawat! Mana Mamanya Dion lihat Gue lagi. Kalau Gue terus terang sama Mamanya Dion tentang siapa Dias sebenarnya, apakah semua akan merubah keadaan?’


...

__ADS_1


__ADS_2