
Malam itu menjadi obrolan terpanjang dalam sejarah Agnes dengan putra tampannya, Dion Wijaya. Saat ditanya siapa nama gadis itu, Dion hanya meringis, tetapi Agnes bisa menebaknya. Beberapa hari terakhir Dion lebih perhatian kepada Kania. seperti tadi sore contohnya, saat sekretarisnya sakit Dion tampak bingung dan meminta persetujuannya untuk membawanya ke rumah.
“Ya udah Ma, Dion mau tidur dulu, besok pagi ada yang harus Dion persiapkan! Sorry Lo Jeng Agnes anakmu yang tampan ini terpaksa mengganggu istirahat Jeng dengan Bos besar, hehe...” Dion tertawa sembari berlari ke tangga. Sedangkan Agnes hanya tertawa, waktu yang terbuang dulu harus Ia tebus sekarang. Itulah janji Agnes kepada Dion, apapun keputusannya Agnes akan percaya.
...
Triingg....
Suara alarm membangunkan gadis yang matanya masih lengket. Entah ada sihir apa semalam, Ia begitu nyenyak dalam tidurnya. Genggaman tangan Sigit masih sangat jelas Kania rasakan.
“Sweet banget sih anak orang, Nggak kayak yang satunya! Udah playboy, tengil, seenaknya sendiri. huh! Kalau nggak ingat hutang, Gue mau pindah kantor aja!”
Kania hendak beranjak dari ranjangnya yang cukup nyaman, meskipun tak se-empuk ranjang di rumah besar Dion, tetapi kehidupannya sekarang kembali normal. Ia jadi teringat dengan Ibunya, bagaimana kabarnya sekarang. Saat hendak menghubungi Asri, ponselnya berkelip karena Kania mengaktifkan mode diam.
‘Ah, orang pertama yang Gue lihat akan menunjukan bagaimana hari ini berlalu.’ Gumam Kania. “Wah, dari Sigit, semoga hari ini menyenangkan ya!”
Sigit
[Halo cantik, sudah bangun? Coba tebak, Kenapa pagi-pagi Aku menghubungimu?] Sigit menyunggingkan senyum manis miliknya. Dari wajahnya tampaknya Sigit sudah tak berada di rumah.
Kania yang tampak acak-acakan membuat Sigit semakin menyukainya. Gadis itu tak memiliki rasa jaim sama sekali. Entah malu, minder atau insecure dan Sigit sangat menyukai gadis yang penuh percaya diri seperti Kania.
Kania
[Ehm, apa ya? Kamu lagi di luar ya? Pagi-pagi kamu kemana? Bukannya semalam pulang larut?]
Merasa di perhatikan Sigit sangat beruntung, padahal pria manis itu sudah berusaha menyembunyikan posisi dirinya sekarang. Namun, Kania masih bisa menyadarinya. ‘benar-benar gadis yang peka.’
Sigit
[Taraa!]
Sigit menunjukan abang-abang penjual es dawet yang sedang bersiap untuk berdagang. Sigit menunjukan gambar pria paruh baya, dengan topi bucket nya dan handuk yang tersampir di lehernya.
“Pak, say hello dulu sama gadis cantik di seberang telepon, semalaman dia nyariin bapak tapi nggak ketemu.”
__ADS_1
Sigit
[Gimana Kania, kamu suka kan?]
Kania menutup mulutnya. Seakan tak percaya dengan apa yang dilakukan teman prianya itu. bahkan sekarang masih pukul enam pagi, dan Sigit sudah berada di depan rumah pedagang es dawet itu. rasanya Kania semakin tak enak jika terus merepotkan Sigit. Apa yang bisa Kania lakukan untuknya sebagai balas budi?
Kania
[Ih so sweet, Sigit kamu bisa banget deh bikin Aku kagum sama kamu! nggak... nggak ... bukan ke kagum lagi, tapi kamu melebihi ekspektasi tahu nggak sih?]
Wajah Sigit merona,Ia tak menyangka kejutannya membuat gadis itu begitu bahagia. Padahal bagi Sigit ini hanyalah hal kecil yang bisa pria itu lakukan. Betapa beruntungnya pria yang bisa mendapatkan hati gadis yang mudah bersyukur seperti Kania. Sigit semakin yakin dengan keputusannya untuk melanjutkan hubungan mereka berdua lebih dari sekedar teman.
Sigit
[Aku bahkan sudah mencicipi minuman ini, hmm Aku takut kamu ketagihan, haha... sekarang kamu mandi terus ke kantor, Aku akan segera menuju ke sana. Eh, tunggu dulu Kania, apa kondisimu sudah membaik?]
Kania
[Hmm, hanya sedikit berkurang pusingnya. Mungkin pola makanku saja yang kurang teratur. Aku janji akan lebih menjaga kesehatan mulai sekarang! Oke, Aku bersiap dulu ya!]
Sigit
Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Sigit segera meninggalkan rumah pedagang es itu yang Ia dapat dari pegawainya. Sigit juga sudah mulai lagi mengonsumsi obatnya, Ia harus mulai rutin jika ingin segera sembuh dan tidak ketergantungan dengan benda berbau khas rumah sakit itu.
‘Gue belum pernah sebahagia ini, thanks Kania.’
Sepanjang perjalanan Sigit bernyanyi meskipun cuaca pagi ini masih terasa dingin bagi tubuhnya yang kurang istirahat, Namun pria manis itu menikmatinya. Sigit mengendarai mobil miliknya, karena motor matic kemarin adalah milik Jo dan Ia harus mengembalikannya nanti.
‘Parkir dimana ya yang dekat dengan kantor Kania, hm....’ Sigit bergumam. Akhirnya Ia melihat sebuah mini market yang menyediakan makanan cepat saji di beberapa lost sebelum bangunan kantor besar milik Wijaya Group.
Sigit memarkirkan mobilnya di sana. Dengan jaket hangat miliknya Sigit melangkah dengan riang. Sesekali bersiul, karena hatinya berbunga-bunga. Namun pria manis itu tak menyadari, ada sosok rivalnya yang berada dalam lokasi yang sama sebelumnya.
“Gila, tukang kopi bawa gerobak begini! Mana bisa disebut cowok sederhana! Kania, Kania ... Lo menolak Gue, karena alasan nggak pantas masuk di keluarga Gue? tapi selera Lo ternyata nggak main-main!”
Dion lebih membawa motor kesayangannya, dengan helm full face miliknya Ia melaju untuk tiba lebih dulu di kantor sebelum gadis itu datang.
__ADS_1
Bingo! Tepat seperti dugaannya, Kania datang dengan raut sumringah. Dion menatapnya melalui kaca spion miliknya. Suasana kantor yang masih pagi belum banyak staf yang datang, membuat Dion lebih leluasa untuk bicara banyak hal dengan Kania. di tangannya Ia rela menenteng sebuah kantung plastik untuk sarapan gadis itu.
Diiinnn!! Terdengar suara klakson yang cukup nyaring yang membuat semua orang terkejut.
Braakk!!
Suara hantaman keras tepat di depan trotoar arah masuk ke kantor besar itu. Dua orang korban kecelakaan sepeda motor dari pengemudi yang mengantuk. Dan membanting kemudinya ke arah Kania dan salah satu Office girl di kantor itu. Dion berlari sekuat tenaga untuk melihat peristiwa itu. Ia terpaksa membuang bungkusannya ke sembarang arah, padahal Ia niatkan untuk sarapan Kania yang sering terlambat makan.
“Aduh!” pekik seorang gadis.
“Kania, Kamu nggak apa-apa kan?” lengan seorang pria telah merengkuh tubuh gadis itu tepat waktu. Jika tidak, Kania tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Seorang office girl pun mampu menghindar meskipun terdapat luka-luka kecil pada tubuhnya.
“Kania menatap pria di hadapannya, yang ternyata adalah Sigit. Dari kejauhan Sigit sudah melihat sepeda motor tersebut melaju dalam keadaan tak normal, pria manis itu lantas mempercepat langkah tepat seperti perkiraannya.
“A-aku nggak apa-apa Git! Terima kasih ya!” keduanya bertatapan cukup lama, sampai suara berat milik seseorang menyadarkan kedua pasangan muda itu.
“Kania!”
Dion mendorong Sigit, melepaskan jarak diantara mereka berdua dengan kasar. Kania yang melihatnya menjadi marah. Apalagi Dion bersikap seperti pahlawan kesiangan seperti itu. Padahal Dion hanya mengkhawatirkan kondisi gadis itu juga pikirannya terhadap bayi kecil yang ada dalam perut Kania. bahkan Dion sudah tak peduli lagi dengan sarapan yang khusus Ia berikan untuk sekretarisnya, asalkan Kania selamat dalam peristiwa itu.
“Pak! Anda tidak boleh berbuat seperti ini! Sigit yang sudah menolong Saya, nggak sepantasnya Pak Dion berbuat demikian. Kania berdiri di depan Sigit, melindungi pria manis itu dari serangan Dion tiba-tiba. Namun Dion tak melakukan hal apa pun yang akan memperburuk citranya.
“Gue khawatir sama Lo Kania! sama keadaan Lo juga ... Aah! Terserah lah!” Dion meninggalkan kedua orang itu. Lagi-lagi Dion tak mampu menjelaskan permasalahan mereka berdua. membuat pikiran negatif Kania semakin bertambah panjang tentang Dion.
“Kamu nggak apa-apa kan Sigit? Sorry ya sikap Dion kadang keterlaluan.” Kania melihat baju Sigit basah, akibat salah satu cup bawaannya pecah. Sigit hanya mampu menyelamatkan satu-satunya yang menjadi keinginan gadis itu.
“Sorry ya, Karena nggak berhati-hati jadi pecah begini! Tapi masih ada satu kok, lain kali kita pergi berdua ke sana, kamu mau kan?”
Kania mengeluarkan tisu basah dari dalam tasnya dan mengelap jaket milik Sigit yang terkena larutan gula merah.
“ Sini! Jaketmu biar aku aja yang cuci.” Kania memaksa Sigit untuk melepasnya. Setelah memberikan apa yang menjadi keinginan Kania, Sigit hendak berlalu namun dicegah oleh gadis itu.
“Kamu mau kemana? Nggak bawa motor?”
...
__ADS_1