
Dion terbangun tengah malam. Ia tak bisa tidur lantaran Kania memakan tempat di ranjang berukuran 180x200 itu. Berguling ke kiri dan ke kanan membuat Dion terpaksa pindah ke sofa di dalam kamarnya. Belum lagi jika tangan Kania memintanya untuk mengusap punggung yang makin melebar itu.
“Sini Mas, sebelah sini!” perintahnya dengan mata terpejam. Hingga hampir pagi Dion baru bisa tidur. setelah mengusap punggung dan perut Kania. sesekali terdengar suara kecipuk air dalam perut buncit istrinya.
“Nak, Papa yakin kalau kalau kalian berdua itu laki-laki. Lihat, kelakuan kalian? Papamu sudah mulai mirip Pak Parno yang berjaga di pos satpam. Sebenarnya apa yang kamu lakukan di dalam?” oceh Dion, menempelkan telinganya di perut besar itu. sesekali gerakan itu memberikan tanda jika bayinya mendengar suaranya.
Kania mendengar setiap ucapan Dion yang terus protes. Belum juga suaminya merasakan bagaimana dahsyatnya tendangan itu setiap malam. Kania ingin tidur, tetapi matanya tak bisa diajak bekerja sama. Begitu juga dengan kedua anaknya, padahal Ia tak sabar untuk mengunjungi dokternya besok pagi. Namun, kakinya terasa pegal.
“Mas, boleh minta pijit nggak? Kaki Aku pegal nih.” Keluh istrinya.
“Kamu sih, susah diberi tahu jangan lari-lari, jangan kecapekan tapi tetap aja bandel. Sekarang saja sudah merasa kecapekan ya kan?”
Kania mencoba bangkit dari rebahan nya. Sejak tadi Dion terus melayangkan protes. Kania mengenyahkan tangan Dion dari betisnya yang nyaris sebesar talas bogor.
“Sudah-sudah, kalau nggak mau.”
Dion melihat Kania keluar dari kamar, dengan tersenyum simpul Dion kembali melanjutkan tidurnya. Namun pentolan geng itu penasaran kenapa Kania tak juga kunjung kembali. Dion pun memeriksa Kania, bahkan sampai ke lantai satu.
“Heh, apa-apaan kalian?” teriak Dion.
“Sshhtt, apa sih Mas? berisik! Kalau ngantuk tidur aja sana, ngapain pakai turun segala!” omel Kania.
Kania kesal. Saat dirinya merasakan pegal mendera kakinya, namun suaminya hanya ingin tidur dan terus protes, membuat amarah Kania memuncak. saat Kania memijat kakinya sendiri di depan televisi Sigit merasa kasihan dan membantunya. keduanya pun mengobrol panjang lebar, sampai suara Dion membuat gaduh suasana.
Dion pun mengusir Sigit, Ia melanjutkan pekerjaan itu. dengan mengedikan bahu Sigit pun pergi ke kamarnya. Sayangnya, mood Kania sudah buruk saat melihat Dion. meskipun dirayu seribu kali, ternyata tak mempan.
__ADS_1
“Pergi sana! Jauh-jauh.” Dengan susah payah Kania masuk ke kamar tamu di lantai bawah. Ia tak sanggup lagi untuk naik turun tangga. Dion mencegahnya, apa kata mamanya nanti jika mereka berdua tidur terpisah.
Sampai saat pagi datang, Kania sudah bersiap untuk mengunjungi dokter kandungan kenalan Agnes. Melihat keluar dari tempat yang berbeda, Agnes dan Chandra bertatapan. Dion dengan mata panda nya sudah bersiap mengantar Kania.
“Ada apa ini? Kalian berdua tidak sedang ribut kan?” tanya Agnes.
“Nggak Ma, kita berdua baik-baik saja kok. Hanya saja nanti Dion akan memindahkan kamar kita ke bawah. Kania sudah tidak sanggup naik-turun tangga.”
Agnes mengangguk, Chandra pun akan membantu dengan mengganti perabot baru supaya lebih nyaman digunakan. Kania terus menikmati sarapannya tanpa mengatakan apa pun. Hanya Dion dengan semua penjelasannya.
“Jangan marah sama suamimu Sayang, nanti anak kamu kelakuannya mirip dia semua kan Mama semakin pusing, apa lagi kamu.” pesan Agnes. Chandra dan Sigit tak kuat menahan tawa, apa kabar jika dua anak Kania kelakuan mirip Dion semua. Bisa pecah rumah sebesar ini.
“Habisnya...” Dion memberi kode untuk tidak mengatakan apapun kepada Mamanya. bisa habis di rujak nanti dan nggak akan mendapat ampunan.
“Mama ikut kan? tanya Kania.”
Sepanjang perjalanan Kania dan Dion tak bicara sepatah katapun. Bahkan Agnes duduk di depan sedangkan Kania menaikan kakinya diatas jok mobil. “Maaf ya Ma, calon cucu Mama ngelunjak,” oceh Kania. Dion pun menahan tawanya. Akibat kesalahan semalam saja Kania marahnya bisa berlama-lama.
Setibanya di tempat dokter kandungan, Kania sudah berbaring dengan perut terbuka. Lapisan gel dingin itu membuat perutnya berdenyut. Agnes pun bersorak kegirangan.
“Calon cucumu aktif banget ya Nes, lihat! Kalau diperhatikan mereka ...,” ucapan dokter terputus. Semuanya menatap di layar besar. Saat dokter menghentikan gerakannya di bagian perut yang sedang menonjol itu, terlihat jelas jika keduanya sedang unjuk gigi.
“Kenapa Rin? Jangan buat kaget begitu dong!” Agnes ikut berdebar melihat gerakan tangan temannya itu.
“Kalian tahu ini apa?” tanya sang dokter. Ketiganya menggeleng, sampai dokter Arin pun tertawa gemas.
__ADS_1
“Ini tugu monas nya, dua-duanya nih sama kan? mereka sedang pamer sama kalian. Selamat ya Nes, Mas Dion dan Kania, anak kembar kalian keduanya laki-laki.”
Tepat seperti tebakan Dion, jika penerus keluarga Wijaya adalah anak laki-laki. Sama seperti Papanya yang memiliki dirinya dan Sigit. Dion tanpa rasa malu mencium Kania yang masih marah kepadanya. Sepertinya doa Agnes akan menjadi kenyataan. Jika kedua anaknya akan sangat-sangat mirip dengan kelakuan Dion.
Mencubit gemas pipi Kania, menciumnya, memeluknya dan tak berhenti mengucapkan terima kasih. sampai Agnes menjewer telinganya karena terlalu berlebihan.
“Katakan saja Kania, apa yang menjadi keluhanmu selama ini? Tidak mudah Lho menjadi seorang ibu, apalagi dua janin aktif sekaligus.”
Saat ditanya demikian, Kania justru menangis. Ia merasakan tubuhnya remuk redam, mood tidak stabil, makan ini dan itu dilarang, tidur tak nyenyak dan segala tindakannya terbatas. Lalu Kania menoleh ke arah Dion, membuat dokter dan Agnes menyimpulkan sesuatu.
“Nah, pasti ini nih biang keladinya!”
Agnes dan dokter Arin menguliti pria tampan dengan rahang tegas itu. Memberi banyak wejangan untuk Dion yang sebentar lagi menjadi Papa itu. Bukan hanya rasa senang dan bangga saja, tetapi Dion juga dituntut untuk menjaga kewarasan Kania. Dion pun mengangguk karena kupingnya sudah panas mendengar penuturan dua wanita sepantaran itu.
“Oh iya Kania, bayi laki-laki biasanya lahir lebih cepat dari pada bayi perempuan. Kalau berat janin bisa standar, maka kemungkinan melahirkan secara alami bisa dilakukan. Tetapi jangan memaksakan keadaan jika kondisi sang Ibu tidak memungkinkan, kamu bisa memberitahu Mama atau suami kamu kalau merasakan sesuatu pada kandungan kamu ya!”
“Terima kasih dokter.” Kania dibantu Dion untuk berjalan ke luar ruangan. Dion terus meminta maaf kalau selama ini masih sangat menyebalkan menjadi suaminya. Sebagai permintaan maaf, Dion mengajak Ibu dan anak itu pergi ke mal untuk berbelanja.
“Yang masih marah? Kalau masih capek, Mas ajak ke suatu tempat. Tapi kamu tutup mata dulu ya!” Dion menggandeng Kania dengan mata tertutup. Agnes heran dari mana tingkah absurd anaknya. Istrinya sedang hamil besar malah diajak bermain hal-hal aneh dan membahayakan. Sampai mereka bertiga berhenti di sebuah tempat yang membuat pikiran mereka tenang.
“Tara!!”
Agnes menyemburkan tawanya. rupanya Dion tak mau bersusah payah. Ia membawa Kania ke klinik kecantikan. Selain merawat diri, dan untuk memijat tubuhnya yang pegal. Juga dapat membantu mengembalikan mood wanita hamil yang terus berubah-ubah, membuat Dion pusing kepala akibat kurang tidur. Saat kedua wanita cantik itu sedang melakukan treatment, Dion bisa tidur dengan tenang.
“Silakan Nyonya....” ajaknya kepada Agnes dan Kania.
__ADS_1
“Curang! Awas ya Mas, urusan kita belum selesai.”
...