
Setelah menghabiskan waktu cukup lama di pusat perbelanjaan, suasana hati Rosi perlahan membaik. Yoshi mungkin memang dikirimkan Tuhan sebagai perantara. Meskipun gadis muda itu mengalami nasib buruk seperti dirinya.
Sigit menghubungi Mamanya dan memintanya untuk menunggu karena pria itu akan menjemputnya. Selain Rosi, ternyata perasaan Sigit juga begitu bahagia. Selain menghabiskan waktu dengan Kania, membuat Dion cemburu, Ia juga mendapatkan kontrak perusahaan itu. sebagai bonus tambahan, Tuhan mengirimkan kehangatan sosok Chandra Wijaya yang tak banyak orang tahu.
Diin!!
Bunyi klakson itu menyadarkan kedua wanita beda usia. Sepasang ibu dan anak itu berlomba menampilkan senyum terbaiknya. Kecuali Aulia Yoshi, yang terus bergidik mengingat cerita Rosi.
“Hai cantik, bagaimana belanjanya hari ini?” goda Sigit. “Jangan lupa Mama berhutang satu hal kepadaku, karena mengganggu acara Sigit dengan Kania.”
“Nak, Mama penasaran kapan kalian menjalin hubungan? Tahu-tahu sudah jadi mantan saja? apa gadis itu yang sempat kamu ceritakan saat pergi ke Bandung?”
“Ceritanya panjang, tapi apakah Mama menyukainya? Kalau memang Iya, Sigit akan menunggunya.”
Sontak saja candaan dalam mobil itu menghangatkan hubungan keluarga mereka. Sigit terus mengingat bagaimana perlakuan Chandra kepadanya. Perasaan yang tak pernah ia ungkapkan. Perasaan rindu sosok ayah yang sebenarnya. Meskipun Dewa selalu mencukupi keluarganya dengan berlimpahnya materi, tetapi bukan hal itu yang Sigit butuhkan bahkan sampai usianya dua dekade.
“Nak, bagaimana kondisimu akhir-akhir ini? apakah masih sering merasakan sakit?”
Sigit memegang telapak tangan mamanya dan mengecupnya. Ia merasa senang karena tidak lagi mengonsumsi obat-obatan itu. Fisik dan pikirannya menjadi jauh lebih baik. Pertama karena kehadiran Kania. Kini Sigit memiliki alasan lebih besar setelah bertemu dengan pengusaha besar itu. bukan karena pria itu menyetujui kontrak kerjanya, tetapi ada jiwa seorang Ayah yang begitu Sigit rindukan.
“Ma, mungkin nggak sih, kalau Sigit itu tertukar di rumah sakit?”
“Hus! Jangan ngawur kamu Sigit! Kamu itu anak Mama sampai kapanpun, ngerti!”
Tiba-tiba suasana dalam mobil menjadi sunyi. Kedua wanita itu menatap Sigit yang tengah mengemudi. Sampai terdengar suara cekikikan yang mengejutkan keduanya.
“Serius banget kalian berdua, Sigit cuma bercanda Ma! Mana mungkin ada orang tua yang sayang sama Sigit melebihi mama Rosi...”
Namun, tanpa pria tampan itu sadari, air mata Rosi meluncur tanpa permisi. Mengingat bagaimana perjuangannya mendapatkan putra keduanya.
‘Andai kamu tahu Nak, pria yang kamu panggil Papa itu berulang kali hampir melenyapkan mu tanpa sepengetahuan mu.’ Beruntungnya firasat seorang Ibu tak pernah salah. Setiap kali Dewa menunjukan perhatian yang berlebihan kepada Sigit, Ia selalu mengantisipasi kejadian tersebut.
Salah satunya saat Rosi menemukan botol obat Sigit yang di buang, ternyata isinya berbeda dengan apa yang telah di berikan dokter keluarganya. Rosi curiga, bertahun-tahun mengonsumsi obat, tetapi putranya menunjukan reaksi yang sebaliknya.
__ADS_1
...
Di Kamar, Dion menjadi kesal karena Kania sekali lagi membohonginya. Meskipun hanya sekedar berbelanja, dan tak terjadi apapun tetap saja Ia merasa kesal. Penjelasan Kania bagai angin lalu yang masuk ke telinga kiri keluar telinga kanan. Ia terus menatap Kania dan membiarkan istrinya menjelaskan panjang lebar. Sampai kania harus menggunakan jurus terakhirnya meskipun Ia merasa malu.
“Mas, masih marah?”
“Menurutmu?”
“Kan Aku sudah minta maaf, Aku jelaskan juga kamu nggak mau dengar. ya sudahlah kalau begitu.”
Dengan tangan sedekap di dada, dan tak ada senyum di sana. Kania pun beranjak menuju kamar mandi. Kania bingung, Ia juga tak ingin suaminya terus-menerus memperhatikan wanita lain. Kania pun bertekad, berusaha mendekatkan diri kepada Dion. meskipun rasanya lebih nyaman kalau mereka sering meributkan hal-hal tidak penting. Saat hubungan mereka belum terikat.
‘Yang mana ya? yang benar saja Yoshi Gue harus berbuat konyol seperti ini.’ gumam Kania
Gadis polos itu membuka sebuah cuplikan film dewasa di sebuah channel sosial media di ponselnya. Baru menontonnya sebentar, tubuhnya menegang, jantungnya berdesir tidak karuan. Tangannya gemetar juga jari-jemarinya berkeringat dingin.
“Ah, jadi takut kembali ke kamar, gimana nih!” Kania gelisah, taut jika reaksi Dion sama seperti waktu itu.
Ia pun hanya mondar-mandir dengan menggigit kuku jarinya. Sampai lima belas menit berlalu, Kania tak kunjung keluar. Dion pun memeriksanya karena tak ada suara di sana.
“Ka-nia...”
Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam dan keduanya sama-sama mengusap tengkuk kepalanya. Kania merasa merinding mendapat tatapan intens dari Dion atas ke bawah berulang kali. Jari-jari panjang itu menyentuh bahu kecil milik Kania, perlahan turun menyusuri kain satin yang menutupi gaun malamnya. Dibukanya perlahan hingga terlepas sepenuhnya dari tubuh Kania.
“Lebih bagus seperti ini... Aku bisa melihat semuanya!” suaranya lembut, seakan terpana dengan apa yang baru saja dipandanginya.
“Tapi dingin Mas...” lirih Kania.
Tangannya menarik gaun malam itu yang terlalu pendek. Renda tipis yang membentuk V berpotongan rendah menunjukan aset indahnya. Ia memejamkan mata, sepertinya pilihannya salah. Ia tak sanggup untuk melihat dirinya sendiri di cermin.
“Wah gaun itu cocok untukmu, kamu berusaha menggodaku, hmm?” Tanpa menunggu lama Dion segera mengangkat tubuh Kania yang mulai dingin. Meskipun dalam hati Dion merasa senang, Ia tak ingin menunjukannya di depan Kania. biar bagaimanapun Ia sempat kesal karena mereka pergi berduaan, entah apa bagusnya tukang kopi itu, batin Dion.
“Siapa yang menyuruhmu berpakaian seperti itu? Sigit?” Kania menggeleng.
__ADS_1
“Yoshi!” jawaban Kania membuat Dion tertawa.
“Semalam Yoshi mengirimkan pesan, untuk pergi berdua saja dan tak sengaja bertemu dengan Sigit di mall. Apakah penjelasanku sudah cukup?”
“Ya... Lumayan, meskipun Mas merasa kalau ini semua kerjaan Sigit. Tapi paling tidak ada si tomboy itu yang bisa menjagamu di luar sana.”
“Lalu, apa yang Mas lakukan di dapur tadi? Kenapa tatapanmu begitu lembut saat bersama Dista?” tanya Kania yang sudah berada dalam pelukan Dion. menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya yang nyaman. Terbalut kaos putih dengan aroma sangat menenangkan. Hingga Ia tak sadar sudah terbaring dalam ranjang besar dan hangat.
“Mas mencari kamu, tapi katanya kamu sedang keluar. Hanya meminta bantuan untuk mengganti perban, tapi kamu malah...,” Kania meletakan jari telunjuknya di bibir Dion yang tak berhenti memprotes dirinya.
“Kalau begitu lakukan sekarang,” potong Kania menginterupsi. Ia memposisikan dirinya begitu dekat dengan jagoan tampan itu. inisiatif Kania membangkitkan si Joni yang sudah tidak tahan sejak tadi. “Supaya kita tidak memikirkan orang lain lagi nanti,” Imbuh Kania.
“Cih! yang benar? Kamu nggak dengar mantanmu akan sering-sering main kesini nanti. Dia melanjutkan proyek yang dibatalkan kemarin.”
“Oh, benarkah?”
Dion terlalu memikirkan banyak hal yang belum tentu terjadi. Membuat Kania dengan cepat melayangkan bibirnya dan menyesapnya perlahan. meskipun jantungnya seakan berhenti berdegup, tapi perasaan hangat hadir diantara keduanya. Bola mata yang indah itu berhasil memikat Dion dalam sekejap hingga menahan tengkuk Kania untuk tetap tinggal lebih lama.
“Jangan dilepas, bertahanlah sebentar lagi!”
“Tapi, Aku nggak bisa napas Mas!”
“Siapa suruh kamu tahan napas? tapi, darimana kamu belajar semua itu? Yoshi?”
Kania malu mengatakannya, kemudian Ia menunjukan ponselnya ke arah Dion. bukannya dilihat pria itu mematikan dayanya dan menyimpannya. Ungkapan dan perhatian kecil sebelum tidur membuat mereka jauh lebih dekat seperti sekarang ini.
Malam itu kecemburuan mereka berdua telah melebur bersama hangatnya pelukan sang kekasih. Kania tak menyangka, jika Dion sangat lembut seperti ini. rasanya, tak adil jika menghakimi karena tak terlalu mengenalnya. Kania mulai terbuka begitu juga Dion yang akan menyampaikan hal tersulit baginya.
“Sayang, kamu masih ingin bertemu dengan Kakakmu, hm?”
Meskipun Kania membenci saudara kandungnya, nyatanya darah lebih kental daripada air. Ia tak bisa menyembunyikan perasaannya saat Dion mengatakan telah menemukan keberadaan berandalan itu.
“Hmm, apa Mas sudah menemukan Faris?” Kania mendongak. Rautnya penasaran dan Dion mengeratkan pelukannya dan mengusapnya lembut untuk menguatkan istrinya.
__ADS_1
“Pria brengsek itu, maksudku Faris ada di kantor polisi.”
...