
“Lepaskan dia Pa!”
Sigit menyalakan saklar yang Ia temukan di sisi dinding. Meskipun tak cukup terang, namun pria itu mampu melihat kondisi yang terjadi di sekitarnya. Ia khawatir Papanya akan melukai Kania, gadis yang merupakan nyawa hidupnya.
“Bukankah Papa hanya ingin perusahaan Wijaya?”
“Apa kau sudah mendapatkannya?” sebuah senyum menakutkan terukir di wajah Dewa.
Kania membelalakkan matanya mendengar hal itu. Ia sungguh tak menyangka jika Sigit ternyata memiliki maksud tertentu dengan mendekati keluarganya. Dengan santainya membawa dirinya bersama Papa Chandra untuk ke Bandung. Meskipun tujuan awal mereka adalah mencari Dion.
“Sudah, apalagi yang Papa butuhkan? Asal Papa bersedia melepaskan Kania, dia tidak tahu apa-apa Pa! Dan Dia...? mau diapakan?” tunjuk Sigit kepada pentolan geng suami Kania.
Sigit menghampiri pria yang sudah tak sadarkan diri. Memeriksa denyut nadi musuh bebuyutannya. Pria yang merebut kekasihnya secara paksa. Sigit tak mengatakan apapun terkait Dion, mengingat ada Kania yang berada dalam bahaya.
Dalam proses pengintaian yang dilakukan Gunawan dan Dion malam sebelumnya, ternyata Dewa sudah menyadarinya. Ia melihat Dion sedang sendirian, sebuah kesempatan yang bagus untuk melenyapkannya.
Dion tak menyadari keberadaan pria flamboyan itu, dengan tenaga yang besar Ia memukul tengkuk lehernya hingga tak sadarkan diri, dan menahannya di ruangan tak terpakai. Berbekal seorang diri, Dewa menggantung kedua tangan suami Kania dengan rantai, dan menyiramnya dengan air.
Setelah sadar, mulai Dewa layangkan pukulan demi pukulan menggunakan balok kayu yang berada di sana. Bukan Dion namanya jika menyerah begitu saja, pentolan geng yang seharusnya diberikan kesempatan hidup oleh Dewa, kini hilang kesempatan. Saat mengatakan dirinya mengidap kelainan jiwa. Dan tak pantas mendapatkan istri seperti Yoshi. lantas Dewa pun kembali menghajarnya secara membabi buta, hingga Dion sudah tak sadarkan diri.
“Dia? lenyapkan saja! Pria yang menjadi hambatan terbesar Papa untuk memiliki perusahaan besar Wijaya, dan pria tua itu pasti akan depresi karena kehilangan penerusnya.”
“Sigit, jangan lakukan itu! Dia suamiku, lebih baik habisi saja Aku!” gadis itu meringis kesakitan saat tajamnya mata pisau itu menggores kulitnya.
“Isshh...”
“Kamu masih berguna Kania, Aku membutuhkanmu! Kania, kamu berdarah!”
Sigit panik dan berusaha untuk terus bernegosiasi dengan Papanya. Pria berkulit putih itu bersedia melakukan apapun agar Kania bisa lepas.
“Aku bersedia menukar nyawaku untuknya, lepaskan dia! bukankah hal itu yang Papa inginkan sejak dulu? kematianku?”
...
Yoshi mengajak Rosi untuk kembali mengunjungi kediaman pria yang itu. Yoshi hanya ingin memastikan sendiri jika wanita hamil yang Rosi maksud bukanlah kawan baiknya yang sedang hamil tua. Dengan taksi online keduanya berangkat.
“Oh my God!”
Jantung Yoshi mulai berdegup kencang, saat taksi melaju ke arah Menteng. Dalam hati Ia berdoa semoga pikirannya salah. Sampai saat memasuki gerbang, sebuah taksi lain pun juga dalam posisi yang sama.
__ADS_1
Diin!!
“Woy Pak, kalau mau masuk buruan! Jangan berhenti di tengah jalan!” seru seorang pengemudi taksi.
Lantas penjaga keamanan yang berjaga turun tangan, mengatur kedua mobil yang berebut masuk ke kediaman besar Wijaya.
‘Ramai banget rumah Bos besar, ada apa ini!’ batin penjaga pos itu penasaran.
Seorang pria keluar dari dalam sebuah taksi dengan koper dalam bagasi. Sosok pria yang sangat di kenal oleh Yoshi. matanya terbelalak. Ia ingin menghampiri pria itu, dan ...
“Vicky!!”
Suara seorang wanita dengan perut bulat dan juga Agnes telah menyambutnya. Dengan cepat Vicky memeluk istrinya yang telah lama dirindukannya, meskipun di depan Agnes. Setelah melepas kangen kangen cukup lama, lantas mereka pun memasuki rumah.
“Yoshi, itu kan...”
“Bukan! Dia bukan menantu keluarga ini. Mbak, apakah benar alamat itu tertulis di kediaman ini? di rumah besar ini? katakan Mbak?” desak Yoshi yang mulai terisak.
“Hey, kenapa kamu yang sedih? Benar Yoshi, lihat ini!”
Rosi menunjukkan amplop coklat yang diberikan petugas lab itu. semua alamat tertulis dengan jelas dan lengkap. Yang lebih mencengangkan gadis tomboy itu adalah sebuah nama yang tertera di sudut paling atas.
“Chandra Wijaya? jadi Papa kandung Sigit itu Om Chandra?” Yoshi menutup mulutnya tak percaya jika selama ini Dion bukanlah anak satu-satunya dari pasangan konglomerat itu. Ia memiliki saudara satu Ayah lain Ibu.
Rosi melihat keanehan madunya, lantas menanyakannya. Sejak kemarin Yoshi terus gelisah saat Rosi menceritakan tentang sosok pria ini dan keluarganya.
“Ayo kita turun!”
“Tapi Yoshi, pria yang dipanggil Bos itu sedang pergi ...”
Yoshi turun dari mobil diikuti dengan Rosi. Ia tak ingin turut campur dalam masa lalu Rosi, tetapi ini perihal sahabat baiknya, bagaimana reaksinya nanti. Mereka berdua memberanikan diri bertamu ke rumah Dion. Kaki Yoshi yang sudah terlanjur lemas bagai jelly, hanya berharap pada kebaikan Yang Maha Kuasa saja.
“Mbak, siap-siap aja ya! Aku Cuma bisa membantu sebisanya, oke!” yang hanya di jawab oleh anggukan Rosi.
Ketukan pintu itu segera di sambut oleh Agnes, ketika mereka semua sedang berada di ruang keluarga. Melihat kehadiran Yoshi, istri kedua Dewa yang pernah di ceritakan oleh Dion, yang pernikahannya baru saja dihadirinya tentu saja membuat wanita sosialita itu pun terkejut. Terlebih bersama istri pertamanya, Rosi Virgiawan.
Ketika hendak bercakap-cakap dengan Yoshi, Dista mendapat telepon dari Gunawan jika Dion hilang sejak semalam dan sampai siang ini belum juga di temukan. Pria maskulin itu juga mengatakan jika sekarang sedang bersama Chandra, Namun juga tak menemukan keberadaan Kania juga Sigit, hal itu sontak saja membuat seisi rumah panik, terlebih Rosi juga Agnes.
“Apa? Sigit hilang? Bagaimana bisa? Yoshi, bagaimana ini?” raut cemas tampak dari dua wanita sebaya itu.
__ADS_1
“Ehm, semalam Sigit menginap di sini dan pagi-pagi sekali mereka bertiga berangkat, Tante” papar Dista kepada Yoshi dan Rosi.
“Lalu Dion? bagaimana bisa tidak ada kabar sama sekali?” Agnes memiliki perasaan tidak enak, sejak Dion memutuskan untuk ikut serta bersama Gunawan. Harapan Agnes kini bertumpu kepada Vicky, untuk membawanya menyusul mereka.
“Vicky, kamu bisa membawa kita ke Bandung kan?”
“Saya bisa saja Tante, tapi alangkah baiknya jika Tante di rumah saja menunggu kabar, biar Vicky yang membantu Bang Gunawan mencari keberadaan Dion. Terlebih kondisi Dista juga tak bisa bepergian jauh saat ini.”
“Tapi Vicky, Tante khawatir dengan bocah badung itu, bisakah Tante ikut?”
“Begini saja, Tante ikut penerbangan siang ini! Vicky tidak mengizinkan jika Dista ikut dalam mobil. Kalau Tante Agnes setuju, kita berangkat sekarang.”
“Gue ikut Lo Bro!” sela Yoshi cepat.
Keputusan Vicky bulat, Ia tak bisa membahayakan istri dan anaknya. Meskipun nyawa sahabat karibnya juga sangat penting saat ini. Agnes dan Dista akan ke Bandung dengan jalur udara, sedangkan Vicky Yoshi dan Rosi akan satu mobil.
“Sayang, nanti kalau sudah sampai Bandung hubungi Abang secepatnya ya! kalian berdua hati-hati di jalan!” sembari mengecup perut buncitnya, pasangan suami istri itu pun berpisah.
“Kamu juga ya Vicky!” raut sedih tampak jelas pada wanita berbadan dua itu, baru juga melihat suaminya, belum ada setengah jam, mereka kini harus berpisah lagi.
“Ayo Yoshi!”
Dengan mengendarai mobil milik Dion, Yoshi dan Rosi segera bergerak menuju Bandung. Mengetahui ada yang tak beres, Rosi meminta pria dingin itu untuk kembali ke rumah. Ada sesuatu yang harus Rosi pastikan. Saat Rosi turun dari mobil, Yoshi segera memberitahu kepada Vicky tentang siapa Sigit sebenarnya.
“Vick, Lo pasti nggak akan percaya dengan hal gila yang Gue sampaikan sekarang?”
“Cepat katakan, bikin penasaran aja Lo!”
Huft!
Yoshi mendengus, mengingat Vicky masih menyimpan dendam kepadanya. Gadis tomboy itu menyatakan tentang hubungan darah Sigit dengan keluarga Wijaya.
“Terus?”
“Terus apanya bego?” kesal Yoshi.
“Terus, Lo pikir Gue percaya begitu?”
...
__ADS_1