
Kania mencoba bangkit, meski merasakan ngilu di bagian perutnya. Dion sudah tak bisa menggerakkan tubuhnya. Kania mencoba menopang tubuh suaminya yang lumayan berat untuk ukuran tubuhnya yang ramping.
“Pegangan yang erat ya!”
Dion hanya mengangkat sudut bibirnya. Melihat usaha Kania yang mati-matian membawanya keluar, melewati banyak material berserakan.
“Sigit, kamu masih mampu berjalan?”
“Aku pikir kamu melupakan keberadaan ku Kania, Aku masih sanggup.” Dengan tangan kiri nya menutup luka di perutnya.
“Kalau begitu bantu Aku memapah Mas Dion!” Bisiknya. Karena Ia tak bisa lagi menekan tenggorokannya untuk bicara.
Gunawan mencoba mengumpulkan kekuatannya. Saat melihat Kania bangkit, Dewa hendak kembali menikam gadis itu.
Dalam kondisi terdesak, Gunawan mengambil sepucuk senjatanya. Dan mengarahkannya tepat di kaki Dewa.
Dor!!
Suara letusan itu menggema dan terdengar dalam radius beberapa meter. Membuat mereka bertiga yang berada dalam ruangan itu juga sama-sama tak menyangka. Kania lupa jika pria single yang Ia panggil Om itu adalah seorang polisi. Tentu saja memiliki senjata.
“Berhentilah berbuat kejahatan! Apa dengan melukai mereka bertiga membuatmu merasakan kepuasan?”
Gunawan bangkit dengan kondisi tengkuknya terluka. Langkahnya menghampiri Dewa yang terjatuh ke lantai dengan menopang satu lututnya. Gunawan terpaksa melumpuhkan pria berbahaya seperti Dewa Virgiawan.
Gunawan mengambil paksa benda tajam di tangan itu dengan menendang punggung Dewa dari belakang dan memborgolnya. Meski sempat melakukan serangan balasan.
Gunawan melihat Kania kepayahan, juga Sigit yang sudah mulai lemas, segera mengambil ponselnya dan menghubungi Chandra dan rumah sakit terdekat.
“Tahan sebentar lagi ya! Petugas medis akan segera datang,” hiburnya.
Chandra berlari-lari di lorong di susul Agnes yang baru saja tiba. Melihat lokasi yang dikirimkan Gunawan, Chandra sedikit kesulitan mencarinya ditambah rasa panik membuatnya semakin bingung.
“Kalian semua telah menghancurkan bisnisku yang sudah aku bangun sejak lama, apa mau kalian?”
“Jadi Anda membangun rumah sakit dari hasil bisnis ilegal? Kasus Anda sudah banyak, jangan sampai putra Anda mendengarnya!”
“Hahaha, Putra? Siapa yang kau panggil putra? Bocah bodoh itu?” tunjuk Dewa mengarahkan wajahnya ke arah Sigit. Tentu saja membuat hati pria manis itu sangat sakit juga kecewa.
“Benar, apa yang kamu katakan. Sigit memang bukan anakmu!”
Suara itu menyadarkan mereka semua. Sigit sudah tak punya harapan hidup lagi. Seluruh tubuhnya kehilangan jiwanya. Justru Dion mampu bertahan. Meskipun harus turut mendengar kata-kata menyakitkan itu.
“Bro, Kalian nggak apa-apa? Ayo kita keluar dari sini. Yosh, Lo bawa Kania keluar!”
“Pertanyaan Lo aneh! Udah tahu mereka sekarat.” Sahut Yoshi.
__ADS_1
Ia kesal karena nyawanya hampir saja hilang berkali-kali akibat Vicky mengemudi dalam kecepatan di luar batas wajar. Vicky memapah kedua pria berbeda karakter. Petugas medis sedikit kesulitan melewati medan. Karena lokasinya yang tak memungkinkan.
“Kapan Lo balik?” sapa Dion.
“Tadi pagi, Udah nggak usah banyak tanya, nyawa Lo udah di ujung kerongkongan soalnya, kasihan Kania sebentar lagi jadi janda.” Goda Vicky
“Brengsek Lo!”
Mereka berdua terus bicara, supaya tahu kondisi mereka berdua masih bisa diselamatkan. Lain halnya dengan Sigit, yang sudah lemah. Rosi yang melihatnya tak tinggal diam. Inilah momen yang ditunggu wanita itu.
“Ternyata kamu mengkhianati ku Ros! Dan bodohnya Aku baru mengetahui kenyataannya kemarin jika bukan dari dokter mu itu!”
“Rizal? Dimana dia sekarang?”
“Dokter itu sudah tewas, sebelum saya menemukan mereka bertiga di sekap oleh suami Anda.”
“Pak, bolehkah tinggalkan kami berdua saja?”
“Tapi Anda bisa saja dalam bahaya,”
“Apa dia bisa melukaiku dalam kondisi seperti itu? Lihat wajah nya yang sesungguhnya? Lihat!!!” teriak Rosi.
“Bahkan dia bisa dengan mudahnya membunuh orang kepercayaannya, meracuni putranya dan menganiaya istrinya, apapun bisa dia lakukan.” Isak Rosi.
“Entah kejahatan apa lagi yang tidak aku ketahui.”
Dengan cepat Rosi mengarahkan senjata itu ke arah Dewa. Dengan yakin Ia memusatkan penglihatannya dan jarinya bersiap menarik pelatuk itu.
“Lihatlah wanita tak tahu diuntung ini, sudah melahirkan anak tak berguna, kini Ia berkhianat. Kalau berani tembak sa—”
Dor!
Dor!
Tembakan itu tepat sasaran. Mengenai ulu hati dan tulang rusuk suaminya yang telah menemaninya dua puluh tiga tahun yang lalu.
Gunawan merebut senjata itu. Dan beralih melihat kondisi Dewa yang telah terkapar bersimbah darah.
“Itu untuk rasa putus asaku, Kematian Bagas dan Luka batin Sigit yang telah kamu torehkan. sampai bertemu lagi di neraka!”
Rosi terduduk, tepat dengan masuknya Chandra juga Agnes di sana. Agnes menenangkan Rosi, dan membawanya keluar. Namun, fokus Rosi kini pada sosok bersahaja pria yang dipanggil bos besar itu.
‘Benarkah dia orangnya? Separuh dari diri Sigit ada padanya. Itulah sebabnya Dewa sangat membencinya.
Setelah tubuh Dewa di bawa petugas medis, Gunawan membawa Rosi untuk menenangkan diri. Rosi pun bersama Yoshi ikut ke kantor polisi. Tentu saja membuat yang lain penasaran. Di serahkannya tas punggung itu.
__ADS_1
“Apa ini Bu?”
“Itu semua adalah barang bukti semua kejahatan suami saya, Sigit telah mencari tahu selama ini, namun Ia belum mengungkapnya.”
Petugas di kantor polisi memeriksa semua barang bukti itu, dan semuanya ternyata berhubungan dengan jasad yang baru saja di temukan.
“Ternyata motif pembunuhan pada dokter itu, karena korban mengetahui semua rahasia tersangka.”
Para petugas itu terkejut dengan adanya cambuk, dan beberapa botol obat.
“Ibu mau naik kuda?” tanya petugas sembari menyentuh cambuk itu?”
Rosi tersenyum mengejek. Justru Yoshi yang naik pitam. Gadis tomboy itu trauma dengan alat lentur itu. Goresan luka pada dirinya tak sebanding dengan luka yang diberikan kepada teman-temannya.
“Itu—itu alat untuk menghukum kami Pak!” sahut Yoshi.
Lantas semua terdiam. Saat bahan candaan petugas itu ternyata adalah kesalahan.
“Kami mohon maaf, jadi sudah sejak kapan suami Anda melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga?”
...
Di rumah sakit, Vicky menunggui ketiga korban yang sedang mendapatkan perawatan. Ia menghubungi Bayu, untuk menjemput Dista dan menitipkannya di rumahnya sementara waktu.
Tak ingin Istrinya sendirian dan melihat semua kekacauan dalam situasi seperti ini. Terlebih kondisinya saat ini yang tengah berbadan dua. Ia khawatir Dista tak akan nyaman dan berubah menjadi emosional. Apalagi melihat teman-teman dan Om nya terluka.
Chandra dan Agnes pun menyusul. Wanita sosialita itu pun tak berhenti menangisi nasib Dion dan Kania. Saat Chandra sedang menghibur Agnes, dokter mengatakan jika salah satu pasien membutuhkan beberapa kantong darah, karena memang stok golongan darah tersebut sangat langka.
“Apakah kalian keluarga pasien?”
“Benar Sus, apakah anak kami baik-baik saja?”tanya Agnes.
“Adakah yang memiliki golongan darah AB? Salah satu pasien kritis,” imbuh perawat itu.
Lantas Chandra pun bangkit dan mengira jika pasien yang di maksud adalah putra badungnya, Dion.
“Ambil darah saya Sus, golongan darah Saya AB positif. Dion pasti membutuhkan banyak darah.”
Perawat itu tersenyum dan menjelaskan kepada Chandra jika pasien yang di maksud adalah pemuda berkulit putih dengan luka tusuk di perutnya.
“Bukan Pak, Pasien dengan nama Dion kondisinya berangsur membaik, hanya saja beberapa tulang di bahunya perlu mendapatkan perawatan intensif.”
“Lalu? Apakah itu anak gadis saya?”
“Bukan, tetapi Putra Anda yang satu lagi, Dia bernama Sigit.”
__ADS_1
...