Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 92. Bahagia yang Tertunda


__ADS_3

Malam ini Kania dan Asri tidur bersama. Bahkan semenjak lulus SMA hubungan ibu dan anak itu tak pernah baik. Asri hanya mengedepankan Faris, membuatnya menjadi anak nakal seperti sekarang. Merasa asing, Asri tidur menghadap sisi kiri sedangkan Kania berbaring menatap langit-langit kamar.


“Bu,” sapa Kania.


Asri tidak menyahut panggilan Kania. Namun gadis itu tahu jika ibunya tak bisa tidur. Kania berbalik badan menatap punggung ibunya yang membesarkan dirinya seorang diri tanpa sosok ayah.


“Kania tahu ibu mendengar suara Nia, selama ini hubungan kita selalu dingin. Baru kali ini Nia merasa harus mengatakan ini kepada Ibu. Bahwa sampai kapanpun, anak gadismu yang nakal ini akan terus menyayangi ibu, bagaimanapun kondisimu.” Kania melingkarkan tangannya memeluk ibunya dan menghirup wangi tubuhnya.


“Maafkan Nia ya Bu, masih menyusahkan dan belum berbakti sepenuhnya.” Tak ada sahutan dari wanita itu. hanya bibir yang bergetar disertai buliran hangat air mata yang tak bisa dibendung. Kania menyadari jika ibunya terisak.


“Semoga Mas Dion benar-benar menjadi pilihan yang baik buat Nia, asalkan Ibu rela semuanya pasti akan berjalan lancar.” Imbuh gadis itu lagi. “selamat tidur, Kania sayang sama ibu.”


Kania kembali ke posisinya membelakangi tubuh Asri yang tak bergeming. rasanya hatinya sakit saat mengatakan itu semua. Begitu juga Asri, bagaimana anaknya harus menanggung kepahitan hidup tanpa Ayah dan menanggung beban hidupnya juga Faris saudara laki-laki yang sedang di cari polisi. Terlebih sebentar lagi adalah hari bahagia Gadis cantik itu.


“Bu Asri, Kania sayang kalian hati-hati ya! jangan pergi kemana-mana, pokoknya ingat pesan Mama. Dion juga! percaya nggak percaya, kalau larangan orang tua jaman dulu itu pasti ada benarnya.”


“Iya Tante,” jawab Kania.


“Kok Tante? Mama dong, kamu lupa ya!” tangan Agnes yang usil mengusap perut Kania gemas. Membuat Chandra yang sedang menikmati kopinya berdeham.


“Ma!” Chandra menunjukkan tangannya yang masih menempel di perut rata gadis itu. Asri yang tak paham pun hanya menatap mereka berdua.


“Oh maaf Besan, jangan lupa kalau sudah sampai di hotel langsung sarapan ya!” Agnes berubah menjadi cengengesan dengan kelakuannya sendiri yang tak sabar menimang bayi kecil milik putranya.


“Em- Ma, Kita jalan du-...” Dion belum bangun? Gimana sih,” Ya sudah hati-hati ya sayang, besan juga!” sela Agnes tak sabaran.

__ADS_1


Ujang sudah memasukan barang-barang keperluan Kania dan ibunya. Kedua orang tua Dion menatapnya seakan tak pernah bertemu lagi, “hati-hati, telepon Mama ya Nak!” teriak Agnes saat mobil yang dikendarai Ujang mulai melaju meninggalkan halaman besar itu.


Tak berselang lama mobil Ujang pergi, sebuah mobil hitam mengikutinya. Asri terus menatap Kania tanpa bicara sepatah katapun.


“Kenapa Bu?”


“Nggak apa-apa Nak, Ibu ingin terus menatapmu seperti ini.” Ujang memperhatikan ibu dan anak itu merasakan haru dalam hatinya.


“Bu Asri, nggak boleh bicara seperti itu atuh! besok kan hari bahagia Ibu dengan Mbak Kania, senang atuh senang, bahagia sumringah begitu...”


“Iya Mang, tahu tuh kayak yang nggak akan ketemu anaknya lagi.” sambung gadis itu. setibanya di hotel Ujang mengantarkan mereka berdua hingga depan kamarnya. Dan memberikan pesan yang sama dengan Agnes. Untuk tidak menerima tamu siapapun selain keluarga Mas Dion juga teman-teman dekatnya.


“Iya Mang, terima kasih ya!”


‘Sekilas kayak nggak asing, siapa ya?’


“Iya Bu.”


Sedangkan di kediaman Dion, pria itu kelabakan karena tak mendapati gadis kecilnya di kamar tamu. berlari secepat kilat menuruni tangga dan mencari Mamanya. langkah kakinya seperti anak yang terlibat tawuran membuat Agnes dan Chandra kaget bukan kepalang.


“Dion! apa-apaan kamu?”


“Kania dimana Ma?”


“Udah Mama suruh pergi, kamu bukannya ikut bantu-bantu malah tidur yang di gede-gedein.” Agnes menarik telinga anaknya yang sebentar lagi akan menikah itu.

__ADS_1


“Aduh sakit Ma! Aduh, aduh!” mengusap telinganya yang panas Dion memberi tahu jika semalam Ia tak bisa tidur. padahal semua persiapannya sudah selesai, “kenapa ya Ma?” Dion memeluk Mamanya dan mencium pipinya berulang kali.


“Terima kasih Mama, udah bawa gadis jorok itu ke rumah. Kalau nggak, tahu deh anakmu yang ganteng ini akan jadi jomblo sepanjang sejarah, hehe...”


“Enak aja, jadi jomblo! Makannya jangan suka ledekin anak orang, kualat kan!” Dion tertawa. Chandra yang melihat momen hangat ibu dan anak itu ikut bahagia. Sudah lama mereka merindukan momen seperti ini.


“Kamu ini, giliran udah mau menikah aja baru berubah! Kenapa nggak dari dulu, kan kita bisa sering menghabiskan waktu sama-sama!”


“Ck, memangnya setelah menikah Dion bukan anak Papa Mama lagi? Papa ini kadang-kadang...”


Sejak tadi Chandra juga ingin menyampaikan sesuatu yang penting terkait bisnisnya. Namun, Ia tak akan menukar kebahagiaan putranya demi sebuah kontrak seorang pengusaha labil yang ingin mempermainkan keluarga mereka.


Dewa mendapatkan undangan pernikahan dari Chandra Wijaya. meskipun pernah membatalkan kontrak kerja, pria tampan dan berwibawa itu tetap menjunjung profesionalitas untuk mengundangnya. Sayangnya Dewa tak bisa menghadiri acara itu karena jadwalnya bentrok dengan urusan bisnisnya yang lain. sehingga mau tak mau meminta putranya datang untuk mewakilinya.


“Papa Yakin?”


“Ternyata tebakan Papa benar, kalau mereka berdua ternyata memiliki hubungan saat kita pertama bertemu dulu.”


“Cih! Kenapa harus terang-terangan membicarakan hal itu kepada Sigit?”


“Ya Papa pikir kamu dan Kania cocok. Kamu saja yang waktu itu Papa ajak masuk nggak mau!” sejak Dewa berbuat kasar kepada temannya, pria tampan berkulit putih itu mulai menunjukkan ketidaksukaannya kepada Papanya. “Jadi kamu mau datang atau tidak?”


“Sigit pasti datang!” dalam hatinya. ‘Dia kekasih Sigit Pa, dan Sigit tahu harus berbuat apa.’


...

__ADS_1


__ADS_2