
Agnes dan Dion sedang menikmati waktunya sebagai Ibu dan anak, mereka berdua saling melempar ledekan satu sama lain. Sampai suara khas bapak-bapak menginterupsi mereka saat memasuki kamar besar itu.
“Papa, Ngagetin aja!” jawab Agnes.
“Coba aja Papa telepon, Dion takut Kania marah. Karena beberapa hari ini bocah itu mengacuhkan Dion di kantor.” Ekspresi Dion yang tampak kecewa membuat Agnes terpingkal-pingkal. Bukannya merasa kasihan, tetapi Dion sepertinya termakan dengan omongannya sendiri.
“Kok gitu? Ya kamu dong yang harus memastikan, berani berbuat ya harus tanggung jawab.” Chandra mendekat ke arah Dion dan menatapnya dengan serius. Masih tak percaya dengan pengakuan putranya, padahal Dion adalah bocah badung yang jujur.
“Tapi,”
“Tapi kenapa Nak?”
“Kania sudah punya pacar Ma!” sambung Dion sambil berbalik badan. Perasaan Dion sangat sensitif, membuat dirinya sendiri merasa jengkel dengan apa yang dialaminya sekarang ini. Pentolan geng itu mengirim pesan kepada Dista tentang hal yang dialaminya, dan memintanya untuk datang ke rumah. Padahal saat ini sudah malam membuat Vicky marah-marah kepada Dion melalui obrolannya.
“Ck! Dion... Dion... masa Kania punya pacar gitu aja kamu bingung sih! ya kalau memang omonganmu terbukti benar ada calon cucu mama di sana, tetap saja Kamu yang mendapatkan gadis itu.”
“Tapi Kania marah sama Dion Ma!”
“Idih! Katanya jagoan, masa ngadu sama mamanya begitu gara-gara hal kecil! Hahaa...” ledek Chandra.
Agnes mengangkat ponselnya, dan menghubungi sosok manis di seberang sana. Ternyata panggilannya tersambung dan diangkat.
“Ssshht, Kania nih!” bisik Agnes kepada kedua pria kesayangannya.
Agnes
[Halo, Kania! belum tidur Nak!]
Kania
[Belum Bu, tumben gerah banget di sini! Oh iya ada apa Bu Agnes?]
Agnes
[Kok Bu? Panggil Tante gitu lho! Oh iya Kania, Dion sakit. Besok bos kamu nggak masuk kantor. Kamu bawakan saja pekerjaannya ke rumah ya, Tante minta tolong banget.] mohon Agnes.
Chandra menatap reaksi Dion yang menahan senyumnya. Melihat mamanya total sekali merayu gadis menyebalkan itu. mungkin hal ini juga dulu yang akan dilakukan mamanya jika Ia berterus terang tentang perasaannya kepada gadis bohay itu. yah, mau dibahas seribu kali pun jika bukan jodohnya tak akan bisa bersama. Kali ini Mamanya tak boleh kehilangan Kania.
Kania
[Pak Dion belum sembuh? Baik Tante, besok Kania akan mampir ke rumah.]
Agnes
__ADS_1
[Mas Dion dong, kan di rumah!]
Chandra dan Dion mendadak tertawa mendengar hal itu. ada-ada saja kelakuan Agnes tengah malam begini. Namun mereka bertiga merasakan kehangatan keluarga yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Sekali lagi penyesalan memang datang terlambat, Chandra dan Agnes tak akan membuang kesempatan itu lagi.
Terdengar tawa dari seberang sana, rupanya Kania merasa malu saat Agnes memintanya untuk memanggil Dion dengan sebutan Mas.
Kania
[Baik Tante, jika sudah tidak ada yang disampaikan lagi, Kania pamit istirahat dulu.]
Keduanya menutup sambungan telepon bersamaan. Agnes sudah merencanakan sesuatu untuk esok hari saat sekretaris cantik itu akan datang ke rumah. Wanita kaya itu berharap apa yang Dion ucapkan adalah benar.
“Ayo Pa! Biarkan si ganteng istirahat. Mama mau cari nama buat calon cucu mama nanti!” ucapnya sambil menggandeng lengan suaminya.
“Mama!” pekik Dion, yang tak habis pikir dengan keabsurdan mamanya. ketahuan saja belum sudah mau mencari nama bayi untuk calon anaknya.
Agnes melenggang tak mempedulikan teriakan Dion. Chandra pun hanya geleng-geleng dengan kelakuan istri dan anak semata wayangnya.
...
Di kantor gosip tentang Kania yang menggoda Dion sudah beredar luas. Membuat dirinya menjadi bahan gunjingan satu perusahaan. Terlebih tak ada Dion dan Chandra di sana, Kania menjadi semakin terpojokan.
Perasaan halus gadis itu menjadi tak menentu, Ia sulit konsentransi dengan pekerjaannya. di dalam toilet Kania menangis sejadi-jadinya. Dari mana gosip itu menyebar dengan cepat, padahal tak ada yang mengetahui hal itu sama sekali.
“Nggak ada apa-apa. Kamu boleh pergi.”
Setelah pemuda dengan seragam biru muda keluar dari ruangan Kania, Ia mendengar banyak hal buruk tentang Kania. rupanya ucapannya sudah sampai ke mana-mana. Mungkin Kania bersedih karena mendengar hal itu. Namun si pelaku tak merasa bersalah sedikitpun.
Seharian Kania lupa menyalakan dering ponselnya, alhasil hanya keheningan yang ada di ruangan itu. menatap kursi kebesaran yang sekarang milik Dion Wijaya, pria tampan dengan arogansinya yang melekat dengan nama besarnya. Tetapi Kania merindukannya.
‘Sepi juga nggak ada Dion. sakit apa sampai tidak masuk kantor.’ Batin Kania.
Jam istirahat, Kania habiskan hanya di dalam ruangan. Ia tak berminat mendengar omong kosong yang menimpa dirinya. padahal semua yang mereka bicarakan adalah fakta, jika Kania dan Dion nyatanya memiliki ketertarikan satu sama lain.
“Astaga! Panggilan tak terjawab sampai dua puluh kali dari Sigit.” Kania terkejut, karena kesibukannya seorang diri di kantor, Ia tak sempat memeriksa ponselnya. Kemudian gadis itu menelepon kekasihnya untuk meminta maaf.
Kania
[Halo Sigit, maaf ya! Aku baru membuka ponselku, bagaimana keadaanmu?]
Sigit
[Haah... syukurlah, Aku pikir kamu berubah pikiran dan marah denganku! Aku sudah membaik, semuanya berkat kamu sayang. Aku dengar dari Jo, kalian berkeliling mencari buah malam-malam Sampai Ia terlambat pulang, benarkah?]
__ADS_1
Kania meminta maaf atas nama Jo, karena dirinya yang memaksa pria itu untuk membantunya. Bahkan Kania tidak tahu, Jika Jo tidak masuk kerja karena kelelahan mendorong motor berkilo-kilometer karena kehabisan bahan bakar.
Kania
[Iya, tadi malam Aku pengen makan jeruk lemon dan Alpukat. Tapi sekarang sudah tidak lagi. tolong jangan marahi temanmu ya! Aku yang salah.]
Sigit
[Haha.. tenang saja, Besok Aku sudah boleh pulang, setelah itu Aku ingin mengajakmu keluar kamu mau kan?]
Kania
[Ehm, Aku usahakan ya tapi Aku tidak janji. Yang penting kamu sudah boleh -...]
“Hueekkk...”
Terdengar suara Kania menjauh dari sambungan telepon. Namun, Sigit mampu mendengarnya. Sebenarnya ada apa dengan kekasihnya. sepertinya ada yang salah dengan gadis itu. membuat Sigit menjadi penasaran.
Kania melarikan diri ke toilet, rasanya sangat menyiksa sekali. Bahkan tak ada tenaga yang tersisa. Waktu jam pulang juga masih setengah jam lagi.
“Ah masa bodo dengan jam kantor, Gue mau ke rumah Dion ini! menyerahkan pekerjaan untuknya. Semoga saja gaji Gue nggak dipotong hutang.” Ocehnya sembari mengelap bibirnya yang terasa asam. Tiba-tiba saja gadis bersurai panjang itu dikejutkan dengan suara seorang wanita.
“Kania, Lo lagi hamil ya? dari kemarin mual-mual terus! Periksa sana!” tegur salah satu staf senior. meskipun posisi Kania lebih tinggi, namun dari segi usia Kania jauh lebih muda. Alhasil gadis itu harus lebih banyak menerima banyak masukan-masukan dari rekan kerjanya di kantor.
“Masuk angin aja Mbak, karena kurang tidur.” jawab Kania.
“Ck, lebih baik Lo periksa aja dari pada terjadi apa-apa sama Lo nanti.”
Kania tak ambil pusing dengan ucapan rekan kerjanya. Justru Kania mengingat jika ponselnya masih stand by sejak Ia tinggalkan ke toilet. Kania buru-buru pamit untuk kembali ke ruangannya. Dengan berjalan cepat sekalian saja Kania langsung menuju ke rumah bosnya.
Dalam perjalanan menuju Menteng, tempat tinggal Dion. Kania berkirim pesan kepada Sigit perihal kejadian tadi. Meskipun Sigit sedikit kesal, tetapi pria itu meminta Kania untuk menghubunginya secepatnya.
“Ck! Lucu sekali pria ini, bisa kesal juga ternyata.” Kania tertawa saat membalas chat Sigit.
Menempuh perjalanan hampir empat puluh menit, taksi online yang ditumpangi Kania pun telah sampai di halaman kediaman Wijaya. Ia tak percaya, jika kehadirannya ternyata sudah ditunggu oleh keluarga itu.
“Kamu datang juga Kania, Tante sampai khawatir Lo kalau ada apa-apa di Jalan!” Agnes bahkan menghampiri gadis cantik itu. sejak Kania turun dari taksi, Agnes memperhatikan perubahan fisik pada pipi dan beberapa bagian tubuh Kania yang semakin berisi.
“Masuk saja, Dion sudah menunggumu!” Chandra pun turut mengantarnya hingga ke depan kamarnya. Kania menjadi semakin tak enak hati. Setelah mengetuk pintu, Melihat kehadiran gadis yang selalu mengganggunya, Dion bangkit meninggikan posisinya dari berbaring menjadi bersandar di headboard tempat tidurnya.
“Kania, Ayo kemari!” dengan senyum seterang matahari, tangannya menepuk-nepuk di sisi ranjang yang kosong. Meminta sekretarisnya untuk duduk di sana.
‘Apa-apaan Dion? bocah ini sudah gila ya!’
__ADS_1
...