
“Ada pa Mas? kenapa bilang seperti itu?”
Kania yang bingung dengan reaksi Dion pun bertanya, tetapi tak kunjung di jawab. hanya wajah yang penuh rasa syukur yang Dion tunjukan. Tiba-tiba kecupan hangat itu mendarat begitu saja. lengan kokohnya memeluk erat Kania. sembari memberikan secarik kertas itu kepada istrinya.
“Terima kasih sayang, semuanya berkat kamu.”
“Aku?” tunjuknya pada diri sendiri. gadis itu semakin tak mengerti. Sampai Dion terus mengusap perutnya. Karena Dion hanya terus memasang senyum di wajahnya.
“Iya Kania, kalian berdua akan segera menjadi orang tua.” Jelas Chandra.
Kania membaca hasil pemeriksaan itu. Gadis itu dinyatakan positif hamil dan janin yang masih sangat kecil di perutnya diperkirakan berusia enam minggu. Untuk itu mereka harus melakukan USG seminggu lagi.
“Tapi bagaimana Mama dan Papa tahu?”
“Setelah Papa dan Sigit akan meninggalkan rumah sakit, dokter memberikan catatan kesehatan itu kepada Papa. dari sanalah Papa memberi tahu Mama kalian berita bahagia ini.”
Emosi Agnes yang meledak-ledak pun sirna saat Chandra memberitahu jika anak gadisnya tengah hamil. Dengan menunjukan kertas itu. Tak berhenti bersyukur, jika semua kejadian yang mereka alami ada hikmah di dalamnya.
Kania menutup bibirnya. Ia masih tak percaya jika doanya telah dikabulkan Tuhan secepat ini. Gadis itu menatap netra Dion yang berubah seratus delapan puluh derajat.
“Apa kamu bahagia Mas?” tanya Kania.
“Jangan ditanya lagi sayang, itu sudah pasti. Aku akan menjadi Papa, benar kan?” aku Dion. “Sekarang kita makan dulu, Mas sudah lapar. Ayo!”
Dion mencubit hidung Kania sebelum mereka berkumpul di meja makan. Meski merasa bahagia, Kania tak memikirkan dirinya sendiri. Ia ingat jika di rumah besar ini tak hanya ada mereka saja. Ada keluarga baru yang sedang menantinya, Sigit.
Kania meminta izin Agnes. Sekarang semuanya akan berjalan seperti keinginan Nyonya besar itu. rumahnya yang besar akan kembali ramai. Agnes dan Chandra di beri kesempatan kedua untuk menjadi orang tua yang bertanggung jawab.
“Ma, Kania panggil Sigit juga ya!”
“Iya Sayang, ajak dia turun untuk bergabung.”
Agnes membantu Bibi untuk menyiapkan makanan di atas meja. Kehidupannya akan mulai berubah mulai sekarang. Sedangkan Dion, karena sedang merasa senang juga telah merasa menang, pentolan geng itu tak ingin lagi membuat Kania terus protes terhadap tingkahnya. Ia juga akan merubahnya sikapnya terlebih terhadap Sigit.
__ADS_1
Chandra dan Agnes sepakat untuk menyelesaikan masalah tanpa melibatkan anak-anak. Kedua bocah tampan itu sama-sama menjadi korban orang tua. Agnes berusaha memahami itu.
Chandra bersumpah kepada Agnes, bahwa Ia tak pernah mengkhianatinya. Surat dari Rosi saja Chandra tak pernah menduganya. Di dalam kamar tadi, drama kedua orang tua pun terjadi. Chandra meyakinkan Agnes jika Sigit adalah anak yang baik dan bisa menjadi saudara yang baik untuk Dion.
Sebagai wanita yang berpendidikan tinggi, Agnes mengetahui tentang donor benih untuk inseminasi. Yang membuat Agnes tak menyangka adalah kenapa suaminya turut serta dalam hal seperti itu. Agnes tak butuh waktu lama untuk menerima Sigit. Tetapi, lain cerita jika Ia diminta untuk berbagi suami.
Meskipun Agnes sempat menangis di dalam kamar, karena tak tahu lagi harus berbuat apa. Pelukan dari Chandra meredakannya sembari mencari solusi terbaik untuk keluarganya. yang pasti Chandra tak akan membiarkan keutuhan rumah tangganya hancur. Ia pastikan itu.
...
Sigit yang segera berbalik ke kamar karena melihat pemandangan yang menyakitkan. Mendengar suara Kania dari balik pintu.
“Sigit, buka pintunya dong!”
Tak ada jawaban, Kania mencobanya lagi. kali ini lebih lembut. Kania merasa bersalah dengan perbuatan Dion yang terus melukainya.
“Sigit, boleh Aku masuk? Aku mau melihat lukamu!” lirihnya. Yang tak di sangka langsung mendapat sambutan dari Sigit.
“Masuk!”
“Masuk, katanya mau mengobati lukaku!”
Luka yang di maksud Kania dan Sigit berbeda. Sigit menarik lengan Kania dan menyandarkan dirinya di dinding. Ia hanya ingin menatap gadis itu lekat tanpa jarak.
‘Kania, apa mencintaimu harus sesakit ini?’
Kania memutuskan tatapan sendu Sigit terhadapnya. Gadis itu tak ingin lagi membuat Dion marah dan berujung dengan terlukanya Sigit. Kania juga harus melupakan perasaannya, memang tak seharusnya Ia mempermainkan perasaan dua pria yang jatuh hati padanya.
“Sorry Sigit, Aku akan mengobati luka mu nanti. Sekarang Aku mau mengajakmu turun untuk makan.”
“Kamu masih saja canggung denganku, Ayo!”
Merasa tak pantas berduaan di kamar, Kania segera menarik lengan Sigit untuk keluar. Mulai saat ini, Kania akan menganggap Sigit sebagai saudaranya. Bukan yang lain.
__ADS_1
Suasana di meja makan sangat sepi, tetapi tidak setelah kehadiran Kania. menggandeng Sigit turun dari tangga dan menyapa semua orang.
“Nah, lihat! Siapa yang Kania bawa. Mas Dion, ini saudaramu. Mulai sekarang kamu nggak boleh berbuat seenaknya sendiri di rumah!” pinta Kania, yang mendapat jempol dari Chandra. mata dion tertuju pada tangan Kania yang masih menggandeng Sigit.
“Mama, juga Papa sekarang kalian nggak akan kesepian lagi. Ini kesempatan kalian berdua untuk memberikan kasih sayang kepada dua putra kalian.”
“Nah Sigit, kamu tak perlu lagi merasa sungkan. Kamu tidak sendiri, ada aku di sini dan juga orang tuamu, oke!”
Kania mendudukkan Sigit di sebelah Dion dan Kania duduk berhadapan dengan mereka berdua di sebelah Agnes. Kania mendapat kecupan sayang dari Agnes. Ia mungkin tak dapat bicara panjang lebar seperti Kania. gadis itu benar-benar bisa mengisi kekosongan dalam kediaman besar Candra Wijaya.
...
Rosi masih memikirkan tentang ucapan Chandra yang bersedia mengurus gugatan cerai itu. Ia tak pernah berpikir jika perbuatannya sampai sejauh ini. padahal keinginan Rosi hanya satu, kebahagiaan Sigit dan sekarang sudah terwujud. Wanita empat puluh tahunan itu bisa menikmati hidupnya di dalam kurungan tanpa beban. Lalu, bagaimana dengan Yoshi?
Tiba-tiba suara petugas menyadarkan lamunannya.
“Rosi, ada yang ingin bertemu!”
“Siapa Pak?” Rosi penasaran.
Ternyata seorang pria dengan setelan formal telah menunggunya. Rosi pun berjabat tangan, dan pria itu mengenalkan diri. Ternyata adalah seorang pengacara dari Chandra Wijaya. Kedatangan Pria itu meminta Rosi untuk menanda tangani berkas-berkas penting.
“Ibu Rosi, saya diutus kemari oleh Pak Chandra untuk menyampaikan bahwa beliau menjamin anda untuk bebas dari segala tuntutan.”
“Bebas? Tapi kan saya...”
“Satu lagi, Anda hanya perlu menanda tangani surat perjanjian ini. tolong anda baca dan pahami dulu! jika setuju atau keberatan segera sampaikan kepada saya. dua hari lagi saya akan datang kembali.”
Rosi membaca beberapa lembar kertas yang berisi perjanjian hitam di atas putih itu. di mana setiap poinnya Ia mengerti. Namun, di akhir perjanjian itu hati Rosi sedikit kecewa. Ia menatap pria berkaca mata di depannya.
“Bagaimana? apa ada yang perlu ditanyakan?”
“Tapi saya tidak menyetujui untuk hal ini!”
__ADS_1
...