Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 74. Misi Gagal


__ADS_3

“Dokter tolong selamatkan mereka semua, soal biaya jangan khawatir berikan pelayanan yang terbaik!”


“Silakan Anda menunggu di luar, kedua pasien membutuhkan penanganan cepat.” Jo mengusap matanya yang basah. Semuanya terjadi begitu cepat, Saat Sigit dan Kania mulai membicarakan soal pernikahan Yoshi. Sigit masih terus terngiang ucapan Dion tentang perilaku Papanya yang bisa saja menurun kepadanya. Sigit tidak terima, dan menjadi tidak fokus dengan kondisi jalanan yang berkelok.


Kania tak mempermasalahkan sedikit pun seperti yang di khawatirkan Sigit. Gadis itu terus berhati-hati setiap berucap kepada kekasihnya. Rasa ketakutan Sigit semakin tak masuk akal, jika Kania akan meninggalkannya suatu saat. Hingga mereka berdua berdebat dan kecelakaan itu pun tak terelakan.


Brakk!!


Sigit membanting setirnya ke kiri dan menabrak pohon saat berada pada jalanan yang landai. Sigit dan Kania mengalami luka cukup serius dan segera dilarikan ke rumah sakit. Jo dan Richie mengalami luka kecil dan berusaha menghubungi keluarga Sigit di rumah, namun tak ada respon sama sekali membuatnya semakin panik.


Jarak mobil Sigit dan Dion sebenarnya tak terlalu jauh, hanya saja saat peristiwa itu terjadi, Dion tak menyadarinya. Mobil yang mengalami kecelakaan adalah mobil yang sama yang membawa sekretaris yang dicintainya.


Keesokan paginya Richie tersadar, namun tidak untuk sepasang kekasih itu. Benturan kemudi di dada dan kepala Sigit cukup keras juga pada Kania.


“Lo udah sadar Richie?” Jo berharap cemas.


“Hmm, Gue nggak apa-apa. Cuma masih ngerasain pusing, gimana keadaan Bos sama Mbak Kania?”


Hah... Jo menghela napas, padahal seharusnya satu jam lagi mereka tiba di Jakarta seandainya kecelakaan itu tidak terjadi. Jo melihat ke jendela, Ia menatap jalanan raya yang makin padat. Perasaanya semakin tak menentu.


“Masih belum keluar dari ICU. Chie coba Lo hubungin Pak Dewa bisa nggak? Tante Rosi nomornya nggak aktif.”


Richie menunjukkan keadaan ponselnya yang sudah mati bahkan sudah tak berbentuk lagi. Kini mereka berdua bingung, dan mencoba mencari tahu dimana ponsel Kania berada. Setelah bertanya, Perawat memberikan kedua ponsel milik kedua pasien.


“Maaf ya Mbak, Kita lancang membuka benda pribadi Mbak Kania,” lirih Jo. Ia membuka pesan milik Dion. banyak pesan masuk darinya. Jo berpikir jika Dion masih berada di Bandung. Namun berulang kali memanggil juga sambungan telepon tak diangkat.


“Kenapa dengan semua orang? Apa hape semua orang rusak? Kenapa tak ada satupun yang mengangkat panggilan Gue?” teriak Jo kesal. Ingin membanting benda pipih di tangannya, namun Ia lupa benda itu bukan miliknya.


...


Dengan motor besar kesayangannya, Dion telah sampai di rumah sewa Kania. Namun, tetangga sekitar mengatakan jika gadis cantik itu belum kembali sejak pergi beberapa hari yang lalu. Dion menuju rumah sakit tempat Sigit bekerja, di sana pun kafe itu tutup.


“Aarrrgghh!!”


Pentolan geng tampan itu mengambil ponselnya dan menanyakan lokasi acara pernikahan itu di gelar.


Dion

__ADS_1


[Halo Ma, sekarang Mama di mana?]


Agnes


[Mama di Hotel Eternal lantai sepuluh nak! Kemarilah, acaranya baru saja di mulai.]


Dion


[Mama lihat wanitanya nggak? Tolong fotoin buat Dion dong Ma!]


Agnes


[Nanti dong, kalau sudah waktunya sesi foto, kenapa? Apa kamu kenal dengan gadis muda itu?]


Dion


[Hmm, ya sudah Dion ke sana!]


Setelah Dion menutup sambungan teleponnya, Ia melihat panggilan tak terjawab begitu banyak dari Kania. senyumnya tergambar jelas di wajah pria tampan itu.


‘Akhirnya Lo hubungin Gue juga!’


Dion


[Brengsek! di rumah sakit mana kalian? Jadi semalam kalian belum sampai Jakarta?]


Jo


[Belum Mas, sekitar jam Lima sore, kecelakaan itu terjadi tepatnya saya nggak tahu. Tapi Mas Sigit sama Mbak Kania sampai sekarang belum sadar.]


Dion


[Tunggu Gue datang!]


Tanpa pikir panjang, Dion menuju rumah sakit di mana Kania dan Sigit dirawat. Penyesalan yang besar harus Dion tunjukan untuk sahabat baiknya. Jika dirinya tak mampu mencegah pernikahan itu. tak memperhatikan keselamatannya sendiri, Dion melaju dengan melebihi batas normal kecepatan yang seharusnya.


‘Semoga Lo nggak apa-apa Kania! dasar cewek bandel susah banget dikasih tahu untuk pulang bareng Gue, terus aja ngeyel!’

__ADS_1


Dalam balutan helm fullface itu Dion terus merapalkan doa untuk keselamatan Kania. perasaan cemas sudah tak bisa Ia kendalikan. Dion menemui Jo juga Richie, memberikan ponsel Kania juga memberi tahu di mana ruangan mereka ditempatkan.


“Anda keluarga Pasien?” dokter yang baru saja memeriksa Kania menjelaskan tentang kecelakaan yang terjadi. Semuanya baik-baik saja hanya saja benturan di kepala cukup keras membuat kesadarannya pulih lebih lama.


“Lalu, bagaimana dengan perutnya? Apa ada masalah?” Dion memberanikan diri bertanya, harapannya sangat tinggi. Dokter itu mengulas senyum meletakan stetoskopnya ke dalam saku.


“Anak pertama ya? usianya memasuki minggu ke delapan. Masih sangat muda, luka di kepalanya tak mempengaruhi pada kehamilannya. Jangan membuat sang Ibu stres, supaya pemulihannya lebih cepat. Baiklah saya tinggal dulu.”


Dion bisa bernafas lega, ternyata benar ada janin kecil di sana. Pria itu bersorak penuh kemenangan


Dokter berlalu, meninggalkan Dion bersama Kania di ruangan itu. Sedangkan Jo dan Richie menunggu di ruang Sigit.


Ternyata Sigit lebih dulu sadar dibandingkan dengan Kania. dalam ingatan pria itu, Kania mengenakan pakaian serba putih hendak meninggalkannya. Sigit segera membuka matanya dan meneriakkan nama Kania. air matanya mengalir di sudut matanya.


“Kania!!”


Jo terkejut. Tiba-tiba saja Sigit berteriak, dan mencari gadis itu. Jo menjelaskan kondisi Kania yang belum sadar hingga sekarang. Namun, Jo juga harus memberi tahu jika di dalam ruangan Kania ada pria yang semalam menginap di Villanya.


“Maksudmu bosnya Kania?”


“Iya Mas, lebih baik Mas Sigit pulih lebih dulu! Jo nggak bisa menghubungi orang rumah Mas, nomornya nggak aktif.”


“Tapi Kania selamat kan Jo? Dia nggak apa-apa kan?” Jo mengangguk. Beruntung sekali gadis seperti Mbak Kania dicintai dua pria seperti mereka. Bahkan penyebab kecelakaan itu juga tak jauh-jauh dari rasa khawatir takut kehilangan.


“Udah Jo, biarkan Bos istirahat!” Richie memberikan ponsel milik bosnya. Sigit menghubungi stafnya di kantor. Ternyata dugaannya benar, Papanya telah melaksanakan pernikahannya hari ini. melihat sosok gadis dalam balutan kebaya putih itu, Sigit memejamkan mata tak percaya. Gadis itu adalah Yoshi.


“Arrgghhh!!”


“Mas! Mas Sigit nggak apa-apa?” Jo khawatir. Menguatkan pria tampan yang rapuh itu. Sigit tak pernah marah, tak pernah meluapkan emosinya. Semuanya terpendam dalam alam bawah sadarnya. Jo takut, jika keinginan untuk mengakhiri hidupnya bangkit lagi.


“Mas, ada kami di sini, Mbak Kania juga sedang berjuang untuk sadar. Jangan sedih ya Mas, kita akan segera kembali ke rumah.” Richie keluar dari ruangan, tak sanggup melihat pemandangan yang menyiksa seperti itu.


Notifikasi di ponsel Dion berbunyi. Beberapa pesan masuk dari Mamanya dan juga Vicky. Dion ragu membuka pesan dari mamanya. saat menunjukkan beberapa foto mereka. Tangan Dion mengepa kuat. Memukul bed tempat Kania terbaring. Hatinya sakit, merasakan kesakitan yang akan di derita Iwan.


Foto pernikahan Dewa Virgiawan dan Aulia Yoshi. Tampak Mama dan Papanya di sana. Dengan senyum sumringah.


“Ma, Pa andai kalian tahu gadis itu pacar Iwan Ma, sahabat baik Dion sejak SMA.” Dion mengapus sudut matanya yang basah. Sebelum memberanikan menghubungi Vicky.

__ADS_1


Vicky


[Bro, kita udah di bandara bandung, satu jam lagi sampai Jakarta


__ADS_2