Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 70. Huru-Hara


__ADS_3

Sebuah Pajero sport berwarna hitam terparkir di halaman Villa besar yang sesuai dengan alamat yang tertulis di pesan Kania. Pria maskulin dengan ripped jins dan kaos slim fit putih, sangat menyatu dengan wajahnya yang tampan. Langkahnya memasuki teras yang sangat estetik.


Dion menghubungi Kania, karena cuaca di luar sangat dingin. Setelah menekan bel dan mengetuk pintu berulang kali namun, tak ada sahutan dari dalam. Setelah panggilan ke sekian, Kania terbangun karena ponselnya terus berdering. Ia tak ingin mengganggu Sigit yang sedang istirahat gurat wajahnya membuat Kania merasa ingin terus bersama pria manis itu.


Tangan besar milik Sigit berada di perut Kania, membuatnya sulit bergerak. Perlahan gadis itu menyingkirkannya. Saat melihat jam di layar ponselnya, ternyata waktu masih menunjukkan tengah malam, namun Dion mengatakan jika Ia sudah di depan teras. Karena tak percaya, Kania memintanya mengirim gambar dirinya.


“Astaga, benar-benar ya!”


Kania merapikan rambutnya dan bergegas keluar. Ternyata benar, bosnya datang untuk menjemputnya. Kania mencoba mengintip dari balik tirai jendela, Ia benar-benar melihat sebuah mobil hitam terparkir di sana.


Gadis itu semakin tidak tenang, saat membuka pintu tak ada seorang pun di luar. Hingga Kania berjalan ke arah mobil itu berada. Namun, langkahnya terhenti saat Dion menarik lengan gadis itu dari belakang dan memeluknya.


“Lo nyariin Gue ya?” Kania tertarik dan masuk dalam dekapan hangat pria menyebalkan itu.


“Baru Lo tinggal beberapa jam aja Gue nggak sanggup Kania. Gue kangen berat.” Bisik Dion.


Merasakan wangi rambut gadis itu, Dion menghirupnya dalam-dalam. Pelukan itu semakin erat, saat deru napas Kania menempel di permukaan kulit Dion. gadis itu mencoba melepaskannya dan mengajak Dion masuk untuk menghangatkan diri.


“Kebiasaan sih nekat! Kan Kania sedang libur Pak! memangnya nggak punya kesibukan lain apa, sampai malam-malam begini susulin Kania ke Bandung?” Gadis itu pergi ke dapur membuatkan secangkir kopi panas untuk pria itu.


“Jangan panggil pak! Ini di luar pekerjaan, kalau Gue kangen, terus Lo mau bilang apa?”


Tak mau ditinggalkan begitu saja di ruang tamu. Dion mengikuti langkah Kania. Sesekali pandangannya mengedar melihat seluruh dekorasi ruangan dalam villa milik Sigit yang bernuansa biru dan putih, sangat menenangkan menurutnya secara pribadi. Sepertinya Kania memang sedang membutuhkan liburan semacam ini. Ya, Dion membayangkan hanya mereka berdua.


Sejak melihat hubungan Iwan dan Yoshi hancur begitu saja. Dion menyimpulkan jika keputusan yang diambil Vicky waktu itu sangat tepat. Untuk segera menikahi kekasihnya supaya tak mudah diambil orang. Melihat Kania begitu telaten, Dion pun tak khawatir akan terabaikan.


“Duduk dulu, pasti di luar dingin ya!”


“Hmm, itu tahu!” pria itu sudah berada di dapur, tepat di belakang Kania. “Jadi kamu suka tempat seperti ini, Gue bisa kasih sesuai permintaanmu tapi Lo balik sama Gue ya, Kania!”


“Jangan macam-macam, ini Kopinya!”

__ADS_1


Dion mengatakan jika Iwan masuk rumah sakit, makanya Ia sampai di Bandung. Pria itu juga tak mengatakan awalnya Ia sengaja mengikutinya, hah! gengsi, mana mungkin Dion akan berterus terang. Bisa besar kepala Kania.


“Hah, benarkah? Bagaimana keadaanya?” Kania khawatir.


“Ayo, kita tungguin Iwan, nanti Gue ceritakan apa yang terjadi sebenarnya!”


Sedangkan di kamar Sigit, pria itu mendapati sisi ranjangnya kosong. Dan bangkit dari tempat tidurnya.


“Yang ... kamu di kamar mandi?”


Tak mendapati sahutan, Sigit memeriksa kamar mandi itu ternyata kosong. Pria berkulit putih itu mencari keluar ruangan dan semuanya sepi. Sampai terdengar obrolan di dapur yang membuat langkah Sigit menuju ke sana. ‘Tak mungkin jika itu adalah Jo dan Richie, karena mereka baru tidur beberapa saat yang lalu.’


“Sayang!” sapa Sigit lembut.


Dion yang tengah menggenggam tangan Kania, segera menoleh ke arah pria yang tampak bangun tidur itu. Sigit menyugar rambutnya, pandanganya yang awalnya sayup-sayup karena masih mengantuk mendadak terang benderang melihat Dion berada dalam villanya.


“Ada tamu, kenapa kamu nggak bangunin Aku? kan Aku cariin kamu di sebelah udah kosong.” Dion langsung menatap Kania.


Kania mengalihkan pandangan ke arah Sigit, menggaruk bagian tubuhnya dan merapikan rambutnya. Pikiran Dion yang absurd mulai menjurus kemana-mana. Tangannya tak melepaskan genggaman itu, justru semakin erat.


“Katakan, kalian berdua?”


Sigit melepaskan tangan Dion, “Tamu harusnya tahu tempatnya dimana, Kania hanya sekretaris Anda, tak baik jika Anda terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadinya. Saya berhak atas diri gadis ini, karena saya pacarnya!” tegas Sigit.


Dion menarik kaos Sigit dengan kuat, keduanya sama tinggi. Tatapan itu begitu mengancam. Namun, Sigit dengan tenang mampu mengatasinya. Sedangkan letupan amarah Dion sudah pada puncaknya.


“Ck, Apa Lo sudah update terbaru kalau Lo akan segera punya ibu tiri seusia Lo? haha... setelah Ini Lo nggak akan bisa menyombongkan diri di depan gadis ini!” sarkas Dion.


Mulai terpancing dengan ucapan Dion, Sigit lebih khawatir dengan penilaian Kania nantinya. Tangan Sigit melepaskan cengkeraman itu dan mendorong Dion dengan kuat. Sampai kegaduhan itu membangunkan Richie juga Jo yang berada di lantai dua.


“Sudah, Aku nggak mau ribut-ribut. Kalian lihat jam berapa sekarang?” Kania memisahkan Sigit dan Dion. meminta bantuan kepada Jo dan Richie. Sambil memijit pelipisnya yang terus berdenyut. Keduanya menanyakan kepada Kania bagaimana kondisinya.

__ADS_1


“Kamu nggak apa-apa Yang?” Sigit menghampirinya, begitu juga Dion. Namun Kania malah pergi meninggalkan mereka berdua.


“Jo, Richie, Gue titip jagain mereka berdua ya! kepalaku sakit, Gue mau tidur. bisa kan?” Kania melambaikan tangan dan memberikan kiss bye kepada mereka berempat. Richie menahan tawanya melihat ekspresi Jo dan kedua pria tampan di sana. Menatap gadis cantik itu dengan mulut menganga lebar.


“Kan, benar! Pacarnya si bos itu aneh.” bisik Jo.


“Kania!” Dion hendak menyusulnya namun dicegah oleh ketiganya. Bisa saja Dion menghajar Jo, Richie dan Sigit. Namun bisa dipastikan dirinya tak akan pernah bertemu dengan gadis itu. Mau tak mau, Dion bermalam juga di tempat Sigit hingga pagi tiba.


...


“Bro, udah sadar Lo?” Iwan melihat kawan baiknya terjaga di sampingnya. Melipat tangannya di dada dengan mata terpejam. Di sisi kirinya, seorang wanita hamil yang tampak kelelahan terbaring di sofa dengan wajah lucunya.


“Lo cuma berdua?” Iwan tampak pucat, juga gurat sedih di wajahnya tampak jelas.


“Ada Dion juga, tapi Doi lagi jemput pacarnya yang dibawa cowok lain.”


Haha... Iwan tertawa. Karena perilaku Dion tak pernah berubah.


“Cowok yang kemarin itu?”


“Iya! Kania sama cowok itu udah jadian.”


“Yoshi gimana Bro? udah ada kabar?”


Saat Vicky berusaha menghubungi ponsel gadis tomboy itu ternyata nomornya sudah tidak aktif. Dan suami Dista sedikit menyesalkan kenapa Iwan baru mengatakan masalah Yoshi sekarang ini. Namanya sebuah penyesalan pasti akan selalu datang terlambat.


“Kita datangi rumahnya Bro! Lo tahu tempat tinggal pria brengsek itu?”


“Mau ngapain Lo? sok jagoan? Lo aja sekarat disini, mana bisa Lo bikin huru-hara sama mereka. Dion tahu semua, ternyata yang mau nikahi cewek Lo itu salah satu klien di perusahaannya. Dan yang akan bikin Lo lebih shock lagi, Pria itu Bokapnya Sigit, parah nggak tuh!”


“Stres!”

__ADS_1


...


__ADS_2