
Pagi-pagi Asri sudah menyapu halaman rumah besar Wijaya. Dari bagian belakang sampai depan pos satpam. Agnes yang baru akan menyirami tanaman hiasnya, melihat ibunya Kania dan meminta Ujang untuk melarangnya.
“Ujang!” teriak Agnes
Terlihat seorang pria berdarah sunda tengah berlari-lari dari halaman samping. Belum selesai mengelap dua unit mobil bos besarnya. Kini datang lagi tugas dari nyonya besar.
“Ya Bu? Ada apa?”
“Jang, tolong hentikan itu Bu Asri! ... aduh, nanti kalau anaknya datang kan saya merasa nggak enak! Nanti dikira saya yang menyuruh Ibunya untuk bekerja disini.”
“Oh itu Ibunya Mbk Kania? Iya Bu, Ujang pikir asisten rumah tangga baru, hehe...”
“Hus! Enak saja kamu ngomong. Buruan Jang, jangan boleh pegang apapun ya, apalagi pekerjaan rumah tangga. Dion akan pulang hari ini, nanti jemput di Bandara ya!”
“Iya Bu, punten!” Ujang pun berlalu.
Dengan lemah lembut Ujang memberitahu kepada Asri, jika pekerjaan rumah tangga yang lain sudah ada yang mengerjakan. Kalau mau membantu, Agnes tidak melarang tapi jangan dikerjakan semuanya.
Asri hanya tertawa. Ia tak bisa berpangku tangan. Menyapu halaman dan melakukan pekerjaan rumah sudah menjadi kebiasaannya.
“Wah kalau begitu Saya nggak bisa tinggal disini terlalu lama Ujang, nggak pantas hidup menumpang tapi nggak melakukan apa-apa.” Asri masih saja melanjutkan membuang sampah daun-daun kering ke tempat sampah.
“Bu Asri lebih baik minum teh sama Bu Agnes sama Bapak saja. sebentar lagi Mbak Kania sama Mas Dion pulang.”
“Yang benar Ujang? Ya sudah, kalau begitu saya mau siap-siap dulu. Asri sedikit berlari membawa sapu lidi dan pengki di tangannya.
‘Hmm, pantas saja Mbak Kania rajin banget, orang ibunya juga rajin.’ Ujang kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tak berselang lama sebuah taksi tiba di depan rumah. Dion membawa barang bawaan mereka masuk ke dalam. Kania yang masih mengantuk masih belum sadar, jika Ibunya sejak tadi menahan tangis melihatnya.
Kania menatap wajah sayu itu. sembari mengucek keduanya matanya yang masih berat. Kemudian Kania bertanya kepada Dion.
“Mas, itu Ibu Kania bukan sih? atau memang Aku hanya berhalusinasi.” Dion mencubit pipinya gemas, dan gadis itu mengaduh. Semua orang menatap kelakuan mereka berdua sembari tertawa.
“Sakit tahu!”
“Berarti nggak mimpi dong, Ayo masuk. Aku juga mau ketemu Ibu mertuaku.” pungkas Dion meninggalkan Kania. Dion menyalami Asri.
“Bu, lama nggak bertemu. Saya Dion dan ...”
“Oh, kamu yang dulu sempat membawa anak saya lari dari rumah itu kan? ternyata kamu anaknya Pak Chandra?” Asri keheranan.
__ADS_1
Semua tertawa melihat tingkah Asri yang kaget saat bertemu Dion. seperti menangkap basah seorang penjahat. Ujang pun terpingkal-pingkal mengingat kejadian itu.
Asri lantas meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Sampai pria dengan lesung pipi itu merasa tidak enak.
“Jangan begitu Bu sama calon menantu,” goda Dion. “Kania, Ayo salami Ibumu! Katanya kangen?” Gadis itu melangkahkan kakinya tak percaya jika Dion benar-benar mencari ibunya.
“Bu, maafin Kania ya, Nia bukan anak yang berbakti. Tega meninggalkan ibu sama Faris hanya berdua.” isak gadis itu. semua pun mengajak mereka masuk. Agnes, Asri dan Kania menghabiskan waktu di kamar tamu.
“Kania cerita dong sama Tante, kalian berdua sudah baikan kan?”
“Memangnya kalian berdua bertengkar? tanya Asri. “Hehe, Nggak kok Bu cuma terkadang berbeda pendapat saja dan salah paham.”
“Bagus dong, kalau begitu selagi ada ibu kamu di sini, Tante mau minta izin buat melamar kamu untuk Dion, bagaimana Bu Asri?”
Asri menanggapi permintaan Agnes dengan senyum saat melihat wajah Kania semerah tomat.
“Saya menyerahkan semuanya kepada Kania Bu Agnes.” Agnes menyimpulkan diam artinya setuju.
“Syukurlah, Tante jadi punya menantu juga akhirnya,” aku Agnes.
...
“Udah Mang, Dion aja yang bawa! Oh ya Pa, kita mau bicara di mana?”
“Di ruang kerja saja.” Chandra memasuki ruangan kerjanya. Berdiri di susunan rak besar dan memilah beberapa dokumen salinan yang pernah diberikan Kania.
“Oke! lima menit Dion kembali.” pria itu menuju ke kamarnya. meletakan barang bawaanya ke sudut lemari. Semua baju Kania sengaja Ia letakan di kamar. ‘Biarin, kalau butuh biar ambil di kamar gue!’
Dion berganti dengan pakaian santai. Segera menemui Papanya untuk menyelesaikan pemutusan kontrak itu. Tak ambil pusing, setelah memeriksa isi perjanjian jika salah satu pihak membatalkan kontrak dengan alasan tertentu, akan dikenakan biaya pinalti sebesar dua puluh persen dari nilai kontrak.
“Papa nggak perlu pusing, bukan perusahaan yang rugi kan? Lagi pula itu karena alasan pribadi Pa, jadi ya apa boleh buat.”
“Kamu nggak berbuat aneh-aneh kan Dion?” Chandra melihat senyum putranya yang Ia tahan.
“Haha... nggak Pa, takut banget sih! Dion udah berubah Pa, sejak di Bali kemarin Dion udah memutuskan untuk menikahi sekretaris Dion, hehe... kalau bisa dalam minggu ini ya Pa!”
Huft! Chandra mendengus. “Giliran ada maunya saja berbuat maunya secepatnya. Dulu, sampai kamu kabur-kaburan pakai mengejek Kania sebegitunya, uh rasain! kualat kamu sama anak gadis papa, haha...”
Ledek Chandra sembari pergi meninggalkan bocah badung itu.
“Pa, kali ini Dion serius!”
__ADS_1
...
Sigit masih berada di hotel, begitu juga dengan Yoshi. Dewa memberitahu putranya, jika dirinya langsung terbang ke Bandung untuk mencari kontraktor baru. Pria dengan dua istri itu meminta Sigit untuk kembali ke Jakarta beberapa hari lagi.
Yoshi tak berniat keluar dari kamar. Wajah dan sekujur tubuhnya dipenuhi luka lebam dan memar. Matanya pun sembab. Berulang kali dering ponselnya berbunyi. Panggilan dari Iwan dan juga teman-temannya Ia abaikan.
Sigit juga tak mengerti, kenapa gadis tomboy itu tak juga keluar. Berulang kali Sigit menyambangi kamar Yoshi untuk mengajaknya makan di luar.
“Yoshi, Lo masih di dalam kan?”
Berulang kali Sigit memanggil namanya. Namun tak juga ada reaksi. Sampai Sigit menggunakan kartu akses yang diberikan Papanya.
“Kalau Lo nggak keluar, Gue terpaksa masuk!” Sigit berpikir terjadi sesuatu pada gadis itu. saat hitungan ke tiga, Yoshi membuka pintunya.
“Yoshi! Wajah Lo!” Sigit ingin melihat wajah gadis itu, tapi Yoshi menangkisnya.
“Mau apa Lo?”
“Sorry-sorry, Gue nggak maksud buat kurang ajar, tapi apa yang terjadi dengan diri Lo?”
Yoshi masuk ke kamarnya. Sigit mengikutinya dari belakang dan ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Yoshi memaki pria yang masih berstatus sebagai kekasih Kania itu. rasanya tebakannya benar, jika Sigit memang pria dengan dua kepribadian.
“Nggak usah sok baik Lo sama Gue! asal Lo tahu ya, ini semua kerjaan Lo kan?”
“Maksud Lo? Gue nggak paham dengan apa yang Lo bicarakan.”
Yoshi tak ingin banyak bicara. Sigit pun juga masih kesal dengan Yoshi yang dengan tega membanting tubuhnya kemarin.
“Sudahlah, Lo sama Bokap Lo sama aja! sakit jiwa!”
Sigit membawa Yoshi ke tempat duduk dan mengobati lukanya. Mengoleskan salep ke memar-memar di wajahnya. Pria itu mengatakan tubuhnya masih nyeri akibat cidera kemarin. Yoshi pun tertawa.
“Lo nggak perlu berpura-pura baik di depan gue Git!”
“Terserah Lo Yoshi, Gue juga nggak peduli dengan omongan orang.” Setelah selesai mengobati gadis tomboy itu Sigit membawanya keluar. “Pakai ini! Nggak malu Lo muka bengkak begitu, haha...”
Sigit pun berlalu keluar. Ia mengajak Yoshi untuk menemui Kania. pesan semalam yang Sigit kirimkan itu hanya sebuah pesan iseng saja. bahkan Sigit tidak tahu menahu, tentang peristiwa yang dialami Yoshi.
“Kok Sepi? Pada kemana mereka?”
...
__ADS_1