Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 49. Kebetulan Adalah Jodoh


__ADS_3

Setelah dua jam meninggalkan kantor Dion kembali seorang diri. Perasaan bahagia itu terus tampak di wajahnya. Meski begitu Dion tak melupakan tingkah Kania yang menyebalkan. Melihat Dion sudah datang, Kania segera menyiapkan keperluan untuk meetingnya.


“Pak, kita berangkat sekarang?” tanya gadis itu.


Dion duduk di kursinya dan mengeluarkan sepucuk surat yang Ia terima semalam dari papanya. Namun, dirinya salah mengambil dari saku jasnya dan mengulurkannya pada Kania.


“Ini, hasil laporan visum kemarin simpan baik-baik!” Dion kembali memeriksa pekerjaannya. Kania merasa bersalah tentang pengeroyokan yang menimpa Dion semalam. Akibat ulah kakaknya, pria itu tetap bungkam tak ingin membicarakannya sama sekali.


Saat Kania memeriksa amplopnya, ternyata yang Ia baca adalah laporan hasil pemeriksaan kandungan yang memasuki bulan ketiga. Tertera nama nyonya Vicky di sana, juga lampiran hasil print tiga dimensi janin yang masih sangat kecil. Lantas Kania menatap Dion, wajah pria itu kembali melunak setelah pergi bersama Dista.


“Ehm ... tapi Pak, Ini bukan surat untuk saya!” nada kekecewaan terdengar dari Kania.


Kania menyerahkan surat itu dan Dion terkejut. Ternyata Dion lupa menyerahkannya pada Dista saat menebus obat di apotek. Dion mengambil hasil usg itu seraya bergumam, “Andainya ini punya Gue pasti rasanya bahagia.” senyum manis Dion memudar, bersamaan dengan Ia memasukan lagi secarik kertas itu ke dalam amplop dan menyimpannya.


“Ini suratmu. Ayo nanti kita terlambat!” Dion mengenakan lagi jas nya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Kania. Di dalam lift Dion memperhatikan Kania lamat-lamat, kenapa sampai sekarang Kania belum juga memberinya tanda-tanda positif. Mengingat Dion sengaja melakukannya dalam puncak masa subur gadis itu.


Sedangkan dalam pikiran Kania, ‘Kenapa Dion lebih tertarik dengan milik orang lain, apakah pria itu lupa jika telah menanmkan benihnya dalam diri Gue? Ah sudahlah, Gue nggak akan berharap lebih. Mengingat hal itu saja membuat Gue ngeri.’


Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing sampai mobil mereka tiba di tempat meeting yang sudah disepakati.


...


Pria menawan berkulit putih mengendarai Audi hitam miliknya. Menuju ke sebuah mall elit di Pusat Jakarta. Menurunkan kaca mata yang tarsandang di wajah tampannya. Merasa penasaran karena si bungsu terus menscrol layar ponselnya. Tersenyum tipis penuh kharisma, pria empat puluh tahunan itu menepuk pundak putranya yang bertambah dewasa.


“Apa ada masalah?”


“Sedikit!” Apa Papa dulu begitu sulit mengajak Mama keluar untuk sekedar makan siang?” pertanyaan Sigit membuat papanya tertawa.

__ADS_1


“Oh, masalah gadis ternyata. Sudah berapa lama kamu mengenalnya? Kalau masih baru, ya kalian pasti membutuhkan waktu. Ingat Git, jangan sembarangan memilih pasangan, Papa benar-benar akan menyeleksi pilihanmu nanti. Sekarang ikut Papa meeting dulu, nanti kita bicarakan masalah kamu.”


Mobil itu memasuki basement, dan bersiap untuk menemui kliennya. Dewa Virgiawan berjalan dengan penuh wibawa bersama putra bungsunya Sigit Virgiawan. Aroma uang sangat melekat pada Pengusaha terkenal itu. Pengunjung mall seolah tersihir dengan pesona Ayah dan anak pemilik gedung rumah sakit terbesar di Jakarta.


“Kamu mau ikut membicarakan bisnis? atau ...?” Dewa memberikan pilihan, karena Sigit tak seperti kakaknya yang bisa diatur semasa hidupnya. Kini Dewa tak ingin lagi kehilangan putra satu-satunya yang dimilikinya.


“Sigit ke kafe sebarang tempat Papa meeting ya! nanti hubungin Sigit saja jika sudah selesai.” sepasang Ayah dan anak pun berspisah. Sigit mencoba menikmati kesendiriannya di kafe itu, namun tak sengaja pandangannya tertuju pada gadis yang Ia temui tadi malam. Masuk ke sebuah restoran dengan pria tinggi tegap dengan setelan formal.


“Kania... sama siapa dia?”


Dion dan Dewa akhirnya bertemu. Mereka berjabat tangan dan saling melempar pujian. Di usia Dion yang seumuran dengan Sigit, membuat pengusaha sukses itu bangga karena tak banyak anak muda yang mau terjun dan menekuni dunia yang penuh persaingan ini.


Kania menatap Dion yang tampak frustasi. Pria yang tak gemar berbasa-basi itu segera menjelaskan apa yang perlu Ia terangkan, karena baginya hal ini sangat membosankan. Kania pun menertawakannya dalam hati. ‘Biarpun sedang menahan kesal, aura tampan Dion nggak pernah luntur.’


“Oh, jadi ini anaknya Pak Chandra ya? kebetulan saya juga punya anak laki-laki seusia Mas Dion, bisa lah kalau Saya berhalangan hadir, biar digantikan sama anak Saya.” Dion pun dengan obrolan santainya dapat mengalir begitu asik. Hingga tanda tangan kontrak itu berjalan lancar.


“Saya permisi keluar sebentar ya Pak.” Kania membungkukkan sedikit badannya, membuat Dewa kagum dengan first impression gadis cantik yang merupakan sekretaris Dion.


“Mas Dion jago juga nih milih sekretaris pribadi yang seumuran...” Dion mengangguk. Dalam hati pentolan geng itu ‘awas aja macam-macam kalau mau jodoh-jodohin Kania sama anaknya. Nggak akan Gue biarkan!’


...


Haah ...


Kania keluar, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Perutnya terasa penuh, mood nya mudah berubah. Entah mengapa klien barunya kali ini membawa atmosfer cukup menegangkan baginya. Kania melihat stand minuman manis di seberang, Akhir - akhir ini Kania tak tahan untuk tidak menikmati makanan yang paling anti Ia konsumsi.


“Doyan banget Gue sekarang sama yang manis-manis begini, pantas aja bobot Gue bertambah lumayan banyak.” Sedang asyik menyeruput minuman dingin, pundaknya dikejutkan dengan tepukan seseorang.

__ADS_1


“Eh copot!” pekik Kania.


Kania berbalik badan, sembari menahan diri untuk tidak berteriak. Saat melihat pria tampan berkulit putih itu tersenyum padanya, Kania menepuk dada pria itu perlahan.


“Sigit, ngagetin aja! By the way Kamu kok bisa sampai sini sih?” Kania tertawa. Setelah menikmati makanan manis mood gadis itu membaik, terlebih bisa bertemu dengan teman barunya. Jakarta adalah kota yang luas banyak tempat umum di sana. Tetapi mereka berdua bisa dipertemukan lagi dengan mudahnya.


Begitu juga dengan Sigit, perasaannya yang berantakan kini sudah kembali normal hanya dengan menatap senyum Kania saja.


“Bukankah ini kebetulan kita yang berikutnya, Kania? Karena kita sudah berada di sini, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?” ajak Sigit.


Seakan lupa dengan Bos dan pekerjaannya, Sigit dan Kania berkeliling mencari hiburan di sana. Namun sayang Kania tak nyaman dengan pakaian kerjanya. Gadis itu juga meninggalkan tas juga ponselnya di restoran.


Dewa undur diri, perihal kontrak dengan perusahaan besar sudah selesai. Dion pun sejak tadi sudah menahan kepulan amarah di dalam kepalanya. Tak tahu lagi harus berbuat apa dengan gadis itu. berulang kali menghubungi nomornya, namun dering ponselnya ternyata berada di dalam tas.


Ia ingin memeriksanya, sejak dulu Dion penasaran Kania menyimpan namanya di kontaknya dengan sebutan apa. Saat Dion periksa, pria itu tertawa. Setelah mendapati nama “pria brengsek” Kania mengganti nama Dion dengan “bos tengil.”


Satu jam Dion menunggunya, namun Kania tak kunjung kembali. Pria tampan itu terpaksa membawa tas Kania keluar dan mencarinya di toilet, tak juga Dion temukan keberadaan gadis itu. Saat menuruni eskalator, Dion melihat sosok gadis yang mirip dengan Kania tengah bermain di arena permainan. Gadis itu membawa banyak boneka dalam pelukannya.


“Bisa-bisanya bocah itu pergi bermain saat Gue sedang sibuk.” Dion menghampiri mereka berdua dan menghentikan raut bahagia mereka berdua. Sigit pun tak kalah terkejut. Kebetulan yang sangat banyak sekali.


“Waktumu habis, kembali bekerja! titah Dion pada Kania. Dan Lo, tukang kopi jangan ganggu orang yang sedang sibuk ya!” Dion meninggalkan mereka berdua setelah menyerahkan tas Kania. Pria itu berjalan dengan amarah di dalam dada. Hanya saja, Ia tak ingin membuat kekacauan di tempat umum mengingat nama besar Papanya.


“Sigit, Aku balik dulu ya! Oh ya satu lagi, Dia adalah Bos ku yang baru, sampai nanti!” Kania mengikuti langkah Dion dan Sigit memberi kode gadis itu untuk menghubunginya setelah selesai bekerja.


“Telepon Aku ya!”


...

__ADS_1


__ADS_2