Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 109. Sulit Ditebak


__ADS_3

Dengan kondisi pakaian yang basah, pentolan geng tampan itu menemui tamu yang dimaksud. Tak lain adalah sahabatnya sendiri, Vicky dan Dista. Namun, yang membuat Dion heran adalah sebuah koper besar dan rencana menginap mereka.


Melihat Dion tampak kedinginan, Agnes memberikan putranya sebuah handuk dan membiarkan mereka berbincang. Sementara Agnes menghampiri Kania di kamar.


“Apa kabar Bro? Wiiihh... Habis nyemplung di mana Lo? Haha...”


“Ledekin aja terus! Baru balik dari tempat ibunya Kania, kita ke atas aja Bro, sumpah dingin banget nggak enak ini badan Gue! Si bohay makin jadi aja body Lo, haha...”


“Ayo Yang! Kamu masih kuat naik tangga kan?” tangan Vicky merengkuh pinggang istrinya. Kandungan yang sudah memasuki trimester kedua membuat Dista lebih santai sekarang.


“Masih kok, udah nggak rewel lagi si kecil. Tapi kamu nggak lama kan Vicky?” rengek wanita dengan perut berisi itu. Dion mendengar obrolan mereka berdua tiba-tiba berdeham.


“Hmm... nggak usah mesra-mesraan depan gue!” Dion membuka kamar tamu untuk mereka berdua, sementara dirinya berpamitan untuk mengeringkan dirinya terlebih dahulu. Kania juga harus tahu, karena sekarang dirinya sudah tidak sendiri lagi. terlebih Kania selalu cemburu dengan cinta pertamanya yang satu ini.


“Gue ganti baju dulu Bro! Dis, Aa tinggal dulu ya!” sembari mengedipkan matanya.


“Aa, Aa, muka Lo jauh! Woo...” Vicky mengusap perut istrinya agar tak mirip kelakuannya seperti Dion yang sangat menyebalkan.


“Amit-amit jabang bayi! jangan mirip Dion ya nak ya, nanti kamu di coret dari kartu keluarga sama Papa.” Haha, membuat Dista mengusap wajah suaminya.


Setengah jam kemudian, dua pasang pasutri itu tengah menikmati waktu mereka di balkon kediaman Wijaya. Raut kesedihan masih tersirat jelas pada Kania. Apa lagi saat melihat perut berisi milik Dista. Seharusnya Ia juga merasakan kebahagiaan yang sama, tetapi Tuhan mengambil lagi apa yang sudah dititipkan kepadanya.


Dista yang pandai mengambil hati lawan bicaranya, membuat Kania mencurahkan semua rasa sesak di dada. Sayangnya penjelasan Dista justru memicu suasana canggung diantara mereka.


“Gue nggak bilang ini mudah, kalian hebat bisa melewati ini semua berdua, oke! soal anak kamu bisa serahkan semuanya sama Dion. Dia jago soal itu.” hibur Dista.


Kania dan Dion mengucapkan terima kasih, mereka semua telah membantu dirinya dan keluarganya saat tertimpa musibah yang berat. Semua bukan masalah besar, karena mereka semua saling memiliki satu sama lain.


Akhirnya Vicky pun menyampaikan maksud dan tujuannya. Jika kedatangannya kali ini akan sedikit merepotkan dirinya dan keluarganya.

__ADS_1


Meskipun Dista terus menolak, dan lebih memilih untuk tinggal bersama Ibu Vicky selama suaminya berada di luar negeri untuk perjalanan bisnis. Pria dingin itu tak bisa membiarkan Dista satu rumah dengan adiknya karena suatu hal.


“Hanya seminggu, itu pun akan Gue usahakan untuk pulang lebih cepat bro! Gue juga nggak mau merepotkan keluarga kalian lebih lama, tapi saat ini Gue nggak punya pilihan lain selain Lo dan Tante Agnes.” Papar Vicky.


“Lo lebih percaya sama Gue dari pada adik Lo sendiri?” tanya Dion. sesekali menertawakan kecemburuan sahabatnya itu.


“Haha, kalau sama Lo kan Gue yakin nggak akan terjadi apa-apa. Nah kalau sama Geri, Gue nggak yakin. Mereka berdua kan...,”


“Cukup Vicky, Nggak usah bawa-bawa Geri. Kamu aja yang belum bisa percaya sama Aku!”


“Sudah dong bumil, jangan marah-marah! nanti malam kita tidur berdua, nggak apa-apa kan Mas? tanya Kania. entah pura-pura bodoh atau memang tidak peka. Dion membelalakkan matanya tak terima.


“Sorry sayang, untuk malam ini nggak bisa! Si bohay sementara bisa tidur sendiri atau sama Mama, atau kalau mau dengan senang hati Gue bisa tidur di tengah.” Ucap Dion tanpa dosa.


Bug!! Sebuah bantal melayang, tepat mengenai wajah tampan pria berahang tegas itu yang terus tertawa.


“Sial. Masih aja pikiran Lo kemana-mana!”


“Bukan, ini luka milik Yoshi! sepertinya ini luka baru-baru ini.”


Dista merebut ponsel itu, dan memperbesar gambarnya. Tak hanya sekali mereka melihat keanehan itu. saat Dion di rawat, Dista juga melihat wajah Yoshi penuh lebam. Juga saat Kania ditemukan, Yoshi tak ada kabar selama beberapa hari.


“Gue yakin, ini di lakukan lebih dari sekali. Wajahnya juga lebam-lebam saat menjenguk kalian berdua sewaktu koma. Please, kalian bantu Yoshi keluar dari keadaan ini, Vicky, Dion!” isak wanita hamil itu.


“Iya, pasti! Tapi Iwan jangan sampai tahu ya, bisa lebih gawat nanti. Kalian bisa kan menyembunyikan hal ini sementara waktu?”


“Ehm,” sahut yang lain.


Setelah menikmati makan malam bersama, Dion bersiap untuk mengantarkan Vicky ke bandara. Perjalanan malam hari lebih mempersingkat waktu. Namun sebelum itu, Dion harus menyaksikan drama pasangan bucin satu ini. Mendadak Dion menjadi merasa sedih dan bersalah, padahal Ia hanya menjadi penonton saja.

__ADS_1


“Sudah, sudah! Seminggu itu nggak lama Dis! Nanti kalian juga bertemu lagi, ada Gue juga kalau Lo kangen si Vicky!”


“Sayang, Kunci kamar kalau malam, siapa tahu Dion masih suka ngelaba kemana-mana!” sembari mengecup pipi dan puncak kepala istrinya, Vicky meminta anaknya di dalam perut untuk tidak rewel selama dirinya pergi. Pria itu juga meletakan kemeja yang sering Ia kenakan untuk pengantar tidur wanita hamil yang menyukai aroma tertentu.


“Pasangan absurd, lebay, jorok lagi!” omel Dion sembari membuang mukanya.


“Bro, jagain bini Gue, awas kalau sampai tergores sedikit aja! Gue tolak dari daftar calon besan tahu rasa Lo!”


“Haha, Sial!”


Dua pria tampan beda karakter itu berpisah, Kini tinggal Dista dan Dion berada dalam satu mobil. Sejenak Dion melupakan Kania, karena setiap kali dirinya bersama wanita di sampingnya dunia Dion berubah. Meskipun Ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan bahwa dirinya adalah pria yang sudah menikah.


Berulang kali senyum itu terulas, entah apa yang Dion rasakan. Rasa tidak tahu dirinya hadir kembali muncul ke tengah-tengah perasaanya. Sekali lagi, hati kecilnya tidak bisa berbohong, kalau cinta itu masih ada meskipun tersisa hanya secuil.


“Dis, kenapa kisah orang-orang begitu indah dan menarik sedangkan Gue harus banyak mengalami hal buruk dalam kehidupan Gue, apa Lo tahu jawabannya?”


“Semua orang punya masalahnya masing-masing Dion, bukan hanya Lo aja. Tapi mereka berusaha menyembunyikannya. Gue turut prihatin dengan apa yang terjadi, dan Gue tahu kalau Lo bisa melewati ini semua.”


Dista menyalakan pemutar lagu di mobil. mereka berdua berbincang sepanjang jalan, hingga melewati sebuah toko kue yang membuat perut buncit itu bergerak.


“Eh, apa itu?” refleks tangan Dion menyentuhnya. Tatapannya tertuju kepada istri sahabatnya itu. sembari keduanya menahan napas, terus merasakan gerakan dalam perutnya hingga pria itu merasa takjub. “Ini beneran, bayinya bisa bergerak?”


“Iya, soalnya Gue lapar tiap malam jadi dia terus bergerak. Gue mau kue itu dong Dion, ehm rasa ...”


“Rasa yang tertinggal ya? haha... iya Strawberry kan, tunggu di sini ya, Gue juga mau beliin satu buat yang di rumah!”


Keduanya kembali dengan perasaan lebih baik. Dista membagikan hal-hal yang apa yang disukai wanita dan apa yang tidak. Apa yang pernah Dion lakukan dulu pada dirinya, supaya tak terulang lagi pada Kania.


“Jangan membuat Kania kecewa, Oke! gadis itu sudah banyak menderita Dion, hanya kamu yang Ia miliki saat ini, perlakukan Ia dengan baik jika ingin mendapatkan seluruh cintanya.”

__ADS_1


“Iya sayang!”


...


__ADS_2