
Ujang keluar setelah mengantar Chandra ke kantor. Ia berniat mampir ke tempat Dion dan Kania tinggal. Namun rumah itu tampak kosong tak ada tanda kehidupan disana. setelah lima menit menunggu, Ujang pun pergi.
“Berhenti disini Pak!”
Sebuah mobil hitam berhenti setelah mobil Ujang berlalu. Seorang wanita kaya dan gadis muda turun dari sana, mengamati bangunan besar yang sama yang dikunjungi Ujang sebelumnya.
Ternyata sejak di kantor Agnes sudah mengikuti Ujang karena merasa ada yang tidak beres. Seperti ada yang disembunyikannya. Semua tak lebih dari laporan Dias, untuk mencari tahu keberadaan Dion.
“Tuh kan benar Tante, Kalau Dion pasti ada di suatu tempat! Ujang saja yang nggak mau terus terang!”
Dias terus merongrong Agnes untuk mencari keberadaan Dion. Semalam Ia sudah mengunjungi Vicky malah membuat keadaan Dista memburuk, Ia menjadi semakin bersalah. Tak ingin lagi mendengarkan ucapan Dias, karena pada kenyataannya rumah itu kosong.
“Cari siapa Bu?”
Agnes menoleh ke sumber suara, ternyata suara seorang warga sekitar yang menatapnya curiga karena tak kunjung pergi.
“Saya mencari yang tinggal di rumah ini, ke mana ya?” Agnes mendekat, dan menanyakan dengan sopan.
“Oh, Suami istri itu pergi pagi-pagi sekali, Ibu siapa? Nanti kalau pulang, biar saya sampaikan.”
Mendengar jawaban Ibu-ibu itu, Agnes bertanya-tanya, suami istri? ‘Seandainya itu benar putrnya, lalu siapa istrinya? Apa mungkin...? Kania?’ Agnes membelalakan matanya, lalu menatap Dias yang melipat tangannya di dada.
“Oh terima Kasih Bu, saya kerabatnya. Lusa saya akan kembali kemari.” pamit Agnes.
Kedua wanita itu pun meninggalkan rumah sewa Dion dan Kania.
Di Kota lain, Iwan dan Yoshi menghabiskan waktu di kolam renang berdua. Melihat Kania melintas, Gadis tomboy itu memanggilnya. Dan memintanya bergabung di sana. Iwan teman paling dekat dengan Dion menceritakan pengalaman semasa SMA nya kepada gadis itu. bagaimana Dion bisa menjadi begitu dingin kepada banyak gadis, namun tidak untuk seseorang.
“Menurut Gue sih wajar kalau Dion seperti itu, di rumahnya Ia kurang mendapat perhatian orang tuanya dan Dion menghabiskan banyak waktunya sama kita-kita ini. Cuma ada satu gadis diantara kita, pasti tahu kan?” terang Iwan. Yoshi pun turut membenarkan.
__ADS_1
“Sebelum Vicky pacaran sama Dista, ternyata Dion sudah menaruh perasaan lebih dulu pada gadis pindahan itu. sayangnya pergerakan Vicky lebih cepat dan gayung bersambut. Dion saja yang kurang beruntung.”
“Kenapa? Lo udah mulai tertarik dengan Dion Wijaya? bocah konyol itu? hahaa...” goda Yoshi, menatap Kania dengan wajah bersemu kemerahan. Kania menceritakan tentang sosok Dias. Dan Yoshi mematung. Bahkan isi chat Agnes, Kania tunjukan kepada Yoshi.
“Wah, sepertinya kita sedikit terlambat Beb! Dias sudah kembali, mengambil apa yang seharusnya jadi miliknya. Lo harus bantu Dion, Kania, bagaimanapun caranya! Lo akan menghadapi sesuatu yang besar dan berbahaya, sama seperti yang dialami Dista beberapa tahun ini.”
...
Dion tertawa, menyaksikan bagaimana gadis itu di bodoh-bodohi Iwan dengan mudah. Karena Lapar, Dion menyusul Kania, malah menemukan kejadian menggelikan seperti itu. ternyata benar, Kania menangis pasti ulah Mamanya lagi.
Dion memilih tak mengetahui rencana Iwan, Ia percaya kepada kedua kawannya itu. yang pasti nanti malam tak boleh gagal. Ia merogoh saku celananya. Mendapati dua buah kotak yang ia rebut semalam dari Kania.
“Kotak Permen rasa strawberry, cih! Gue nggak perlu pakai beginian!” senyum Dion terus tersungging menatap benda itu, namun sekali lagi bayang-bayang gadis bermata bulat itu hadir dan tersenyum padanya.
‘Gue harus merelakan Lo Dis, meskipun Gue nggak tahu bisa atau nggak! Jadi jangan datang nanti malam ke pikiran Gue.’ batin Dion.
...
“Sayang, Gimana keadaan kamu? sepertinya kamu lebih bersemangat hari ini, ada apa hmm?”
Dista menunjukkan sebuah foto saat Yoshi, Kania dan Iwan berfoto bersama di tepi kolam renang. Dia ingin juga berada disana, dan memasang wajah mengiba kepada Vicky.
“Nggak! kamu belum benar-benar sembuh. Kamu bikin Aku khawatir semalam, besok saja kita susul mereka ya sayang. kamu istirahat total hari ini.” Vicky mengecup puncak kepala istrinya, yang terus cemberut.
“ Tapi Yang, Aku bosan! Sepertinya Aku sudah baikan, anak kamu juga! bagaimana kalau Kita beri mereka kejutan dengan datang diam-diam, ya boleh kan?” rengek wanita itu.
Vicky memikirkan lagi, meskipun sebenarnya hal ini berisiko, tetapi sepertinya mengajak liburan juga tidak buruk, untuk tidak membuat wanita hamil itu stres. Padahal mereka berdua yang merencanakan triple date itu, namun malah mereka berdua yang berhalangan hadir karena sebuah musibah.
“Hmm, ya sudah kita berangkat nanti malam, tapi Kalau Ibu mengizinkan ya, Kalau nggak boleh kita berangkat besok pagi saja.”
__ADS_1
Dista mengangguk. Ia tak sabar bertemu dengan Yoshi dan juga Iwan, sudah cukup lama mereka tak bertemu. Bak gayung bersambut, ternyata keinginan Dista terkabul saat Imas, mengizinkannya untuk berlibur. Dengan catatan tak boleh kelelahan, Imas pun juga tak bisa meninggalkan adik bungsu Vicky sendirian di rumah.
“Janji ya Yang, nggak boleh kelelahan, atau kita pulang!”
“Iya janji, terima kasih sayang.” dengan menautkan jarinya kelingkingnya kepada pria dingin itu yang telah menjadi suaminya.
...
Kania tak banyak membawa baju, Ia ingat dengan paper bag yang diberikan oleh Yoshi siang tadi.
“Astaga! apa ini?”
Kania menjereng sebuah kain, yang ternyata bukan pakaian hangat. Melainkan lingerie tipis berbahan satin berwarna hitam. Ingin rasanya mengumpat teman-teman Dion, semuanya tak ada yang waras, termasuk Yoshi.
Kania melempar pakaian dinas itu ke kasur, dan tak berniat memakainya. Merasa segar, gadis itu merebahkan diri dan akhirnya terlelap setelah membatasi ranjang itu dengan sebuah guling.
Pukul sebelas Dion kembali ke kamar. Penerangan sudah dipadamkan oleh gadis itu, karena Kania sudah terlelap. melihat sebuah kain tersampir di sofa, Dion tertawa.
“Bego aja, kalau Dia mau memakai ini.”
Srraaassshhh...
Setelah membersihkan diri, Ia juga membersihkan pikirannya yang mulai diselimuti hal-hal dewasa. Bagaimana Ia bisa menahan, jika selalu disuguhkan dengan hal-hal demikian, terlebih gadis yang sering menjadi pelampiasan kemarahan dirinya.
Melihatnya Kania tertidur, Ia semakin yakin dengan rencananya. Dituduh menghamili Dias, alangkah baiknya jika dia benar-benar melakukannya. Dengan celana pendek dan kaos tanpa lengan, Dion menghampiri Kania. Melihat bibir pink merona yang seakan memanggilnya untuk mendekat.
“Kania...”bisik Dion. tangannya mengusap kulit wajah itu turun menyusuri hingga ke bibirnya. Merasa merinding, Gadis itu pun terbangun menyadari saat ada yang menyentuhnya.
“Ehm...” mendapati sosok pria yang sudah mengungkungnya, Kania terperanjat. Namun semua terlambat saat Dion mulai melancarkan aksinya.
__ADS_1
“Kania, Gue butuh Lo malam ini...”