Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 115. Pria Yang Sama


__ADS_3

Pekerjaan di kantornya padahal tak banyak, tetapi klien barunya mendadak membatalkan meeting nya begitu saja dengan alasannya tak cukup waktu untuk tiba ke perusahaan Dion. Membuat pria itu merasa jengkel. Daripada membatalkannya, kedua belah pihak sepakat untuk bertemu di tengah-tengah.


Dengan terus bersiul membereskan seluruh berkasnya. Dion melihat kursi kosong di sisinya yang sebentar lagi akan diisi oleh Kania. sejenak Ia membayangkan, bagaimana rasanya pergi dan pulang bersama, makan siang, meeting, perjalanan dinas akan mereka lakukan bersama-sama.


“Ah, jadi kangen yang di rumah. Buru-buru pergi biar bisa cepat pulang.” tukasnya.


Beberapa staf yang melihat Dion tampak sumringah setelah menikah membuat karyawan lain merasa senang. Tak ada lagi suasana mencekam seperti sebelumnya. kini semuanya telah berjalan kembali normal.


“Pak Dion, apakah perlu di temani untuk meeting ke Bogor? Sementara Kania belum masuk.”


Tatapan Dion tertuju kepada seorang wanita yang usianya jauh diatas Kania, yang masih terus berusaha mengejarnya. Tapi jika dipikir-pikir, ada benarnya. Ia membutuhkan seseorang untuk membantunya kali ini. ‘


“Oke! sekarang kita berangkat, jangan sampai ada yang ketinggalan.”


“Baik Pak!” dalam hati Yuni, kesempatan masih berpihak padanya. Kali ini Ia tak akan membiarkan bos tampannya lolos begitu saja. jadi yang kedua pun tak masalah asalkan mendapat perhatian dan sentuhannya yang sungguh Yuni idamkan.


Wanita yang sebentar lagi berkepala tiga, sengaja membuka satu kancing blouse nya. Sepasang bongkahan apel yang tergantung tampak mengintip di sana. Menyemprotkan parfum yang memikat. Selama ini belum pernah ada pria yang bisa menolak pesonanya.


‘Ah, lengan kokohnya bisa gue rasakan, awwhh..’ gumam Yuni sembari mengoleskan lipstik merah terang.


Dion melihat jam di tangannya, menunggu stafnya yang begitu lama membuatnya bosan. Sampai Yuni mengetuk pintu mobil itu.


“Maaf Pak, lama menunggu.”


“Hem!” balas Dion singkat. tiba-tiba saja hidungnya terasa gatal saat Ia sedang menikmati foto Kania yang sedang terlelap.

__ADS_1


“Hatshii!! Gila, baunya! Lo mau kemana? Menyengat banget!” bos tampan itu terpaksa membuka kaca jendelanya karena merasa tak tahan dengan semua yang berlebihan. Meskipun Dion seorang pria yang ‘nakal’ tetapi Ia hanya akan tertarik dengan seseorang yang Ia suka. Bahkan Yuni sengaja menyodorkan dirinya ke arah pria itu.


“Cari lokasi perusahaan ini, kenakan seat belt nya. Gue mau pekerjaan hari ini segera selesai.”


“Siap Pak!”


Sebuah hal aneh terjadi, perusahaan yang di sebutkan kliennya ternyata tidak terdaftar di manapun. Bahkan mencari informasi melalui rekan bisnis Dion dan Papanya, tidak pernah ada nama perusahaan yang sedang membuat janji temu dengannya.


“Sial, mana udah sejauh ini lagi!” gumamnya. Namun, dapat di dengar oleh Yuni. Wanita itu sengaja membuka botol air mineral dengan kasar. Sampai airnya mengenai blouse nya.


“Yah, tumpah! Aduh gimana nih, Pak minta tolong ambilkan tisu dong, baju saya basah.”


Dion menyerahkannya tanpa menoleh. Ia fokus ke jalanan yang mulai meliuk tajam. Senyum Yuni tergambar jelas, sembari membuka blazernya saat tikungan di depan mulai tampak Wanita itu menjatuhkan diri ke sisi Dion dan menimpa si Joni miliknya.


“Brengsek!” umpatnya.


“Singkirkan tanganmu dari sana!” bukannya menyingkir, Yuni justru semakin menjadi mengusap mahluk yang sedang tertidur diam di sana. bahkan Dion pun mulai merasakan remasan tangan nakal karyawannya.


“Pak! kok berhenti!” Yuni pun bangkit, saat Ia melihat Dion memberhentikan mobilnya di pinggir jalan raya yang sudah mulai ramai. Dion membuka pintu mobilnya secara kasar, karena apa yang diperbuat wanita itu sudah merusak harga dirinya. Ia tak pernah ingin diperlakukan seperti ini oleh wanita, kecuali istrinya.


“Turun!” tegasnya. Yuni masih tak mengerti melihat di sekitar tak ada bangunan perkantoran.


“Gue bilang turun ya turun! Sekarang Lo kembali ke kantor, kemasi semua barang-barang mu. Gaji terakhirmu akan segera di transfer, Lo Gue pecat!”


Deg! Yuni merasa tak terima dengan perlakuan bosnya yang sangat tidak manusiawi itu. kesalahan apa yang Ia perbuat, hingga membuatnya dipecat secara mendadak seperti ini.

__ADS_1


“Tapi apa kesalahan saya pak, tolong Pak jangan lakukan ini!” mohon staf wanita itu yang mulai menangis. Ia berusaha membuat bosnya merasa iba. Yuni yang merasa usianya lebih dewasa bisa membuat Dion bertekuk lutut dengan penampilannya. Sayangnya Ia tak mengenal siapa Dion sebenarnya.


Kedua tangan Yuni berusaha menyentuh lengan pria dengan kemeja putih itu. Sekali lagi tatapan Dion menghentikan Yuni yang berusaha merayunya. Dion membenci tindakan stafnya, yang begitu murah baginya. Mengingatkannya kepada sang mantan kekasih saat membagi tubuhnya dengan pria lain.


Dengan cepat Dion menepisnya, Ia menghela napasnya perlahan. sebelum Ia semakin menjadi, karena seburuk apapun perbuatan wanita itu, Dion tak bisa berbuat kasar.


“Sekarang Lo cepat pergi, Besok gue nggak mau lihat Lo masih berkeliaran di kantor!” Dion meninggalkan Yuni sendirian di luar sana. Sedangkan dirinya masuk ke dalam mobil berusaha menenangkan pikirannya kacau akibat si Joni yang tak kunjung tenang.


‘Sabar Bro, kita tuntaskan nanti malam! Sekarang kita cari udara segar dulu.’ gumamnya. Di dalam perjalanannya, Klien barunya itu memberikan lokasi kantornya yang sempat Dion tanyakan. Tapi lokasi itu adalah sebuah komplek pergudangan dan kawasan industri. Dan di sana juga ada sebuah bangunan terbengkalai.


Dion tak mencoba mencari tahu, baginya semuanya hanya permainan. Saat Ia menanyakan kepada para warga sekitar tentang alamat yang Ia cari, dan memang tak pernah ada. Dion menghubungi Kliennya jika Ia akan kembali ke Jakarta. setelah menunggu selama hampir sepuluh menit, Ia melihat Dua orang pria keluar dari bangunan terbengkalai itu dengan sebuah sepeda motor.


Satu orang masih berbicara dengannya melajukan motornya untuk meminta Dion menunggu di suatu tempat. Sampai akhirnya perlahan mobilnya mengikuti kedua pria itu dan berhenti tepat di depannya. Bukan Dion namanya jika menyelesaikan masalah dengan baik-baik.


“Oh, jadi kalian yang sengaja membawa Gue jauh-jauh dari Jakarta?” melemaskan buku-buku tangannya, dengan menyingsingkan lengan kemejanya, membuat wajah tampannya semakin memikat. Banyak orang menyaksikan perkelahian itu. meskipun bahunya tergores pisau lipat, pentolan geng itu mampu melumpuhkan keduanya.


“Katakan, siapa dia? atau Gue iris kuping Lo kalau nggak ngaku!”


“A-ampun Pak, saya Cuma di suruh sama pria ini.” pria yang sudah babak belur itu menunjukan sebuah foto di ponselnya. Membuat Dion segera menghubungi kantor polisi setelah berhasil melumpuhkan mereka berdua dengan mengikatnya tali yang berada di mobilnya.


“Kalian salah, bermain sama Gue! dan pria itu akan mendapat giliran yang sama seperti kalian!” Dion telah mendapatkan identitas dengan mengambil KTP kedua pria yang mencoba menjebaknya.


“Sial!” Luka di bahunya terus mengeluarkan darah. Membuatnya harus segera mencari pertolongan pertama. Saat Ia melihat sebuah apotek yang tak jauh dari tempatnya seorang gadis berpenampilan seperti laki-laki menabraknya.


“Kalau jalan lihat-lihat dong! Punya mata nggak sih Lo?” maki Dion.

__ADS_1


“Dion!”


...


__ADS_2