Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 132. Keputusan Chandra


__ADS_3

Memasuki kantor polisi, Chandra bertemu dengan anak buah Gunawan. Perwira tampan itu sedang cuti, melakukan kontrol pada luka di tengkuk kepalanya yang menyebabkan sedikit masalah. Chandra pun turut prihatin, begitu juga Sigit.


“Apakah wanita itu masih di sini?”


“Maksud Anda Bu Rosi?”


“Hem,”


Seketika petugas itu menunjukan arah di mana Rosi berada. Di ikuti oleh kedua pria tampan berbeda usia itu.


“Mari ikut saya!”


Dalam hati Sigit, semua ini adalah kesalahan besar. Bagaimana dunianya runtuh begitu saja, saat mendengar nama Ibu kandungnya selama ini terkurung di balik jeruji besi. Hal ini di gunakan Sigit untuk bisa membebaskan Ibunya dari neraka dunia ini.


Sepanjang melintasi lorong, mereka berdua tak berbicara satu sama lain. Tiba-tiba anggota polisi yang berpakaian sipil berhenti tepat di ujung sel tahanan wanita.


“Bu Rosi, ada yang mengunjungi anda. Waktu berkunjung hanya di batasi sampai setengah jam saja!”


Pria itu menganggukkan kepalanya ke arah Chandra, tanda mereka bertiga di izinkan bertemu. dari balik tubuh besar itu, Sigit keluar dan...


“Ya Tuhan, Sigit!! Itu benar kamu, nak?” Rosi meraih tangan lembut putra semata wayangnya. Chandra melihatnya pun terharu. Betapa kedekatan Ibu dan anak seharusnya seperti itu. Bukan seperti yang Ia lakukan kepada putra tunggalnya.


“Ma, apa yang Mama lakukan di sini??”


“Nak...,” dengan terus menangis Rosi menciumi tangan dan jari-jari Sigit. Menyentuh wajahnya yang agak tirus. Rosi tahu, Sigit akan menangis. Bocah manis itu sedang berusaha bersikap kuat dan tegar.


“Jawab Ma, apa yang Mama perbuat sampai Mama di masukan kemari? Sigit akan menghubungi pengacara perusahaan!”


Rosi menghentikan tangannya. Berusaha menenangkan Sigit yang selalu panik di tengah kejadian yang tak pernah diinginkannya. Menghilangkan efek dari obat itu membutuhkan kesabaran, nyatanya penyakit Sigit juga masih ada, meskipun tak separah sebelumnya.


Chandra pun mengajak mereka berdua untuk duduk dengan tenang. Seketika sepasang Ibu dan anak itu pun menurut begitu saja. Layaknya mendapat perintah dari atasan.


Sejak menikah dengan Dewa, Ia merasa dirinya hanya pelayan kebutuhan biologisnya saja. hingga tertanam di bawah sadarnya sampai sekarang, begitu juga dengan Sigit yang berusaha menentang sikap otoriter dari Dewa Virgiawan.


“Sigit, Bu Rosi izinkan saya membicarakan hal penting.”


Chandra mengeluarkan hasil tes DNA itu dan mengakui kebenaran jika Sigit adalah putranya. Berkat Rosi, Chandra bisa melihat sosok pria yang sangat mirip dengan dirinya. Ia ingin mengasuh Sigit di sisa umurnya bersama keluarganya.


“A-anda sedang tidak bercanda kan Pak?”


“Anda sedang tidak menghibur saya kan, karena saya di penjara?” isak Rosi tak percaya. Air matanya terus mengalir yang di seka oleh Sigit. Rasa rindu yang membuncah itu Sigit salurkan hari itu. bibirnya bergetar. Mereka berdua tak pernah terpisahkan.


“Saya bersungguh-sungguh, saya akan memasukan namanya dalam daftar naka keluarga inti saya, dengan menyandang nama Wijaya tentunya, apakah Bu Rosi keberatan?”


“Syukurlah, kalau Anda tidak menolaknya. Saya bisa tenang menghabiskan sisa usia saya di penjara.”

__ADS_1


“Mama! Hentikan omong kosong itu.”


Sigit berdiri dan menatap Chandra, Jika memang pria yang mengaku sebagai Papanya ini benar-benar serius, maka Ia harus menyetujui satu syarat dari Sigit.


“Duduk Sigit, kamu tidak sopan! Hidupmu akan lebih baik sekarang Nak, percaya dengan ucapan Mama.”


“Apa Om Chandra setuju dengan syarat dari saya?”


Keduanya pun terdiam. Sigit tak bisa membiarkan dirinya bahagia seorang diri. Sementara Ibunya harus mendekam di penjara yang belum Ia ketahui apa kesalahannya. Sigit akan menjamin kebahagiaan Ibunya, meskipun harta kekayaan Dewa pun juga tak akan habis sampai tujuh turunan Sigit nanti.


“Apa syaratnya Nak?”


Haahh...


“Anda yakin, masih ingin mengasuh saya sebagai bagian dari keluarga Wijaya dan meletakan nama Anda di nama belakang saya?”


“Sigit!!” bentak Rosi. “sejak kapan kamu mulai bersikap arogan seperti itu, Mama tidak suka kamu melakukan hal itu, kamu paham!”


Rosi marah. Upayanya untuk mendekatkan Ayah dan anak itu akan gagal jika Sigit terus berulah. Chandra pun meredakan amarah Rosi. Pria itu meyakinkan, untuk bisa menuruti keinginannya.


“Baiklah, Papa akan menyanggupi syarat mu, apapun itu.”


Sigit tersenyum kecut.


“Kalau begitu, Nikahi wanita itu yang mana dia adalah Ibu kandungku, supaya hubungan kita jelas Ayah dan anak.”


Agnes yang tengah membantu Bibi pengurus rumah memasak besar, berjingkat. Saat mendengar bunyi petir yang cukup mampu melepas jantungnya dari tempatnya. Wanita sosialita itu berdoa, semoga tak ada halangan apa pun untuk perjalanan Dion, Kania dan suaminya.


Betapa sangat di rindukannya keramaian di rumah besar itu. lantas Agnes pun melamun, sampai tak sadar tangannya menyentuh wajan yang sangat panas.


“Nyah—nyah! Duh, gimana sih Nyah, tangannya emangnya nggak kepanasan!” wanita paruh baya yang masih gesit itu segera mengangkat tangan majikannya dan meletakkannya di bawah kucuran air mengalir.


“Bi, sorry—sorry. Saya mikirin Dion kok belum sampai juga. katanya hari ini pulang.”


“Sabar Nyah besar, mungkin Mas Dion sama Mbak Kania sedang dalam perjalanan. Sudah, Nyonya duduk saja, biar Bibi yang siapkan ke meja makan.”


Agnes memeluk Bibi yang mengurus Dion sejak kecil. “Maafin saya ya Bi, kalau sering marah-marah sama Dion!”


“Lain kali jangan lagi ya Nyah, kasihan Mas Dion Lho!”


“Jadi kangen bocah badung itu lagi kan, eh Bi... kira-kira anaknya Dion nanti mirip siapa ya?”


“Ya mirip orang tuanya lah Nyah, masa mirip Bibi. Eh Mas Dion kan yang besarin Bibi ya, kok nggak mirip Bibi sih?”


Begitulah kekompakan keluarga Wijaya bersama dengan pekerjanya. Sayang sekali Ujang dan Asri tak lagi berada di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


Pertanyaan random Agnes mengisi sela-sela waktu kosongnya seorang diri. Ia membayangkan bahwa rumahnya sebentar lagi tak akan lagi sesunyi ini. Dista juga sudah pulang ke rumah, karena Vicky sudah menjemputnya. Chandra juga tumben betah di luar rumah berlama-lama.


Keesokan Paginya Agnes sudah mendapati suara berisik di rumahnya. Ia berharap jika itu suara Dion dan Chandra, akan tetapi pemandangan yang di suguhkan terasa lain. bukan sebuah salam, melainkan sebuah mobil yang berisi banyak koper dan barang pribadi seseorang.


“Mas, apa ini?” sapa Bibi yang baru saja selesai memasak.


“Ini Bi, Tuan besar yang meminta untuk mengirim ini semua ke rumah ini,” sapa pria manis yang ternyata adalah Jo dan Richie. Sembari menurunkan barang-barang berukuran besar itu, mereka bertanya hendak di letakan di mana.


Pengurus rumah pun bingung, di rumah sedang tidak ada orang, Agnes yang Ia pikir berada di kamar ternyata sudah berada di belakang si Bibi.


“Tuan siapa ya, apa tidak salah alamat?” sapa Agnes dengan lembut. Karena melihat barang-barang yang mereka keluarkan bukan barang murahan. Agnes tahu, merek-merek ternama itu.


Sampai dua buah mobil pun beriringan masuk, yang mana Dion dan Kania turun dari mobil dengan perasaan terkejut. Sama seperti dengan raut Agnes saat ini.


“Pagi Ma, Lho ada apa ini?” sapa Dion melihat rumahnya banyak orang.


“Nak baru sampai?”


Agnes menghampiri keduanya dan memeluk mereka berdua dengan perasaan bahagia. melihat pria yang tak asing, Kania lantas menyapanya.


“Jo? Richie? Kalian sedang apa?”


“Lho Heh? Mbak Kania, ehm... ini, anu ... ” Jo dan Richie tak bisa menjelaskan sampai penghuni mobil berikutnya turun. Langkah kakinya mantab, siap menghadapi apa yang akan terjadi.


Pria dengan wajah datar itu menghampiri Agnes yang tengah memeluk Dion. Perasaan Ibu dan anak itu tidak enak. Begitu juga dengan Kania, Richie dan Jo, turut bingung dengan situasi pagi ini. baru saja mendarat dari pesawat, sudah di suguhi suasana canggung tak mengenakan.


“Sayang, kalian juga baru pulang? sapa Chandra kepada Kania.”


“Iya Pa, kemarin penerbangan sore ditunda. Jadi kita terpaksa pulang pagi ini.” Kania melihat Sigit berjalan di belakang Chandra.


“Sigit, kemari!” Chandra merangkul bahu lebar milik mantan kekasih Kania itu. meminta perhatian semua orang yang berada di sana, Keluarganya, pekerjanya, juga teman-teman Sigit.


“Saya umumkan untuk kalian, Agnes, Dion dan Kania juga para pekerja di rumah, jika mulai hari ini Sigit akan tinggal di kediaman kita, sebagai keluarga Wijaya.”


“Pa, peluk cium Mama dulu dong, kalau mau bercanda, hehe...!” gurau Agnes, tetapi tidak dengan Dion.


Bocah itu melepaskan pelukan Mamanya yang teramat erat di tubuhnya. Rautnya berubah, setelah mendengar ucapan Papanya. Mempercepat langkahnya dan melayangkan bogem mentah sarapan pagi untuk Sigit hingga tersungkur.


“Jangan!!” teriak Kania dan yang lain.


“Hentikan Dion, jangan lagi kamu lukai dia!”


Dion membangunkan Sigit, dan menarik kaosnya ke arah Chandra dan Agnes dengan kuat. Kania turut bersedih melihat kejadian ini. berusaha melerainya tetapi tenaga pentolan geng itu sangat kuat. Begitu juga sangat mudah sekali memancing amarahnya.


“Katakan! Kenapa Gue nggak boleh melukai dia? apa dia anakmu dengan wanita lain?” tunjuk Dion dengan mendekatkan wajahnya ke Sigit. “Katakan di depan Nyonya besar sekarang? Tuan besar Chandra Wijaya!”

__ADS_1


“Dion!! Jaga ucapanmu!”


...


__ADS_2