Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 72. Bukan Orang Sembarangan


__ADS_3

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Yoshi yang berniat ingin meminjam charger untuk mengisi daya ponselnya malah dibawa pergi oleh Rosi ke sebuah butik. Gadis itu tak mengira jika ucapan pria matang itu benar-benar Ia wujudkan.


Yoshi berpikir, jika Ia bisa menghubungi teman-temannya semua dapat merubah keadaan tetapi sayangnya rencana Tuhan berkata lain. Rosi pun berusaha berdamai dengan keadaan. Sepertinya Yoshi bukannlah gadis tamak yang akan merepotkan keluarganya. Ya, itu adalah harapan semua orang.


Usia gadis tomboy itu sapruh dari usia Rosi, sangat disayangkan jika pilihan suaminya adalah daun muda yang lebih pantas menjadi kekasih anaknya atau bahkan menjadi putrinya.


“Kamu masuk, dan pilih yang kamu sukai. Yoshi, kamu sudah tak punya kesempatan tawar-menawar lagi karena besok adalah hari yang sudah ditentukan oleh calon suamimu.” Saat mengatakan hal itu, hati Rosi teramat perih. Rumah tangganya yang memasuki tahun ke dua puluh tiga kini nyatanya malah menghadirkan orang ketiga di dalamnya.


“Tapi Tante...? kenapa saya tidak diberi kesempatan untuk mempertahakan hak saya? Saya benar-benar ingin mengembalikan uang suami Anda beserta bunganya seperti yang Ia minta.”


“Kalau ucapan Saya saja tidak di dengar, apalagi kamu? sudahlah, berdoa saja. semoga saja kamu sama seperti apa yang dibicarakan Mas Dewa.”


Yoshi meminjam ponsel Rosi untuk menghubungi teman-temannya dan wanita itu memberikan ponselnya. Sayangnya, kecerobohan Yoshi kali ini membuat semuanya menjadi berantakan. Ponsel yang Ia pegang jatuh ke lantai begitu keras. Hingga ponsel milik Rosi mati seketika.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Rosi mengambil ponselnya yang layarnya retak. Yoshi menatap wanita yang berdiri di hadapannya. Pria manis itu...


“Ma-maaf Tante, saya terkejut melihat wallpaper di layar tadi. Si-siapa mereka berdua?”


Yoshi tergagap, tak bisa dipungkiri hatinya begitu terkejut. Bahkan kalau gadis itu memiliki riwayat penyakit jantung bisa langsung pulang ke alam lain saat itu juga.


“Keduanya putraku, mediang Bagas dan yang satunya ...”


Jantung Yoshi bergemuruh, memasang telinga lebar-lebar mengepalkan tangannya. Merapalkan doa-doa semoga hanya mirip saja dengan pria manis yang pernah Ia temui sebelumnya.


“Adiknya, Namanya Sigit.”


Brukk!!


“Yoshi! Kamu kenapa? Bangun Yoshi!” Rosi bingung tiba-tiba gadis muda itu jatuh terduduk, tulang-tulang penyangga tubuhnya nyaris lenyap tak mampu menahan bobot tubuh juga beban pikirannya lagi.


“Tante, apakah Sigit itu Sigit Virgiawan?”


“Tentu saja, dia putra bungsuku. Dan menjadi satu-satunya putraku sampai saat ini. apa kamu mengenalnya?” dengan segelas air minum di tangan, Yoshi tak mampu memegang gelas itu dengan benar. Perasaan gemetar dan hal konyol lainnya terjadi padanya.


“Bangun Yoshi, kita bisa lanjutkan ceritamu nanti. Pernikahanmu harus terjadi besok.”

__ADS_1


‘Ini tidak mungkin, Ini tidak boleh terjadi!’


...


Kania yang mengira jika yang mengganggunya adalah sosok manis Sigit. Nyatanya salah besar. Ya, harusnya Kania berpikir mana mungkin kekasihnya akan membuang waktu dengan hal iseng seperti ini. Kania harusnya bisa menebak dengan benar.


Untuk melawan rasa gugupnya Kania tampak berdeham beberapa kali, sembari menelan salivanya. Pandangannya Ia buang ke segala arah. Ia tak tahu lagi apa yang ingin diucapkan, karena pria yang ada dihadapanya sudah pasti tak mau kalah. Belum lagi tatapannya yang seakan ingin menelannya hidup-hidup.


“A-ada Apa!”


Sembari melipat tangannya di depan dada, pria berlesung pipi dengan kaos putih itu sangat tampan saat bangun tidur seperti biasa. Kania tidak suka cara Dion memperhatikannya. Seakan banyak kesalahan yang telah Kania lakukan.


“Semalam kalian tidur berdua?”


“Ng-nggak! Bukannya Sigit semalam tidur diluar sama kamu?”


“Nggak usah bohong!”


“Terserah, mau percaya atau nggak! Sekarang kamu keluar, Aku nggak ingin Sigit melihat kita sedang berdua seperti ini.”


“Justru itu yang ingin Gue lakukan! Lo harus ikut Gue kembali ke Jakarta. Kania, Lo nggak bisa mengabaikan anak Gue!”


“Jangan bicarakan hal itu,!” Kania ingin melarikan diri, langkahnya tertahan. Padahal sudah cukup lama dirinya berada di kamar tak kunjung keluar. Sampai suara ketukan pintu menyadarkan keduanya.


“Pergi kamu dari sini! Cepat sembunyi!” Kania gugup dan panik. Dion tertawa melihatnya. Bisa-bisanya Ia diminta untuk bersembunyi. Kani mendorong tubuhnya untuk masuk ke kamar mandi dan pria itu membisikan sesuatu.


“Hutang Lo bertambah satu lagi, Gue udah selamatin Lo dari tukang kopi itu! jangan lupa dibayar, kalau nggak mau semakin menumpuk!”


“Cerewet!” balas Kania.


Sigit melihat gadisnya belum siap, dan menunggunya di depan kamar. Kania pun tampak terburu-buru tak ingin Dion mengacaukan semuanya. Seharusnya mereka akan kembali ke Jakarta sore nanti, namun karena harus menjenguk Iwan di rumah sakit, semuanya menjadi di percepat.


“Hey, kalian berdua siapa yang bisa bawa mobil?” tanya Dion.


“Kita berdua bisa, kenapa Mas?”

__ADS_1


“Bagus! Nanti kalian berdua bawa mobil Gue ya! Gue semalam kurang tidur ngeri terjadi apa-apa di jalan.” perasaan Kania tiba-tiba tak enak saat Dion berkata demikian. Pasti ada sesuatu yang akan direncanakan pria itu.


“Bro, Gue ikut mobil kalian ya! sembari menikmati sarapannya tanpa memperhatikan wajah yang lainnya.”


Kania berdecih, tepat seperti dugaannya. Jika Dion akan menganggu mereka berdua lagi. Sigit mengusap kepala Kania dengan lembut. Jo dan Richie pun hanya bisa mengusap dada mereka masing-masing.


“Kan Bos, Richie bilang juga apa! Pria itu pasti bosnya Mbak Kania yang lama naksir dia. Buruan, jangan malu-malu lagi!” bisik Richie dengan suara yang bisa di dengar oleh Dion. sedangkan si tersangka yang sedang menjadi bahan gunjingan menatap Richie dan Sigit dengan senyum mengejek.


Selama perjalanan menuju rumah sakit suasana dalam mobil mereka sangat menegangkan. Kania duduk di bangku tengah, melihat dua pria tampan di depan sedang perang dingin. Diam tanpa kata. Berulang kali Dion mencoba memanas-manasi Sigit dengan mengirim pesan kepada Kania.


“Jangan berkelahi! Kalau nggak, Gue bakal pindah ke mobil Richie!”


Tiba-tiba di jalanan menurun, perut Kania kembali bergejolak. kali ini tak bisa dicegah, gadis itu membuka kaca jendela dengan cukup lebar dan mengeluarkan kepalanya.


“Hueekk!!”


Mobil itu menepi, dan Dion bergegas turun dan menghampirinya. Namun, Kania tak mau di sentuh pria itu. hingga saat kembali melanjutkan perjalanan Dion yang mengemudi, sedangkan Kania dan Sigit duduk di tengah.


‘Sial! Mau ngerjain Kania malah Gue yang dikerjain. Gimana kalau gue banting setir ke Kanan, biar kita bertiga mampus sekalian!’ Emosi Dion memuncak melihat Sigit memeluk gadis itu dan menatap Dion dalam pantulan kaca dasboard mobil. Tampak senyum mengerikan dalam sudut bibir Sigit, Dion mampu membacanya dengan jelas.


Setibanya di rumah sakit Dion mendapat omelan tak kunjung habis dari pasangan suami istri itu. dasar teman tak tahu diri, bukannya cepat kembali malah ikut bermalam di Villa Sigit. Sigit memasuki ruangan Iwan dirawat dan turut prihatin atas pristiwa yang menimpanya.


“Coba lihat, siapa yang Gue bawa!” Dion masih kesal dengan tingkah Kania dan Sigit. Iwan pun ingin memohon, tetapi tentu saja dilarang oleh Vicky. Sigit yang tak tahu menahu, akhirnya dijelaskan secara perlahan oleh Vicky.


Kania ingin mengajak Jo dan Richie keluar, tetapi ditahan oleh Dion.


“Mau kemana Lo? Justru Lo harus tahu siapa sebenarnya pacar manis Lo ini, Kania!” Dion membuka ponselnya dan mengetikkan nama Dev holding Company. Muncul sosok tampan yang sangat dikenal oleh Sigit.


“Coba katakan yang jelas siapa pria ini?” tanya Dion. Sigit pun menatap mereka semua dengan tenang. Lalu terakhir menatap Kania yang menunggu jawaban Sigit.


“Ada apa sebenarnya? Kenapa Kalian menunjukkan pria ini kepadaku?”


“Jawab saja, apa susahnya!” Dion dan Iwan tak sabar melihat ekspresi Kania saat mengetahui semuanya.


“Cih! Kalian mencari tahu rupanya, baiklah akan saya beritahu.” Sigit berjalan ke arah kekasihnya, mengusap pundaknya dan menatapnya dalam, “ Mereka berdua adalah orang tuaku, Kania. bukankah kamu juga ingin tahu siapa Aku sebenarnya?”

__ADS_1


...


__ADS_2