
Selama di dalam mobil, Dion dan Dias terus berdebat. Kania memperhatikan tingkah keduanya, jika memang tak pernah akur, lantas untuk apa mereka menjalin hubungan?
Gadis itu jadi penasaran dengan masa lalu mereka. Kania menyadari mungkin sampai sekarang, hati pria itu hanya untuk cinta pertamanya, bukan mantan kekasihnya.
“Ya Gue lah, pakai tanya lagi! Siapa lagi yang lebih baik dari cewek tulalit kebanggaan Lo itu!”
“Heh! Jangan pernah panggil Dista dengan sebutan itu! Lebih baik Lo lihat kelakuan Lo!” ketus Dion.
Sesampainya di salah satu Mall di Jakarta, Dion dan kedua gadis manis itu masuk bersamaan. Dias memanfaatkan kesempatan untuk selalu menempel pada pentolan geng itu.
“Heh, Mantan dilarang mendekat! Ngapain Lo dekat-dekat Gue? bukannya Lo anti sama Gue?” Dion menarik Kania untuk berjalan lebih cepat.
“Ini lagi yang satu lelet banget!” Dion memeriksa jam di tangannya sekarang sudah pukul 11 siang, tak banyak waktu yang tersisa sebelum Papanya yang menyebalkan akan pulang ke rumah. Kania yang merasa lapar, tak memiliki tenaga sedikitpun.
“Dion, Gue lapar!” lirih Kania.
“Tenang aja, nanti Gue kasih makan, udah sekarang Lo cari baju yang bagus buat Lo! yang pantes buat Lo! ya Lo tahu kan selera Gue kayak gimana!” soal duit gampang. Dias merasa cemburu melihat kedekatan Dion dengan gadis lain. Jika sebelumnya perhatian Dion hanya tertuju kepada Dista saja, kini gadis itu yang mengambil alih perhatian mantan kekasihnya.
“Yang, Gue mau juga dong di belanjain kayak Dia! Dulu cewek tulalit itu Lo beliin pakaian dalam bermerek, sekarang gadis itu, kapan giliran Gue?” keluh Dias.
“Kan Lo bisa minta cowok-cowok bookingan Lo! gimana sih? bukannya duit dari mereka cukup buat Lo senang-senang! Gue aja dulu Lo buang kayak sampah!”
Dion sembari memilah-milah pakaian wanita yang sesuai dengan seleranya. Namun tanpa sadar, size yang Dion ambil adalah size istri sahabatnya.
“Tujuan Lo datang ke rumah Gue buat apa sebenarnya?”
Dion menunggu Kania yang sedang berada di fitting room, Dias mencoba menarik perhatian itu dengan membawanya memasuki ruang ganti tepat di sebelah Kania berada.
“Bukannya Lo menginginkan ini Dion, em ....” Tangan pria itu Ia letakkan di atas gundukan kenyalnya yang menggoda. Menyusuri perut rata gadis itu hingga turun dan terus turun. Dias yang agresif menyudutkan pria itu yang hanya diam saja menatapnya. Meskipun begitu, Dion tetaplah pria perkasa yang tak bisa tinggal diam.
__ADS_1
“Lo mau main api sama Gue, hem! Tubuh atletis Dion menghimpit Dias pada dinding yang tidak kedap suara. Lenguhan-lenguhan liar gadis itu sengaja ia keraskan, dengan tujuan Kania dapat mendengarnya.
“Lo menarik, menggoda, memikat! Bahkan Gue ingin sekali menikmati tubuh Lo waktu itu ... tapi sayang, Lo udah jual tubuh Lo itu sama bocah-bocah tengik itu. Kalau nggak, mungkin sekarang Lo udah punya anak dari Gue!”
Dion meninggalkan Dias dalam keadaan marah di dalam kamar ganti itu. saat menunggu di depan ruang ganti hingga sepuluh menit lamanya, Kania tak kunjung keluar. Rupanya gadis itu meninggalkan pakaian yang ia ambil tadi dan meninggalkan pusat perbelanjaan itu.
Dion menanyakan keberadaan gadis bertubuh ramping dengan menunjukan ciri-cirinya. Dan pegawai toko menyebutkan jika gadis itu pergi ke lantai dasar dengan meninggalkan pakaiannya. Dion melihat setumpuk pakaian itu dan membayarnya.
“Kania, tunggu!”
Secepat kilat pria itu berlari mengejar gadis itu hingga sampai di lantai dasar yang di sebutkan tadi. Setelah berkeliling, Dion melihat kanan kiri akhirnya Ia menemukan gadis itu.
“Heh, gadis jorok! Gila Lo ya main kabur begitu aja! Memangnya boleh kabur tanpa bayar pakaiannya? Ini, nanti kita bikin perhitungan di rumah! Tepatnya di kamar Gue!” oceh Dion.
“Ngocehnya nanti aja ya, biarin Gue makan dulu! Oh ya, dimana Dias?” Dion baru menyadari jika ternyata pria itu meninggalkan Dias di belakang. Gadis itu juga tidak tahu malu, bisa-bisanya melakukan hal seperti itu di ruang ganti. Hampir saja Dion mencium bibir Dias jika tak ingat ada Kania di sebelah.
Dion tersenyum menatap gadis di depannya makan dengan lahap tanpa ada rasa jaim meskipun ada dirinya yang memperhatikannya.
“Makan yang banyak, biar cepat gede! Minimal Kayak punya mantan Gue lah, enak buat pegangan!” Dion menopang wajahnya di tangan memperhatikan Kania lekat-lekat.
Uhuukk! Uhukk! Gadis itu tak sabar ingin mengumpat, setiap ada kesempatan Dion selalu membahas hal-hal yang menjurus kesana, membuat Kania risih jika berhadapan dengan Dion. sudah berapa kali Dion menyentuhnya tanpa ijin, ingin rasanya menjambak pria itu dengan brutal supaya impas.
Dias ternyata menunggu mereka berdua di lobby sembari menikmati kopinya di sebuah kafe shop. Meskipun sudah lama tak bertemu, nyatanya gadis itu masih mengenali sepasang suami istri yang selalu membuatnya iri, sedang bergandengan tangan mesra melintasinya.
Dista dan Vicky yang tampak bahagia bersama sejak dulu hingga sekarang. Lain cerita dengan dirinya yang terombang-ambing dalam ambisi yang tak ada habisnya. Mengejar cinta yang semu dari pelukan satu pria ke pria yang lain.
__ADS_1
“Memang kisah yang belum selesai, pasti akan dipertemukan kembali, entah cinta ataupun dendam. Kalau Gue nggak bisa bahagia, Lo berdua juga nggak akan pernah bahagia.” Dias tersenyum simpul, sembari menikmati kopi pahitnya.
Dias tak menyadari, jika Kania memperhatikan arah tatapan Dias kepada dua orang yang berjalan memunggunginya. Kania tidak tahu, jika pasangan itu adalah Dista dan Vicky.
‘Siapa mereka? Kenapa Dias sepertinya sangat tidak suka? Gue harus berhati-hati dengan gadis ini. sepertinya apa yang disampaikan Dista waktu itu benar, aku harus menanyakannya lagi nanti.’
Mereka bertiga kembali ke rumah Dion. Setelah Kania sudah siap, Chandra dan Agnes membawa gadis itu pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, dan Dion akan menyusulnya nanti setelah mengurus Dias.
Pria itu merasa was-was, mengenai peristiwa beberapa tahun lalu, masih membekas di ingatannya. Saat gadis yang Dion cintai harus terbaring di rumah sakit, akibat kecelakaan yang dilakukan oleh Dias. Peristiwa penculikan Dista saat pergi bersamanya, juga tentang kasus pelecehan yang menimpa Dista juga melibatkan Dias.
‘Gawat kalau gadis itu sampai mengancam Kania kali ini, aarrghh!!’
Dion menghubungi seseorang yang bisa dipercaya untuk melakukan pekerjaan khusus, dan memintanya untuk menunggunya di rumah sakit pukul Tiga sore, supaya tidak ada yang curiga.
Dion
[Bawakan Gue beberapa ya! temuin Gue di rumah sakit PP jam Tiga sore]
Si X
[Siap Bos!]
Kali ini, Lo yang datang sendiri ke tempat Gue! Kalau dulu Lo bisa berbuat semau Lo, sekarang giliran Gue yang akan memberi kejutan manis untuk mantan “terindah”.
Dion menatap jendela besar yang ada di hadapannya. Sebuah rencana besar sepertinya sudah tersusun matang. Jangan sampai karena kehadiran gadis sialan itu, semua rencana Gue berantakan. Sebuah tangan melingkar di pinggang Dion. mendapati rumah besar itu telah sepi Dias bergerak cepat untuk memikat mantan kekasihnya.
“Yuk! Mumpung rumah sepi, Lo yang ambil kendali atas tubuh Gue!”
...
__ADS_1