
Selama perjalanan pulang, hati Kania menjadi lega setelah mengatakan kegelisahannya. Sekarang semua akan berjalan sesuai takdirnya. Tak ada hal yang Kania perlu takutkan lagi. Soal lamaran Sigit, gadis bertubuh ramping itu akan memikirkannya setelah keluar dari perusahaan Dion. Entah akan berhasil atau tidak, mengingat Pak Chandra yang sudah mewanti-wanti gadis itu untuk tidak meninggalkan perusahaannya.
Kania dan Sigit menjadi canggung untuk beberapa saat. Richie dan Jo yang melihatnya pun heran. Mencoba untuk mengakrabkan mereka kembali. padahal sebelumnya Sigit begitu menempel pada gadis cantik itu.
“Mbak, kok diam aja setelah keluar sama Mas Sigit? Habis diapain memangnya? Hehe...” goda Richie. Keduanya menyiangi sayuran untuk makan malam nanti. Richie memandangi Kania dari dekat dan mencoba memberitahu beberapa rahasia Sigit.
“Eh, nggak kok Richie! Di luar cuacanya lumayan dingin. Jadi kita putuskan untuk pulang aja, Oh iya kalian mau masak apa?”
“Makanan Kesukaan Mas Sigit Mbak. Oh iya Mbak Kania tahu nggak kalau Mas Sigit senang banget waktu punya pacar?”
Kania menggeleng, dan Richie tak sengaja membuka rahasia Sigit perlahan tanpa sepengetahuan pria tampan berkulit putih itu. Jika dulu Sigit sudah tak memiliki harapan hidup, sampai keinginan terakhirnya Ia minta kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke kota Malang. Hal itu adalah pesan terakhir dari mendiang Abangnya. Dan Sigit pun berusaha mewujudkannya.
Kania menutup mulutnya merasa tak percaya dengan ucapan Richie. Sosok manis seperti Sigit yang manis dan ceria juga hangat. Ingin mengakhiri hidupnya secara perlahan. Namun, siapa sangka menjelang petang Sigit malah bertemu dengan Kania, keinginan itu pun perlahan sirna.
“Jadi, Richie dan Jo mohon jangan pernah tinggalkan Mas Sigit ya Mbak. Orang tuanya saja sudah pasrah menerima keadaan, tapi ternyata Tuhan punya rencana lain untuk bos kita, Eh!” Richie dan Kania bertatapan sesekali berkedip. Richie segera pergi meninggalkan Kania.
“Richie!” Kania mengejar pemuda itu dan bertanya, “Gue mau tanya tapi Lo harus jawab dengan jujur. Sebenarnya siapa Sigit sebenarnya? Apa benar dia hanya seorang karyawan kafe seperti kalian?”
“Ehm,” gelagat Richie menunjukkan bahwa pemuda itu menyembunyikan sesuatu. “Mbak, sebenarnya Mas Sigit itu ...”
“Yang lebih baik kamu bersih-bersih dulu, bau asem tahu! Semuanya sudah Aku siapkan di tempat tidur.” dengan gerakan lembut Sigit mendorong gadis itu untuk pergi ke kamarnya. Setelah menghilang dibalik dinding, Sigit menghampiri Richie yang hendak kabur.
“Mampus aja Gue!”
Sigit menahan langkah stafnya yang hampir saja mengatakan siapa dirinya. bukan tak ingin berterus terang, Ia takut Kania akan pergi akibat perbedaan strata mereka yang sangat jauh. Bagi Dewa dan Rosi hal itu tak jadi masalah, selama Sigit bahagia dan menemukan pasangan yang tepat. Hanya saja Ia tak ingin kehilangan Kania telalu cepat.
“Chie!”
“Bos, tolong yang lengkap panggil nama Richie!” Sigit yang hendak marah pun urung. Ia hanya berpesan, jangan menyampaikan apa pun kepada gadis itu. biar dirinya saja yang akan mengatakannya perlahan. Sigit menanyakan pendapatnya tentang kekasihnya. dan pendapat pemuda ember itu memberikan dua ibu jarinya. Jika dirinya tak salah memilih.
“Sepertinya pacar bos adalah gadis yang populer, kalau nggak segera dimiliki nanti ditikung pria lain. apalagi katanya Mbak Kania seorang sekretaris kan? pasti bosnya kaya raya dan ganteng, wah! Kalau Richie yang jadi bosnya udah saya tandain dulu bos!”
Hahaha... pemuda itu berlalu. Sigit jadi mengingat pengakuan Kania yang membuatnya bersedih. ‘Apa benar semua ucapan Richie? Jika pria itu adalah bos nya, apakah Aku sudah terlambat untuk memiliki Kania?’
__ADS_1
Sigit menjadi murung memikirkan ucapan Kania juga Richie. Sampai pria tampan itu memasuki kamar di mana Kania berada. Gadis yang sudah tampak segar itu, menyalakan kembali ponselnya yang sudah Ia matikan beberapa jam yang lalu.
Notifikasi berebut masuk, membuat Kania kaget saat Sigit sudah berada di belakangnya. Wajah sendunya menunjukkan banyak pertanyaan yang harus Kania jawab.
“Ada apa Git?”
“Kok Sigit?” Dahinya mengernyit, hendak protes menunggu panggilan sayang dari Kania
“Iya sayang, tunggu sebentar ya Aku mau balas pesan dulu.” melihat nama yang tertera hanya Bos tengil. Sigit menjadi posesif terhadap gadis itu dengan berusaha untuk tidak membiarkan Kania fokus dengan Dion.
“Ayo keluar, kita bantu Jo dan Richie membakar barbekyu di luar!” Sigit mengambil ponsel Kania dan meletakan di atas meja rias di kamar itu.
“Ta-tapi Aku be- ...”
“Udah, nanti malam kan bisa, ,ini weekend sayang biarkan dirimu istirahat.”
...
Melihat ponsel Kania aktif dan seluruh pesannya terkirim Dion segera menghubungi sekretarisnya. Menunggu sendirian di rumah sakit sungguh membosankan, terlebih dua kawannya juga mengatakan akan datang terlambat.
“Anda kerabat pasien? Masa kritisnya sudah lewat, dan juga tekanan darahnya sudah kembali normal. Beruntungnya stok kantung darah di rumah sakit mencukupi untuk golongan darah pasien. Diharapkan segera ke ruang administrasi untuk ...”
“Iya tahu, saya akan kesana!” sahut Dion kesal. Emosinya memuncak karena tak mendapat kabar sama sekali dari Kania. bagaimana kondisinya sekarang, apakah masih merasakan mual dan tak nyaman. sedangkan Dion sendiri hampir meludah setiap beberapa menit sekali.
“Gila, rasanya begini amat! awas aja kalau ketemu, nggak akan Gue biarin Lo keluar dari rumah Gue, sampai nangis tujuh hari tujuh malam.” Dion berbicara sendiri seperti pria tidak waras. Dirinya harus menahan segala ketidak nyamanannya, sedangkan Kania malah bersenang-senang dengan tukang kopi itu.
Pukul Sepuluh malam, Vicky dan Dista datang. Membawa makanan untuk pentolan geng itu yang menunggu Iwan sadar sampai tertidur.
“Gimana Bro, keadaan Iwan?”
“Eh, Kalian barusan datang? ini semua karena Yoshi. Coba aja baca pesan yang di kirim bocah itu di ponsel Iwan. Gimana nggak nekat si Kampret ini!”
Pacaran hampir lima tahun, tanpa pasang surut nyatanya tak menjamin sebuah hubungan berhasil. Lagi-lagi masalah Yoshi adalah faktor ekonomi. Hingga beberapa kali nyaris menjadi istri pria tua karena Ayahnya tak mampu membayar hutang yang terus berbunga. Bodohny Iwan tak pernah berbagi masalah kepada teman-temannya.
__ADS_1
“Lima ratus juta dari jaman kemarin, masa nggak lunas-lunas sih!” tukas Vicky.
“Enteng banget itu bibir Lo! setengah M banyak bro! buat Yoshi.”
“Masalahnya percuma punya banyak teman tapi Lo ada masalah diam aja! Harusnya udah Lunas itu, kalau si curut ini bilang lebih awal, makanya hubungan mereka nggak akan jalan kemana-mana, karena mikirin hutang bokapnya terus.”
Vicky
[Lo dimana? Hutang bokap Lo berapa? Bisa nggak dibatalkan pernikahan Lo itu sama Om-Om tajir kalau dilunasin?]
Yoshi
[Nggak bisa Vick! Kalau mau balikin uangnya, itu harus beserta bunganya jadi dua kali lipat. Gimana keadaan Iwan sekarang?]
Vicky
[Cowok Lo? udah hampir mati! Jadi berapa yang harus dibayar? Tar Lo nyicil deh seumur hidup sama Dion! Lo nggak kasihan sama sohib Gue? Kenapa Lo nggak hubungin kita sih Yoshi?]
Dista menahan tawanya saat Vicky berucap demikian. suaminya tetap saja dingin, meski dalam keadaan seserius apapun. Hanya dengan dirinya saja Vicky ganti kulit menjadi pria bucin dan manja.
Dion merebut ponselnya dan membenarkan ucapan itu. mengingat mereka semua sudah berkawan cukup lama, dan hubungan mereka sudah lebih dari saudara.
Dion
[Katakan, siapa Om-Om yang mau sama Lo? memangnya ada yang tertarik sama body Lo kurus begitu?]
Yoshi terdiam mendengar ucapan kawan baiknya. Ia tak mengira jika masih ada yang peduli padanya. Sayangnya Dewa tak menginginkan uang itu, meskipun akan dikembalikan dalam jumlah berkali lipat. Kekayaan yang dimilikinya sudah sangat berlimpah. Ia hanya butuh anak laki-laki. Dan Dewa juga sudah cocok dengan gadis muda seusia Sigit.
Pernah terlintas dipikiran Dewa jika Ia tertarik dengan sekretaris pribadi Dion Wijaya, siapa lagi jika bukan Kania. Niat untuk menghubungi gadis itu urung Ia lakukan, mengingat dirinya memiliki sejumlah kontrak besar yang tak bisa Dewa abaikan. Dewa berpikir, mencari gadis yang belum pernah terjamah oleh pria tak sesulit yang Ia kira. Ternyata dugaannya salah besar.
Dion
[Siapa Yosi! Pasti Gue atau Bokap Gue kenal, kalau memang dia pengusaha ternama!] Dion sudah sangat sabar menahan emosinya. Di tengah kekacauan pada masalahnya sendiri yang sedang menimpanya.
__ADS_1
“Yee... malah dimatiin teleponnya!”