
Langit kota Bandung yang cerah dan sejuk. Tiba-tiba saja berubah menjadi dingin. Sekumpulan awan gelap pun turut hadir di pemakaman Dewa Virgiawan dan juga Anggita Dias. Daun-daun dan juga debu pun turut berterbangan, mengantarkan kepergian mereka.
“Pak, bisa tolong lebih cepat! Hujan mulai turun!” perintah Sigit kepada penggali makam.
“Iya Pak, sebentar lagi.
Tanah kubur yang mereka siapkan sudah selesai, tetapi tanah mendadak menutup kembali. membuat dua para penggali makam itu harus bekerja dua kali.
Keringat bercucuran membasahi baju dua orang berkulit legam, mereka berdua tak habis pikir. Seumur-umur baru kali ini pekerjaannya tidak lancar. Yoshi dan Rosi merasakan prihatin, sampai hendak pergi pun suaminya masih merepotkan orang lain.
“Ma, lepasin Sigit Ma! Sigit mau mendoakan Papa untuk terakhir kali.”
“Tapi Nak, hujan badai sebentar lagi datang.”
“Nggak apa-apa, sudah kewajiban Sigit.” Rosi pun melepaskan tangannya yang menarik kemeja hitam itu. pria tampan itu turun ke liang bersama Gunawan dan warga sekitar yang membantu. Prosesi itu cukup rumit, karena jumlah papan penutup itu jumlahnya kurang.
“Sudah Pak seadanya saja.” Sigit bersedih. Karena belum juga tertutup sempurna hujan sudah mengguyur pemakaman itu. semua orang berlarian meninggalkan area. Hanya tersisa Yoshi dan Rosi dalam satu payung hitam.
“Mbak, Aku takut. Hujannya semakin deras, sedangkan mereka belum selesai.” Yoshi mengeratkan pelukannya, sedangkan Rosi menangis tergugu. Setelah bergulat dengan hujan yang membuat tanah itu menjadi lengket, mereka berempat segera pergi dari sana.
Bahkan keanehan tak hanya pada proses pemakaman Dewa, tetapi juga gadis manis itu. Tanahnya tercium aroma tidak sedap. Meskipun sudah terguyur air hujan. Bunga tujuh rupa yang segar ditaburkan ke pusaranya juga berubah menjadi hitam dan layu.
“Ayo kita pergi! Tugas kita sudah selesai.” ucap Gunawan.
“Pak, ke tempat kami saja dulu untuk menghangatkan diri, tidak jauh dari sini!” ucap Sigit.
“Betul Bang, besok kami juga akan kembali ke Jakarta. Bisa lah kita rayakan perpisahan kita.”
Gunawan hanya mengangguk dan mengikuti mobil mereka. Sigit meminta Yoshi untuk di depan. Menemaninya menatap jalanan yang gelap, juga basah. Kadang konsentrasi Sigit terganggu jika tengah memikirkan sesuatu.
“Yoshi!” Sigit melirik gadis tomboy itu.
“Hem!”
“Lo serius mau balikan sama Iwan?”
Yoshi tiba-tiba pura-pura tidur, mendengar obrolan tidak masuk akal lagi dari Sigit. Rosi yang duduk di belakang hanya tertawa melihat kelakuan Sigit. Putranya benar-benar berubah, sejak adanya Yoshi Sigit menjadi lebih terbuka.
Meninggalkannya sendirian di Jakarta rasanya Rosi merasa kasihan. Ia memutuskan untuk mengajak putranya untuk berlibur sementara waktu. Namun Rosi harus bertanya lebih dulu kepada Sigit, apakah Ia mau atau tidak.
“Sigit?”
“Iya Ma!”
__ADS_1
Sembari mengemudi, Sigit melihat dari kaca spion.
“Apa kamu mau kalau kita liburan bertiga? Kamu, Mama dan Yoshi?” seketika Yoshi menoleh ke arah Rosi. Bisa-bisanya merubah rencana secepat itu. Yoshi semakin khawatir, padahal menunggu waktu tiga bulan untuk bisa kembali dengan si Cungkring itu sangat lama. Ia berharap tak ada lagi gangguan dalam hubungan mereka, tapi ini?
“Jelas mau lah! berarti besok kita ke Jakarta hanya untuk transit kan?” tanya Sigit, senyumnya susah dimengerti oleh Yoshi. kesempatan gadis itu untuk menyampaikan pesan kepada Iwan hanya ada satu jam saja. semoga mantan kekasihnya bisa datang tepat waktu.
...
Vicky menghubungi Dion, jika besok sepertinya tak bisa ikut mengantarkan Iwan ke bandara. Di karenakan ada jadwal kontrol kehamilan. Di usianya yang memasuki trimester ketiga, Ia harus rutin memeriksakan kandungannya. Apalagi sering bepergian jauh seperti kemarin.
Dion
[Jam berapa memangnya?]
Vicky
[Pagi sih, Gue mau lihat wajah anak Gue, haha...]
Mendengar hal itu, Dion mengajak Kania untuk ikut ke rumah sakit. Karena acara mengantar Iwan adalah pukul satu siang.
Dion
[Gue boleh ikut kan Bro? Gue mau lihat calon anak gadis Gue.]
Vicky
Dion
[Ngapain Lo pagi-pagi ke rumah sakit? antre sarapan?]
Vicky kesal dengan temannya yang satu ini. ingin rasanya mengusap wajahnya saat itu juga. mendengar kata calon anaknya diakui Dion membuat Vicky tertawa seperti orang stres. Anaknya baru sebiji kacang ijo juga. bapaknya udah bingung cariin jodoh.
Vicky
[Antre Bego! Lo mulai sekarang banyak belajar, jangan kelayapan terus. Buka internet, jadi orang tua siaga, Gue pecat dari daftar mau Lo?]
Terdengar suara tawa dari Dion, lalu menutup sambungan teleponnya. Ternyata benar juga, Ia harus banyak belajar mulai dari sekarang. Minimal Ia sudah mengetahuinya meskipun baru sedikit pada kehamilan Kania yang pertama.
“Sayang, besok pagi kita ikut Vicky ke rumah sakit ya!”
“Siapa yang sakit?” tanya Kania penasaran.
“Bukan, mau periksa kehamilan. Kata Vicky, wajah anaknya sudah kelihatan kamu mau kan?” wajah Dion sangat antusias, Kania pun juga sangat penasaran dengan bayi berjenis kelamin perempuan milik sahabatnya.
__ADS_1
“Iya Mas, ya sudah sekarang kamu bantu Iwan berkemas ya. Kania mau bantu Mama dulu di dapur.”
...
Kania dan Dion melihat pasangan suami istri itu tengah menunggu giliran untuk di periksa. Kania tertawa, jika melihat hal itu. menghampiri Dista dan Vicky menyarankan untuk datang ke rumah sakit tempat dirinya melakukan pemeriksaan.
“Gue nyari dokter kandungan perempuan Kania, Dista susah di periksa sama dokter laki-laki.”
“Iya di sana juga perempuan kok, kenalan Mama Agnes. Jadi kalian nggak perlu antre sepagi ini.”
“Ooh, gimana Yang?”
Saat mereka tengah berpikir, kini giliran Dista dipanggil untuk diperiksa. Seketika semua ikut masuk ke dalam.
“Maaf Pak, yang boleh masuk hanya Suami dari calon ibu saja.” ucap perawat di dalam ruangan pemeriksaan. Kania pun merasa kecewa, padahal Ia sangat penasaran dengan bentuk janin yang sudah besar seperti milik Dista.
“Maaf dokter, teman saya ini juga sedang hamil. Boleh diperiksa sekalian?” pinta Vicky kepada dokter. Akhirnya Kania dan Dion diminta untuk menunggu, juga bisa melihat bagaimana wajah janin tujuh bulan yang dikandung Dista.
Senyum itu menghiasi wajah pria dingin itu yang sebentar lagi akan dipanggil Papa. Hidungnya yang mancung juga bibir mungilnya jelas terlihat. Janin itu sedang menghisap jempolnya. Bukan hanya Vicky yang terharu, tetapi pasangan yang sedang menunggu antrean itu, Dion dan Kania.
“Sayang, nanti kamu juga akan melihat dua jagoan kita seperti itu, jangan nangis dong!”
“Aku takut Mas, kalau tidak bisa menjaganya dengan baik dan tumbuh sehat seperti ...”
Kania teringat janin miliknya yang tak terselamatkan. Ia takut kejadian serupa terulang dan Dion menguatkan Kania, jika Ia adalah wanita yang baik dan kuat dan bisa melewati setiap ujian bersamanya.
Setelah puas melihat mahluk kecil titipan Tuhan dalam keadaan sehat, mereka segera bersiap untuk mengantar kepergian Iwan ke Bandara untuk menemui Yoshi. Dion melihat jam di tangannya baru pukul dua belas.
“Bro, lebih baik kita datang lebih awal. tak ada salahnya menunggu daripada kehilangan Yoshi lagi nanti!” usul Vicky.
“Benar, di sana juga ada tempat nongkrong kan? ayo berangkat sekarang!”
Setibanya di Bandara, mereka semua sudah menunggu beberapa jam lamanya. Namun Yoshi tak tampak pula batang hidungnya. Iwan mulai khawatir karena sekarang sudah pukul lima sore.
“Lo yakin Bro, Yoshi bilang apa tadi di telepon?”
Iwan tertunduk lesu. Saat mengatakan pesawatnya sudah lepas landas. Iwan terduduk di tengah keramaian banyak orang yang berlalu lalang. Teman-temannya pun mengajak Iwan untuk bangkit dan pulang ke rumah Dion.
Patah hati kedua kali membuat Iwan memutuskan untuk melupakan Yoshi. Iwan menendang dinding di area bandara yang tak bersalah. Sampai Ia di tegur petugas keamanan bandara.
“Brengsek! Aaarrgghh!” teriak Iwan.
“Heh, berisik Lo Cungkring!” Iwan pun menoleh mendengar suara itu.
__ADS_1
...