Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 6. Sulit Dipercaya


__ADS_3

Kania yang berantakan harus bertatap muka dengan seorang pria tampan yang sudah tampil paripurna. Bahkan tak cukup berhenti sampai disitu, Agnes menitipkan sebuah sekotak roti panggang untuk sekretaris suaminya yang ternyata usianya dua tahun lebih muda dari putranya.


Sungguh rasanya ingin bersembunyi di liang semut. Saat tatapan Dion dengan senyum mengejek. Seakan membenarkan pernyataan pria itu, bahwa Kania Dinara adalah seorang gadis yang jorok. Mau berubah seperti apapun image jorok dan berantakan akan selalu melekat pada nama belakang dirinya.


“Mau apa lo kemari?” tanya gadis yang masih mengenakan pakaian kemarin. Kania masih belum mengetahui jika Dion Wijaya adalah anak tunggal dari atasannya. Gadis itu mengira jika pria di hadapannya hanyalah seorang anak magang titipan.


“Gue kemari mau bawa lo berobat! Katanya Lo keseleo? Dasar tukang ngadu!”


Dion tetap saja Dion yang tidak menerima kekalahan. Bukannya meminta maaf kepada calon rekan kerjanya, malah mengatai gadis itu yang bukan-bukan. Kania yang merasa tidak terima dengan tuduhan Dion, berjalan mendekat kearahnya dengan tenaga yang masih tersisa. Maklum saja, semalaman gadis itu rela menahan lapar akibat tidak ada makanan yang bisa dimakan.


“Kalau ngomong yang ..., auw!!” ucapan Kania terputus. Kakinya yang masih terasa nyeri sehingga tidak bisa dipaksakan untuk berjalan. Gadis itu pun mengaduh, dan Dion malah berpura-pura menuduhnya bersandiwara. Sangat luwes sekali lidah pentolan geng itu mengajak gadis itu berdebat.


“Sudah sana buruan mandi! Gue datang kemari cuma mau antarin lo berobat, jadi nggak usah akting deh, gue akuin lo hebat.” Dion menutup hidungnya, dan mengenyahkan gadis itu untuk segera membersihkan diri.


“Dasar cowok aneh, dia sendiri yang kemari, dia juga yang main perintah seenak jidatnya. Dia pikir dirinya siapa? Anaknya Pak Chandra? Mana mungkin pria sebaik dia punya anak beban keluarga seperti itu, Cihh!!” umpat Kania yang menuju ke kamar mandi.


Dion menunggu gadis itu di halaman rumah. Kania ternyata gadis yang sederhana, tinggal di perumahan sederhana hanya bersama ibu dan kakaknya. Namun Dion tak melihat saudara gadis itu.


“Ah peduli amat gue sama gadis jorok itu, jam segini aja belum mandi. Mana masih pakai baju kemarin lagi, astaga! Sengaja banget itu mama nyuruh gue pagi-pagi kemari.” Dion tak henti-hentinya mengumpat. Ia membuka ponselnya dan menatap foto seorang gadis dengan seragam ospek saat di kampus dulu.


“Kembang desa,” lirih Dion dengan senyum seterang matahari.


Pentolan geng itu menggulir galeri hapenya, hanya ada beberapa beberapa foto dirinya bersama ketiga sahabatnya. Yang lain adalah cintanya yang tidak kesampaian. Mantan pacarDion pun membencinya, karena pria tak berhati itu, sudah buta akan cintanya yang tak berbalas.


Setelah berpamitan dengan ibu gadis itu, Dion membawa Kania ke dokter untuk diperiksa. Ternyata lukanya cukup serius, mengakibatkan gadis itu harus benar-benar istirahat total dirumah. Kania tentu saja keberatan, bagaimana mungkin dia akan ijin terlalu lama, lalu bagaimana dengan tanggung jawabnya?


“Hey, dokter bilang apa?” Dion menanyai Kania, karena dirinya tidak menemani gadis itu masuk ke dalam. Perintah papanya hanya membawanya berobat, dan membiayai pengobatnnya. Setelah selesai, Dion mendapat pesan teks dari Vicky, untuk menemani Dista menjemput papanya karena dirinya sedang ada tugas di luar kota.


Tanpa menunggu aba-aba lagi, Dion langsung memberikan ongkos taksi kepada Kania untuk pulang. Dion tidak memperhatikan, jika setelah keluar dari ruangan dokter, mata Kania basah. Namun dirinya malah memintanya untuk pulang menggunakan taksi saja.

__ADS_1


“Hey, Gadis jorok! Gue ada keperluan di luar, Lo bisa naik taksi kan?” Dion membuka dompetnya, dan memberikan beberapa lembar ratusan ribu. Gadis itu menatap Dion tak percaya. Perbuatannya mana bisa disebut sebagai pria bertanggung jawab, padahal jelas-jelas cidera yang di derita Kania juga dia penyebabnya.


“Oke, gue bisa kok pulang sendiri!” lirih Kania. Setelah mendapatkan taksi, Dion segera berlalu ke arah yang berbeda.


Entah kenapa hatinya merasa sakit, seperti dicampakan oleh seorang kekasih begitu saja. Faktanya, antara dirinya dan Dion tidak memiliki hubungan apapun, bahkan rasa ingin menyingkirkan pria itu semakin besar.


Drrrtt... Drtttt... Drrrtttt...


Ponsel Kania berdering, ternyata dari istri Pak Chandra yang menghubunginya. Gadis itu mencoba menetralkan suaranya yang terdengar sengau, akibat baru saja menangis di dalam taksi. Bukan rasa sakit yang ia derita, namun perasaan di campakan begitu nyata adanya.


Agnes


[Halo Kania, kamu di mana nak? Sudah berobat, lalu bagaimana kondisimu?]


Kania


[Kania berada di taksi bu, baru saja selesai berobat, ada yang bisa di bantu?]


Kania


[Baik bu, Kania akan segera ke rumah]


Karena tak ada lagi yang disampaikan Kania menutup sambungan itu. Ia merasa sungkan, merasa tak pantas diperlakukan begitu baik oleh keluarga Wijaya, namun ia juga ta ingin diperlakukan semena-mena oleh orang lain.


“Haaahh!”


Kania menghela nafas panjang, rasanya menjalani hidup ini teramat berat. Semoga saja dirinya bisa melewati semua kesulitan dengan mudah.


“Pak, kita putar arah ke Menteng ya!”pinta Kania. Gadis itu semakin bingung, ada apalagi dia diminta untuk mendatangi rumah bos nya. Hari libur yang rencananya akan ia gunakan untuk beristirahat terncam gagal. Namun Kania tidak bisa menolak kebaikan keluarga Wijaya yang sudah banyak membantunya.

__ADS_1


Dari teras, bahkan Agnes sudah menyambutnya. Mana ada seorang staf biasa seperti dirinya disambut baik oleh orang berkelas seperti keluarga konglomerat ini, bahkan dirinya juga dinamai gadis jorok, oleh seorang pria brengsek.


“Akhirnya kamu datang juga nak, ayo masuk!”


Kania yang kesulitan berjalan, dibantu oleh wanita cantik berusia 40 tahunan. Keluarga yang hangat, seperti yang gadis itu inginkan. Namun semua hanyalah mimpi gadis malang di siang bolong.


Hari ini adalah kali pertama Kania menginjakan kaki di rumah bos nya. sebuah rumah mewah khas orang kaya. Namun saat memasuki ruang tamu, terdapat sebuah foto besar terpajang di sana. Ya, itu adalah foto Chandra Wijaya bersama Agnes, dan satu lagi seseorang yang tak asing baginya.


Bruukk!!


Kania terduduk, tepat di bawah foto besar yang sedang ia tatap. Agnes yang melihatnya pun sedikit kesulitan membantu Kania berdiri.


“Kania, kamu nggak apa-apa kan?!”


...


Dion yang sudah tiba di rumah Vicky segera menyambut gadis pujaanya yang nampak sedikit berisi. Namun tak dapat Dion pungkiri, jika pesona Distanika Fadila tak pernah luntur.


“Ayo masuk, hati-hati!” Dion bahkan rela membukakan pintu untuk Dista yang notabene adalah istri dari sahabatnya, bahkan bisa dibilang sangat istimewa.


“Sorry ya Dion, terpaksa merepotkan lo! Sebenarnya gue bisa naik taksi, tapi sama Vicky dilarang.”


“Gue paham kok, kalau gue jadi suami lo juga pasti akan melarang lo pergi sendirian kemana-mana!”


Mereka berdua tertawa untuk mencairkan suasana. Belum juga sampai di bandara, namun ponsel Dion terus berdering. Terlebih panggilan masuk itu ternyata dari mamanya. Dion sengaja tak mengangkatnya. Sudah cukup sekali mamanya menghancurkan mood nya, kali ini tidak lagi.


‘Sorry Ma, Dion nggak bisa membiarkan Dista sendirian. Kalau mau marah nanti saja di rumah.’ batinnya.


“Nih anak pergi kemana sih? di telepon nggak diangkat!”

__ADS_1


...


__ADS_2