Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 104. Semua Belum Berakhir


__ADS_3

“Lepaskan! Siapa kamu?” Faris terus memberontak. Namun, karena kurang persiapan dirinya tak berkutik saat lengannya dipasangkan borgol besi secara paksa.


“Nanti saja ngobrolnya di kantor polisi!” balas pria berpotongan cepak yang diam-diam mengintai Faris saat menyelinap masuk ke ruangan Dias.


Pria dengan pakaian serba hitam yang tidak berdaya itu, tentu saja terkejut dengan kedatatangan polisi yang entah muncul dari mana. Namun, apakah usahanya untuk melenyapkan Dias akan berhasil atau tidak hanya keberuntungan gadis itu yang akan menyelematkannya.


Faris di gelandang ke kantor polisi. Setelah pencarian beberapa waktu lamanya akhirnya keberadaan buronan itu ditemukan. Pria yang memiliki sorot mata tajam itu diminta membuat laporan terkait hubungannya dengan Dias yang terbaring lemah dalam ruangan perawatan itu.


Faris mengatakan semuanya, jika awalnya Ia hanya di perintahkan untuk menghabisi Dion Wijaya bersama pasangannya dengan bayaran tertentu. Namun Ia sendiri tidak tahu menahu jika yang menjadi istri Dion adalah adik kandungnya.


Sialnya lagi, ternyata ibunya juga berada di dalam mobil yang sama yang mengalami kejadian naas itu. Laporan kakak kandung Kania sudah dicatat dan semakin memberatkan tuduhan Dias untuk tidak bisa bebas.


“Apakah ada tersangka lain yang membantumu?”


“Saya tidak tahu,” balas Faris.


Gunawan yang sedang menikmati secangkir kopi dengan Christian menerima laporan tentang usaha pembunuhan yang dilakukan Faris. Namun, sepertinya yang di maksud oleh Gunawan bukanlah pria itu. Masih ada nama lain yang mungkin tak akan mereka temukan semudah itu. Mengingat motif dan tujuannya belum diketahui secara jelas.


Christian melihat Gunawan sedikit gusar. Ia melihat sendiri bagaiamana Gunawan waktu itu mengurung kekasihnya dalam dinginnya hotel prodeo di Bandung. Jujur Christian tak memiliki nyali untuk melawan Dion beserta kawan-kawannya, hanya saja rasa cintanya kepada Dias yang membuatnya nekat melindungi gadis berjiwa sadis itu.


“Pak, kenapa Anda mengajak saya keluar malam-malam begini?” Christian hendak berdiri dan meninggalkan kafe, namun suara tegas milik Gunawan menghentikannya.


“Santai saja, nikmati saja waktumu sebentar!” balas Gunawan menyeruput kopi hitamnya. Lamat-lamat pria maskulin berusia matang memperhatikan Christian, bagaimana bisa ada pria sebodoh dirinya.


Christian yang merasa tak tenang karena meninggalkan Dias seorang diri dalam ruangan perawatan. Gunawan mengetahui hal itu. Ia mengeluarkan selembar kertas untuk di tanda tangani. Bahwa jaminan untuk Dias sudah tidak berlaku lagi.

__ADS_1


“Sudah lebih dari Tiga tahun, tapi kamu tidak bisa membuat wanitamu berubah. Kamu tahu betapa menyeramkannya ambisi wanitamu itu?” tanya pria berpotongan cepak. Gunawan ingin menunjukan kepada Chris, jika dirinya hanya dimanfaatkan Dias sebagai alat pemuas balas dendam saja kepada Dion, yang tak pernah mencintainya.


“Tanda tangani ini! sekarang sudah tidak ada yang bisa menjamin Dias bebas. Bahkan orang tuanya pun sudah lepas tangan. Sebenarnya kamu tahu semuanya, tapi kamu memilih untuk menutup mata.” tegas Gunawan.


Chris membaca surat pernyataan yang berada di tangannya, mau tak mau pria itu membubuhkan tanda tangannya.


“Apakah kesalahan Dias sudah sangat fatal?” Chris mencoba membujuk Gunawan. Meskipun wajahnya terlihat sangat bodoh saat menanyakan hal demikian.


“Kamu pikir, belum cukup mempertaruhkan nasib keponakan saya yang berulang kali berakhir di rumah sakit? Kalau saya tidak kenal hukum, sudah saya tembak mati wanitamu itu! jadi laki-laki harus tegas, jangan mau di bodoh-bodohi dengan dalih cinta! setelah ini kembalilah ke rumah sakit.” Gunawan berlalu meninggalkan Chris setelah mendapatkan telepon dari anggotanya.


Kania dan Dion sudah di izinkan pulang. Meskipun sebenarnya kondisi Dion belum pulih secara keseluruhan. Hanya saja pentolan geng tampan itu merasa bosan melihat Kania sering disambangi oleh barista kopi itu. Seperti pagi ini, lagi-lagi Dion hanya mampu melihat istri merangkap sekretarisnya bertegur sapa dengan pria tampan berkulit putih itu. Ingin rasanya Dion menghajarnya bagaimana bisa Sigit terus mencoba menedekati wanita yang sudah menikah.


“Kania, kamu serius akan pulang?”


“Iya Sigit, jujur aku sudah bosan dengan aroma rumah sakit,” tukas Kania. Sigit ingin sekali merengkuh tubuh gadis itu. Berulang kali Sigit menyengkeram tangannya untuk menahan rasa rindu.


Kania tak menjawab. Ia hanya melihat kedua netra Sigit yang sangat menyedihkan. Meskipun berusaha menyembunyikannya, Kania sadar akan hal itu. apa yang dikatakan Sigit benar, apakah keputusannya menikah dengan Dion adalah sebuah kesalahan?


“Sigit, sebenarnya aku...,”


“Sudah, sudah, tak perlu kamu jawab Kania, aku mengerti. Kamu tahu kan kalau aku akan menunggumu kembali padaku! Semua yang terjadi tidak lepas juga karena kesalahanku, kamu tahu kemana harus mencariku.”


Sigit mengusap kepala Kania dan mengecupnya. Membuat Dion tak tahan dan keluar dari ruangannya. Meski dengan sedikit kesulitan, sikap arogan Dion tetap saja masih melekat pada dirinya. Hasrat ingin berkelahi semakin besar melihat Kania disentuh pria lain.


“Jauhkan tanganmu dari wanitaku, dasar brengsek!” melihat rivalnya tersenyum mengejek hati Dion menjadi panas.

__ADS_1


“Lihatlah Kania, ada pencuri teriak pencuri!” ledek Sigit menatap Kania. “Padahal Aku berharap kamu menjadi janda saat itu juga, tapi Tuhan berencana lain rupanya.” ejek Sigit yang meninggalkan pasangan itu.


“Wah, minta di hajar rupanya! Nggak bokapnya nggak anaknya sama brengseknya!” Kania menahan lengan Dion. Meskipun perasaannya sama besar kepada kedua pria yang tengah bersitegang, Kania mencoba untuk menghormati perasaan Dion.


“Sudah Mas, katanya kita mau pulang? jangan ganggu Sigit lagi Oke!”


“Belain aja terus pacar kamu itu!”


“Apa salahnya hanya berterima kasih, karena berkat dia juga kita selamat.” Dion hanya menatap Kania tanpa bicara. Bagaimanapun juga Sigit yang masuk diantara hubungan mereka. Akhirnya Dion dapat merasakan posisi sahabatnya, saat Ia berada di tengah-tengah hubungan mereka dulu. Pantas saja Vicky tak pernah berpikir dua kali untuk menghajarnya, ternyata rasa sakitnya sampai ke ulu hati.


Sebuah mobil telah sampai di depan lobby rumah sakit. Dion melihat sopir pribadi papanya datang sendirian menjemputnya. Dion jadi teringat Ujang, pria berdarah sunda yang sering Ia ajak gila-gilaan. Tiba-tiba saja mata Dion memerah dan dadanya kembali sesak. Hah...


“Pak, sendirian?” sapa Dion. Sembari memasukan barang bawaan ke dalam bagasi mobil.


“Iya Mas Dion, Bapak tadi sempat mau ikut tapi tiba-tiba ada tamu dengn mobil mewah datang ke rumah.” Dion mengangguk. Kania pun sudah duduk di bangku tengah. Perasaannya sedikit lebih baik setelah melewati hari-hari yang panjang. Namun, saat hendak masuk ke dalam mobil Dion justru melihat kehadiran Yoshi menuju kafe tempat Sigit berada.


“Kania, tunggu sebentar ya! ada yang ketinggalan.” Dion berjalan cepat menghampiri dimana rekannya berada. Gadis tomboy itu tampak aneh. Mengenakan pakaian tertutup lengkap dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


“Yoshi!” sapaan Dion ternyata mengejutkan gadis berambut coklat itu. Refleks tangan Dion menyentuh lengan mantan kekasih Iwan untuk menghentikannya. Malah berakhir dirinya kesakitan karena mendapat serangan tiba-tiba oleh Yoshi.


“Heh! Ini gue,” pekik Dion merasa kesakitan.


“Lo sakit ya, ngagetin orang aja!” Yoshi melepaskan tangannya. Sesekali mendesis karena rasa sakit di sekujur tubuhnya. Melihat temannya yang tidak baik-baik saja Dion membawanya menuju ke mobilnya berada.


“Yoshi, ikut gue ke rumah sekarang, ada yang mau gue bicarakan sama Lo! ini serius.”

__ADS_1


...


__ADS_2