
Anggita Dias, telah melewatkan banyak momen indah di usia mudanya. Gadis 22 tahun itu lebih memilih berburu kesenangan dibandingkan mengejar cita-citanya.
Dias tidak tahu, siapa pria pilihan papanya. Bisa saja seorang pria tua bangka yang usianya tinggal menghitung hari dengan meninggalkan banyak warisan. Ya, itulah yang dibayangkan Dias, mantan kekasih Dion.
“Pikirkan baik-baik, waktumu hanya sampai besok pagi. Sekarang bersihkan dirimu!” perintah Papanya.
Orang tua Dias menjadi sangat murka, saat mendapat laporan dari kampusnya di Bandung. Belum lagi kunjungan dari petugas kepolisian, tentang catatan kriminal gadis manis itu. Bahkan keluarga Dias menjadi perhatian, karena rumahnya sering diawasi oleh polisi. Siapa lagi jika bukan anak buah Gunawan. Seorang perwira menengah, Om dari Dista.
Tak sedikit orang tua Dias membayar banyak pengacara, untuk mengajukan banding kasus Dias tiga tahun lalu. Namun pria 27 tahun itu tak akan pernah melepaskan Dias, jika kasus percobaan pembunuhan terulang kembali.
Dias
[Halo Chris, Ada di mana Lo sekarang?]
Chris
[Lagi di kantor, katakan ada apa? Sebentar lagi Aku ada meeting.]
Dias
[Gue butuh bantuan Lo! Bisa temuin Gue?]
Chris
[Haha... Apa semudah itu Gue di matamu? yang bisa kamu permainkan saat butuh dan dibuang sesukamu?]
Dias
[Apa tawaran Lo masih berlaku? Gue bersedia menikah denganmu Chris, bawa Gue pergi dari sini!]
Chris
[Kamu yakin? Tunggu Aku di tempat biasa.]
Dias berpikir jika Dia memilih Chris, minimal dirinya masih bisa menikmati kebebasan, meskipun tak harus kembali ke rumah. Chris juga mencintainya, begitu juga gadis itu. Meskipun Chris tak sepopuler Dion Wijaya dalam hal apapun, dirinya memiliki seseorang yang bisa diandalkan.
Sigit memasuki ruangannya, dan mengerjakan beberapa pekerjaan terkait kontrak rumah sakit dengan perusahaan besar Wijaya Group.
Tiba-tiba saja tanpa mengetuk pintu Rosi masuk, sambil menangis. Mengadu kepada putra bungsunya, yang sekarang menjadi putra satu-satunya Dewa Virgiawan.
“Ada apa Ma? Pasti bertengkar sama Papa lagi ya?” tebak Sigit, sembari meletakan kedua tangannya di meja.
__ADS_1
“Papamu Git, Dia berniat menikah lagi dengan daun muda, anak dari rekan bisnisnya.”
“Ck, ternyata kelakuan Papa masih sama. Biarkan saja Ma, kalau memang itu kemauannya. Hanya karena ingin menambah anak laki-laki, sampai niat menambah istri.
“Tapi gadis itu seumuran kamu Git, seperti anak gadis Mama, mana mungkin Mama bisa terima!”
“Ma, kalau Sigit bawa pacar Sigit ke rumah bagaimana?” Pria manis itu tersenyum menatap wallpaper di ponselnya. Gadis cantik berkulit putih dengan tahi lalat kecil di bawah bibirnya.
“Benarkah? Boleh Mama lihat fotonya?” Rosi tersenyum melihat Sigit pulih begitu cepat, yang pasti kesembuhan putranya tak di dapatkan dari dalam rumah mewahnya.
Sigit menjadi rajin bekerja, semangatnya tinggi, olah raga mulai Ia rutinkan kembali. Rosi berdiri mengusap rambut putranya. Andainya saja, suaminya tak menekan mendiang Bagas seperti itu, pasti keluarganya akan sangat bahagia sekarang.
Rosi meletakan kepalanya diatas kepala Sigit yang duduk di kursi.
“Mama kangen Abangmu Git!” sekali lagi Rosi terisak. Ia tak akan membiarkan istri muda Dewa menghancurkan keluarganya.
“Sigit juga Ma. Sudah jangan sedih lagi, nanti Mama akan Sigit perkenalkan dengan gadis cantik pilihan putramu ini. Dia seorang sekretaris, sederhana dan lucu. Pasti Mama akan langsung suka setelah bertemu dengannya.”
“Janji ya! Mama mau bertemu Jo sama Richie, Kamu belum memberikan bonus yang Mama kasih ke mereka berdua ya?”
Hahaha...
“Sorry Ma, Sigit Lupa kemarin habis di pakai Sigit buat beli motor baru.” Dengan senyum seterang matahari, Rosi pun luluh.
...
Dion masih sibuk meyakinkan Kania. Gadis jorok itu kini menjadi seseorang yang paling Ia nantikan.
“Pelan-pelan dong sayang! Masa kasar begitu sama bos nya, nanti Gue potong gajinya, mau?” Dion menatap wajah mungil gadis itu. Bibir Kania yang terus menggerutu, membuat Dion ingin menyeruputnya lagi dan lagi.
Kania menghentikan gerakannya, menatap pria yang mengancam akan memotong gajinya, pria itu penuh ancaman, membuat Kania tak tenang setiap berdekatan dengannya. Tindakannya yang tiba-tiba juga selalu membuat jantungnya tak karuan. Belum lagi, bibir Dion yang selalu menginvasi dirinya. Membuat Kania pusing dibuatnya.
“Kenapa, Lo lagi bayangin Gue ya? Kok kayak gemes gitu lihatin bibir Gue? Kalau mau seharusnya Lo bilang.”
“Bos kan kalau di kantor, kalau di rumah Lo bukan siapa-siapa, paham!”
‘apa wajah Gue kelihatan banget, lagi bayangin Dion, kok pada bisa menebak isi kepala Gue sih? Nggak Pak Chandra, sekarang Anaknya, kan Gue malu.’
“Cih, kata siapa? Justru kalau di rumah, Gue itu yang akan menguasai diri Lo sepenuhnya Kania, karena Lo akan jadi milik Gue!”
__ADS_1
Hahaha...
Mendengar Dion tertawa, Kania menjadi takut. Banyak hal yang pria itu rencanakan diam-diam.
Kania hendak berdiri, namun Agnes buru-buru masuk dan memintanya untuk menginap, karena besok adalah akhir pekan.
Agnes merencanakan liburan untuk keluarga mereka setelah Dion memberikan hasil pemeriksaan Kania waktu itu. Dion memberitahu Mamanya, jika sepulangnya dari rumah sakit, Kania terus menangis, ternyata semua perbuatan Agnes, yang selain tak sabar juga plin-plan.
“Tapi Tante, besok Kania sudah ada acara, maaf ya Tante... Kania harus pulang.”
“Tuh kan Ma, sekarang Kania udah punya pacar. Mana mau dia berlama-lama di sini! Sudah, biarkan aja dia pulang!”
Kania merasa tak enak, dasar mulut Dion yang ember, bagaimana bisa pria itu mengumbar urusan pribadi orang lain ke orang tuanya.
“Betul seperti itu Kania?” Chandra dan Agnes menunggunya di depan pintu kamar.
Menggaruk rambutnya secara kasar, dan menghentakkan kakinya frustrasi, Kania mengangguk. Rasanya air matanya siap terjun, menghadapi Dion.
“Menginap?”
Agnes tak memberikan pilihan, sehingga Kania mengangguk perlahan. Dion bersorak kegirangan. Melihat bibir pink cherry itu mengerucut, Dion paham Kania sedang mengumpat dirinya. Namun, hal itu belum seberapa, Dion tak akan membiarkan Kania semakin dekat dengan tukang kopi itu.
‘Kan, Gue bilang juga apa! Lo nggak akan menang melawan Gue, sayang! Malam ini, Lo akan melupakan pria manismu itu yang bernama Sigit.’
“Nah gitu dong sayang, Ayo kita ke kamar tamu, atau kamu mau di sini saja sama Dion?” usul Agnes.
Mendengar hal itu kuping Chandra panas. Bisa-bisanya mereka mengerjai Kania seperti itu. Chandra sudah menganggap Kania seperti putrinya sendiri, mungkin lebih sayang kepada Kania daripada biang kerok seperti Dion.
“Mama!” protes Chandra. “bukannya kasih contoh yang baik sama anaknya malah seperti itu, Ayo Kania, jangan dengarkan mereka berdua. Kita makan malam saja dulu, Om mau menanyakan kabar kontrak dari rumah sakit itu.”
“Oh iya Pak, Saya sudah bawa salinan kontraknya tadi, tunggu sebentar ya Pa!”
Kania melewati ibu dan anak itu dengan sedikit menjulurkan lidahnya, mengejek Dion. Agnes pun tak tahan melihat keduanya.
“Bagaimana kalau Mama bikin Kania tidur di sini nanti malam?” bisik Agnes kepada Dion. Sedangkan Chandra sejak tadi melihat polah tingkah istri dan anaknya merasa malu.
“Kalau Mama nggak takut sama Papa, boleh aja sih. Dion nggak keberatan, tapi lihat dong wajah Bos besar di sana!”
“Agnes!”
__ADS_1
“Iya sayang... Mama datang!”
...