
Sigit tak habis pikir, bagaimana mungkin pria itu menjadi bos Kania. Setahu Sigit, Dion juga memiliki perasaan pada gadis itu. Terlihat jelas dari semua tindakannya, hanya saja Kania yang tidak pernah menyadarinya atau justru pria itu yang menolak mengakui perasaannya.
Langkah kaki Kania tak mampu mengimbangi kecepatan Dion. Kedua tangan gadis itu membawa banyak boneka yang diberikan oleh Sigit selama permainan. Tas yang disandang di bahu Kania pun nyaris melorot, namun Dion tak bergeming. Jangankan membantu, meliriknya pun tidak.
“Hueekk...” berada dalam satu lift dengan bosnya tiba-tiba membuatnya mual. Baru kali ini Kania merasa pengap mencium wewangian dalam kotak besi itu. ‘mungkin saja pewangi dalam lift ini yang berlebihan membuat perutnya bergejolak, atau bisa jadi karena keasyikan bermain bersama Sigit tadi di Time Zone.’ Batin Kania.
“Hueeekk...” Saat memasuki mobil pun, Kania sudah tak tahan lagi. Rasanya cairan itu sudah naik hingga ke kerongkongannya.
“Pak, tolong tunggu sebentar!” Kania membuka mobil dan berlari ke sudut tempat parkir. Di sana Kania mengeluarkan semua isi dalam perutnya. Rasanya begitu menyiksa bahkan air matanya pun turut mengalir di sudut matanya.
“Minum dulu!” Dion membuka botol air mineral yang masih tersegel dan menyerahkannya pada gadis itu. Wajah Kania memucat tubuhnya pun lemas. Gadis itu meneguk air dalam botol hingga setengahnya, namun lagi-lagi cairan itu keluar.
Haah...
“Kania, Lo nggak apa-apa?” Dion mulai khawatir. Pria itu pun mendekatinya. Namun, semakin dekat jarak mereka Kania tidak suka.
“Tolong Pak, saya pusing kalau Pak Dion dekat-dekat dengan Saya!” Kania mendorong dada bidang itu. mendengar hal tersebut Dion sakit hati. Baru kali ini ada gadis yang terang-terangan menolaknya. Dion tak berhenti mencoba, untuk membawa gadis itu masuk ke dalam mobil karena waktu sudah sore.
“Pak!” bentak Kania, “saya kan sudah bilang, jangan mendekat! Parfum Pak Dion itu membuat Saya mual dan ingin muntah! Jadi tolong jauh-jauh!” pinta Kania dengan tatapan memohonnya.
Dion meninggalkan gadis itu dan memasuki mobilnya. Sepertinya ada yang salah dengan sekretarisnya. Kania dengan tenaga yang tersisa duduk di bangku belakang dan membuka jendela mobilnya cukup lebar hingga terpaan semilir angin melancarkan pernapasannya.
“Gila ini cewek! udah kayak naik angkot aja!” melihat Kania tersiksa seperti itu, Dion merasa kasihan.
Setelah mobil itu keluar dari tempat parkir, Kania terlelap. Gadis itu merasa kelelahan sejak mengejar Dion, pandangannya berkunang-kunang dan kepalanya terasa berat. Dion memutuskan untuk langsung mengantar gadis itu pulang ke rumah sewanya. Membawanya masuk untuk beristirahat.
“Lo serius nggak mau ke dokter? Selagi Gue ada di sini!” Dion menawarkan. Namun, Kania berkeras dan tak mau menatap wajah pria tampan itu. Malah Kania memintanya untuk segera pergi, karena jam kantornya telah usai. Merasa tak tega meninggalkan Kania seorang diri, Dion ingin membawanya ke rumah untuk mendapat perawatan dari Mamanya.
Dion
[Ma, Kania sakit. Dion bawa pulang ke rumah ya?]
Agnes yang sedang mengenakan masker di wajahnya sontak tertawa. Membuat maskernya pun berantakan. Wanita itu berpikir, semakin lama Dion menjadi semakin lengket dengan gadis kecil itu.
Agnes
[Sejak kapan kamu peduli pendapat Mama, biasanya kamu langsung ambil keputusan seenaknya sendiri. Tunggu apa lagi, ganteng! Pakai chat Mama segala!]
Mendapat balasan dari Mamanya, Dion segera beralih kepada Kania.
__ADS_1
“Ayo, ikut Gue! udah ditunggu Nyokap di rumah!”
Kania jengkel, Dion susah diberitahu jika dirinya tak ingin melihat pria itu. susah payah Kania menahan mualnya, lagi-lagi gadis itu berlari ke kamar mandi.
“Dion lebih baik Lo pergi dari sini! Gue nggak bisa menahan wangi tubuh Lo lebih lama, please!” Kania mengatupkan kedua tangannya. Perutnya sudah kosong, karena semuanya telah Ia keluarkan. Dion pun pergi, namun tak mengatakan akan kemana.
Baru saja Dion masuk ke mobil, dari arah berlawanan Dion melihat pria yang tak asing mengendarai motor matic ke arahnya dan berhenti tepat di depan rumah Kania. Dion pikir pria itu adalah pengantar makanan, ternyata dugaannya salah.
Dion melihat Kania keluar dari dalam rumah dan menyambut pria yang baru ditemuinya tadi siang. menyerahkan dua bungkus plastik yang berisi makanan. Meskipun tak terdengar jelas, Dion mengetahui maksud pria itu.
“Kacau! Bisa-bisanya mengusir Gue begitu aja demi pacar barunya.” Dion memukul kemudinya dan meninggalkan rumah sewa itu.
...
“Kania, wajahmu pucat sepertinya kamu sakit, Nanti aku minta resepkan obat dari temanku ya! sekarang kamu makan dulu!”
Kania menyambut uluran tangan itu. mereka berdua berada di ruang tamu sembari menyiapkan makanan, Sigit mulai bertanya tentang bos barunya itu.
“Ehm Kania, Sorry kalau Aku penasaran tentang bos baru kamu itu, kok bisa dia sih? bagaimana ceritanya?”
Kania menjelaskannya secara perlahan, jika Dion adalah anak satu-satunya dari Chandra Wijaya. Bos yang selama ini memberinya kehidupan yang lebih baik.
Sigit membersihkan sisa makanan yang menempel di bibir gadis itu.
“Kania udah besar jorok ih, makan aja sampai belepotan begitu!” goda Sigit. Kania jadi ingat dengan ucapan Dion, persis saat mengatai dirinya jorok. Bedanya Sigit lebih lembut tak membuatnya sakit hati.
“Hehe..., sorry ya!” gadis itu tersenyum canggung, khawatir jika pria tampan di depannya menjadi illfeel nantinya.
“Tapi Kania, sepertinya ...,” Sigit menggantung ucapannya, Ia ragu untuk membahas masalah perasaan yang terlalu cepat kepada gadis cantik itu.
“Kenapa Git? Ada yang salah?” Kania menyuapi Sigit yang tak memakan makanannya. “Sekarang A’ dulu buka mulutnya ... masa Kamu cuma lihatin Aku makan? Nggak mau ah!”
Sigit pun urung mengatakan jika Dion menyukai Kania, begitu juga dengan dirinya. Sigit khawatir jika Kania mengetahui siapa dirinya sebenarnya, akankah gadis itu mau menerima cintanya. Sedangkan saingan Sigit sekarang adalah pewaris tunggal dari Wijaya Group yang sudah memiliki nama besar skala nasional dan akan merambah ke luar negeri.
...
Dion pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan setelah mendapat telepon dari Papanya. Pentolan geng itu membawa salinan surat visum Kania sebagi bukti kuat. Namun, sayangnya preman yang baru saja tertangkap bukan Faris Al Khalifi, saudara kandung gadis jorok itu.
__ADS_1
“Pak, jika pria yang bernama Faris tertangkap segera hubungi Saya ya Pak!” pinta Dion tanpa tedeng aling-aling di depan polisi yang bertugas.
Kini Faris terdaftar sebagai target operasi pencarian polisi. Kemana-mana pun sudah tak bebas, bahkan kembali ke rumah pun, lingkungannya sudah dijaga ketat oleh beberapa polisi yang menyamar sebagai tukang bakso dan tukang sol sepatu.
“Dion mengemudikan mobilnya tak tentu arah. Melihat Kania menyambangi Sigit terang-terangan, Dion mulai bodo amat, akan tetapi yang membuatnya penasaran adalah kenapa Gadis itu sangat membencinya tiba-tiba. Ia jadi teringat dengan hasil kehamilan milik Dista dan mencoba untuk menanyakannya.
‘Kalau Gue telepon si bohay, pasti si Vicky nanti yang angkat. Gila itu bocah bucin amat sama Bininya.’
Dion pun menghubungi Vicky, dan mengajaknya bertemu di tempat mereka sering mengadakan balapan dulu.
Dion
[Dimana Bro! keluarlah masa di kamar terus! Gue butuh bantuan Lo nih!]
Vicky
[Tumben Lo nggak chat Dista, biasanya gercep! Takut Gue yang balas kan? ngaku nggak Lo, hahaa...]
Dion
[Ah brengsek Lo! itu tahu, ajak Dista juga ya, ada yang mau gue tanyain soal kehamilan]
Vicky
[Siap! Oh, Iya thanks Bro udah nemenin Dista buat cek kandungan. Setengah jam lagi Gue sampai di sana!]
Dion
[Santai, kayak sama siapa aja! Udah gue anggap kayak Bini sendiri, haha...]
Vicky
[Brengsek Lo! jangan kemana-mana sebelum Gue datang!]
Menunggu setengah jam di patung kuda pintu masuk Monas, Dion mencoba mencari artikel seputar wanita. Ternyata banyak hal yang tak Dion ketahui. Selama ini dirinya menganggap wanita hanya demi memenuhi kepuasannya saja. Sampai Dion membaca sebuah artikel menarik tentang ...
“Ciri-ciri wanita yang diam-diam menyukaimu, wah seru nih!”
...
__ADS_1