Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 12. Bermalam Di Rumah Vicky


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 22.00 dan Dion tidak berencana untuk pulang ke rumah juga mengembalikan anak gadis orang ke rumahnya.


Toh, gadis itu juga tak minta diantar pulang. Sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan Kania, yang Dion tidak boleh mengetahuinya.


“Wah, benaran enak Lho masakan Vicky, berarti setiap hari yang masak suaminya ya?” ucap Kania. Sembari mengelap bibirnya dengan tisu.


“Iya, keputusan berdua sejak dulu pacaran, kalau Dista mau nikah sama Gue, dia tinggal duduk manis aja di rumah, ya kan sayang!”


Dista hanya tersenyum mendengar obrolan mereka berdua.


“Aku siapkan kamar dulu ya buat kalian berdua, udah malam jangan nekat!”


“Nah Bro, tuh udah di kasih kesempatan Bini Gue, kurang baik apa coba dia sama Lo!” goda Vicky


“Dasar bocah bego!” umpat Dion.


“Kok Nggak pakai tenaga asisten rumah tangga kenapa Bro?” tanya Dion kepo, padahal secara finansial mereka mampu.


“Belum perlu, masih bisa kita handle berdua, biar makin romantis aja ... Oh ya Bro, anggap aja rumah sendiri, Bini Gue udah ngantuk nih, lanjutin aja ngobrolnya ya!”


Setelah pasangan suami istri itu masuk ke kamar, kini tinggal Kania dan Dion.


Merasa canggung, Kania memilih membereskan meja makan, dan Dion hanya menatapnya sembari melipat tangan di dada.


“Nah gitu dong! belajar menjaga kebersihan, dari hal kecil dulu nanti baru yang agak berat.” Dion mengucapkan hal itu dengan menahan tawanya, ingin sekali mengerjai gadis jorok itu.


“Cerewet!” maki Kania.


Gadis itu mendengus kesal, “Memang sudah pasti tak akan banyak populasi jenis Vicky di dunia ini ... kalau jenis Dion di Pasar Senen juga banyak, dasar preman stasiun.


Karena terlalu lama menunggu gadis itu, Dion mulai bosan. Ia menuju ke tempat di mana Kania mencuci piring.


“Heh, Kalau udah selesai, bikinin Gue kopi hitam dong!” Kania menoleh menatap pria itu.


“Please, Lo tahu kan itu salah satu tugas...?”


“Sekretaris!” jawab Kania lirih. Padahal bukan itu jawaban yang dimaksud oleh Dion.

__ADS_1


“Nah, jangan lupa takarannya!”


Dion melihat busa sabun di pipi gadis itu, hampir mengenai bibirnya. Secara tidak sadar, Dion mendekat dan mengusapnya perlahan.


“Lo bisa nggak sih, kalau kerja itu yang benar!”


Kepala Kania ditahan oleh satu tangan Dion, sedangkan ibu jarinya mengusap pipi putih itu hingga menuju bibirnya.


Deg ... deg ... deg ...


Jantung Kania berdebar cepat, netranya menatap wajah pentolan geng yang tampan itu. Kini jarak mereka sangat dekat.


Pria itu tak berniat melepaskan pegangannya, tatapan itu benar-benar tajam. Menembus indra penglihatan gadis itu. Semakin mendekat dan terus mengikis jarak, hingga Kania memejamkan matanya.


“Jangan lupa kopi Gue, yang nikmat pokoknya, Oke!” bisik pria itu di telinga Kania. Hingga bulu gadis itu meremang dibuatnya.


“Dasar bocah tengil!” lirih gadis itu, sambil memegang dadanya yang bergemuruh cepat.


Setelah selesai, Kania mencari Dion. Gadis itu hanya menunggunya di samping mini pool samping rumah. Suasana malam di rumah Vicky memang sangat tenang dan menenangkan, pantas saja jika Dion sering kemari untuk melarikan diri dari keluarganya.


“Astaga Mama! Dion ini bukan bocah SMP yang masih harus dalam pengawasan, toh Kalau Dion menghamili anak orang, Dion pasti akan bertanggung jawab!”


Karena tidak ada yang bisa dijadikan samsak tinju, Dion akan menyalurkan kepada siapa saja yang ada di hadapannya.


“Ini kopi- ....” ucapan Kania terputus.


Dion menarik gadis itu dan menciumnya dengan kasar, untuk beberapa saat. Kania yang tidak siap harus kehilangan banyak pasokan oksigen.


Uummpp ... Ummpph...


Gadis itu terus memukul dada pria yang telah mencium paksa dirinya. Setelah kemarahannya mereda, dilepaskannya perlahan bibir Kania yang telah kebas.


“Dasar pria brengsek!!”


...


Kania pergi dari hadapan Dion, air matanya berlinang. Mau bagaimana lagi, baru saja jantungnya berdebar menganggap pria itu tak seburuk apa yang ia duga, tetapi ternyata belum juga berganti hari, pria itu sudah berani mengambil paksa ciumannya.

__ADS_1


Kania tidak melihat kemarahan dari diri Dion, Ia datang pada waktu yang tidak tepat.


Dion mengejar Kania, namun gadis itu mengabaikannya. Ia ingin membereskan kekacauan yang mereka buat. Secangkir kopi yang Dion minta pun harus pecah berserakan di tempat itu.


“Heh, Tunggu!”


Gadis itu mengacuhkan Dion, Kania hendak membersihkan pecahan cangkir tadi, namun karena terburu-buru jarinya tersayat hingga meneteskan darah.


Aisshh...


“Kan... Lo emang nggak bisa kerja dengan benar, mending Lo duduk diam.” Dion memasukkan jari Kania ke dalam mulutnya. Gadis itu pun tertangkap basah sedang menangis.


“Lo nangis?” Dion meminta gadis itu duduk di sofa dan Dion bersimpuh di depan gadis itu,


“Sorry, Gue benar-benar marah saat Lo masuk, dan Gue ..., Aaarrgghh....”


Dion terdiam, Ia tak melanjutkan lagi ucapannya yang dirasa tidak perlu. Kania menatap pria itu, dan Dion juga menatapnya.


“Kania dengarin Gue, Cuma sekali Gue sampaikan hal ini, kita nggak bisa terus-terusan dipermainkan Mama, kita coba sebulan hubungan kita. Kalau Lo memang keberatan dengan segala sikap Gue, Lo bisa batalkan perjanjian ini. Sekali lagi, Cuma Lo yang bisa bantu Gue, keputusan ada di tangan Lo!” Dion mengusap air mata gadis itu.


Kania merasa tubuhnya ringan, seakan melayang membumbung tinggi. Sejak mendengar pria tampan itu memanggil namanya, tanpa embel-embel. Kania, ya Dion memanggil namanya.


“Sebulan?” Kania terkejut.


Dion pun mengangguk, Ia sudah cukup frustasi dengan keinginan mamanya saat ini. Sebulan Dion pikir cukup untuk gadis itu mengambil keputusan. Bisa jadi hanya dalam waktu Seminggu, Kania akan melarikan diri darinya.


“Kenapa? Apa terlalu lama buatmu?”


Kania menggeleng dengan cepat. Setelah menyetujui kesepakatan itu, Dion pergi meninggalkan Kania. Ia merebahkan diri di sofa yang ada di ruang tengah. Sembari matanya terpejam, Ia berjanji akan berusaha merubah perilakunya meskipun secara perlahan.


Kania bertanya-tanya, hal apa yang membuat pria itu dengan cepat merubah keputusannya. Tetapi apa pun itu, bukankah ini sebuah pertanda yang baik?


Kania melihat Dion terlelap dengan tangan ke atas menutup dahinya. Muncul rasa iba kepada bocah badung itu, meskipun terkadang ia keterlaluan, pasti ada alasan yang Ia sembunyikan. Kania pun segera mengistirahatkan diri yang sudah mulai didera rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Sepertinya bekas tendangan kakaknya di pinggang akan membiru besok, dan saat perisitiwa itu terjadi Dion belum sempat melihatnya.


“Aduh, mana sakit banget ini pinggang Gue!” dalam tidurnya gadis itu menangis, kenapa Ia harus lahir dalam keluarga berantakan seperti ini. Menjadi tulang punggung yang diperlakukan semena-mena Kania merasa tidak sanggup lagi.


“Tuhan, tolong cabut nyawa Kakakku sekarang juga, aku malu mengakuinya, dan juga bukakan mata hati Ibuku, untuk bisa berbuat adil kepadaku, Aamiin.”

__ADS_1


...


__ADS_2