
Suasana mencekam terjadi di ruang tunggu pasien. Saat seorang perawat menyampaikan sebuah berita yang lebih buruk dari kematian. Ya, itu adalah berita tentang seorang anak laki-laki yang tengah berjuang melawan maut.
Kisah seorang anak laki-laki yang harus kehilangan kebahagiaannya selama dua puluh satu tahun lamanya. Seorang anak laki-laki yang haus merindukan sosok ayah, namun ternyata sosok monster kejam yang selama ini menaunginya. Sigit Virgiawan ternyata adalah anak biologis dari Chandra Wijaya.
Mendengar hal itu, tentu saja Agnes bereaksi cepat. Ia menyanggah pernyataan dari perempuan muda berpakaian serba putih itu.
“Sigit bukan anak kami Sus, tapi kolega,” sela Agnes. Namun, Chandra tetap mengikuti arah ke mana perawat itu pergi. Dengan sebuah senyuman, perawat itu menghimbau Chandra dan diikuti oleh Agnes.
“Silakan ikuti Saya Pak!”
Setibanya di ruangan di mana Chandra akan di periksa kesehatannya, dan kecocokan sel darahnya, sebuah kenyataan lain harus menyadarkan pria bersahaja yang akan pensiun sepenuhnya.
Sebelum Yoshi dan Rosi pergi ke kantor polisi. Mereka menitipkan sepucuk amplop coklat itu kepada Vicky yang membantu membawa korban ke rumah sakit. Vicky menanyakan apa isinya, jika memang sangat penting, seharusnya Rosi memberikan amplop itu kepada Chandra secara langsung.
“Tante, kalau boleh Vicky tahu apa isinya?”
Yoshi mengangguk kepada Rosi, Vicky juga harus tahu siapa Sigit sebenarnya. Alasannya, secara tidak langsung Sigit adalah adik dari Dion, sahabat karibnya.
“Ini adalah surat keterangan juga laporan dari petugas dari Bank sper-ma, tempat saya dulu melakukan inseminasi buatan. Saya hanya ingin mengetahui siapa pria itu, hanya itu Vicky. Dan saya tidak menyangka jika dunia ini sangat kecil.” ungkap Rosi penuh kepedihan.
Pria itu ragu, Ia tak membuka isi dalam amplop itu karena bukan kuasanya. Ia memasukan ke dalam kemejanya, dan berjanji akan mengemban amanah itu dengan menyampaikannya kepada Chandra.
“Saya menghormati privasi Tante dan Om Chandra, mengenai kebenarannya semua akan terbukti di rumah sakit.”
Selepas itu mereka bertiga pun berpisah. Sejujurnya harapan Rosi adalah pertemuan keluarga. meskipun Ia sangat takut, jika istri dari Chandra akan salah paham. Untuk itu, sikap pengecut Rosi mengambil kendali.
Pria yang masih gagah dan tampan itu lemas. Seketika kembali terduduk setelah membaca semua isi dalam amplop itu. Juga setelah melihat sejumlah uang yang Ia sangat ingat pernah Ia keluarkan untuk pria yang bertugas saat itu.
‘Akhirnya, waktu seperti ini datang juga.’ batin Chandra.
Chandra pernah bercanda kepada kedua temannya, jika suatu saat Agnes tak bisa memiliki keturunan, Ia akan mencari anak dari benih yang telah Ia donorkan. Memang sungguh konyol pemikiran remaja sembilan belas tahun saat itu. Diiringi kata Aamiin oleh teman-temannya.
‘Kamu sangat dekat, ternyata sudah saatnya Tuhan menjawab kegelisahanku selama ini.’
__ADS_1
“Pak—Pak!” perawat itu menyadarkan Chandra yang masih memegang erat kertas itu dan segera menyimpannya. Ia tersenyum dan bersemangat, Dion yang badung ternyata memiliki adik laki-laki yang menyenangkan.
“Maaf, mari kita lanjutkan! Selamatkan anak itu Suster, berapa pun biayanya berikan perawatan yang terbaik untuk ketiga anak saya!” papar Chandra yang di dengar oleh istrinya.
Brak!!
Agnes keluar ruangan pemeriksaan dengan membanting pintu cukup keras. Hatinya dongkol saat mendengar kalimat terakhir suaminya. Ia menemui Vicky di luar ruang tunggu dan memintanya untuk membawanya pergi dari rumah sakit itu.
“Vicky, kepala Tante pusing bisa bawa Tante pergi dari sini?”
“Hah? Tapi Om Chandra kan lagi...,”
“Ah, prosesnya masih lama. Dion dan Kania juga butuh istirahat, di mana Istrimu?”
Sembari berjalan menuju lift, Vicky ngobrol cukup panjang. Agnes ingin berbagi cerita namun dengan siapa, Vicky? mungkin, bocah itu yang paling dewasa daripada teman-teman Dion yang lain.
Selama setengah jam mereka hanya berputar-putar tak tentu arah. lantas Vicky membawa Agnes ke Kafe miliknya dan Dion di depan kampus Tel-U. Suasana yang cukup sejuk membantu Agnes meredakan pikirannya.
“Masuk Tante!” ajak Vicky.
“Semuanya, Ini kenalkan Ibunya Mas Dion dari Jakarta, kasih salam dulu siapa tahu dapat bonus dari Nyonya Agnes, hehe...”
Bug!!
“Vicky, kamu bisa saja!”
Agnes tersenyum gembira, menyalami anak-anak muda itu. Wanita sosialita itu tak menyangka jika Dion dan teman-temannya bisa seserius ini dalam mengelola usaha sejak kuliah. Lantas, tak berselang lama, Agnes membuka tas nya. Mengeluarkan lembaran merah untuk di berikan kepada karyawan yang berjaga pada hari itu.
“Maaf Ya, Tante tidak membawa uang cash terlalu banyak. Nanti sisanya biar Vicky saja yang kasih.”
Keduanya pun tertawa.
“Jadi senjata makan tuan nih, ceritanya.” Balas Vicky.
__ADS_1
Pria dingin itu pun menghubungi Bayu untuk mengantarkan istrinya ke Kafe, Ia dan Agnes menunggunya di sana. Mereka bisa menginap di rumah Dista di Bandung selama masih bolak-balik di rumah sakit.
Vicky
[Bro, sibuk? Tolong bawa bini Gue dong ke kafe!]
Bayu mengetik pesan cukup lama membuat Vicky kesal. Pria itu kangen, sekaligus khawatir dengan kondisi keduanya. Di tambah Bayu membuatnya kesal. Mantan ketua kelas yang ganteng dan kalem itu pun menanyai Dista, apakah dirinya bersedia pulang.
Bayu
[Sorry Bro, Bini Lo nggak mau balik. Katanya, Lo ngeselin suka nitip-nitipin dia ke rumah orang, hahaha...] ejek Bayu dengan banyak emoticon tertawa.
Melihat balasan itu, Vicky merasa bersalah. Apa yang dikatakan Bayu pasti curahan hati Dista selama ini. Dengan cepat ia berpamitan kepada Mama Dion untuk menjemput istrinya yang sedang marah besar.
“Tante Vicky tinggal ke rumah Bayu ya, Si bohay marah...”
“Hem, kamu sih katanya seminggu ternyata lebih. Tante jadi Dista juga pasti marah, malah Tante minta Dion buat nambah istri,” goda Agnes melihat raut wajah tegang pria dingin itu.
“Hiss, Tante...”
“Sudah sana, nanti malah semakin nggak mau pulang lagi!”
Selepas kepergian Vicky, lima belas menit kemudian Agnes memesan taksi online setelah berpamitan kepada semua karyawan kafe. Mereka pun tak berhenti berterima kasih dan mengantar Agnes sampai taksi itu berlalu meninggalkan bangunan besar hasil kerja sama empat sekawan itu.
“Kita mau kemana Bu!”
Agnes sejak tadi menahan air matanya. Feeling seorang istri tak pernah meleset. Agnes melihat Chandra membaca surat pemberian perawat dan tiba-tiba senyumnya terkembang tak seperti biasanya. Senyum yang sudah sangat jarang Ia lihat akhir-akhir ini akibat banyak musibah yang menimpa mereka.
Beberapa kali diseka, bulir bening itu justru jatuh tak tertahan. Ia memikirkan bagaimana perasaan Dion dan Kania nantinya. Apa yang akan mereka pikirkan tentang Papanya. Sampai berulang kali suara pengemudi taksi itu, baru menyadarkan Agnes saat disodori sekotak tisu.
“Bu, Ini tisunya. Kita jadinya mau ke mana Bu?”
“Maaf Pak, Kita putar balik ke Bandara!”
__ADS_1
...