
Yoshi bersikeras untuk ikut, akan tetapi Rosi melarangnya. Rosi meminta Yoshi untuk di rumah sementara istri pertama Dewa akan pergi menemui pria itu. Rosi khawatir, jika saat mereka berdua pergi bersama, suaminya tiba-tiba kembali ke rumah dan tidak menemukan siapapun di rumah.
Meskipun perasaan Yoshi tidak enak dan tertuju pada sebuah nama besar dalam ingatannya. Namun, gadis tomboy itu tak berspekulasi lebih, karena Ia yakin semua yang ada dalam pikirannya tak mungkin terjadi.
‘Apa sih yang gue pikirin! Pengusaha sukses, dan memiliki anak tunggal itu banyak. Bahkan Jakarta juga sebuah kota yang besar, di mana semua segala kemungkinan terjadi,’ rutuk Yoshi yang terus memukul kepalanya sendiri.
“Tapi aku takut Mbak menghadapi Mas Dewa sendirian, Mbak Rosi kapan akan pergi? Jangan lama-lama ya!”
Tangan Yoshi terus menggenggam tangan madunya dengan erat. Keduanya kemudian tertawa bersama, seakan memiliki perasaan sependeritaan sepenanggungan. Yoshi menyandarkan kepalanya di bahu wanita empat puluh tahunan itu dan Rosi mengusap kepalanya.
“Nggak apa-apa, kamu tenang saja Yoshi mungkin lusa saya akan pergi. Jujur saya juga takut menghadapi kenyataan ini Yosh. Oh ya, apakah kamu sudah merasakan tanda-tanda perubahan dalam tubuhmu?”
“Perubahan seperti apa Mbak? Nggak ada yang berubah, banyak makan iya sih apalagi makanan manis yang sering di bawa Sigit dari kafenya,” celoteh Yoshi.
“Ehm, ya sudah sekarang kamu istirahat! Sepertinya Sigit akan terlambat pulang.” perintah Rosi
Rosi kembali ke kamarnya dan membuka amplop coklat pemberian petugas lab itu. Di dalam amplop itu selain berisi sejumlah uang, tertulis sebuah alamat seperti yang Rosi perkirakan, sebuah hunian mewah di kawasan elit.
Rosi tersenyum, jika suatu saat Ia pergi lebih dulu Ia tak perlu khawatir dengan keadaan putranya. Namun, seketika senyumnya memudar. Ia takut Sigit mendapat penolakan dari keluarga pria itu.
‘Tidak, aku hanya ingin mengetahui siapa dia bukan menyerahkan Sigit kepadanya. Sigit anakku dan selamanya akan tetap begitu. Rosi pun menatap foto kedua putranya sebelum beranjak tidur. sampai Ia mendapatkan pesan dari Sigit jika Ia tidak pulang untuk malam ini, karena harus menginap di rumah koleganya.
...
Selepas kepergian Dion, sebuah mobil memasuki halaman rumah Wijaya. pria dengan setelan kasual datang dengan perasaan luar biasa. bahkan Ia menyempatkan mengunjungi supermarket untuk membawa buah tangan untuk keluarga Wijaya.
Saat Sigit menyambangi rumah besar itu, mereka semua tengah berkumpul di ruang keluarga. Chandra dan Agnes yang tak memiliki anak perempuan tengah menghabiskan waktu bersama Dista dan Kania. Menghibur gadis bertubuh langsing itu yang terus rewel karena Dion pergi selama beberapa hari. Membuatnya menjadi bahan candaan mereka semua.
“Mama sih maklum ya, kalian masih anget-angetnya pasti nggak mau berpisah apalagi sampai beberapa hari,” goda Agnes.
“Ya sudah kalau masih begitu, besok susulin saja ke Bandung sama Papa gimana?” tawar Chandra yang benar-benar menyayangi Kania sejak pertama gadis itu bergabung di perusahaannya.
“Ehm, boleh bergabung?” suara lembut itu mengalihkan fokus semua orang yang berada di ruangan itu.
__ADS_1
Chandra dan Agnes pun lantas menyambut kehadiran pria manis itu. dengan perasaan hangat, karena kediaman mereka kini sangat ramai, tak seperti biasanya. Kania pun terperanjat melihat kehadiran mantan kekasihnya yang membuatnya tak mengenalinya karena penampilan santainya itu.
“Wah, kapan datang Nak? Ayo masuk!”
Chandra merangkul pria mani setinggi putranya. Senyumnya yang khas membuat Sigit merasa betah di sana. Agnes pun tak mengira, jika melihat kedua pria yang tengah jalan bersama itu ada kemiripan. Sadar atau tidak, jika dalam hatinya Agnes berpikir jika suaminya memiliki anak dari wanita lain karena saking miripnya Sigit dan Chandra.
“Maaf Om, Tante jika malam-malam kedatangan Sigit mengganggu acara kalian.”
Chandra dan Sigit pun bergabung bersama yang lain. Ada rasa bahagia pada keduanya, saat Dion tengah meninggalkan rumah, rasa kesepian itu sirna dengan kehadiran pria manis ini. Sekali lagi tatapan mereka bertemu, senyum Sigit mengalir begitu saja saat melihat Kania yang tengah cemberut.
“Nggak, kami sedang menghabiskan waktu bersama. Om dan Tante sering merasa kesepian, dan sekarang kami memiliki dua anak gadis di rumah, kamu sudah bertemu dengan Dion?”
“Belum Om, tadi kami berpisah di kantor karena suatu hal.” Sigit memberikan barang bawaannya, membuat suasana rumah itu semakin ramai, karena percaya atau tidak Sigit mengetahui kesukaan setiap orang yang berada di rumah itu dan membuat mereka semakin takjub.
“Kania, kamu baik-baik saja kan, lihat siapa yang datang?” goda Dista sembari menyenggol lengannya.
Kania hanya tersenyum tipis melihat Sigit terus memperhatikannya, padahal Sigit sedang berbicara serius dengan Chandra. Mereka berdua merencanakan untuk mengunjugi Rumah sakit yang sedang dalam proses pembangunan di Bandung, membuat Kania ingin bergabung dengan mereka.
“Sudah Pa ajak saja, dari pada di rumah rewel kayak tadi,” Agnes terus saja menggoda Kania yang mulai tak bisa jauh dari putra badungnya.
Ternyata Agnes menikmati perannya sebagai Ibu setelah putranya bertambah dewasa. Kehilangan momen membesarkan anak-anak adalah sebuah penyesalan terbesar bagi orang tua, terlebih Agnes yang sering bertanya kepada Ujang. Namun kini, pria berdarah sunda itu sudah tidak ada lagi di dunia ini, membuat penyesalan Agnes semakin besar.
“Iya, kalau begitu besok pagi-pagi kita berangkat. Sigit kamu menginap di sini ya! Om sama tante suka suasana rumah yang seperti ini, coba saja ada Dion pasti makin kayak pasar kaget.” Chandra tak sadar mengusap kepala pria manis itu dan Sigit pun tak menolak dengan hal itu.
“Tapi, tidak merepotkan kalian kan? Sigit juga sering kesepian di rumah Om, melihat suasana di rumah Dion, Sigit jadi ingin lebih sering kemari.”
“Kalau begitu sering-seringlah kemari!” papar Agnes, yang tanpa Ia ketahui pria manis itu adalah mantan kekasih Kania.
Dista yang mendapat pesan dari Vicky jika besok suaminya akan kembali ke Jakarta. Merasa senang, lantas wanita hamil itupun pamit untuk melakukan panggilan video dengan Vicky. Agnes pun pergi menyiapkan kamar tamu untuk Sigit, sedangkan Chandra sedang menerima panggilan telepon dari koleganya.
Sigit mendekati Kania dan menanyakan kondisinya. Setelah siang tadi melihat kondisi gadis itu kurang baik. Sigit juga membawakan vitamin untuknya, padahal yang sering kurang sehat adalah dirinya.
“Kania, besok adalah perjalanan kita untuk kedua kalinya ke Bandung, apakah kamu senang?”
__ADS_1
“Tentu saja, bukankah kita sudah pernah membicarakan hal ini sebelumnya? tapi Git, apa yang membawamu kemari?”
“Tidak tahu, sepertinya aku mulai terikat dengan keluarga ini. Kenapa? apa kamu keberatan?”
“Bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin melihat kalian berdua selalu saja bertengkar. seperti kakak beradik saja.” tiba- tiba saja Kania tertawa membayangkan hal itu.
“Aku tidak mau, semakin sulit nantinya jika ingin merebut kamu kembali darinya.”
...
Setibanya di Bandung, anak buah Gunawan telah berhasil mengidentifikasi jasad pria itu. Pria muda dengan luka sayatan di leher dan beberapa tusukan di ulu hatinya. Gunawan menanyai terkait barang-barang pribadi pria itu. sebuah plastik berisi dompet pria dan sebuah catatan kecil yang berwarna kemerahan.
“Hanya ada sebuah dompet dan catatan ini saja Pak, ponsel dan benda pribadi lainnya tidak ada.”
Setelah melihat identitas dari pria itu, Gunawan mengenalinya. Jika ia adalah seorang dokter yang bertugas di rumah sakit milik Dewa Virgiawan.
“Lo nggak kenal dia Dion?” tanya Gunawan.
“Ehm,” Dion menggeleng. “Memangnya siapa dia Bang?”
“Dia yang merawat Kania sewaktu kalian berdua kecelakaan, pria ini dokter pribadi Sigit.”
Sedangkan di lokasi yang sama, seorang pria tengah membersihkan dirinya dan membakar pakaiannya. Ia membuka ponsel yang Ia ambil dari dokter muda itu. betapa terkejut bukan main jika selama ini seluruh rahasianya nyaris di bongkar oleh orang kepercayaannya sendiri.
Beruntungnya Ia mengetahui lebih cepat sebelum putranya mengetahui usaha ilegalnya yang telah lama Ia kerjakan. Satu pabrik miliknya berhasil di segel oleh kepolisian dan Ia berhasil meloloskan diri. Dan juga tentang hasil tes DNA yang pernah Sigit minta.
“Pergilah bersama semua rahasia yang kamu ketahui, Sigit tidak boleh tahu yang sebenarnya.” dengus pria flamboyan dengan senyum khas miliknya.
Saat Ia akan kembali, Ia justru melihat sebuah ambulance yang membawa jasad pria itu. Dan yang semakin mengejutkan Dewa, dua orang pria muncul dari arah belakang dan menepuk pundaknya.
“Wah, sebuah kebetulan kita bertemu di sini!”
...
__ADS_1