
Rosi dengan terburu-buru memasuki kamar Sigit. Perasaannya tidak enak, seakan hal besar akan menimpa putra kesayangannya. Dalam kamar putra bungsunya, semua tampak rapi. Sigit tak meninggalkan apapun di meja kerjanya.
‘Laptop, laptop... iya flashdisk itu.’ batin Rosi terus berkecamuk.
Hampir sepuluh menit Rosi menyisir kamar Sigit, dan Ia akhirnya menemukan apa yang Ia cari. Tak terlalu sulit, karena putranya begitu rapih menyimpan segala sesuatu yang penting. Sampai Ia menemukan sebuah buku harian, lantas Rosi pun membawanya.
‘Obat, iya obat Sigit.’ Baru kali ini Ia bergelut dengan waktu, dengan melepas alas kaki yang Ia kenakan untuk segera berpindah ke kamarnya, juga ke ruangan pribadi milik Dewa. Yoshi dan Vicky terus menghela napas dan melihat jam tangannya. Beberapa kali pria dingin milik Dista terus berdecak, meski Ia berusaha sabar.
“Yosh, buruan! Nggak ada waktu lagi nih!”
“Iya, tunggu sebentar, gue telepon Mbak Rosi dulu.” bibir dan tangan Yoshi gemetar, melihat raut garang Vicky yang mulai tidak sabar.
Sebelum Yoshi menekan deretan angka itu, Rosi dengan napas terengah memasuki mobil. Ia meminta maaf telah menyita waktu lebih lama. Rosi meletakan tas punggung yang biasa dikenakan Sigit semasa kuliah.
“Yuk jalan! Maaf, saya harus membawa barang-barang ini!” papar Rosi kepada kedua orang yang duduk di bangku depan.
Vicky dengan segera melajukan mobil itu. Ia berusaha mempersingkat perjalanannya, selama tak ada Dista dan calon anaknya di dalam mobil itu. Yoshi berpegangan kuat pada sabuk pengamannya.
“Lo nggak sedang merencanakan pembunuhan sama gue kan Vick?”
Ia dan Rosi terombang ambing. Rosi pun terus berdoa, bibirnya terus memanjatkan kepada Tuhan agar merek semua selamat sampai tujuan.
“Rencananya sih iya, buat Lo! yang udah bikin Iwan sakit hati,” tukas Vicky tanpa dosa.
“Brengsek Lo!”
Yoshi menoleh ke belakang, Rosi memeluk tas punggung itu. gadis tomboy itu pun penasaran, tetapi Rosi tak berniat menjawabnya. Ia berinisiatif menghubungi Sigit, semoga saja putranya menjawabnya. Rosi meminta semua yang ada di mobil untuk diam.
Dengan perasaan campur aduk, Rosi menekan nama Sigit yang tertera di layar. Beberapa kali nada itu berdering, namun tak segera tersambung.
“Gimana Mbak?”
“Nggak diangkat Yosh, coba kamu hubungi Mas Dewa!”
“Ehm.” Yoshi menggeleng dan menolak permintaan Rosi. “Pegangan Mbak, jangan sampai nyawa kita lenyap sebelum tiba di Bandung gara-gara Vicky!” sindir Yoshi.
Di sisi lain, Agnes dan Dista sudah dalam perjalanan ke bandara. Agnes harus bersabar, karena Ia berjalan dengan seorang wanita muda dengan perut yang sudah mulai besar. Napasnya senin-kamis, dan berkeringat di keningnya.
“Kamu nggak apa-apa sayang?” sembari mengusap perutnya yang tiba-tiba bergerak.
“Nggak Tan, hanya saja butuh segera mendapatkan tempat duduk. Kaki Dista mulai pegal, juga si kecil aktif bergerak. Padahal tak biasanya seperti ini. Ia akan mengalami kedutan saat merebahkan diri atau bersantai.
“Ehm, kamu pasti kelelahan, tunggu di sini sebentar!”
__ADS_1
Tiba-tiba Agnes meninggalkannya dalam langkah cepat. Sekejap saja Dista sudah tak melihat Mama kandung Dion itu. tak berselang lama, sebuah kursi roda berada di depannya.
“Ayo duduklah!” pintanya.
Dista menatap wanita itu, lalu berpindah ke kursi roda. Tak mungkin jika Ia meminta Agnes untuk mendorongnya. Melihat kekhawatiran gadis itu, Agnes tersenyum.
“Duduklah, tante nggak mau kamu sama cucu tante terjadi apa-apa.”
Lantas Agnes mendorong kursi roda itu dengan Dista di sana. Untuk meredakan emosinya, Agnes berusaha meyakinkan diri jika Dion baik-baik saja, lalu bagaimana dengan Kania? Ia tak ingin musibah itu terjadi lagi kepada keluarganya.
Sesekali Agnes menyeka air matanya, sampai mereka memasuki kabin pesawat. Perjalanan singkat mereka, ternyata membuat Dua wanita berbeda usia itu tiba lebih dulu. Ia menghubungi suaminya, namun rupanya Vicky masih dalam perjalanan.
“Kita naik taksi saja ya, Om Gunawan sudah memberikan alamatnya. Tante...,” potong Dista.
Tangannya menggenggam tangan seorang Ibu, yang mana Ia sudah lama tak merasakan sentuhan itu. Dista mulai emosional, untuk menguatkan hati Agnes.
“Dion akan baik-baik saja, Dista kenal baik bocah itu! jangan khawatir ya!”
“Tapi sayang, dia sudah pernah hampir mati sekali, Tante sudah sering melarangnya untuk tidak terlibat dengan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya.”
“Namanya juga anak laki-laki Tante, kita tidak bisa mengaturnya kalau bukan kemauannya sendiri untuk berubah, ayo kita sudah sampai.”
...
“Sigit mohon lepaskan dia Pa!”
Bukannya melepaskan secara perlahan gadis yang tengah terluka itu, Dewa justru mendorongnya ke arah Dion berada hingga Kania jatuh tersungkur tepat di bawah kaki suaminya.
“Kania!!” pekik Sigit yang ingin membangunkannya namun, di tahan oleh Dewa.
Dengan kondisi tangan terikat, tubuh gadis itu mengenai material yang berserakan. Semakin menambah kesakitan dalam dirinya. Kania terisak, kini perutnya melilit merasakan kram. Sampai air matanya menetes mengenai permukaan kulit Dion yang banyak luka menganga di sana.
“Ishh..,” lirihnya.
Dewa menahan Sigit dengan mengarahkan pisau itu ke arah perutnya. Dewa meminta Sigit untuk memberitahu dimana Ia meletakan surat perjanjian kontrak itu. sayangnya Sigit tidak fokus dengan pertanyaan Papanya. Ia justru menyaksikan Dion yang mulai sadar, dan Kania merayap mendekatinya dengan menggerakkan badannya di lantai.
Sungguh pemandangan yang sangat ironis. Di saat Ia mengorbankan nyawa untuk mantan kekasihnya, justru Ia melihat Kania bersama pria lain.
“Sayang, apa yang terjadi padamu?” nada yang terseret-seret itu membuat isakan Kania semakin menjadi. Ia takut kehilangan sosok garang di hadapannya.
“Kamu masih hidup Mas?”
Dengan tersenyum kecut Dion berusaha menggerakkan badannya namun tak mampu. Seluruh tulangnya seakan sudah patah dan remuk.
__ADS_1
“Kamu ingin aku mati?”
Keduanya merasakan kesakitan, tidak. Bahkan pria tampan yang menyaksikan peristiwa itu pun turut merasakan perihnya luka itu, bukan hanya lahirnya tetapi batinnya juga.
“Kenapa, kamu lihat kan? Gadis yang kamu cintai tak pernah melihatmu itu karena kamu adalah pria bodoh!”
“Sekarang katakan di mana kontrak itu?”
“Ada di mobil! Biarkan Aku mengambilnya!”
“Sayangnya, tak akan ada yang percaya dengan ucapanmu! Kita tinggalkan tempat ini, setelah menghabisi mereka!”
Sigit tak bisa berbuat apa-apa, melihat Kania dan Dion meregang nyawa berdua Sigit menekan tangan pria itu untuk menusukan pisau yang ada di tangannya, mengenai perut sebelah kirinya. Dewa pun terkejut.
“Akhiri saja semua ini sampai di sini!”
Jleb!!
Benda tajam itu menembus kulitnya, tubuh Sigit pun mulai mengalirkan darah segar dalam pelukan Papanya. Kania yang mendengar suara itu pun berteriak, meski suaranya pun tak ada yang keluar.
Sampai sebuah tendangan keras mengenai tubuh pria tinggi itu, membuat sepasang Ayah dan anak jatuh bertubrukan.
“Brengsek!”
Dengan cepat lengan-lengan kokoh itu menarik tubuh yang terkulai dan menghajarnya saat kondisi Dewa sedang tidak siap. Ia melihat sosok Sigit terbaring dengan pisau yang masih tertancap di perutnya.
Pria berkulit putih itu gagal mengakhiri hidupnya, Ia hanya ingin membawa Kania keluar dari ruangan ini.
Pertarungan itu tak terelakan lagi. Dewa sama kuat dengan pria maskulin dengan potongan cepak itu.
“Jangan suka ikut campur masalah keluarga!” bentak Dewa.
Setelah berhasil merobohkan pemilik rumah sakit besar itu, Gunawan melepas ikatan tangan Kania dan berusaha membantu Sigit keluar. Namun, sebuah benda berat menimpanya.
“Kania, kamu bisa membawa salah satu dari mereka keluar?”
“Bi—bisa Om,” awab gadis itu.
Sigit dan Dion menunggu, siapa yang akan di bawa Kania keluar dari tempat terkutuk itu. keduanya sama-sama tersenyum miris, hidupnya sama-sama sedang di pertaruhkan. Sedangkan sejak tadi leher jenjang gadis itu terus meneteskan darah segar.
“Mas, Sigit, kalian bisa berjalan?”
...
__ADS_1