Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 81. Honeymoon di Bali (Part.2)


__ADS_3

Sore hari Di Bandara, Dua pria menawan berbeda usia dan satu gadis tomboy menaiki mobil jemputan dari hotel tempat mereka akan menginap. Sepanjang perjalanan Dewa dan Sigit terus membahas pekerjaan. Yoshi pun tak masalah, hanya saja terkadang gadis itu merasa bosan.


‘coba aja gue liburan ke Bali kayak gini tuh sama Iwan, sama anak-anak yang lain pasti seru.’ Yoshi menghela napas panjang. Menatap keluar jendela menikmati pemandangan kota Denpasar di Pulau Bali. Sayangnya Ia tak menikmatinya bersama pacarnya dulu.



“Yoshi, Sigit, nanti kalian langsung ke kamar kalian saja! Papa langsung mau menemui klien dan nggak ikut kalian makan malam. Jam sembilan juga sudah selesai acaranya.”


“Hah! jam Sembilan? terus kita berdua?”


“Kalian berdua bisa makan malam di luar, sekalian ajak Yoshi jalan-jalan sambil menunggu Papa pulang, Oke!” Sigit mengangguk.


Sudah hampir dua malam Sigit dan Kania tak berkomunikasi. Ia benar-benar ingin memastikan perasaannya. Sepeninggal Dewa, Yoshi dan Sigit memutuskan untuk menikmati santap sore dan menghabiskan waktu di pesisir pantai.


“Yoshi, ada yang mau Gue tanyakan sama Lo tentang Dion. Sudah berapa lama Lo mengenal teman-teman Lo itu?”


Sambil menikmati makanannya, Yoshi menjawabnya dengan jujur jika hubungan pertemanan mereka sejak kelas tiga SMA. Dan mereka semua adalah pria yang baik. Sayangnya Yoshi mengatakan jika hubungan Dion dan Kania baru saja terjalin, membuat kesempatan Sigit untuk mendekati Kania semakin besar.


“Berarti baru dong?” Sigit menatap Yoshi dengan senyum kecil di sudut bibirnya. Sambil mengangguk Sigit kembali menanyakan tentang rivalnya.


“Kalau pacar sebelumnya?”


“Kania belum pernah pacaran. Sedangkan Dion, dulu punya gadis idaman di sekolah dan baru sekali pacaran. Kalau Lo sendiri?”


“Gue pacaran pertama kali sama Kania. tapi ternyata ada Dion di sana.” Yoshi meletakkan alat makannya dan menenggak air mineral dalam botol. Meletakan tangannya di meja menatap Sigit.


“Sigit , Gue kasih tahu ya! justru Kania dan Dion baru mulai menjalin hubungan dan tiba-tiba Lo datang masuk ke tengah-tengah hubungan mereka. Dion cemburu berat waktu itu, sampai Kania dan Dion terlibat salah paham dan mereka ribut besar.” Jika mengingat peristiwa itu, Yoshi merasa iba pada Kania.


“Benarkah? Tapi Kania nggak bilang apapun waktu itu?” Yoshi mengedikan bahu.


“Mau ke sana?” ajak Yoshi dan Sigit pun mengiyakan. Sembari berpikir, apakah benar apa yang dikatakan Yoshi. Namun, jika mereka baru memulai menjalin hubungan kenapa tindakan mereka sudah sejauh itu? bahkan Kania sudah ... ‘Ah sial! Jadi pengen ketemu Kania sekarang.’


...


Gara-gara berebut kamar, akhirnya ke empat pria tampan itu tak jadi tidur. mereka menghabiskan waktu di depan kolam sembari bermain gitar. Iwan tetap saja termenung meratapi nasibnya. Meskipun di sekitarnya berisik dan sangat mengganggunya.


“Kenapa bro? masih mikirin Yoshi?” goda Dion.

__ADS_1


“Cih, bawel Lo!” sambar Iwan “udah tahu nanya!”


Hahaha...



“Nih, seandainya nih ya! kalau Lo, amit-amit ketemu Yoshi disini terus apa yang akan Lo lakuin?” tanya Dion iseng. Vicky dan Bayu terus menahan tawa melihat wajah Iwan yang ingin sekali mengatakan jika semuanya mustahil.


“Gue cuma mau tahu alasan dia apa, sampai mengambil keputusan itu, kenapa nggak mikirin perasaan Gue”


“Terus, apa lagi?” desak Dion yang penasaran.


“Kalau minta balikan nggak mungkin bro, dia udah jadi istri orang. Ya udah gitu aja, Gue akan bilang mau nungguin jandanya!”


Hahaha...


“Bego Lo! masa begitu doang! Ck, by the way Lo udah anu dia belum? Lo kan sering ledekin Gue kan waktu itu?”


“Muka gila Lo! balas dendam nih ceritanya sama Gue?” Iwan kesal, karena mereka berdua sama seperti Dion belum pernah melakukannya. Hanya saja Iwan dapat menutupi kepolosannya, tidak seperti pentolan geng itu yang teramat jujur yang mengakui jika dirinya masih perjaka.


“Nih ya Iwan, kalau Gue jadi Lo! Gue sikat dulu tuh si tomboy sebelum di acak-acak sama si Om itu.”


“Tapi kan nggak mungkin, tadi kita cuma omong kosong aja kan?” balas Iwan kecewa.


“Santai Bro, buat apa kita sampai sini.”


Sedangkan Vicky memeriksa, kamar kosong yang berada di sekitar kamar Yoshi ternyata masih ada. Vicky meminta Dion untuk membawa Iwan ke tempat di mana Yoshi menginap. Sedangkan Vicky akan meeting dengan banyak kliennya, yang kemungkinan besar akan bertemu dengan Dewa.


“Gunakan kesempatan baik-baik, Lo cuma punya waktu tiga sampai empat jam aja! Ngerti kan Lo?”


“Iya, bawel Lo!” sahut Dion.


Menjelang malam, di dalam kamar Kania berbaring sembari menatap ponselnya. Tak ada panggilan atau pesan dari Sigit sama sekali. Kania juga enggan untuk mengirim pesan lebih dulu. Ia sengaja menghindari stres yang membuat kepalanya sakit. Dion yang melihat gadis itu tengah gelisah segera menghampirinya.


“Kamu butuh sesuatu?” Kania menoleh. Tak biasanya Dion berubah lembut seperti itu, pasti sedang ada maunya. tebak Kania.


“Nggak Pak!”

__ADS_1


“Kok Pak lagi, Kania biasakan dirimu memanggilku Mas! Kalau perlu kayak mereka berdua, panggil suaminya sayang.” Dion mengambil ponsel Kania dan meletakannya di atas meja di sisi ranjang.


“Kan kamu bukan suamiku!”


“Kania, Aku boleh minta kesempatan sekali lagi?” Dion mengikis jarak, dan berusaha bicara dari hati ke hati pada gadis itu. Kania tersenyum kecil, melihat Dion begitu lucu. Karena menurutnya bersikap manis tak cocok untuknya.


“Kenapa? Apa ada yang lucu? Sudah lama kamu nggak pernah memberiku senyum seperti itu. coba sekali lagi?”pinta Dion. Pria berlesung pipi itu mulai mendekatkan wajahnya ke pipi Kania yang sudah semerah tomat. Tangan Kania menahannya karena gadis itu tak sanggup menyembunyikan rasa gugupnya. “Kamu mau apa?” bisik gadis itu, menenggelamkan diri dan semakin tersudut.


“Kamu nggak kangen sama Aku, hmm?”


“Jangan, nanti dilihat orang! Biarkan Aku bangun, Aku mau bergabung sama yang lain.”


“Nanti saja, Aku mau menghabiskan malam ini berdua sama kamu. boleh kan? Kania, menikahlah denganku! biar kita bisa membesarkan anak itu sama-sama, kamu mau kan?” manik mereka berdua bertemu. Ucapan Dion yang terdengar serius menghangatkan hati Kania.


Refleks gadis itu mnyentuh pipi Dion yang sudah panas. Kania hendak kabur, karena perasaan itu muncul lagi pria dihadapnnya. Sedangkan Dion mendengar degup jantung Kania tersenyum kecil. Ingin rasanya Dion segera meraup benda kenyal milik Kania, sayangnya Ia harus menahan diri. Tak ingin gadis itu lari lagi dari genggamannya.


“Kania, Aku...” sedikit lagi bibir mereka nyaris bersentuhan, Kania pun sudah siap dan telah memejamkan matanya. Sayangnya ...


Vicky membuka pintu tanpa mengetuknya, “Bro, makan dulu! biar tahan sampai pagi!”


Kania dan Dion menjauhkan diri. hanya ada rasa canggung disana, karena gagal menyerang gadis itu. Dion mengelus pipi Kania dan mengajaknya keluar.


“Ayo! Kali ini kamu bisa lolos, tapi nggak akan untuk berikutnya.” Dion tersenyum menggandeng gadis itu keluar dari kamar. Saat mereka berdua keluar, semuanya tertawa karena melihat rona merah di wajahnya.


“Brengsek kalian, nggak bisa lihat temannya senang! Pasti Lo kan biangnya?” Dion mengejar Vicky yang terus berlari dan menertawainya.


“Lo lihat aja anak Lo nanti jadi mantu Gue!”


Mereka menghabiskan malam dengan penuh suka cita. Namun tidak dengan Iwan. Bayu merangkul pria cungkring itu. pria yang banyak tertawa harus diam seribu bahasa hanya karena putus cinta.


“Sabar Bro, semua ada waktunya. Sekarang kita nikmati waktu kita dulu Oke!”


Drrtt... drrtt...


“Angkat Kania! kamu marah sama Aku?” Sigit menatap layar ponselnya yang tak kunjung mendapat jawaban dari pujaan hatinya.


“Kenapa? Nggak diangkat sama Kania?”

__ADS_1


...


__ADS_2