
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi wanita manis ini. Hidup dalam keluarga berada tak menjadikannya bahagia, sampai Ia terjerumus dalam banyak kubangan dosa.
Setelah tak sadarkan diri beberapa jam akhirnya Dias mulai sadar. Kondisinya sudah tak dapat dibayangkan lagi. Kulit mulusnya kini penuh luka lebam dan memar. Surai hitamnya berantakan, bahkan luka di bibirnya menambah rasa perih.
“Ah!” pekiknya.
Dias mendapati cairan merah segar mengalir dari intinya. Penderitaannya rupanya belum berakhir. Dias terus meneriakkan nama Christian. Di saat dirinya kesulitan hanya Chris satu-satunya pria yang selalu ada untuknya. Namun ternyata, sampai Dias kekeringan air mata, sosok yang Ia yakini mencintainya sepenuh hati tak kunjung datang.
“Chris, berani-beraninya Lo ninggalin Gue, dasar pria nggak berguna!”
Ikatan tangan dan kakinya telah terlepas. Dengan sisa tenaga, memunguti potongan pakaiannya yang tercecer. Tangannya mengepal kuat, dan memperhatikan situasi sekelilingnya. Sorot matanya masih bisa mencari apa yang Ia butuhkan.
‘Laki-laki terkutuk, Lo akan menerima apa yang balasan yang setimpal dengan perbuatan keji Lo!’
Dengan sebuah gunting yang Ia temukan. Dias memotong tirai yang terpasang di jendela. Tangisannya bercampur tawa. Sungguh menakutkan. Membersihkan lukanya dengan alat seadanya yang ada di sana.
“Kalaupun Gue harus hancur, akan Gue pastikan tidak sendirian!” gerutu Dias.
Tanpa alas kaki, mantan kekasih Dion menuruni anak tangga dari besi yang sudah berkarat. Menyusuri jalanan kerikil yang tajam hingga berjalan menempuh kiloan meter keluar dari kawasan pabrik yang terbengkalai.
Perutnya bergejolak, menahan mual rasa tak nyaman pada perutnya. Dias lupa kapan terakhir kali Ia makan. Bahkan segelas air pun tak mengaliri kerongkongannya. Samar-samar Ia mulai melihat kendaraan lalu lalang, yang Ia yakini bisa menemukan orang- orang untuk dimintai pertolongan.
Di sebuah warung pinggir jalan. Wajahnya memelas saat melihat deretan masakan di dinding kaca. Perutnya berontak minta di isi. Sayangnya Ia tak memiliki uang sepeser pun.
“Mau makan Neng?”
Diam hanya terdiam. Harga dirinya begitu tinggi. Terbiasa menghamburkan uang dengan mudah, Kini wanita itu berada di titik terendahnya.
Melihat keadaan Dias yang tampak lusuh dan kacau. Pemilik warung yang sudah berumur segera memintanya untuk duduk.
“Neng, nggak apa-apa? Duduk dulu, ibu ambilkan air ya!”
Dias hanya termangu. Melihat sosok wanita paruh baya dengan baik hati meletakan segelas teh hangat dan sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauk yang Ia jual.
“Ta-tapi Bu, Gue... Maksud saya, saya tidak punya uang, boleh saya minum saja air nya?”
Sang pemilik warung bahkan mengambil tisu untuk membersihkan wajah Dias. Kulit tipisnya yang sudah memperlihatkan tulang-tulangnya.
“Sudah, Neng makan saja. Itu rezeki Neng hari ini, lagi pula pekerja pabrik sudah pada pulang, Neng dari mana? Sepertinya bukan orang sini.”
Bukannya menjawab, Dias malah menangis. Namun, Ia tak bisa menjelaskan kepada siapa pun.
__ADS_1
“Memangnya ini di daerah mana Bu?”
“Ini di Bogor Neng, Ibu asli Jakarta tapi mencari nafkah di kota orang. Menginaplah di sini, hari sudah gelap nggak baik untuk gadis pergi sendirian.”
“Hm, terima kasih.”
...
“Sayang, kamu baru bangun?” sapa Agnes yang memergoki Kania hendak kembali ke lantai dua.
Berusaha seolah tak terjadi apa-apa rasanya mustahil. Meskipun pada awalnya sikap Kania cuek dan bodo amat. Sebelum mengenal Dion.
Ia terus meyakinkan diri untuk tidak mempercayai pendengarannya. Dan bersikap seperti biasa, karena watak Agnes, Kania sudah mulai hafal.
“Hehe, maaf Ma kesiangan.”
“Ya sudah kamu sarapan dulu saja, keburu dingin nanti!”
Nyonya besar adalah sebutan bagi Agnes. Mertua yang sedang berusaha mendekatkan diri dengan menantunya. Perintahnya adalah wajib untuk dilaksanakan. Suami dan putranya pun tak berkutik di buatnya. Agnes menemani gadis itu sarapan, membuat Kania canggung dan merasa bersalah.
“Wah, pasti kamu begadang semalaman gara-gara Dion? Sampai kamu kesiangan,” goda Agnes. Membuat Kania terbatuk dan menyemburkan sarapannya.
“Mama...,” sela Kania wajahnya bersemburat merah.
“Iya, Boleh kan Ma?” dengan senyum menampilkan deretan giginya, Kania mencoba merebut hati Agnes.
“Mama tidak akan melarang, tapi dengan syarat, kalau kamu hamil kamu harus keluar. Biar Dion saja yang mencukupi kebutuhan kamu ya Nak, jangan sungkan sama suamimu, Dion harus di beri tanggung jawab!” pesan Agnes panjang lebar.
“Iya Ma, oh iya soal itu... Kania minta maaf....” gadis ayu itu memberanikan menggenggam tangan Agnes. Meskipun bayang-bayang tangannya di tampik mertuanya masih teringat jelas di memorinya.
“Itu bukan kesalahanmu Nak, kita terima saja ujian yang ada, mungkin Tuhan sedang menguji kita, atau mungkin keluarga kita pernah melakukan kesalahan, dan Tuhan sedang menegurnya.” Agnes mengusap lembut pipi Kania, dan gadis itu pun berpamitan.
...
Di sebuah mal, Kania sudah menunggu di tempat yang Yoshi janjikan. Sayangnya gadis tomboy itu memberi kabar akan datang sedikit terlambat.
Kania diminta memesan makanan sesuai isi pesan dari Yoshi, dan saat hendak membayar, Seseorang dengan santai menggandengnya ke meja tempat Kania menunggu.
“Jangan bengong begitu, Aku tahu kamu terkejut! Tapi terima kasih sudah memesan menu favoritku,” tegur pria lemah lembut itu.
“Si-Sigit?”
__ADS_1
“Iya Sayang, kenapa?”
Betapa rindunya Sigit kepada gadis Kania. Hingga tatapannya lekat pada pemilik bola mata Hazel itu.
“Dari mana kamu tahu aku berada di sini?”
“Bukankah kebetulan adalah jodoh? Ayo duduk! sudah lama kita tidak makan berdua seperti ini. Apakah kamu masih suka berlepotan saat makan, hm?”
“Ih, bisa-bisanya kamu masih ingat semua itu...”
Dari kejauhan, Yoshi memperhatikan keduanya yang tengah bercanda. Sambil tersenyum kecil, Ia mengetikan pesan, jika Sigit tak boleh ingkar dengan janjinya.
Yoshi
[Done! Jangan lupa, Lo masih berhutang pernyataan sama Gue tentang berita itu!]
Sigit
[Siap Bu! Kalian berdua bersenang-senanglah, tinggalkan Gue berdua sama Kania.]
Dengan menambahkan emotikon meledek kepada Yoshi. Sigit terus tertawa, karena Yoshi penasaran dan berusaha memenuhi permintaan anak sambungnya.
Yoshi
[Brengsek Lo!]
“Siapa Yoshi? Ke mana anak itu pergi? Bukannya tadi pamit ke toilet?”
“Hehe, sebenarnya Sigit pergi menemui mantan kekasihnya Mbak.”
“Hah? Anakku punya mantan pacar? Sejak kapan? Kok saya nggak pernah diberi tahu?”
“Coba Mbak Rosi lihat ke arah jarum jam tiga!”
Kedua Istri Dewa Virgiawan merasa senang mendengar kepergian suaminya selama beberapa hari ini. Melihat Sigit tampak keren tak seperti biasanya yang kaku dan terlalu formal. Mendadak Rosi ingin ikut, saat Yoshi pun turut serta.
“Yoshi, bisakah kamu pertemukan saya dengan gadis itu?”
“Tentu, tapi Mbak Rosi harus janji, tidak boleh membuat gadis itu merasa tidak nyaman, karena Ia baru saja kehilangan ibunya.”
“Kamu bisa pegang ucapan saya Yoshi! Tapi satu pertanyaan yang mengganjal di hati, kenapa gadis itu meninggalkan anak sebaik Sigit? Apakah putraku memiliki kekurangan?”
__ADS_1
“Ehm kalau soal itu...”
...