
"Tu...an...." ucapku sambil menoleh ke arahnya. Astaga, wajahku dan wajahnya sangat dekat ternyata. Apa yang ingin dilakukannya? Apa dia ingin menciumku sungguhan?! Ia nampak terhipnotis oleh sesuatu. Wajahnya terus-menerus mendekat ke arahku. Jarak wajah kami sangat-sangat dekat tinggal beberapa mili saja. "Tu...an...." aku ingin menghidar tapi daguku justru dicengkeram olehnya. Kututup mataku. Aku tak mau ini terjadi! Apa yang harus kulakukan sekarang? Siapa saja tolong aku! 😣
Hembusan napasnya sekarang bisa kurasakan. Jantung mungilku seolah ingin meloncat keluar dari dadaku. Aku pernah melakukan adegan akting ciuman di teater kampus dan terasa biasa saja! Mengapa sekarang rasanya aku takut? TIDAK! Aku harus menghindari ini terjadi! Sebuah ide gila muncul di kepalaku.
"HACHUM!!!" aku pura-pura bersin tepat saat kepala Valko terasa sangat-sangat dekat di wajahku. DUAK!!!
"Aduh!!!" ucapku sambil membuka mata. Aku tak memikirkan efeknya sampai seperti ini. Dahiku dan dahi Valko berbenturan sangat keras.
"Aduh!" teriak Valko sambil memegangi dahinya. Meski dahiku terasa sakit tapi aku ingin tertawa sekeras mungkin. Bibirku berkerut-kerut berusaha menahan tawaku. "Apa kau sengaja melakukannya, Tupai?! Kau berani membenturkan kepalaku ke kepalamu yang keras seperti batu itu?! HAH?!"
"Apa maksud Tuan? Saya tak mengerti," aku mengelak. "Saya bingung apa yang sebenarnya ingin Tuan lakukan terhadap saya? Tuan...." aku penasaran sebenarnya apa dia benar-benar ingin menciumku. "Tuan, tak bermaksud mencium Tupai Jelek ini kan? Saya bingung mengapa Tuan mencengkeram dagu saya. Saya tadi menutup mata karena ingin bersin. Apa Tuan kecewa karena tidak jadi mencium Tupai Jelek ini?!" aku menggodanya.
"EHM!" ia mendengus. "Jangan terlalu percaya diri, Tupai! Aku....aku...." Valko sekarang terbata-bata. Mengapa dia terlihat salah tingkah?
"Tuan tak perlu salah tingkah," kulanjutkan untuk menggoda Valko.
"Siapa yang salah tingkah! Aku tadi....hanya....hanya...ingin...serangga!"
"Serangga? Tuan ingin makan serangga?!"
__ADS_1
"Bukan makan serangga! Aku ingin makan bibirmu yang menggoda itu!" teriak Valko tanpa terduga. Aku langsung terdiam, astaga! Apa yang barusan dikatakannya? Ingin makan bibirku yang menggoda! Oh tidak! Apa sekarang aku baru saja memprovokasinya lagi dan menggali perangkapku sendiri? Valko nampak salah tingkah di wajah sok cool-nya itu.
"Apa yang kau lihat,Tupai? Jangan terlalu berharap! Aku salah bicara tadi! Jangan berharap aku benar-benar ingin menciummu! Itu takkan pernah terjadi!" ia terus saja menghindari tatapanku. "Aku hanya ingin memgusir serangga tadi,jangan salah paham! Kau ini hanya bantal tidurku! Tak lebih! Ingat itu, Tupai Jelek!"
"Iya, Tuan," sahutku lirih.
"Cepat ambil peralatan skripsimu! Aku akan ikut mengantarmu ke kampus!" teriak Valko.
DRET! DRET! DRET! Nampak smartphone-ku bergetar. Ada WA masuk dari dosen pembimbing skripsiku. Saat kubuka pesannya : 'Maaf, Mbak. Bimbingan ditunda dulu ya. Saya ada rapat dadakan di Rektorat'. Astaga, jadi usahaku sampai ke rumah sia-sia sekarang?! Hiks, aku sudah berkorban berdebat dengan Valko pagi tadi, aku juga sudah mengorbankan tubuhku yang berharga sebagai bantal tidur Valko selama perjalanan kemari dan aku juga sudah membuat bibirku yang murni ini sedikit ternoda akibat tak sengaja bersentuhan dengan bibir Valko.
"Ada apa?!" Valko tiba-tiba merebut smartphone-ku. "Oh jadi, bimbinganmu tertunda?" tanyanya. Aku menggangguk. "Baguslah!" tubuhku tiba-tiba saja ditarik ke atas ranjang. Valko langsung mendekapku seperti memeluk sebuah guling.
"Aku ingin menginap di sarangmu, Tupai! Anggap saja ini bagian dari bulan madu kita, Tupai Kecilku!" sahut Valko sambil tersenyum licik. WHAT? Bulan madu?! TIDAK!!! Apa hal itu tak bisa kuhindari saja?!
"Hari hampir tengah hari. Aku ingin tidur siang, Tupai! Buat aku nyaman seperti tadi malam," Valko sudah menyandar di dadaku seperti tadi malam. Hiks, tangan mungilku, bibirku yang murni, maafkan aku lagi ya. Aku mulai mengelus-elus dahi dan pinggang Valko lagi. Dia kubelai seperti tadi malam. Sesekali dahinya kukecup dengan lembut. Sebenarnya jika tertidur seperti ini, Valko terlihat tenang dan lebih tampan. Wajahnya membuat merasa nyaman jika dilihat.
"Serigala Playboy, ternyata kau tampan juga ya!" ucapku. WHAT?! Apa yang baru saja kukatakan?! BLAR!!! Mata dingin Valko terbuka. Gawat! Kurasa dia mendengar perkataanku
"Apa yang kau katakan tadi, Tupai? Kau menyebutku Serigala?!" ia menatapku tajam.
__ADS_1
DUAR!!! JLEGAR!!! JLEGAR!!! Terdengar suara petir, angin kencang disertai hujan deras di luar rumah.
"AAA!!!" reflek aku memeluk tubuh Valko.
"Kau kenapa, Tupai? Mengapa tubuhmu gemetar?!"
"Aku takut suara petir, Valko! Aku takut!" kurasa tanpa sadar aku memeluk tubuh Valko sambil membenamkan kepalaku di dadanya yang bidang.
"Jangan takut, Tupai!" ucap Valko dengan lembut. Dia ternyata tak menolak pelukanku, justru dia mengarahkan tangannya untuk memeluk tubuhku dengan lembut. "Jangan takut, Tupai! Tidurlah, petir takkan mengejarmu hingga kemari. Aku ada di sini, Tupai! Tenanglah!" ucapnya lembut.
Apa dia membelai kepalaku? Kurasakan belaian tangan Valko di rambutku. Mengapa aku merasa nyaman dan aman ya? Perasaan apa ini? 😮
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍