
"Vio sudah tiada, aku tak bisa terus terjebak masa lalu. Aku ingin melanjutkan hidupku," ia menatapku. "Jawab aku, Zeta. Bagaimana jika aku ingin memilikimu seutuhnya?" tanyanya lirih. Astaga, ini tak pernah kupikirkan sebelumnya. Apa maksud perkataanmu, Valko? Bagaimana aku harus menjawabmu? 😣
"Ehm...Tuan...." astaga! Ini musibah atau anugerah? Valko semakin ingin memilikiku. Jika dia makin mencengkeramku, bagaimana bisa aku lepas darinya? Pikirkan jawaban yang netral, Zeta. "Ehm...Tuan sudah memiliki Tupai ini. Kita sudah menikah dan sudah sah secara hukum agama dan hukum negara. Tupai ini milik Tuan...." aku tersenyum palsu. Jawabanku tak salah kan? Secara hukum agama dan hukum negara dia memang sudah memilikiku.
"Itu hanya mengikat ragamu saja, Tupai. Aku ingin memilikimu seutuhnya!" ia mencengkeram daguku. "Aku menginginkan hati dan pikiranmu juga, Tupai!" Valko menatapku tajam. Ehm...kurasa dia sudah bangkit dari rasa sedihnya. Sinar keangkuhan dan kesombongan terpancar lagi dari matanya. "Jika aku bisa mengikat hati dan pikiranmu, maka aku tak perlu memaksamu untuk memenuhi setiap perintah dan keinginanku. Apa kau sudah memiliki seseorang dalam hatimu sebelumnya?" celetuknya. DEG! Perkataan itu seperti lebah yang masuk ke telingaku. Hatiku sudah dimiliki Kai. Bagaimana aku harus menjawabnya?
"Ehm...Tuan....jika Tuan masih mencintai Kak Vio tidak apa-apa. Tupai ini tidak keberatan sama sekali. Kak Vio adalah sahabat dan kakak bagi Tupai ini," aku tersenyum. "Tupai ini takkan keberatan atau cemburu,Tuan...."
"Ehm...." Valko mendengus. "Vio akan selalu memiliki tempat di sisi hatiku. Aku hidup di masa kini, Tupai. Jika aku larut dalam kesedihan dan masa lalu maka untuk apalagi aku hidup? Takdir sudah mengirimkanmu padaku untuk menggantikan Vio. Kau juga adalah pilihan kakekku. Kau juga sahabat yang disayangi seperti adik oleh Vio. Aku juga nyaman dengan sentuhanmu, Tupai. Kau juga adalah bantal tidurku. Aku sudah resmi memilikimu. Mengapa aku harus repot-repot tenggelam dalam masa lalu jika ada kau yang bisa menjadi masa depanku, Tupai? Kau bisa kumanfaatkan sebagai ibu dari calon anak-anakku sesuai keinginan kakekku dan teman hidupku hingga aku tua...." aku bisa merasakan Valko mulai tergila-gila padaku.
Astaga, mengapa kisahku tak seperti di novel atau drama saja sih? Mengapa suamiku tak memiliki kekasih yang bisa menjadi orang ketiga dalam hubungan kami. Mengapa juga suamiku tak menyiksaku atau mengapa aku tak punya keluarga suami yang membenciku? Itukan bisa menjadi kesempatan bagiku untuk lebih mudah lepas. Valko justru ingin mencengkeramku lebih kuat lagi. Kak Vio, kenapa kau harus pergi? Pangeran Bulanmu sekarang tergila-gila padaku 😣. Aku tak suka hal ini. "Aku tak punya waktu untuk menerka isi hatimu, Tupai. Jadi cepat jawab!" ia mencengkeran daguku lebih keras.
"Tuan...mana mungkin Tupai Kecil yang lemah ini berani bermain api di belakang Tuan?" aku berusaha menjawab senetral mungkin.
"Bagus, kuharap kau tak pernah melakukan itu. Aku adalah Valko, Serigala Muda dari Keluarga Wijaya. Kau adalah milikku Tupai. Jika kau berani melakukan hal itu, aku mungkin tak bisa menyakitimu tapi hanya akan mengikatmu lebih keras lagi. Tapi jangan salahkan aku jika kuhancurkan gangguan itu dengan cakar dan taring yang kumiliki. Akan kuhancurkan dan kucabik-cabik hingga tak bersisa sedikit pun. Kau mengerti, Tupai?" kata-kata Valko membuatku merinding. Aura keganasan terpancar dari dirinya.
"I...ya, Tu...an. Tupai ini mengerti," sahutku lirih.
"Bagus, Tupai!" ia melepas cengkeramannya. Apa dia mulai posesif terhadapku? Aku bisa gila jika dia seperti ini 😢. Hidupku akan semakin rumit. Dia bangun dari tidurnya lalu menuju kamar mandi. "Aku akan mandi, Tupai...." ucapnya. Ehm...apa dia akan memaksaku melayaninya di kamar mandi? Oh tidak! Aku tak mau. Mataku spontan terpejam karena geli membayangkan saat Valko ada di kamar mandi dan harus kulayani. "Apa yang kau pikirkan?" ia menyentil hidungku. "Aku tahu kau masih polos, hanya akan menyusahkanku saat mandi. Aku lapar, Tupai. Aku ingin sarapan, kau yang harus memasak untukku!"
"Baik, Tuan...." aku pun segera pergi ke dapur. Nampak Papa dan Sekretaris May menghadangku.
"Bagaimana kondisi Tuan Valko?" tanya Papa. "Apa yang terjadi? Mengapa dia bisa pingsan dan tak keluar dari kamarmu selama 2 hari?"
"Apa Nona kemarin menyatakan perasaan Nona saat di pemakaman kepada Tuan Valko? Pasti Tuan Valko pingsan karena mendengar puisi cinta dari Nona. Tuan pasti terharu hingga menangis selama perjalanan pulang," aku tertegun pada kalimat Sekretaris May. Bagaimana dia bisa memiliki pikiran salah secemerlang ini. "Nona, apa Nona dan Tuan Valko terus bermain-main selama dua hari ini?" tanya Sekretaris May lagi. Apa maksud ucapannya? Bermain-main? Aku bingung pada kata-kata itu.
"Ehm...." aku bingung harus menjawab apa.
"Nona, tak perlu malu. Saya terkesan dengan Nona karena bisa membuat Tuan Valko tidak keluar kamar selama dua hari. Tuan pasti Nona cabik-cabik hingga tak bisa lari, hahaha...." Sekretaris May tertawa.
Astaga, mengapa dia bisa berpikiran salah sebagus ini? Dia mengira aku mencabik-cabik dan memangsa Valko hingga dia tak berdaya dan terus berada di kamar. Ehm, jika itu benar-benar terjadi bukankah aku yang seharusnya tak bisa keluar kamar. Aku kan selalu pergi ke dapur untuk makan. Bagaimana Sekretaris May bisa berpikiran seperti itu?
"Zeta, apa benar itu?" tanya Papa. Dia memandangku dengan tatapan heran.
"Papa...." bagaimana aku harus menjelaskan yang sebenarnya.
"Jangan khawatir, Nak. Papa juga pernah muda. Pengantin baru memang saat sedang manis-manisnya menikah. Jangan khawatir, Papa akan mengatakan kepada Mama agar memberi banyak saran kepadamu sehingga Papa bisa segera dipanggil Grandpa, hahaha...." Papa tertawa. Papa! Kenapa kau bisa berpikiran aneh seperti Sekretaris May? 😣 Sudahlah lebih baik aku segera memasak.
"Papa, Tuan Valko lapar. Dia menyuruhku memasak. Tolong biarkan aku pergi...." ucapku sambil berjalan menuju dapur.
Astaga, bahkan orang lain pun bisa berpikir jika hubunganku dengan Si Serigala itu berjalan dengan dekat dan mesra. Padahal sebenarnya aku hanyalah seorang bantal tidur yang selalu tertindas. Apa yang harus kumasak ya? Ide cemerlang berputar di kepalaku. Akan kubuat masakan ini menjadi jalan satu langkah mundur yang menjauhkanku dari Valko.
__ADS_1
"Kau sudah selesai masak,Tupai?" terdengar suara Valko. WOW! Mataku menangkap pemandangan bagus. Valko tampil dengan kaos putih ketat yang tipis. Otot perutnya terlihat jelas. Dia memakai jaket kulit warna hitam mengkilap dipadukan dengan celana jeans biru muda. Itu membuatnya terlihat cool dan...ehm...memberi asupan gizi bagi mataku ini. Mataku terus memandanginya tanpa henti. Jika dia cupcake mungkin sudah kulahap dia.
"Valko, aku ingin memakanmu...."
"Kau bilang apa, Tupai?!" teriak Valko.
Astaga! 😣 Apa yang dikatakan mulut terkutukku ini. Mengapa aku jadi mudah kehilangan kendali saat melihat tubuh Valko yang atletis itu. Aku langsung berbalik membelakangi Valko. Kuarahkan fokusku pada masakan di atas kompor. Kuangkat masakan itu lalu kuhidangkan di atas meja.
"Ehm...maksud saya masakannya sudah siap Tuan...." aku tersenyum lebar nan cemerlang hingga gigiku terlihat untuk menutupi perkataan konyolku tadi.
"Ehm...." dengus Valko. Dia segera duduk di kursi dekat meja makan. Matanya berhenti sejenak saat melihat masakanku. Dia mengambil piring dan segera menyendok masakanku. Aku menyiapkan hati dan mentalku untuk menghadapi teriakan dan kemarahan darinya.
Yang kuat, Zeta! Ini satu langkah maju untuk membuat Valko sedikit menjauh mundur darimu. Masakanku segera dilahapnya, satu sendok sudah masuk ke mulutnya. Matanya melotot tajam saat merasakannya. Dia menatapku tajam dengan mata elangnya.
"TUAN!" tangan kananku ditarik ke arahnya. Ini saatnya, Zeta. Dia pasti akan marah dan murka. Dia pasti akan marah sambil menyuapkan dengan paksa dan kasar masakan itu ke mulutku. Adegan ini pasti seperti di sinetron yang pernah kutonton di TV.
"Aku tak tahu jika kau sangat ingin menikah saat ini...." ucapnya sambil membuat tubuhku ada di pangkuannya. "Jangan khawatir,Tupai...." dia mendekapku dengan erat. Astaga, mengapa jadi begini? 😣 Mengapa dia justru bersikap manis padaku. "Aku tahu kode yang kau berikan lewat nasi gorengmu ini. Orang bilang jika masakan seorang perempuan terlalu asin itu tandanya dia ingin menikah...." Valko memandangku. "Kau sudah menikahiku, ini kode untuk jawaban atas pertanyaanku di kamar tadi kan? Jangan khawatir, aku paham kodemu!" bisiknya di telingaku. "Aku akan memastikan kau tak bisa lepas dari cengkeramanku walau hanya sedetik saja, Tupai. Itu kan yang kau inginkan?" bisiknya lagi. HUA! Mengapa strategi ini jadi begini? 😣 Bukan ini yang kuinginkan! "Tupai...." panggil Valko.
"I...ya, Tu...an...." sahutku lirih.
"Kapan kau lulus dari kuliah S1?" ia memandangku.
"Ehm...mungkin satu semester lagi, Tuan...." mengapa dia menanyakan hal ini.
"Ehm...saya sedang memperbaiki proposal sambil mengajukan judul cadangan, Tuan...."
"Apa hari ini kau jadi bimbingan ke kampus? Ini sudah masuk hari kerja."
"Tidak, Tuan. Ehm...dosen pembimbingku sedang dinas ke luar kota. Mungkin selama satu minggu." aku menjawab jujur kali ini.
"Ehm...baiklah...May!" teriak Valko. Sekretaris May segera muncul.
"Iya, Tuan...." sahut Sekretaris May.
"Kabarkan pada kakekku tercinta untuk bersabar...." Valko menatapku. Astaga, apa yang ingin dia katakan? "Katakan padanya cicitnya tertunda datang ke dunia satu semester lagi...." Valko menatapku.
Valko, kau tahu apa yang kuinginkan? Syukurlah, mungkin hidupku akan tenang selama satu semester ini. Aku tidak perlu takut Serigala ini akan memangsaku selama beberapa bulan ke depan. Aku tersenyum menatapnya.
"Katakan pada kakek, aku ingin memonopoli Tupai Kecil ini untuk diriku sendiri selama beberapa bulan ke depan. Aku ingin fokus menjadikan Tupai ini sebagai bantal tidur untuk mengatasi gangguan tidurku...." dia menatapku semakin dalam. "Dan menjadikan Tupai ini mainanku setiap malam!" Valko tersenyum licik.
Tunggu! Mainan? Itu sama saja! 😣 Sama saja bisa Valko memangsaku kapan pun dia mau dan itu dianggapnya sebagai mainan. Valko, kau menyebalkan! 😣
__ADS_1
"Ehm...juga, ganti semua nuansa ruangan di rumah maupun kantor! Jauhkan dari warna ugu dan aroma lavender. Mulai sekarang hias rumah dan kantor dengan nuansa merah dan aroma mawar. Aku ingin nuansa baru di hidupku. Oh ya, putuskan juga dukungan finansial pada wanita mainanku! Aku sudah selesai dengan mereka. Mereka tak berguna lagi. Lebih baik uang untuk mereka kugunakan untuk bersenang-senang dengan Tupai Kecilku ini!" Valko membelai pipi kiriku dengan tangan kanannya. Jika dia mengganggap ini sebagai sikap mesra dan hangat, maka bagiku ini seperti ancaman yang membuat jantungku selalu ingin melompat keluar. "Oh ya!" Valko seperti teringat sesuatu. "May, siapkan kudaku!" perintahnya lagi. Kuda? Kuda apa yang dimaksud? Apa kuda sungguhan? "Itu saja perintahku, kau boleh pergi!" perintah Valko. "Tupai!" panggil Serigala ini.
"I...i...ya, Tu...an...." jawabku terbata-bata.
"Ganti pakaianmu dengan celana panjang dan jaket tebal, sekarang!" perintahnya. Dia menggerakkan kakinya. Kurasa ini tanda agar aku turun dari pangkuannya. Aku pun segera berdiri. "Aku menunggumu di depan rumah!" Valko berlalu pergi. Aku hanya menggangguk.
Astaga! 😣 Mengapa strategiku gagal? 😢 Valko justru semakin mendekat. Dia malah mengganggapku tergila-gila padanya. Sudahlah, lebih baik kupikirkan strategi lain besok.
Segera kuganti pakaianku dengan celana jeans model pensil panjang warna hitam. Rambutku kukuncir satu ke belakang. Kupakai kaos pink lengan panjang. Kaos lebih mudah membuatku nyaman bergerak. Aku tak tahu kejutan apa yang disiapkan Valko untuk menjahiliku. Aku harus memakai pakaian yang membuatku nyaman dan mudah untuk memanjat kabur. Kupilih jaket dari bahan jeans warna biru tua. Ehm...lebih baik aku membawa tas gendong yang berisi obat P3K, powerbank, smartphone, baju ganti, dan uang tunai. Bisa saja Valko membuatku menaiki kuda sungguhan bersamanya lalu membuangku di daerah jauh yang tidak kukenal. Semua kemungkinan bisa terjadi! 😤
"Tuan...." panggilku sambil tersenyum palsu. Saat aku sampai di depan rumah, nampak Valko sudah naik ke atas motor sport warna hitam metalik. WOW! Dia terlihat tampan memesona dan semakin cool. Tubuh atletis ditambah motor sport tambun berkapasitas mesin besar. Itu adalah pemandangan indah bagi mataku ini.
"Apa yang kau pandang, Tupai?" teriakannya membuatku terbangun dari alam khayal. "Cepat naik!" perintahnya sambil memakai helm. "Pakai itu!" dia melemparkan helm full face warna pink kepadaku. Ehm...aku sudah lama tak dibonceng dengan motor. Segera kupakai helm itu. Aku pun naik dengan hati-hati. Astaga, boncengan ini sungguh miring sekali ke depan. Aku mencoba memberi jarak tubuhku dengan tubuh Valko. Kutempatkan tas gendongku di antara kami. "Apa yang kau lakukan? Gendong kembali tasmu di belakang atau akan kubuang sekarang juga!" teriaknya sambil menatapku tajam dari balik helm itu. Hiks, dia tetap saja memiliki aura yang menakutkan meski sudah tertutup helm.
BRUM!!! WUSH!!! Motor itu tiba-tiba saja melaju kencang. Aku masih berusaha agar tak memegang badan Valko. Aku hanya berpegangan pada ujung jaketnya saja.
"Kita lihat berapa lama kau bisa bertahan, Tupai!" ucap Valko. Apa maksudnya? Dia tak ingin membunuhku kan?
BRUM!!! Motor semakin melaju kencang. Angin semakin terdengar keras di telingaku. Mungkin motor ini melaju dengan kecepatan di atas 100 km/jam. Aku rasanya seperti hendak terhempas. Jalanan masih sepi karena belum masuk jam berangkat kerja. Valko membawa motor melaju semakin cepat di jalan raya ini.
"AAAA!!!!" teriakku kencang. Tiba-tiba ada truk tronton hendak menyeberang berhenti tepat di depan sana. Serigala Gila! Kau ingin membunuhku?
CRIT!!!! Tiba-tiba saja rem dimainkan. Otomatis badanku terhuyung ke depan. Tak ada pilihan lain bagiku selain memeluk erat-erat pinggang Valko dengan kedua tanganku. Kejadian ini menakutkan. Mataku sontak terpejam. Jantungku berdebar kencang.
"Kurasa aku yang menang, Tupai Kecil! Sudah kuduga kau tak bisa menahan diri untuk tidak memelukku!" ucap Valko. Jadi, dia sengaja hampir menabrakkan diri dan melaju kencang hanya agar aku memeluk erat pinggangnya? VALKO! KAU MENYEBALKAN! 😣
Motor ini masih melaju kencang. Aku tak tahu kemana dia membawaku, aku belum pernah lewat atau pergi ke daerah ini. Kurasa ini mulai memasuki pinggiran kota.
BRUM!!! Valko semakin membuat jantungku ingin meloncat keluar. Dia membawaku menaiki kelokan tajam dengan kecepatan tinggi. Kelokan ini mengarah ke atas, menaiki pegunungan. Jalan berkelok-kelok terus terlihat. Valko, sebenarnya kemana kau membawaku pergi? 😢
____________________________________
Terima kasih sudah membaca dan memberikan vote serta like pada karya saya 😄
Maaf jika dalam karya ini masih banyak kekurangan dan kesalahan 😢
Maaf belum bisa memenuhi permintaan crazy up dan update setiap hari 😢
Jangan lupa berikan pesan dan kesan di kolom komentar terhadap cerita ini 😄 sebagai masukan bagi author agar dapat membuat cerita yang lebih baik lagi di tahun depan 😍
Terus dukung dan kunjungi karya author ya 😄
__ADS_1
Jangan lupa berikan vote 😄
Selamat menyambut tahun baru 2020 😍