Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 31 - Cemburu?


__ADS_3

"Silahkan masuk, Nona!" ucap salah seorang pengawal. Aku segera masuk ke tempat itu bersama Sekretaris May.


"Selamat datang di Little Kitten Cafe, Nona Via Wijaya," sapa pegawai kafe itu. Dia berpakaian rapi dengan jas hitam seperti pegawai kantoran. "Sebelum masuk mohon lepas alas kaki Anda terlebih dahulu dan dimohon mensterilkan tangan dengan hand sanitizer ini," aku pun melakukan hal yang diperintahkan. "Suatu kehormatan Anda bersedia berkunjung kemari. Ini pilihan menu yang kami tawarkan," pegawai itu menyodorkan daftar menu. "Silahkan berinteraksi dengan penghuni kafe kami tetapi mohon maaf pengunjung tidak diperbolehkan mengangkat dan bertindak kasar kepada penghuni kafe kami. Jika Anda ingin bermain dan menyisir bulu mereka sangat diperbolehkan," ucap pegawai itu ramah.


Aku segera masuk ke kafe itu. Kupilih meja dengan konsep lesehan. Kuluruskan kakiku di bawah meja ini. Sekretaris May dan dua pengawal itu duduk di meja yang berbeda, tak jauh dari tempatku berada. Tak beberapa lama kemudian penghuni kafe ini menghampiriku.


"Meow, meow!" oh lucunya 😍. Ada seekor kucing berwarna kuning keemasan dengan totol coklat tua menghampiriku. Sekilas mungkin dia terlihat seperti bayi macan tutul tapi sebenarnya dia kucing impor kurasa. Aku tak menyangka di tempat ini ada cat cafe seperti yang pernah kulihat di internet.


"Namanya Savannah Cat, Nona," ucap seorang pegawai wanita. Kurasa dia penjaga kucing-kucing ini. "Dia nampaknya ingin bermain dengan Nona," pegawai itu menyerahkan suatu benda padaku. Kurasa itu mainan untuk kucing. Segera kuambil mainan kucing berupa tongkat lentur dengan bulu-bulu biru berkilau nan cetar di ujungnya. Hihihi, kucing ini terus menerus berusaha meraih ujung tongkat ini.


"Kau lucu sekali, Sayang!" ucapku. Dia berhasil meraih ujung mainan itu. Dengan jinak dia duduk di sampingku. Aku mencoba mengelus-elusnya. Dia tidak menolak saat dielus-elus. "Siapa nama kucing ini?"


"Namanya Nana, Nona," jawab pegawai itu.


"Nana? Berarti dia betina, ya?"


"Tidak, dia jantan, hehehe," pegawai itu tertawa. Kucing jantan tapi namanya Nana 😂. Lucu sekali. Aku semakin tak bisa menahan rasa gemasku terhadap kucing ini.


"Sayangku, kau amat gagah, manis dan baik," aku mengelus-elus kucing lucu ini. Dia tidak menolak ketika kuelus-elus. Kurasa kucing-kucing di sini sudah jinak. "Kau memang tampan ya, Sayang. Berani dan tangguh, tapi tetap saja menggemaskan! Pasti banyak yang memimpikan pasangan sepertimu!"

__ADS_1


"Tak kusangka kau menemukan selingkuhan yang sempurna!" terdengar suara dingin memecah kerianganku. Nampak Valko berdiri di hadapanku. Mukanya nampak cemberut, kedua tangannya menyilang di dada. "Siapa yang baru saja kau puji, Tupai? Pasti selingkuhanmu ya?!" dia duduk di dekatku. Mukanya terlihat semakin cemberut bahkan bibirnya mengerucut. Astaga, dia mengiraku berselingkuh dengan seekor kucing? 😂


"Ini selingkuhanku," aku tetap mengelus-elus kucing itu. "Namanya Mr. Nana!" ucapku. "Dia tampan dan amat gagah," aku tetap memuji kucing ini. Hihihi, ingin kubuat Valko semakin gusar 😆. Ini hal yang lucu, dia bisa cemburu pada seekor kucing.


"Ck! Pantas saja, ayahku dulu membenci makhluk itu. Dia bisa menjadi selingkuhan yang sempurna!" ucap Valko dengan nada cemburu. Hahaha! 😂 Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak. Kucing bisa ya jadi selingkuhan yang sempurna? 😂


"Hush! Hush!" Valko berusaha mengusir kucing ini. Kucing yang pintar dia tak takut pada usaha Valko. Kucing ini justru bergerak menuju pangkuanku.


"Sayangku, kau memang manis dan pemberani!" aku mengelus-elus kucing itu. Dia semakin manja. Hihihi, aku suka melihat wajah Valko yang semakin mengkerut.


"Mana makananmu, Tupai?" tanya Valko dengan ketus. Eh, aku lupa memesan makanan.


"Hush! Hush!" ucap Valko dia berusaha mengusir kucing ini. "HUH! Dasar pebinor (perebut bini orang)!" ucap Valko dengan nada cemburu.


Aku tak bisa menahan tawaku lagi. KRUK! Perutku berbunyi kecil. Kurasa aku benar-benar lapar kali ini.


"Kak, saya pesan roti panggang dan susu coklat hangat ya!" aku memesan makanan pada pegawai itu. "Cayang, kau mau pesan apa?" Valko tak menyahut. Dia membuang muka, mukanya nampak cemberut. Kedua tangannya tertekuk di depan dada. Kurasa dia sudah cemburu level tinggi 😂. "Sayang, sudah dulu ya mainnya!" kusingkirkan kucing itu dari pangkuanku. Kakiku yang lurus kugoyang-goyangkan.


"Ca...yang...." panggilku manja. "Kau ingin makan apa?" Valko tetap tak menyahut. "Apa kau ingin dibelai juga? Kemarilah!" kutawarkan pangkuanku padanya. Daripada dia marah dan jalan-jalanku berantakan lebih baik kuturuti keinginannya. "Ya sudah, kalau kau tak mau. Ada teman Mr. Nana yang mendekatiku!" ucapku sambil memegang mainan kucing. Ada seekor kucing berbulu abu-abu gelap yang rimbun. Dia terlihat seperti bola bulu yang gembul dan menggemaskan 😍. "Ayo, kemari...Sayangku, Cintaku...." ucapku sambil menggerak-gerak mainan kucing itu ke arahku.

__ADS_1


"HUSH! Pergi sana!" Valko mendekat ke arahku. "Ini tempatku! Dasar pebinor!" dia berbaring di pangkuanku. Kepalanya menyandar tepat di pangkuanku. Aku hendak menyentuhnya dengan tanganku. "JANGAN SENTUH AKU!" teriaknya keras. Aku tertunduk karena takut. "May, berikan hand sanitizer pada Tupai!" Sekretaris May memberikan sebotol hand sanitizer dan tisu padaku. "Cuci tanganmu, Tupai! Aku tak mau disentuh dengan tangan bekas menyentuh pebinor!" ucap Valko dengan muka cemberut.


Astaga, Valko, kau benar-benar cemburu pada seekor kucing? 😓 Bahkan benar-benar mengganggapnya pebinor? 😦 Kukira kau tadi hanya bercanda ternyata kau serius ya. Kau ternyata sangat posesif dan pencemburu ya. Pantas dulu Kak Vio pernah bercerita jika dia tak punya teman dekat lain, selain aku. Kucuci dan kukeringkan tanganku. Hand sanitizer ini beraroma mawar. Tumben, biasanya aromanya pasti lavender.


"Ini pesanannya, Nona," pegawai restoran menyerahkan pesananku. Lucunya 😍. Nampak roti panggang stroberi berbentuk kucing serta susu coklat di dalam mug bergambar kucing. Aku sudah mengambil roti bakar itu dengan tanganku.


"Suapi aku!" perintah Valko.


HUH! Aku sudah lapar tahu! Roti bakar itu langsung kumasukkan ke mulutku. ASTAGA! Valko! Apa yang kau lakukan? Dengan cepat Valko menggigit ujung roti bakar yang tersisa. Kepalanya terangkat ke atas. HUA! 😭 Bibirku dan bibirnya bersentuhan. Sentuhan itu sangat dekat, bahkan sudah saling bersinggungan. Valko menarik ujung roti bakar itu dan menelannya.


"Roti bakar yang lezat, Tupai," ucap Valko sambil berbaring di pangkuanku. Mulutnya mengunyah roti bakar itu. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak membekap mulutku. Bibirku yang murni 😭. Apa aku barusan berciuman dengan Serigala ini? 😢


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2