
"AKU TAK MAU MAKAN MASAKAN INI!" sahut Serigala ini dengan angkuh. "Aku ingin makan masakan Tupai Kecilku!" dia melirik ke arahku. Astaga, Valko! Tak bisakah kau tak iseng padaku sejenak? 😣 Aku menghela napas. Jika aku protes dan berteriak pada Valko sekarang itu akan menimbulkan kesan buruk untukku bagi Papa. Sekarang, Serigala ini yang jadi prioritas di rumahku 😧.
"Tuan....Tuan ingin makan apa? Ehm...memasak butuh waktu Tuan...bagaimana jika Tuan mencoba hidangan di meja terlebih dahulu sembari menunggu Tupai ini memasak?" sahutku dengan senyum palsu. Aku tak ingin membuat Papa kecewa tapi aku juga harus memenuhi permintaan Valko.
"Ehm..." balas Valko. Tak bisakah dia mengeluarkan kata selain kata 'ehm'. "Kau harus menyuapiku, Tupai."
"Baik, Tuan," sahutku. Valko duduk di salah satu kursi.
"Mengapa kau tak duduk? Duduklah Pak Leon. Anda tetap kuanggap sebagai mertua yang harus kuhormati," perintah Valko. Syukurlah setidaknya otaknya masih waras untuk menghormati Papaku.
"Terima kasih, Tuan," Papa duduk di kursi dekat Valko.
"Aku ingin makan steak, Tupai. Setelah itu kau harus memasak untukku!" aku pun mengambil sepotong daging steak. Kupotong daging itu lalu segera kusuapkan pada Valko. Jika orang tua lain mungkin keberatan jika anaknya diperlakukan seperti ini apalagi dipanggil Tupai, tapi kurasa orang tuaku berbeda. Mereka takut pada Valko. "Rasanya lumayan...." ia melihat sekeliling. "Kemana ibumu Tupai? Mengapa aku tak melihatnya?"
"Tuan, ibuku seorang pegawai rumah sakit. Beliau harus pergi bekerja untuk mengabdi pada pasien. Kuharap Tuan memakluminya...." sahutku ramah. Aku hendak menyuapkan steak itu lagi.
"Aku sudah memakannya, sekarang kau harus memasak untukku, Tupai!" Valko berdiri dari kursinya.
"Tuan ingin makan apa?" kuletakkan piring berisi steak itu.
"Aku ingin makan mie tapi kau harus mencari mie yang organik, Tupai!" perintah Valko. Papa nampak terkejut, kurasa dia kecewa. Hidangan western kalah oleh pamor mie instan.
"Baik, Tuan," aku segera melangkah pergi ke dapur.
__ADS_1
"Kau tidak pergi mencarinya dulu, Tupai?" Valko mengikutiku ke dapur. Kurasa dia hanya ingin menjahiliku saja agar kebingungan mencari mie organik.
"Tidak, Tuan. Tupai ini memiliki persediaan mie organik," kubuka lemari di dapur itu. Untung saja aku masih menyimpan persediaan mie organik yang dulu sering kumakan bersama sahabatku. Mie ini dibuat dari bahan dasar berupa sayuran dan tepung. Warnanya ada merah, kuning dan hijau. Mie ini tidak dijual bebas tapi harus dipesan secara online. Saat kukeluarkan tiga bungkus mie beda warna itu, aku jadi teringat pada sahabatku. Andai kau masih hidup kawan, pasti menyenangkan....
"Kau kenapa, Tupai?" suara Valko membangunkan lamunanku.
"Tak apa-apa, Tuan. Tupai ini hanya teringat pada sahabatnya yang sudah meninggal. Ehm...sahabat Tupai ini juga suka makan mie organik."
"Ehm...." sahut Valko. "Cepat masak untukku! Aku sudah lapar, Tupai!" Valko duduk di meja makan dapur. Kumasak mie itu dengan resep yang pernah diajarkan oleh sahabatku. Dia bilang mantan pacarnya suka jika mie organik dimasak seperti ini. Tak ada salahnya kucoba, siapa tahu Valko suka. Kurebus mie itu dan kutambahkan berbagai macam bumbu penyedap. Kutambahkan juga potongan daging ayam kecil-kecil beserta kaldunya. Tak sampai seperempat jam, mie itu matang. Kusajikan mie itu di dalam mangkok porselin warna putih.
"Ini Tuan...." ucapku tersenyum tulus. Mie ini membuat mood-ku menjadi bagus. Kurasa aku menjadi lapar. Mie itu terlihat menggiurkan seakan memanggil untuk dilahap. Baunya tercium lezat. Aku duduk di meja makan berhadapan dengan Valko.
"Ini..." ucap Valko lirih. Aku tak tahu kenangan apa yang dimilikinya ketika melihat mie tapi kurasa itu kenangan yang sedih.
"AAA!" Valko membuka mulutnya lagi. Dia dengan cepat melahap mie itu sampai tinggal bersisa kuahnya saja. "AAA!" dia masih saja membuka mulutnya. Kurasa dia benar-benar kelaparan, kusuapkan kuah itu dengan sendok. Astaga, tiga bungkus mie organik beda warna itu habis dilahapnya. Mulut Valko belepotan noda kuah mie ini. Kuseka mulutnya perlahan dengan tisu.
"TUAN!" teriakku spontan. Apa yang dilakukan Valko? Tiba-tiba saja tangan kananku digenggam dengan tangan kirinya. Tangan itu disentuhkan ke pipi kirinya. Dia memejamkan matanya.
"Tanganmu hangat, Zeta," ucapnya lirih. Ini pertama kalinya dia memanggilku dengan bebar. KLONTANG! Terdengar suara benda jatuh. Valko terbangun seketika, tanganku dilepaskannya.
"Papa!" sahutku spontan. Nampak Papa sedang tertegun, di dekat kakinya nampak pecahan mug berisi teh yang jatuh berantakan.
"Aku menunggu di kamarmu, Tupai!" Valko berlalu pergi. Papa masih saja mematung seakan melihat hal yang sangat mengejutkan. Bukankah pemandangan tadi seharusnya biasa saja. Mengapa Papa terkejut sekali?
__ADS_1
"Papa...." aku hendak mendekat ke arah Papa. Tanganku sudah meraih sapu dan serok untuk membersihkan pecahan mug itu.
"Biar aku saja!" Papa merebut sapu dan serok itu. "Sudah, cepat sana, susul Tuan Valko!" perintah Papa. Aku pun segera naik ke lantai 2.
Hari sudah malam, tubuhku letih. Lebih baik aku segera mandi air hangat. Ehm...lebih aman jika aku mandi di kamar mandi lantai satu. Valko sedang ada di kamarku, aku tak ingin dia menjahiliku saat sedang mandi. Air hangat dan sabun aroma mawar membuat letihku seakan sirna. Piyama pink sudah kupakai, ini piyama Mama. Tak masalah, ukurannya tak beda jauh.
"Tu...an...." panggilku ketika membuka pintu kamarku. Aku masuk perlahan-lahan. Terdengar bunyi spray, kurasa itu suara spray dari botol parfum. Tercium aroma parfum yang beraroma kuat tapi tetap maskulin. Aroma yang menggoda hidungku untuk mendekat.
Di depan meja riasku nampak seseorang, kurasa itu Si Serigala Playboy. Dia sedang menyemprot tubuhnya dengan parfum. Kelihatannya dia baru saja mandi. WOW! Tubuhnya boleh juga. Mau bagaimana lagi, aku ini wanita normal. Mataku ini suka melihat wajah-wajah tampan dan juga tubuh pria berotot. Valko membelakangiku, dia bertelanjang dada, hanya memakai celana putih panjang.
Ehm...mataku tak bisa berkutik, mata ini terus melihat ke arah punggung tegap dan tangan kekar berotot itu. Apalagi kulitnya mulus seperti porselen. Pasti badan-badan artis boyband korea itu seperti ini ya. Aku menjadi teringat pada idolaku yang tampan, tinggi, putih dan berbadan atletis. Pasti menyenangkan bisa memeluk kalian, Idolaku, Sayangku.
"Apa yang kau lakukan, Tupai?" terdengar suara yang membuyarkan lamunanku. Astaga! 😱 Apa yang sudah kulakukan? 😣 Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku memeluk punggung Valko? Bagaimana aku harus menjelaskan hal ini padanya? 😣
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1