
"Aku benar-benar cinta pada Kak Tata!" ucap anak cowok itu lagi.
Aku menatap ke arah Valko. Dia sudah berbalik menghadap ke arahku. Kedua tangannya nampak mengepal. Urat di kedua tangannya bahkan terlihat sangat jelas. Please! ๐ญ Jangan ada perang dunia di sini! ๐ญ
Valko melangkah ke arahku. Setiap langkahnya membuat jantungku terasa berhenti berdetak. Aura kemurkaan nampak terpancar jelas di wajahnya. Udara di sekitarku terasa mencekam. Aku merasa sesak karena takut.
Valko mempercepat langkah kakinya. Tiba-tiba saja tangan kanannya mengepal. Tangan itu melayang ke arah cowok di depanku. JANGAN! Aku ingin berteriak seperti itu tapi rasanya suaraku seakan tak keluar. Mataku secara reflek tertutup. Oh tidak! ๐ฃ Perang dunia sudah pecah di sini! ๐ญ
Tunggu! Kenapa tak ada suara baku hantam? ๐ฎ Kuberanikan diri membuka mataku. Nampak tangan kanan Valko memegang erat bahu kanan cowok itu. Valko, kau tak berencana membuat remuk bahu orang ini kan? Nampak bahu cowok itu dipegang dengan erat bahkan bisa dibilang diremas dengan kuat. Tangan kanan Valko sampai memunculkan urat-uratnya.
"Adik!" panggil Valko. Panggilannya mungkin ramah tapi suaranya amat menyeramkan. "Kenalkan aku Valko, suami Kak Tata. Kami sudah menikah!" ucap Valko dengan nada dingin nan ngeri.
Mata Valko menatap tajam ke arah cowok itu. Duh, kasihan adek tingkat ini! Badannya kecil dan kurus, dia tak sebanding dengan Valko yang bertubuh jangkung dan besar. Valko, please, ampuni adek tingkat ini! Aku hanya mematung tak berani ikut campur. Suara Valko sudah membuat bulu kudukku merinding.
"Ini foto pernikahan kami!" Valko tersenyum sinis ke arah cowok itu. Tangan kirinya memperlihatkan layar smartphone ke arah cowok itu. "Kuharap kau kau paham!" mata Valko melotot. Kaki cowok itu nampak gemetar ketakutan. Valko, please! Jangan pukul dia! ๐ญ
"Ampun, Kak...." ucap cowok itu sambil menunduk.
"Kenapa kau takut?" ucap Valko. Valko tersenyum ke arah cowok itu. Tangan kiri Valko menyimpan smartphone-nya kembali ke saku celananya. "Kuharap prank seperti ini tak lagi dilakukan di depan istriku!" ucap Valko dengan nada meninggi.
TAK! KLETAK! Valko memberi senyuman kepada cowok itu tapi tangan kirinya mengepal erat hingga berbunyi. Valko melepas cengkeraman di bahu kanan cowok itu. Wajah cowok itu nampak sudah basah akibat keringat dingin. Valko berbalik lalu menyeretku masuk ke dalam ruang perpustakaan.
Mataku masih sempat memandang ke arah cowok tadi. Dia sudah jatuh terduduk di lantai. Wajahnya nampak ketakutan. Duh, Dek, kamu sih nekat dan bandel! ๐ฃ Aku kan sudah bilang nggak bisa! ๐ญ Kamu kok tetap nekat maju sih? ๐ข
Aku hanya pasrah saat diseret masuk oleh Valko. Valko membelakangiku, wajahnya tak nampak. Meski hanya melihat punggungnya tapi aura kemurkaan nan mengerikan sudah terasa. Valko! ๐ญ Ampun! Aku tak tahu jika akan jadi seperti ini! ๐ญ Perpustakaan ini masih sepi karena masih pagi hari. Sebelum masuk ke ruangan tempat buku berada tas pengunjung harus dititipkan dalam loker.
"Cepat titipkan tasmu, Tupai!" perintah Valko dengan nada dingin. Dia melirikku sekilas, tatapannya sungguh mengerikan.
Aku pun langsung menuju salah satu loker lalu menyimpan tasku ke dalamnya. Barang-barang yang perlu kubawa masuk ke ruang buku, kubawa dengan totebag transparan berbahan plastik yang sudah disedikan oleh pihak perpustakaan. Aku hendak berjalan menuju ruang buku. Valko tiba-tiba menarik tangan kananku, dia menyudutkanku di salah satu pojok ruangan. Tubuhku terasa gemetar, tatapan Valko masih mengerikan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya kemudian menatapku dengan tajam. Aku dan dia hanya terdiam saja satu sama lain.
__ADS_1
"Ze...ta!" panggil Valko dengan nada meninggi.
"Ampun...Val....ehm!" aku tak bisa berbicara.
Valko tiba-tiba saja mencengkeram daguku. Dia memberikan serangan-serangan ganas ke arah bibirku. Valko, apa aku sekarang jadi pelampiasan amarahmu tadi?
Kuharap tak ada orang lain yang melihat hal ini sekarang. Aku malu! ๐ณ Ini di tempat umum! ๐ฃPantas saja tadi Valko melihat ke arah kanan dan kiri terlebih dahulu. Serangan itu sudah berakhir, sungguh saat ini bibirku masih merasakan sensasi dari serangan Valko.
"Lainkali pakailah masker dan kacamata hitam, Tupai!" ucap Valko geram. Dari raut wajahnya, kurasa amarah masih tersisa di sana. "Aku berusaha keras meredam amarahku karena mengingat ini adalah tempat pendidikan. Jika tidak! Sudah kuremukkan dia!" Valko mencengkeram daguku lagi. "Ingat! Lain kali sembunyikan wajahmu dengan masker dan kacamata hitam, Tupai! Aku tak suka jika ada pria lain mendekatimu meski itu cuma fansmu. Kau paham!" Valko menatapku tajam.
"Pa...ham...." sahutku lirih sambil menggangguk-angguk. Syukurlah, setidaknya tidak terjadi perang dunia di tempat ini.
"Ayo, masuk!" perintah Valko. "Cepat cari buku yang kau butuhkan!" ucapnya sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Aku pun berjalan menuju area ruang buku. Di sana ada berbagai buku yang tersusun di rak-rak kayu bertingkat lima. Ada berbagai macam buku dari seluruh program studi di universitas ini.
Valko melirikku dari arah belakang, saat aku mencari kode buku tentang manajemen di website perpustakaan melalui smartphone-ku. Setelah berkeliling akhirnya rak itu ketemu. Rak itu ada di pojokan sebelah belakang. Aku mencari buku yang kubutuhkan di antara rak itu. Valko menatapku dari samping, dirinya dengan santai bersandar di dinding.
Aku berjinjit, tangan kananku berusaha menarik buku tebal bersampul coklat itu. Ih, kenapa rak perpustakaan ini tinggi sekali, sih? ๐ฃ Bikin sulit aku aja!
"EH!" teriakku spontan. Kurasakan tubuhku terangkat ke atas. Ternyata Valko sudah mencengkeram pinggangku, dia membuatku jadi bisa meraih buku di rak tingkat ke lima.
"Cepat ambil buku yang kau perlukan, Tupai!" ucap Valko ketus. Meski ucapannya ketus tapi kurasa dia tulus membantuku. Aku pun meraih buku yang kuperlukan.
"Valko, ke sana!" aku menunjuk ke rak sebelah kiri. Valko berjalan sambil mengangkat tubuhku ke arah yang kutunjuk. Kuambil dua buku yang kuperlukan. Sudah deh, pinjam tiga bulu dulu saja.
"Sudah Valko, turunkan aku!" aku menatap ke arah Valko.
Valko menurunkan tubuhku. Pandanganku fokus ke arah buku itu. Tanganku sibuk membuka-buka buku itu. Menyenangkan juga ya rasanya ada pendamping cowok yang bisa menemani. Aku jadi punya teman dan sumber bantuan saat berada di perpustakaan.
__ADS_1
"Eh!" ucapku kaget. Valko tiba-tiba mencengkeram pinggangku. Kepalanya sudah ada tepat di belakang kepalaku.
"Ehm...Val...ko...." panggilku. Duh, dia ingin melakukan apa sih?
"Aku selalu ingin menyentuh dan berdekatan denganmu, Zeta!" ucap Valko. Embusan napasnya bisa kurasakan tepat di belakang telinga kananku. "Kurasa aku sudah kecanduan terhadapmu, Tupai Kecilku!"
Duh, jangan sampai Valko kembali memberikan serangan padaku di perpustakaan lagi. Aku malu jika dilihat orang lain. Aku harus segera keluar dari sini sebelum Valko memulai serangannya padaku.
"Aku sudah selesai meminjam buku, Hubby!" ucapku sambil melepaskan diri dari pelukan Valko.
Aku berjalan ke arah komputer untuk men-scan kode pada sampul buku ini agar bisa kupinjam. Setelah selesai aku buru-buru menuju loker untuk mengambil tasku. Kubuka loker lalu kumasukkan barang-barangku serta buku itu ke dalam tasku. Kukunci kembali loker itu.
"Pakai ini, Tupai!" Valko memakaikan kacamata hitam ke wajahku. Dia lalu menggandeng tanganku. "Jangan sampai fans gilamu mengenalimu lagi!"
Valko memimpinku berjalan keluar dari gedung perpustakaan ini. Sesampainya di pintu keluar, dia mengembalikan kartu pengenal yang dipakainya tadi. Valko menuntunku berjalan menuju parkiran mobil.
"May, pergi ke tempat itu!" perintah Valko saat kami sudah duduk di dalam mobil.
"Hubby," panggilku. "Kita mau kemana?" tanyaku penasaran.
"Ke tempat dimana kau akan membayar balas jasa untukku, Tupai Kecilku!" ucap Valko.
Matanya berkilau licik. Valko, tak bisakah kau tak membuatku penasaran? Kau ingin membawaku kemana sih? ๐ฃ
Jangan lupa like dan vote ya ๐ biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok ๐
Tinggal pencet tanda jempol ๐ di pojok kiri bawah untuk like ๐
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you ๐