
Nampak seorang bapak tua dengan pakaian berupa sweater biru tua yang sudah lusuh serta celana jeans yang sudah sobek di sana sini. Kupluk hitam yang sudah lusuh menjadi penutup kepalanya. Punggungnya nampak menenteng tas gendong hitam yang sudah usang. Resleting tas itu nampak sudah rusak. Rambutnya sebagian besar sudah nampak beruban. Rambut itu terkuncir di belakang. Jenggot panjang nampak menutupi wajahnya. Dia nampak terus melirik ke dalam restoran ini.
"Kita ajak masuk aja, yuk!" ajak Ogi.
"Iya, kasihan!" ucap Della.
"Ayok!" aku dan Ogi bergegas menghampiri Pak Tua itu.
"Pak, mari masuk!" ajak Ogi.
"Eh, nggak usah! Nggak usah!" tolak Pak Tua itu.
"Nggak papa, Pak. Nanti saya yang bayar!" tanpa pikir panjang kugandeng tangan Pak Tua ini.
"Rara...." ucapnya tepat saat tangannya kusentuh. "Kau benar-benar mirip Rara...." ucapnya lagi. Apa wajahku sepasaran itu? Sudahlah, lebih baik kuajak Pak Tua ini masuk.
"Mari, masuk, Pak!" kugandeng tangan Pak Tua ini. Dia nampak canggung saat masuk ke restoran ini. "Silahkan, duduk, Pak!" ucapku. Ternyata, pesananku sudah datang. "Ini, Pak. Bapak makan duluan saja!" kusodorkan makanan dan jusku.
"Terima kasih, Nak," sahut Bapak ini. Dia nampak makan dengan lahap.
__ADS_1
"Apa seperti ini sikap menantu keluarga Wijata?" terdengar suara yang tak asing bagiku.
"Vita!" ucapku sambil berdiri. Ih, mau apa sih Nenek Sihir Merah ini di sini? Ganggu dan bikin mood rusak aja. "Kau mau apa?" tanyaku ketus. "Aku sedang makan siang. Jika kau ingin makan kau bisa pesan juga!"
"Tak kusangka sikapmu seperti ini!" ucap Vita lagi. "Apa kau tak malu melakukan hal ini?" ucap Vita.
"Apa maksudmu? Aku tak melakukan hal yang salah! Jadi, jaga mulutmu itu!" amarahku berusaha kutahan.
"Gadis rendahan sepertimu memang tak tahu malu. Kau mengajak makan seorang gelandangan di restoran mewah seperti ini? Gadis rendahan sepertimu mana mengerti hal seperti ini. Kau memang tak pantas jadi menantu keluarga Wijaya!" ucap Vita. Ucapan itu membuat telingaku memerah seketika. BRAK!!! Kugebrak meja ini.
"Tutup mulutmu!" kutunjuk ke arah Vita. "Aku memang tak berasal dari keluarga sekaya dirimu tapi setidaknya aku memiliki mulut dan perilaku yang lebih baik darimu!" kutatap tajam Vita.
"Cukup!" terdengar teriakan. Kubuka mataku.
"Zeta adalah temanku! Jika kau menyakitinya kau harus berhadapan denganku!" nampak Ogi menahan tamparan Vita.
"Ta, kita cabut aja yuk! Aku nggak mood makan gara-gara pengunjung tak sopan ini!" ucap Della.
Aku pun bergegas berdiri. Sebelum pergi tak lupa kubayar makanan di kasir dengan kartu emas yang diberi Valko.
__ADS_1
"Meski aku hanya gadis rendahan tapi Valko memanjakanku seperti seorang ratu! Dia bahkan memberiku kartu ini!" aku sengaja pamer di hadapan Vita saat berpapasan dengannya. Tangan kanannya masih dipegang oleh Ogi. Aku, Della dan Pak Tua itu keluar dari restoran ini.
"Maaf, ya, Nak. Gara-gara saya kamu jadi ribut di dalam...." ucap Pak Tua ini.
"Nggak papa, kok...." balasku.
"Zeta, awas!" terdengar teriakan Della.
"AAA!!!" nampak sebuah pot tanaman berukuran besar jatuh menuju ke arahku....
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1