Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 11 - Ijinkan....


__ADS_3

"Jangan takut, Tupai," ucap Valko dengan lembut. Dia tak menolak pelukanku, justru dia mengarahkan tangannya untuk memeluk tubuhku dengan lembut. "Jangan takut, Tupai. Tidurlah, petir takkan mengejarmu hingga kemari. Aku ada di sini, Tupai! Tenanglah!" ucapnya lembut. Apa dia membelai kepalaku? Kurasakan belaian tangan Valko di rambutku. Mengapa aku merasa nyaman dan aman ya? Perasaan apa ini?!


Kurasa aku mulai terlelap larut dalam buaian Serigala ini. Suasana hujan di luar membuatku enggan beranjak. Ini memang waktu yang pas untuk tidur siang kurasa. Ehm...sepertinya sekarang aku yang justru larut dalam buaian Valko. Bukan aku yang membelai Valko tapi justru aku yang dibelai. Mungkin saat ini aku benar-benar seperti seekor Tupai Kecil yang meringkuk menjadi bentuk bola.


DRET! DRET! DRET! Bunyi getaran itu membuatku terbangun. DRET! DRET! DRET! Bunyi getaran benda itu terus terdengar. Kubuka mataku perlahan. Hari mungkin sudah sore.


"EHM...." terdengar suara lirih. Ternyata, Valko kembali menyandar di dadaku. Kedua tangannya masih memelukku dengan erat. DRET! DRET! DRET! Kurasa itu bunyi getaran dari smartphone-ku. "EHM...." Valko kurasa sangat peka dengan suara di sekitarnya meski sedang tertidur. Ternyata smartphone-ku ada di dekat bantalku. "EHM...." kurasa Valko akan terbangun. Oh tidak, jangan sampai dia mengamuk lagi.


Kuambil smartphone-ku dengan tangan kiriku. Tangan kananku membelai dahi Valko. Belaian itu kuperlembut. Sesekali kukecup pelan dahi itu. Daripada dia mengamuk karena tidurnya terganggu. Sebenarnya setiap membelainya atau tidur dengannya seperti ini, jantung kecilku berdetak kencang. Maklum saja aku belum pernah berdekatan secara fisik seperti ini dengan seorang pria. Mau bagaimana lagi, jika ini yang bisa membuatnya diam dan tak mengamuk, maka terpaksa kulakukan saja. Ketenangan dan ketentraman jiwaku lebih berharga.


"EHM...." Valko mengingau sambil memelukku semakin erat. Setidaknya dia masih tertidur pulas.


Kubuka kunci layar smartphone-ku. Ternyata ada pesan chat yang masuk. Bunyi pesan itu : 'Boss, jangan lupa kita ada lauching produk terbaru. Kita butuh Boss berperan di dalamnya. Boss bisa kan datang kemari? 😢 Hari ini? 😢 '. Ternyata sebuah pesan dari karyawanku. Aku lupa jika hari ini jadwal lauching produk terbaru usahaku.


Bagaimana caranya aku pergi ke sana? Kulihat wajah Valko. Jika dia kutinggalkan seperti tadi pagi pasti dia akan mengamuk. Tapi jika dia kubangunkan...hah! Kuhela napasku, bukankah itu sama saja. Jika aku nekat kabur atau pergi diam-diam...jangan! Bukan pilihan yang bagus. Ehm...tapi di perjanjian pra-nikah ada persyaratan bahwa Valko tak boleh membatasi hobi dan minatku. Pekerjaanku ini kan termasuk hobi dan minatku.


"Tu...an...." kucoba membangunkannya perlahan sambil mengelus-elus dahinya. "Tu...an...." sesekali kukecup hidungnya. Aneh memang, tapi tak ada salahnya dicoba. Aku ingin mencoba menjinakkan Serigala ini, hihihi. Aku ingin dia paham, jika belaian lembut dan kecupan di dahi itu artinya boleh tidur. Jika belaian lembut dan kecupan di hidung itu artinya bangunlah Valko. "Tu...an...." panggilanmu kukeraskan. "Tuan Valko...ayo bangun...." panggilku keras tapi manja. "Tuan...ayo bangun!"


"EHM...." terdengar dengusan dari Valko. Matanya mulai terbuka perlahan. "Ada apa, Tupai?" ucapnya dengan malas. Apa yang harus kukatakan?


"Tuan, bangun. Tupai Jelek ini harus pergi bekerja...." sejujurnya aku mengatakan ini dengan rasa takut. "Tupai ini ingin memohon ijin pada Tuan untuk pergi. Tolong ijinkan Tupai Kecil ini pergi sebentar saja, Tuan...." ucapku manja dan memelas. Valko memandangku dengan wajah dinginnya. Dia tak berekspresi.


"Ehm!" ia hanya mendengus. "Berhentilah bekerja!" ia mengeluarkan sesuatu dari dompet di kantong celananya. Astaga, apa itu kartu emas? Kira-kira kartu debit atau kartu kredit ya? Kartu itu ditempelkan di dadaku. "Ehm, pakai ini! Kau bisa berbelanja apa saja dengan ini. Resign dari pekerjaanmu hari ini! Katakan pada bosmu kau sibuk mengurus keluarga!" teriak Valko dengan wajah murka. Benarkan dia tak suka tidurnya diganggu. "Jika kau tak berani mengirim surat resign biar May yang mengurusnya!" dia justru kembali menutup matanya sambil memeluk tubuhku lagi. Valko! Ini bukan tentang uang atau pekerjaan biasa tapi ini tentang impianku. Bagaimana aku harus mengatakannya padamu?


"Tuan, tolong biarkan Tupai Kecil yang lemah ini pergi...." ucapku memelas. Aku bisa saja berdebat dengannya seperti tadi pagi,tapi aku tak yakin itu berhasil lagi sekarang. "Ini bukan soal pekerjaan biasa, Tuan. Ini soal hobi dan minat Tupai Kecil ini. Tuan, apakah Tupai ini tak boleh meraih mimpinya lagi? Tupai ini memiliki usaha kecil yang mungkin tak seberapa tapi usaha kecil itu adalah penyaluran hobi dari jiwa Tupai Kecil ini. Ehm...sepertinya dulu ada perjanjian bahwa tidak batasan bagi hobi dan minat Tupai Kecil yang lemah ini...ehm baiklah jika Tuan tidak mengijinkan mungkin mata Tupai ini yang salah baca perjanjian itu. Mungkin hal ini tak tertuang dalam perjanjian pra-nikah...." aku ingin tahu apa reaksi Valko jika aku mengancam dengan kata-kata perjanjian pra-nikah itu.

__ADS_1


"EHM...." Valko mendengus lagi. Ia sekarang menatapku tajam. "HUH! Mulutmu semakin lihai, Tupai Jelek!" ia bangkit dari tidurnya. "MAY!" teriak Valko kencang. Astaga, kurasa beberapa minggu sekali aku harus rutin memeriksakan telingaku ke dokter mulai sekarang.


"Iya, Tuan...." Sekretaris May segera muncul. Aku heran bagaimana orang-orang seperti Sekretaris May bisa tahan menghadapi Valko


"Siapkan mobil! Aku akan pergi ke tempat usaha Bantal Tidurku!" Valko menatapku lagi. "Cepat bangun! Jangan sampai aku berubah pikiran!" ia memakai jasnya kembali. YES! Syukurlah, aku tak perlu berdebat dengan Valko.


"Tuan!" aku hendak mengembalikan kartu emas itu. Valko justru mencari sesobek kertas dan pulpen.


"Ini pinnya!" ia menyerahkan kertas itu padaku. "Anggap saja hadiah karena kau ternyata berguna bagiku " ia meletakkan kertas itu di telapak tanganku.


Ternyata berguna? Jadi sebelumnya aku dianggap tak berguna? HAH! Aku menghela napas. Sudahlah, anggap saja sebagai tambahan modal bertahan hidup. Kusimpan kartu itu ke dompetku.


Segera kuambil kunci mobilku tercinta dan berjalan menuju garasi. Kubuka garasi mobilku, kumasukkan laptop, buku-buku tebal dan dokumen skripsiku ke dalamnya. Ehm, siapa tahu nanti aku tak pulang ke rumah lagi. Mobilku tercinta, hadiah dari almarhum Opa, aku merindukanmu, Sayang. Mungkin mobil ini tak terlalu mewah seperti mobil Valko. Tapi dia sudah menaniku sejak SMA. Warna cat serta interiornya seluruhnya berwarna pink. Pada bagian jok terdapat bordiran bunga mawar warna putih yamg cantik. BRUM!!! BRUM!!! Kunyalakan mobil itu. Oh Pinky, aku merindukanmu.


"Tuan..." aku malas berdebat jadi sebaiknya kujilat saja. "Mana mungkin Tupai yang lemah ini berani kabur? Tuan sudah memberi kelonggaran bagi Tupai Kecil ini. Tupai ini hanya ingin menyetir mobil sederhana milik Tupai ini, Tuan. Tupai ini rindu pada mobil mungil hadiah dari mendiang kakek. Peralatan skripsi Tupai ini ada banyak berupa buku-buku tebal. Tupai ini takut jika dibawa dengan mobil Tuan maka membuat Tuan tak nyaman karena itu Tupai ini berinisiatif membawanya dengan mobil mungil yang sederhana ini. Kuharap Tuan mengijinkannya...." sinar mata palsu yang memelas ditambah suara manja sengaja kukerahkan.


"MAY!" teriak Valko. "Ambilkan truk dari perusahaan! Bawa mobil milik Tupai Kecil ini. Pastikan sampai di rumah dengan selamat!" ia lalu menarik tanganku masuk ke dalam mobilnya. "Kau ini bantal tidurku! Kau harus harus di sampingku selalu!" Valko dengan santai merebahkan kepalanya di pangkuanku.


"Nona, dimana alamat usaha Anda?" tanya Sekretaris May. Kutunjukan alamatnya leeat aplikasi GPS di smartphone-ku.


"Ambil rute paling jauh! Aku ingin melanjutkan tidurku!" teriak Serigala ini. Apa di otaknya sekarang hanya tidur dan tidur saja? Ya sudahlah, daripada dia berteriak-teriak sepanjang jalan. Tanganku mulai membelai kepala Valko lagi. Dalam waktu singkat dia sudah tertidur pulas. Mengapa Valko sulit tidur? Apa dia memiliki sakit tertentu hingga harus meminum obat tidur? Berbagai pertanyaan mulai beredar di pikiranku.


"Sekretaris May!" panggilku lirih.


"Iya, Nona," Sekretaris May melirikku lewat kaca di depan bagian atas mobil.

__ADS_1


"Ehm...mengapa Tuan Valko mengalami kesulitan tidur? Apa dia memiliki penyakit tertentu?"


"Maaf, Nona. Saya tak bisa menjawabnya. Sebaiknya Anda tanyakan sendiri pada Tuan Valko," sahut Sekretaris May. Sepertinya ada rahasia yang disembunyikan.


"Ehm...," aku ingin bertanya lagi.


"Tuan, Nona, kita sudah sampai," ucap Sekretaris May. Pintu mobil sudah dibukakan. Kuhela napasku, apa setiap kali aku ingin membangunkan Valko aku harus selalu membelainya? Hiks, hal ini semakin membuat tangan mungil dan bibir mungilku ternoda. Bagaimana jika aku mencoba cara lain?


"Tuanku Sayang...." panggilku manja di telinganya. "Ayo bangun....kita sudah sampai...." panggilku lirih di telinganya sambil menggerakkan pangkuanku perlahan-lahan naik dan turun. "Tuan, ayo bangun. Tuanku Sayang, ayo bangun...."


"EHM...." terdengar dengusan Valko. Ia akhirnya bangkit dari pangkuanku. Aku segera turun dari mobil. Sampailah di ruko kecil tingkat dua. Ini adalah ruko pemberian mendiang kakek untukku. Di sinilah mimpiku yang lain mulai kutanam.


"Tuan...." ada apa ini? Mengapa Valko ini tiba-tiba memelukku? Dia memelukku dari arah belakang.


"Kau ternyata mirip dengannya...." bisiknya lirih. "Diamlah sebentar, Tupai. Biarkan aku memelukmu!" nada sedih keluar dari mulutnya. Ada apa ini? Apa dia memiliki kenangan buruk yamg berhubungan dengan usaha yang kurintis? Siapa yang dia maksud mirip?


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2