
"Ehm...ma...af, Valko...." ucapku lirih. "Ma...af...su...dah berteriak padamu. Kau benar pernikahan ini bukanlah mainan...ehm...aku terlalu kekanak-kanakan...." Valko tetap tak menanggapiku. "Maaf atas semua yang terjadi....." kuungkapkan apa yang ada di kepalaku.
Valko tetap mendiamkanku. Apa dia benar-benar marah padaku? 😢 Didiamkan lebih menyeramkan daripada dimarahi.
"Valko..." panggilku. "Aku benar-benar minta maaf, tak bisakah kau meresponku? Kumohon...aku tak memasang wajah palsu kali ini. Aku benar-benar sesuai dengan hatiku...." aku berusaha menjelaskan kondisiku. "Aaaa!" Valko tiba-tiba menarik tanganku. Dia membalik posisi badanku, aku sekarang menyandar padanya.
"Kakimu masih sakit, Tupai!" ucapnya sambil mengangkat kaki kananku.
"Maafkan, aku...." ucapku lagi. "Ehm...bisakah kau memberiku kesempatan untuk ehm...memperbaiki semuanya? Hatiku ini masih bimbang, kau tiba-tiba datang ke hidupku. Aku tentu waspada Valko, apalagi saat malam pertama itu kau hanya menyebutku sebagai mainanmu. Meski kau berkata ingin hubungan ini serius setelah pulang dari makam Kak Vio tapi...tetap saja aku butuh waktu. Aku butuh waktu memastikan semuanya....."
"Anggap saja kita impas, Zeta," ucap Valko. Kepalanya menyandar di bahu kananku. "Anggap saja kita seri, sudah menusuk satu sama lain di masa lalu. Jadi, tak perlu ada rasa bersalah lagi."
"Hatiku masih bimbang, Valko. Tapi kau benar, aku salah. Kau adalah suamiku seharusnya aku milikmu seutuhnya. Tapi mau bagaimana lagi, hatiku ini punya nyawa. Hatiku bukan benda yang mudah dilemparkan ke orang lain begitu saja...ehm...kuharap kau tak marah aku berkata jujur. Aku berani jujur karena kau berkata kau serius dengan pernikahan ini...."
"Kita sudah impas menusuk satu sama lain dan saling mempermainkan. Ya sudah, mulai lagi saja," ucap Valko. "Untuk apa hidup jika masih mengingat masa lalu? Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Masih banyak hari yang masih bisa kita lalui, Zeta," ucap Valko.
Valko, ternyata kau bijaksana ya. Benar juga, kesalahan masa lalu tak bisa dihapus. Aku hanya bisa memperbaiki semuanya di masa depan.
"Ehm...kau benar. Ehm...tapi bisakah kau tak lagi mengusik Kai?" ucapku. Valko melepaskan pelukannya padaku.
"Apa kau melakukan semua ini hanya untuk Kai?" Valko mencengkeram daguku. "Apa di matamu aku sama sekali tak ada nilainya sedikit pun?" Valko menatapku dengan tatapan penuh kemarahan.
"Aku hanya ingin memintamu agar tak mengusiknya lagi. Jika kau mengusiknya pasti aku akan mendengar beritanya cepat atau lambat. Aku ingin kau menjauhi Kai agar aku tak lagi mendengar kabar tentangnya. Sama sepertimu yang butuh waktu menangis selama dua hari untuk proses menerima kenyataan tentang Kak Vio. Aku juga butuh waktu untuk berdamai dengan semua yang terjadi. Sama sepertimu, aku juga punya masa lalu sebelum memiliki status sebagai istrimu. Bedanya masa laluku masih eksis hingga masa sekarang...."
"Baiklah. Aku akan berusaha tak lagi mengusik Kai, tapi jika kau mengulang lagi kesalahanmu. Jangan salahkan aku, jika menghancurkan Kai sampai tak tersisa!" ucap Valko.
__ADS_1
"Aku sudah menjelaskan diriku dan berusaha menjauh dari hal yang bisa membuat kita berkonflik. Sekarang jelaskan tentang dirimu, Valko!"
"Apa maksudmu, Zeta? Kau tahu aku tak punya kekasih lagi, selain Vio," Valko menatapku.
"Lalu kenapa kau membela Vita? Apa dia punya tempat di hatimu?"
"Aku membelanya karena belum ada bukti yang mengarah bahwa dia pelakunya, Zeta. Hanya itu tak lebih!"
"Tapi, Vita menyukaimu, Valko! Mengapa kau tak menyadarinya, hah?"
"Aku suka jika kau cemburu seperti ini," Valko memelukku kembali memelukku dengan erat.
"Siapa yang cemburu? Aku tak cemburu tapi murka! Murka karena kau membela wanita lain di depanku!" teriakku.
"Kalau begitu aku akan meminta maaf padamu, Zeta," Valko mencium pipi kananku.
"Kalau begitu cepat lakukan permintaan maafmu! Aku sudah meminta maaf padamu tadi," ucapku. Aku ingin tahu apa Valko benar-benar bisa mengucap permintaan maaf. "Kau harus meminta maaf karena sudah membela Vita!"
"Baiklah!" bisik Valko.
"Apa yang kau lakukan?" Valko justru mengangkat tubuhku dari bathtub.
Astaga, dia ingin melakuka apa sih? Mataku tetap saja terpejam, aku masih merasa geli saat Valko dalam kondisi seperti ini. Tubuhku kurasa ditutupi dengan handuk.
Apa Valko membawaku keluar dari kamar mandi? Benar,Valko membawaku keluar dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Valko!" teriakku saat dia membaringkanku di atas ranjang.
Tanpa basa-basi Valko langsung melancarkan aksinya. Astaga, Valko! Kau meminta maaf dengan menemaniku bermain di bawah selimut? Sudahlah, lagi pula diriku juga tetap saja terbuai dan tak melawan.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
___________________________________
Terimakasih sudah membaca karya saya 😍
Maaf jika update-nya lama, author butuh waktu untuk mematangkan alur cerita dan menulis sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) 😊
Author tidak berani janji untuk update setiap hari dan jam update yang pasti
Author juga tidak berani melakukan update episode, jika alur belum matang dan penulisannya masih banyak typo karena itu membuat satu episode butuh waktu yang cukup lama.
Author ingin membuat suatu karya yang baik dari segi penulisan dan alur, meski author masih sangat pemula.
__ADS_1