Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 73 - Rutinitas Baru?


__ADS_3

Serangan Valko berhenti, aku sudah ada di pangkuannya sekarang. Dia memangku tubuhku. Pinggangku di genggam dengan erat. Ini saat yang tepat untuk membahas tentang peneror itu. Aku harus segera membahasnya dengan Valko sebelum orang itu beraksi semakin nekat.


"Hubby..." panggilku. "Ehm...ada yang ingin kubicarakan denganmu...."


"Ehm...kau ingin bicara apa?" Valko menatap ke arahku.


"Ehm...ada...." kucoba merangkai kata-kata. Aku harus mengatakan kebenaran, tetapi harus tetap membuat Valko tidak khawatir. Dia kan baru saja pulang kerja, pasti dia lelah.


"Kita sudah sampai, Tuan...." ucap Sekretaris May. Pintu mobil sudah terbuka dari luar.


"Eh! Val...ko...." ucapku spontan.


Valko langsung memggendongku begitu saja. Kaki Valko yang panjang membuat langkahnya begitu cepat. Belum sempat aku protes, tahu-tahu sudah sampai di kamar mandi.


"Ehm....Hubby...." panggilku. Valko sudah mendudukkanmu di dalam bak mandi. Pintu kamar mandi di lantai satu ini ditutup oleh Valko. "VALKO!" teriakku panik. Astaga, apa dia tidak bisa bilang dulu jika ingin melepas pakaiannya.


"Tak usah lebay, Zeta! Sudah, cepat lepas bajumu!" ucap Valko, dia sudah duduk dengan santai di dalam bak mandi, tepat di belakangku. "Ah, kau lama!" tangan Valko mulai menarik-narik kemejaku dari arah belakang. Air hangat mulai terasa mengucur ke dalam bathtub.


"Iya, iya," ucapku sambil melepas pakaianku.

__ADS_1


Apa ini rutinitas baruku setiap Valko pulang kantor? Aku harus menemaninya berendam di dalam bak mandi? Atau lebih tepatnya menemaninya mandi sore? 😦


"Eh!" Valko langsung memegang tubuhku. Tangan kanannya berada di leherku dan tangan kirinya mencengkeram perutku. Tubuhku bersandar di dadanya sekarang. Kepala Valko menyandar di bahu kananku.


"Hah! Rasanya menyenangkan!" ucap Valko. "Aku merasa rileks!" Valko mencium pipi kananku. Aku masih merasa malu jika terjebak dengan Valko dalam keadaan seperti ini. Meski pun ini bukan yang pertama kalinya. "Zeta...sabun...."


"Heh?!" aku tertegun karena bingung.


"Tuangkan sabun cairnya!" perintah Valko.


"Ehm...iya...baiklah...." kulakukan perintah Valko. Sabun cair itu kutuangkan ke dalam bak mandi. Aroma mawar mulai tercium.


"Rasanya menyenangkan!" ucap Valko dengan manja. "Aku punya teman berendam sekarang. Tidak sendirian lagi. Ada yang bisa kupeluk saat butuh kehangatan. Ada yang menemaniku di rumah besar ini. Ada yang membelaiku saat aku letih. Zeta, kenapa ya, kau itu berasa manis...." Valko memberi kecupan di leherku lagi. Pipiku juga tak luput dari serangannya.


"Valko...." panggilku pelan sambil membelai kepala Valko. "Ehm...bagaimana jika kita sudahi berendam ini. Kau pasti lapar setelah bekerja seharian ini. Bagaimana jika kumasakkan makan malam untukmu?" tanyaku sambil membelai kepala Valko.


"Hoahm!" Valko justru menguap. "Ehm...sudah ada koki yang memasak makan malam. Tugasmu itu memanjakan dan menemaniku, Zeta...." ucap Valko. "Elus-elus kepalaku lagi!" pintanya dengan manja. "Aku masih ingin berendam di air hangat," mata Valko kembali terpejam.


"Kau tidak ingin makan cream soup? Ya sudah, kalau begitu...."

__ADS_1


"Aku mau!" mata Valko langsung terbuka begitu saja. "Tapi....sudahlah, lupakan...." aura keceriaan di mata Valko tiba-tiba menghilang.


"Kenapa?" tanyaku sambil membelai kepalanya.


"Aku tak mau kau terluka lagi akibat memasak makanan itu untukku. Dan juga...ehm...itu adalah masakan dari masa laluku...bukankah kita sudah sepakat untuk menutup masa lalu masing-masing? Kau sudah setuju untuk berusaha menjauhi kekasihmu yang dulu. Ehm...akan tak adil rasanya jika aku memintamu memasak makanan dari masa laluku, meski pun aku menyukainya. Itu kan sama saja membuka lagi bayang-bayang...Vi...yo...." ucap Valko.


Valko, kau berpikir hingga sejauh itu, ya? Padahal, aku sama sekali tak merasa terbayangi lagi oleh Kak Vio.


"Itu, hanya makanan, Valko" sahutku sambil tersenyum. "Aku tak masalah jika kau ingin memakannya. Aku tak merasa ada di bawah bayang-bayang Kak Vio. Bukankah aku sendiri yang tadi berinisiatif berbelanja bahan cream soup?" kutatap mata Valko.


"Ehm...." Valko nampak ragu menjawab.


KRUK!!! Terdengar suara perut yang cukup nyaring. Itu suara perut Valko. Hahahaha! 😂 Perutnya bisa juga, ya, berbunyi seperti itu. Aku berusaha menahan tawaku sekuat tenaga. Ini bukan saat yang tepat untuk tertawa, Zeta!


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2