
Bella datang mendekat ke arah meja yang kutempati bersama Valko dan Ricko. Ih, dia pasti ingin memggoda Valko. Hal itu terlihat dari tatapannya yang tajam padaku. Meski cuma sekilas tapi bisa kurasakan aura kebencian dari tatapan itu.
Ih, Bella, kau ini kenapa, sih? Iri bilang dong! Kenapa kau dulu tak mengejar Valko saat dia belum menikahiku? 😑. Bukan salahku jika dia sekarang jadi suamiku. Salahmu sendiri kenapa dulu tak mengejarnya. Kau kan punya kesempatan saat kuliah S2 bersamanya. Aku sudah merasa nyaman dengan Valko. Jika kau ingin mengganggunya, maka kau harus menghadapiku 😐.
"Kursi lain sudah penuh. Bolehkah aku bergabung di sini?" tanya Bella dengan nada bicara menggoda. Dia menatap kursi kosong yang berada tepat di sebelah Valko.
Oh, kau ingin duduk di sana, ya, Bella? Kau ingin duduk di sebelah kiri Valko? Maaf, aku takkan mengijinkanmu. Kulepas tas selempangku.
"Hubby, Sayangku, bisakah kau meletakkan tas ini di sampingmu? Ini tas baru yang kau berikan tadi. Aku takut tas ini akan kotor saat aku makan. Aku sangat menyukai tas ini. Ini akan jadi salah satu tas favoritku, Sayang." Kutatap Valko dengan lembut. Tanganku sudah menyerahkan tas itu padanya.
"Tentu, Honey." Valko mengambil tas itu lalu meletakkan di kursi sebelah kirinya. "Aku bahagia jika kau suka pada benda yang kuberikan."
"Hubby," panggilku dengan manja. Kudekatkan kursiku ke dekat Valko. Lengan kanan Valko kurangkul dengan erat. Kepalaku meyandar dengan manda di lengannya. "Aku selalu suka barang yang kau berikan. Terima kasih, Sayangku."
Mataku sedikit mencuri pandang ke arah Bella. Dia nampak mengepalkan tangannya. Meski samar, raut wajah kemarahan nampak dari matanya. Aku takkan kalah dengan pemgganggu. Maaf, ya, aku bukan tipe wanita yang mudah ditindas oleh pelakor 😜.
"Varko, kursi di sebelahmu kosong. Bisakah aku duduk di sana?" tanya Bella.
Ih, jadi dia belum menyerah rupanya.
"Kursi ini sudah dipakai untuk meletakkan tas favorit istriku. Maaf, Bella," sahut Valko.
"Tapi, tas kan bisa ditaruh di lantai atau meja! Kenapa juga tidak dipangku? Kan tasnya kecil!" protes Bella.
Ih, dia sungguh menyebalkan.
"Itu tas kesayanganku. Tas itu juga baru saja diberikan Hubby-ku Tercinta. Aku takut jika kotor jika ditaruh sembarangan. Mungkin Valko bisa memberikannya lagi, tapi aku sangat menghargai setiap pemberiannya," sahutku lirih. "Hubby, Sayang-ku," panggilku sambil menatap Valko. Genggaman pada lengan Valko semakin kueratkan. "Apakah aku salah jika berusaha menjaga barang yang kau berikan sebaik mungkin? Kau mungkin bisa memberikannya lagi tapi aku menghargai setiap kasih sayang yang berikan lewat benda itu karena itu aku berusaha menjaganya sebaik mungkin."
"Tentu, tidak, Honey. Aku justru bahagia dengan hal itu." Valko membelai kepalaku.
"Kalo begitu biarkan tas itu di situ, Hubby. Jangan dipindah, please!" Kutatap Valko dengan tatapan memelas.
__ADS_1
"Tentu, jangan khawatir." Valko menatap ke arah Bella. "Kau bisa duduk di samping Ricko. Ada kursi kosong di sampingnya. Jika kau ingin bergabung denganku!"
"Terima kasih, Varko!" sahut Bella lirih. Dia duduk di samping Ricko. Matanya terus menatapku.
"Silahkan, Tuan, Nyonya," ucap pelayan yang datang menghampiri.
Rupanya ini jamuan makan malam. Para pelayan berpakaian tuxedo warna hitam sibuk menghidangkan makan. Menu yang dihidangkan rupanya steak. Aroma steak ini sungguh menggoda. Valko nampak mulai memegang sendok dan garpu. Kulepaskan genggamanku di lengannya. Kurasa ini waktunya makan. Oh, steak tercinta siap-siaplah masuk ke perutku.
"Aku jadi ingat waktu kita kuliah di Eropa, Varko!" terdengar suara Bella. Suara itu membuatku jadi tak nafsu makan. Kulirik ke arahnya. "Kita sering dinner bersama sepulang kuliah, Varko. Ah, sungguh masa-masa yang indah dan tak terlupakan. Kau selalu menjemputku untuk dinner." Bella mengeraskan suaranya.
Bella sungguh menyebalkan. Dia pasti ingin memanas-manasiku saja. Memantik bara api dengan kenangan lama. Dinner bersama bukan berarti punya hubungan khusus. Bisa saja kau diajak hanya karena Valko tak punya teman untuk diajak makan.
"Apa kau masih ingat itu, Varko?" tanya Bella.
"Ya, aku ingat," sahut Valko.
Valko, kenapa sih kau harus menanggapi Bella. Huh, kau menyebalkan. Jika kutunjukkan rasa cemburuku dengan pergi begitu saja seperti di film-film, pasti akan membuat Bella kegirangan. Itu menunjukkan jika aku cemburu dan tak bisa mengalahkannya. Bella, lihat pembalasanku.
"Kenapa kau tak makan, Honey?" tanya Valko. "Kau tak suka menunya?"
"Ehm, bukan aku suka. Hanya saja tubuhku masih terasa lemas dan kurang bertenaga untuk menggerakkan pisau dan sendok. Butuh tenaga yang cukup kuat untuk memotong daging steak ini."
"Kenapa kau tak bilang? Sini, kusuapi!" Valko mulai menyuapiku. Dia memotongkan daging steak itu.
Hihihi, ini di luar rencanaku. Padahal tadi aku hanya ingin memotong pembicaraan antara Valko dan Bella saja. Bella nampak melirik dengan tatapan tak suka. Tak seru jika tidak kuladeni dia sampai akhir.
"Hubby, aku penasaran. Bolehkan aku bertanya sesuatu?" tanyaku setelah potongan steak itu kutelan.
"Apa? Katakan saja." Valko hendak menyuapkan steak padaku.
"Apa menu dinner di restoran yang diceritakan Kak Bella? Sepertinya menunya lezat."
__ADS_1
"Hanya makanan western biasa. Memangnya kenapa?"
"Aku jadi ingin makan di sana. Pasti menunya lezat. Kak Bella begitu bersemangat saat menceritakan kisah itu. Makanan yang lezat selalu tergiang meski tahun telah berlalu. Bisakah kau mengajakku ke sana, Sayangku?"
"Kau memberiku kode untuk pergi ke Eropa?" tanya Valko.
"Ehm, ya, begitulah. Kau belum menepati janjimu untuk mengajakku pergi honeymoon. Terakhir kali kau bilang begitu, kita hanya pergi mengunjungi Kakek dan Nenekmu. Hubby, kau tak lupa dengan ucapanmu kan?" ucapku dengan nada manja. Kugenggam kembali lengan kanan Valko.
"Iya, nanti kubawa kau ke sana, Honey. Tenang, aku tak lupa dengan ucapanku. Aku pastikan kau akan mendapatkan honeymoon yang tak pernah kau lupakan seumur hidupmu," sahut Valko.
Hihihi, aku hanya ingin membalas Bella saja. Tapi, jika Valko benar-benar membawaku pergi ke Eropa itu tak masalah. Itu akan menjadi bonus besar untukku 😆.
"Wah, nampaknya dansa sudah akan dimulai!" terdengar suara Bella lagi. Ucapannya membuat Valko menatap ke arah yang dimaksud Bella.
Nampak Tyo dan Vina sudah berada di tengah ruangan. Astaga, mereka benar-benar mirip seperti pangeran dan Cinderella saja. Tyo memakai kostum seperti semacam setelan jas warna biru muda. Vina memakai gaun yang dibuat amat mirip dengan gaun Cinderella. Keduanya sama-sama memakai mahkota.
"Kak Licko, maukah kau menjadi pasangan dansaku?" Bella menatap ke arah Ricko. Ricko mengganggukman kepalanya. Bella menatap ke arahku. "Ayo, Varko! Ayo kita ikut ke sana! Kau tak keberatan kan? Aku yakin Zeta juga ingin ikut berdansa bersamamu."
Dasar Bella! Kau menantangku, ya? Huh! Kuterima tantanganmu! 😐
________________________________________
Terima kasih sudah setia membaca, memberi like, vote dan komentar pada novel saya 😍
Mohon maaf selama kurang lebih dua bulan ke depan novel ini hanya akan update setiap hari Sabtu 😊
Hal itu karena author sedang fokus mengejar target wisuda tahun ini 😁
Mohon doanya ya agar author diberi kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi 😊
Mohon doanya juga semoga bulan ini bisa selesai dalam menyusun skripsi 😄 dan semoga bisa segera sidang dengan lancar dan tak banyak revisi 😊
__ADS_1
Thank you 😍