Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 5 - Perhatian?


__ADS_3

"Tu...an...." aku memberanikan diri berbicara. Mobil ini masih terus melaju. "Ehm...kemana kita akan pergi?" tanyaku lirih.


"Diam!" balasnya ketus. "Diam, dan jangan melawan!" dia justru semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungilku yang dipangkunya.


"Tuan, kita sudah sampai," ucap Sekretaris May. Aku hendak bangkit berdiri untuk keluar. Tapi....


"Kau takkan bisa kabur, Tupai Kecilku! " Valko menggendongku lagi dengan erat. Saat aku keluar mataku kagum. Dia membawaku ke sebuah butik yang mewah. Para pelanggan wanita di sana langsung menoleh ke arah Valko. Kurasa mereka terperangkap oleh ketampanan palsu itu. "Dimana pemilik butik ini?!" teriak Valko. BRUK!!! Aku dijatuhkan ke sebuah bean bag warna kuning.


"Tuan Valko!" sapa seorang wanita paruh baya dengan blazer warna ungu violet cetar. "Suatu kehormatan Anda datang kemari! Biarkan yang rendah ini melayani Anda!" ia menjilat dengan sangat baik. Kurasa dia adalah desainer pemilik butik ini.


"Buatkan Tupai Kecil ini dan aku sepasang piyama dengan warna yang berbeda-beda!" teriak Valko sambil menunjuk ke arahku. WHAT? Dia membuatkanku piyama yang serasi dengannya? "Aku ingin dibuat dengan bahan kain sutra terbaik. Pilihkan juga Tupai Kecil ini pakaian harian yang dapat membuatnya tampil lebih anggun. Aku ingin pakaian itu dari bahan yang lembut dan enak dipeluk...."


"Ba...ik, Tuan!" sahut desainer itu. Para pegawai wanita mulai sibuk mengukur ukuran badanku.


"Apa kau memiliki produk kecantikan untuk wanita?" ucap Valko dengan tatapan dingin.


"Tentu, Tuan. Toko kami memang sederhana tapi sangat lengkap. Anda ingin produk kecantikan seperti apa?"


"Aku ingin shampo, sabun, parfum, dan perawatan kulit dalam aroma lavender untuk Tupai Kecil itu. Pastikan produk itu tak membuat kulitnya alergi dan rambutnya yang berharga rontok!" Valko menatapku dengan dingin. Kata-kata 'rambut yang berharga' membuat telingaku berkedut. Ini perhatian atau apa sih sebenarnya? "Oh ya, mandikan dan rawat Tupai Kecil itu. Rawat dan bersihkan rambut serta kulitnya!"

__ADS_1


"Baik, Tuan!" desainer itu mendekatiku. Dia menggosok pipiku dengan telunjuknya cukup keras. "Ckckck! Nona, apa yang kau lakukan? Kau membuat kulitmu yang indah bak porselin tertutup hingga menjadi gosong seperti ini? Jangan khawatir, aku akan membuat Tuan Valko terpesona padamu!" desainer itu tersenyum.


Kulit gelap ini adalah tameng perlindunganku darinya, Tante. Aku hanya bisa pasrah menjalani prosesi pembersihan perlindunganku. Mulai dari spa, message, lulur, menicure, pedicure, facial, hingga creambath pasrah kujalani. Hiks, habis sudah tameng perlindunganku dari Valko. Wajahku dibiarkan polos tanpa make up, hanya diolesi pelembab bibir saja. Rambutku dibiarkan terurai. Kostumku diganti menjadi sweater warna ungu lavender dan celana kain pensil warna hitam. Aroma lavender yang menyengat tercium dari tubuhku. Mengapa jadi begini? Ini sama saja aku disajikan pada Serigala Playboy itu! Saat aku keluar dari butik diantar oleh desainer, nampak Valko memandangiku cukup lama. Ia menarikku kasar agar masuk ke mobil.


"Mulai sekarang aku akan mengawasi segala produk perawatan tubuhmu, Tupai Kecil!" Valko mencengkeram daguku. "Jangan pernah memakai make up aneh itu lagi atau make up lainnya!" ia menyentil dahiku. Hiks, sakit! Aku hanya diam tertunduk sambil memegangi dahiku.


"Tu...an...." tubuhku sudah berada di pangkuan Valko lagi. Dia memelukknya erat sambil menghirup-hirup aroma rambutku. Hiks, sungguh kasihan tubuhku yang murni dan berharga ini. Mobil berhenti kurasa kami sudah sampai di rumah Valko. Aku hendak berdiri tapi Valko justru menggendongku.


"Kumpulkan semua pelayan dan pengawal!" perintah Valko kepada Sekretaris May. Valko duduk dengan angkuh di sofa coklat ruang tamu sambil memangkuku. Nampak para pelayan wanita, koki dan pengawal berkumpul. Jumlahnya kurasa lebih dari 20 orang. Banyak juga pelayan yang dimiliki Valko. "Dengarkan aku! Mulai hari ini kalian semua bertanggungjawab atas keselamatan dan kesehatan Tupai Kecil ini!" ucap Valko. "Aku ingin Tupai Kecil ini selalu dalam kondisi bersih, sehat, aman dan wangi! Aku tak ingin mendengar kabar buruk sedikit pun tentang Tupai Kecil-ku ini. Jika dia sampai kotor, sakit, tergores, hilang atau terluka...aku sendiri yang akan menghukum orang yang menyebabkan itu terjadi! Kalian paham?!" ucap Valko.


"Paham, Tuan!" jawab mereka dengan kompak. Dia memperlakukanku seolah-olah aku adalah makhluk peliharaan atau benda yang dapat diperlakukannya sesuka hati. Hiks, mengapa jadi seperti ini?


"Tuan!" sahutku setengah berteriak. "Saya tak bisa ikut ke kantor setiap saat!"


"Kenapa? Kau Tupai Kecil yang berstatus istriku! Orang tuamu takkan protes jika aku membawamu kemana pun semauku!"


"Saya harus mengerjakan skripsi, Tuan. Jika skripsi saya tak selesai bagaimana tanggapan Tuan Wijaya nanti? Saya merasa terhormat sekali bisa menemani Tuan ke kantor. Tapi jika skripsi saya tak selesai, akan menuai cibiran dari Tuan Wijaya. Saya takut itu akan membebani Tuan...." kugunakan nama kakek itu untuk mengancam Valko. Dia tak berkutik, kurasa dia tak bisa mengelak kali ini.


"May, buat satu regu khusus untuk mengawal Tupai Kecil ini saat mengerjakan skripsi!" astaga, sial! Valko justru tambah menggila. "Carikan juga dosen atau apa pun yang bisa membimbing Tupai Kecil ini cepat menyelesaikan skripsinya! Panggil Bibi Ann, mulai sekarang dia akan melayani dan menemani Tupai Keci ini kemana pun dia pergi saat mengerjaka skripsi! Intinya aku tak mau Bantal Tidurku terluka atau tergores sedikit pun!"

__ADS_1


"Baik, Tuan!" Sekretaris May mengundurkan diri .


"Aku takkan membiarkanmu berkeliaran sendirian, Tupai Kecil! Kau adalah bantal tidurku dan hanya itu alasanku perhatian padamu! Jangan berharap lebih! Kau mengerti?!"


"I...ya, Tuan, saya paham...." aku menjawab sambil menggangguk. Syukurlah jika dia mengganggapku begitu. Masih ada sedikit celah bagiku untuk melarikan diri.


DRET! DRET! DRET! Smartphone dalam sakuku bergetar. "Your love is calling! Your love is caling! Your love is calling!" terdengar suara dari ringtone yang kupasang. Mampus, aku lupa mengganti ringtone itu. Saat aku hendak meraih smartphone di sakuku....


SRET!!! Tangan dingin nan kasar sudah mengambilnya. "Your love is calling! Your love is caling! Your love is calling!" Sial, ringtone itu masih berbunyi. Pada layar nampak wallpaper gambar hati berwarna merah dengan tulisan kontak My Love. Mampus aku! Itu nama samaran untuk Kai, pacarku. Wajah Valko nampak murka. Aura dingin menyeramkan terasa.


"Apa kau masih memiliki kekasih di belakangku?" tanyanya dingin. Apa yang harus kulakukan sekarang? 😢


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2