
"Ka...kai...." ucapku spontan.
"Ada apa?" ucap Valko. Dia melirik ke arah belakang sama seperti yang kulakukan. "Huh, ternyata dunia ini sangat sempit, ya. Ayo, maju!" ucap Valko ketus. Raut wajahnya berubah drastis. Tatapan matanya sangat tajam.
Valko memegang tanganku sangat erat. Dia menarikku maju ke arah depan. Kenapa sih aku harus bertemu Kai di sini? Jangan-jangan dia kenalan sahabat Valko. Duh, dunia ini benar-benar sempit seperti butiran pasir. Setelah cukup lama berbaris mengantri, tiba giliranku dan Valko untuk menjalani pemeriksaan. Valko nampak menyerahkan suatu kartu kepada penjaga itu.
"Tuan Valko," ucap salah satu penjaga itu. "Maaf sudah membuat Anda menunggu. Mari silahkan langsung masuk saja. Kedatangan Anda sudah dinanti oleh Tuan Tyo," ucap penjaga itu.
"Ehm...." sahut Valko. Valko memegang tanganku dengan erat. "Jaga tatapanmu, Zeta. Jangan macam-macam! Atau, kau akan mendapat hukuman dariku nanti malam!" bisik Valko.
Valko, kau mengancam atau sedang modus, sih. Aku sudah bisa menebak seperti apa hukumanmu. Jika kau menghukumku dengan cara seperti itu. Itu namanya kau sengaja minta jatah, bukan menghukumku, tahu! 😧.
Sudahlah, lebih baik aku menuruti perintahnya. Apalagi di sini juga ada Kai. Aku harus menjaga agar Valko dan Kai tak saling berkontak. Penjaga itu membawaku dan Valko memasuki area tempat acara berlangsung. Mataku langsung takjub pada kemegahan dekorasi pesta pernikahan ini.
Konsep dekorasi acara itu bertema warna putih. Nampak bunga-bunga warna putih serta batu kristal warna putih dirangkai menghiasi langit-langit tempat acara ini berlangsung. Dindingnya juga dihias dengan meriah. Ratusan bahkan mungkin ribuan bunga mawar warna putih memenuhi dinding tempat acara itu digelar. Karpet merah menghampar menuju ke arah pelaminan.
Penjaga itu terus memanduku dan Valko melewati karpet merah itu. Mataku tetap saja tak bisa berhenti mengagumi dekorasi pernikahan ini. Di sebelah kiri dan kanan karpet merah ini nampak berbagai jenis makanan tersaji. Nampak para koki memasak secara langsung hidangan untuk para tamu. Koki-koki itu bahkan memasak dengan beratraksi. Sempat kulihat seorang koki lelaki yang melakukan atraksi memasak dengan memainkan wajan. Pada wajan itu nampak api yang menyala. Para tamu nampak berkerumun di sana.
"Wah, dia hebat sekali!" ucapku takjub.
"Zeta!" terdengar suara dingin. Valko menatapku tajam.
"Ah, aku memuji penyanyi wanita itu, Hubby. Dia hebat sekali. Suaranya sangat merdu!" ucapku. Untung saja di dekat pelaminan ada panggung musik lengkap dngan band pengiring. Di sana ada seorang penyanyi wanita yang sedang bernyanyi.
"Oh begitu, jika kau suka, kau bisa mengundangnya ke rumah besok," ucap Valko.
Syukurlah, Valko percaya ucapanku. Mataku kembali mengagumi dekorasi pernikahan ini. Astaga, bahkan ada patung es. Nampak di meja tempat gelas-gelas minuman tersaji, ada sebuah patung es yang berdiri dengan megah. Patung itu berbentuk sepasang pengantin. Kurasa itu menggambarkan Tyo dan pasangannya.
Astaga, ada juga air mancur coklat. Nampak air mancur kecil tingkat empat. Air mancur itu mengalirkan coklat cair. Para tamu nampak sibuk mencelupkan cemilan ke dalam air mancur itu. Ih, jadi ingat dengan dekorasi pernikahanku dan Valko. Dulu juga ada air mancur coklat tapi aku bahkan tak berminat mencicipinya. Aku tak punya selera makan karena dulu masih sangat membenci pernikahanku dengan Valko.
__ADS_1
"Ck! Dasar Tyo, dia memang suka meniruku. Sikapnya tak berubah sejak dulu. Bahkan dekorasi pernikahannya pun mirip denganku. Ada air mancur cokelat dan patung es juga. Padahal seingatku dulu aku tak sempat mengundangnya. Dia memang peniru yang ulung, hahaha. Jika dia saudaraku mungkin lebih cocok menjadi kembaranku," celetuk Valko.
"Aku ingat! Kau malah membuat patung es berbentuk serigala di pernikahan kita. Valko, dekorasi macam apa itu!" ucapku ketus.
"Kau ingat juga, ya! Jangan marah, Zeta. Bukankah kita sudah sepakat berdamai dan melupakan masa lalu, Sayangku. Jika kau ingin patung es, aku bisa membuatkannya lagi untukmu. Bahkan jika kau meminta yang sebesar rumah pun bisa," ucap Valko.
"Sudahlah lupakan, lagipula waktu itu aku juga berbuat salah. Aku sengaja membuat kulitku nampak lebih gelap. Make up-ku sengaja kubuat jelek," ucapku jujur.
"Kalo begitu kita impas, Tupai Kecilku Tercinta!" ucap Valko.
"Tentu saja, Tuan Serigalaku Tersayang," bisikku di telinga Valko. Rasanya lucu, bisa menertawakan masa lalu bersama Valko.
"Mohon tunggu sebentar, Tuan," ucap pengawal itu.
Di hadapanku nampak pelaminan yang megah. Pelaminan itu dihiasi dengan bunga warna putih. Di depan pelaminan itu nampak air mancur kecil yang dikelilingi bunga-bunga warna putih. Di pelaminan itu nampak Tyo dengan balutan jas putih. Seorang wanita memakai gaun putih ada di samping Tyo. Keduanya sedang berfoto dengan tamu undangan lain. Para tamu undangan nampak sibuk antri untuk bersalaman dengan mempelai.
"Makasih sudah datang, Bro!" ucap Tyo sambil memeluk Valko. "Makasih juga buat hadiahnya. Bisa jadi mainan baru buatku, hahaha!" celetuk Tyo.
"Sama-sama, Bro. Jangan lupa kapan-kapan mampir ke kantorku naik itu, kutunggu kedatanganmu. Tapi, kau yang harus menyetirnya sendiri, hahaha!" balas Valko.
Valko, candaanmu membuat jiwa missqueen-ku meronta, tahu. Helikopter hanya disebut sebagai mainan. Kau bahkan menyuruh Tyo datang ke kantormu naik helikopter dan menyetirnya sendiri.
"Belvi!" panggil seseorang. "Kau Belvi kan?" panggil mempelai wanita itu. Aku mencoba mengenalinya.
"Astaga! Cynthia! Kau Cynthia kan?" ucapku spontan.
"Ah! Lama nggak ketemu!" ucap Cynthia. Siapa sangka ternyata mempelai wanitanya adalah teman akrabku sewaktu SMP.
"Kalian saling kenal?" tanya Tyo.
__ADS_1
"Iya, dia teman SMP-ku!" sahutku.
"Kita sobat dekat!" ucap Cynthia.
"Wah,ternyata kamu nikah sama sahabatnya Tyo, ya! Duh, nggak nyangka aku bisa ketemuan di sini! Aku kangen banget! Kita udah lama loss contact!" celetuk Cynthia.
"Hem...reuniya nanti lagi. Kasihan para tamu lain. Tyo, ayo kita berfoto!" ucap Valko.
Valko pun menempatkan diri di samping Tyo. Aku menempatkan diri di samping Cynthia. Cahaya flash dari kamera menerpa wajahku beberapa kali.
"Ayo, Zeta! Kita turun. Kau bisa berbincang dengan Cynthia lain waktu," ucap Valko sambil menggandeng tanganku. Aku dan Valko pun turun dari atas pelaminan itu.
"Kau mau makan apa, Zeta? Ayo kita cari makanan lokal saja sesuai seleramu," ucap Valko. Ah, Valko, kau memang pengertian. Hihihi, dia tahu saja jika aku sudah lapar lagi. Valko menggandengku menuju ke stand makanan lokal. "Kau tunggu di sini saja, Zeta. Biar kuambilkan makanan untukmu," ucap Valko. Ah, Valko, kau memang sangat pengertian.
"Zeta!" terdegar suara seseorang. Bahuku kananku serasa ditepuk. Aku pun berbalik ke arah belakang. Nampak seorang pria berdiri di sana.
"Ka...kai...." ucapku spontan.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍
__ADS_1