
"Kau menyimpan baju berukuran besar di lemarimu? Ini masih baru! Label harganya bahkan belum dilepas. Ini lumayan mahal, Zeta!" Valko menatapku. "Jangan-jangan ini dulu hadiah untuk mantanmu yang itu ya!" Dia menatapku semakin tajam.
Valko, kenapa sih pikiranmu negatif thinking terus. Aku punya koleksi baju bukan berarti itu untuk mantanku. Astaga, dia menatapku semakin tajam.
"AU!" teriak Valko saat kucubit tangan perutnya dengan keduanya tanganku. Aku malas berdebat saat malam hari seperti ini. "Zeta sakit!"
"Jangan negatif thinking terus! Ini adalah baju koleksiku! Lihat ini!" Tanganku mengeluarkan sebuah album yang ada di lemari itu. "Lihat!" Tanganku menunjuk ke sebuah foto seorang pria yang memakai baju yang sama dengan baju yang kuberikan ke Valko. Valko mengamati pria itu dengan tatapan tajam.
"Dia artis K-Pop idolaku, Valko. Aku suka mengoleksi baju atau outfit yang dikenakan idolaku. Semua hoodie dan kaos ini adalah koleksiku. Bukan hadiah untuk mantan, tahu! Jadi, buang jauh-jauh pikiranmu itu! Sini! Kalo kau tak mau memakainya juga tak masalah." Kuambil kaos itu lagi. "Aku mau tidur dengan AC." Tanganku menyalakan AC yang ada di kamarku dengan remot.
"Kau tega membiarkanku kedinginan? Aku kan hanya bertanya, Zeta. Kenapa kau jadi marah?" Valko menatapku lagi. Aku menghela napas. Dia yang marah duluan padahal.
"Sudahlah, sini kupakaikan!" Kupakaikan kaos itu ke badan Valko setelah memotong label mereknya dengan gunting. Baju itu pas di badan Valko.
"Sudah, ayo tidur!" Valko menggelar selimut menutupi seluruh kasur. "Kau tidur di pojokan dekat dinding, di sana! Aku akan di sini, jaga-jaga agar kau tak jatuh ke bawah." perintah Valko. Padahal aku ingin tidur di tepian. Sudahlah, lebih baik mengalah saja. "Sepertinya tempat tidur kita di rumah juga perlu dibuat nempel ke tembok. Aku tak ingin jika sampai kau jatuh dari tempat tidur. Itu bisa berbahaya bagimu dan calon anak kita. Sudah, ayo tidur! Akan kumatikan lampunya." Valko menyelimuti tubuhku. Dia mematikan lampu, kamar ini remang-remang, tinggal cahaya dari lampu kecil yang ada di atas laci dekat tempat tidur. Aku tidur dalam posisi terlentang. Mataku menatap ke arah atas. Nampak tempelan sticker glow in the dark yang kusengaja kutempel. Sticker berbentuk bintang-bintang.
"Ayo, tidur, Zeta. Kau perlu istirahat!" perintah Valko.
"Aku belum ngantuk!" Kuambil smartphone-ku yang ada di atas laci. "Eh, VALKO!" protesku. Valko langsung mengambilnya dan mematikannya.
__ADS_1
"No Smartphone! Aku tak mau ada benda kotak saat kita sedang berdua. Apa kau melihatku memegang smartphone daritadi?" Valko menatapku. Aku menggeleng. "Jika tidak penting jangan mainkan benda kotak itu di depanku. Aku juga tak main benda kotak itu kan daritadi. Sudah tidur!"
"Aku belum ngantuk! Biarkan aku nostalgia sebentar dengan kamarku." Mataku menatap sticker bintang-bintang glow in the dark yang menyala kehijauan di langit-langit kamar. "Valko, apa di rumah baru kita ada rooftop? Aku jadi ingat impianku dulu. Aku ingin tidur sambil menatap bintang di langit bersama suamiku. Impian yang konyol ya?"
"Impianmu sederhana sekali, Zeta. Tenang, kau mau seperti itu setiap hari juga bisa. Aku sudah menyiapkan rooftop dengan kolam renang di rumah kita. Kau itu sederhana ya impiannya. Jika wanita lain mungkin akan minta di ajak pergi ke luar negeri."
"Hubby, apa impianmu saat ini?"
"Impianku? Aku hanya ingin hidup tenang denganmu, anak kita, ayah dan kakek nenekku."
"Hidup tenang? Kau tak punya ambisi lain kah? Membangun perusahaan lagi? Ekspansi bisnis ke luar negeri?" Aku berbaring menghadap ke arah Valko.
"Kenapa kedengarannya lucu ya, jika kau yang menanyakannya. Tentu saja ada, tapi untuk saat ini, aku ingin sedikit rehat sejenak. Aku ingin menikmati waktuku bersama keluargaku. Apalagi kau sedang seperti ini. Kau mau kutinggal-tinggal ke luar kota atau luar negeri?"
"Nah, karena itu. Aku ingin rehat sejenak. Lagipula bisnis yang sekarang sudah cukup bagus. Ck! Kenapa jadi membahas bisnis, sih! Zeta, ini quality time kita berdua. Jangan membawa-bawa pekerjaan!"
"Ya sudah! Kau jadi gulingku saja malam ini!" Valko kupeluk.
"Kapan aku tidak menjadi gulingmu? Aku setiap malam di sampingmu kan. Zeta kecilku suka dipeluk."
__ADS_1
"Valko, kau tahu? Aku dulu suka berkhayal ingin punya suami tampan seperti idolaku, berbadan atletis dan bisa kujadikan guling. Apalagi waktu liat para idolaku terlihat tampan di music video. Rasanya pengen meluk mereka."
"Bagaimana sekarang? Apa aku sesuai dengan kriteriamu?" Valko menatapku dengan lembut.
"Sesuai kok!" Jawabku sambil tersenyum. Sesuai meski pun aku sedikit risih dengan sifat over protective dan pencemburumu, Valko.
"Nampaknya aku sudah benar-benar mendapatkanmu, Zeta!" Valko menciumku.
"Apa maksudmu? Kau masih meragukanku?"
"Bukan itu maksudku. Kau tahu perbedaan rasanya hanya memiliki dan rasanya benar-benar mendapatkan?"
"Jangan membuatku pusing, Valko! Ini sudah malam!" protesku.
"Yang kumaksud adalah hatimu. Aku mungkin bisa memilikimu dalam status sebagai pasanganku. Tetapi jika belum memiliki hatimu, apa pun yang kulakukan belum tentu bisa kau rasakan juga. Jika aku sudah mendapatkan hatimu, kau pasti punya perasaan padaku dan rasa percaya. Bahkan hal-hal kecil pun kau ceritakan padaku."
"Ehm ... aku hanya menceritakan apa yang ada di kepalaku. Jika kau bertanya apa yang ada di hatiku. Rasanya aku tak mau kau hilang. Awalnya aku terpaksa menerima semua ini. Jujur, aku takut dan tak suka, tapi ternyata kau baik dan tak seburuk yang kubayangkan."
"Begitu ya? Aku lega mendengarnya. Sudah tidur, ini sudah malam! Si kecil di perutmu perlu istirahat."
__ADS_1
"Iya, iya." Kupandangi wajah Valko. "Hubby, ayo main make up. Aku ingin merias wajahmu, hehehe."
"Astaga, Zeta! Kenapa permintaanmu makin rumit, saja!"