
BRAK!!! Terdengar suara benda ditendang. Dia menendang pintu sebuah kamar dengan kasar. Tunggu, ini kamar abu-abu tadi. BRUK!!! Tubuh mungilku dibanting di atas kasur. Tatapan dingin mata Valko sungguh mengerikan. Dia ada di ujung ranjang, wajahnya terlihat murka. Kedua tangannya menopang tubuhnya di depan. Aku benar-benar merasa seperti seekor tupai kecil di ujung tanduk. Rasanya predator benar-benar ingin memakanku habis-habisan. Sial, mengapa tubuhku jadi dingin dan kaku begini. BRAK!!! Valko melempar jasnya ke lantai. Ia perlahan merayap naik ke atas ranjang. Tatapannya mengerikan seperti seekor serigala yang ingin memangsa seekor tupai. SREK!!! Ia melepas dasi merahnya. Tubuhku benar-benar dingin dan kaku sekarang. Apa ragaku benar-benar akan dimangsa Serigala ini sekarang? 😣
"Tupai Kecil!" Valko naik ke atas ranjang. Aku berusaha bergerak ke samping untuk menghindarinya. BRUK!!! Dia seperti melompat.
"AAAA!!!" teriakku ketakutan. Hiks, Valko sudah ada di atas tubuhku. Tubuh mungilku yang terlentang ditindih oleh tubuhnya.
"BERANINYA KAU KABUR!!!" ia mencengkeram daguku. "AKU SUDAH TERLALU BAIK PADAMU...DASAR TAK TAHU BALAS BUDI!" ucapnya. Kalimat itu membuatku naik pitam. Telingaku memerah mendengarnya. Tak tahu balas budi? Kau membuatku kelaparan. Entah mengapa rasanya aku ingin berteriak!
"AKU LAPAR! VALKO! LAPAR! " teriakku sangat kencang seolah bisa meruntuhkan dinding rumah. Kutatap mata Valko yang nampaknya kaget mendengar teriakanku. "AKU LAPAR, VALKO! AKU BUTUH MAKAN! AKU KELAPARAN SEJAK SEMALAM!!!" kulampiaskan segala keluh kesahku. Kurasa sekarang mukaku cemberut. Entah mengapa aku sudah tak takut lagi pada Valko. Dia mengendurkan cengkeramannya di daguku. "Pelayanmu mengunciku di kamar ini! Aku lapar, Valko!" baru kusadari jika aku berani menyebut namanya langsung sekarang. "Apa yang bisa kulakukan? Aku lapar dan ingin makan! Hanya itu saja!" aku tetap berteriak padanya. Jika dia berani memukulku maka aku akan kabur dari jendela lagi dan pulang ke rumah orangtuaku dengan taksi online!
"MAY!" teriak Valko, dia turun dari atas tubuhku.
"I...i...ya, Tuan," Sekretaris May masuk ke kamar. Kurasa ia ketakutan.
"Pulangkan Bibi Ann ke desanya, beri dia gaji terakhir dan juga pesangon!" ucap Valko. WHAT? Apa dia memecat Bibi Ann? Dia memecatnya karena aku?
"Tu...an..." ucapku lirih. Aku harus menghentikan kegilaan Valko.
"DIAM!!!" ia justru memeluk tubuhku dari arah belakang. "Aku butuh istirahat!" ucapnya lirih. Saat kulirik ternyata dia sudah tertidur. Hiks, mengapa jadi begini? Apa yang harus kulakukan sekarang?
Tunggu, jika aku bisa mencegah Valko memecat Bibi Ann, maka para pelayan dan penjaga di rumah ini akan mengganggap statusku istimewa. Aku akan memiliki pengaruh di kalangan para pelayan dan penjaga. Bibi Ann adalah pelayan senior, dia termasuk orang yang berpengaruh. Mungkin kesempatan ini dapat menjadi investasi di masa depan. Tapi bagaimana cara membujuk Serigala Gila ini? Suatu ide gila terlintas di pikiranku. Jika ide ini gagal paling Valko hanya akan berteriak dan memakiku. Jika dia mengusirku karena ide gila ini kurasa dia takkan bisa tidur nyenyak. Jadi, aku tak mungkin diusir.
Aku pun membalik badanku ke arah Valko. "Tu...an...." panggilku lirih di telinganya. Kuerat pelukanku pada tubuhnya. Kepalanya bersandar di dadaku sekarang. Hiks, setelah melakukan ini besok pagi harus kucuci tubuhku dengan sabun sebanyak mungkin. "Tuan....Tuan pasti lelah seharian mencari Tupai Jelek ini...." ucapku sambil mulai membelai kepala dan tubuh Valko. Kuelus pelan kepalanya tepat di bagian dahi. Satu tanganku lagi mengelusnya pelan tepat di bagian pinggang. "Tupai Jelek ini bodoh, saya minta maaf sudah kabur, Tuan...." ucapku lirih dan manja di telinganya. Belaian kedua tanganku mulai kupercepat dan kuperlembut. Apa ide gila ini berhasil? "Tu...an...." panggilku lirih untuk mengecek kesadaran Valko. "Apakah Tuan sudah tidur?" ia tak bereaksi. Kurasa aku harus melaksanakan aksi selanjutnya. "Tuan tidak memaafkan Tupai Jelek ini?" tanyaku manja dan memelas. "Baiklah, Tupai Jelek ini akan bersimpuh meminta maaf hingga Tuan memaafkannya...." aku menghentikan belaianku dan mulai menggeser badanku untuk bangun. BLAR!!! Mata Valko terbuka, kurasa dia merasakan gerakanku. Tatapannya mengerikan, aku takut. Tapi, aku berusaha melawan rasa takutku dengan senyum palsu. Ia cemberut, kurasa ia kecewa tidurnya terngganggu karena aksiku.
"Aku butuh istirahat!" ia memeluk tubuhku lagi. "Kau bisa meminta maaf dengan membelaiku sepanjang malam!" gerutunya. WHAT? Jadi, dia suka kubelai? Hihihi, kurasa aku mendapatkan satu senjata menjinakkan Serigala Playboy ini.
"Tuan..." panggilku lirih sambil mulai membelainya lagi. "Tolong jangan pecat Bibi Ann...Tupai Jelek ini yang salah...." ia tak bereaksi. "Tuan...Tuan...." aku menghentikan belaianku dan terus-menerus memanggilnya dengan sebutan Tuan dengan manja. "Tuan...Tuan...." panggilku terus menerus dengan berulang kali. Mungkin hampir mirip dengung sayap lebah. BLAR!!! Mata Valko terbuka lagi.
"Apa kau tak bisa membiarkanku tidur nyenyak, Tupai Jelek?!" ia menatapku tajam sambil memegang daguku. Hiks, raut wajahnya mengerikan. Jangan takut, maju terus pantang mundur, ucapku pada diriku sendiri.
"Tupai ini tidak akan berhenti berbicara sampai Tuan membatalkan pemecatan Bibi Ann...." aku memberanikan diri bersuara. Sial, cengkeraman di daguku terasa diperkuat.
__ADS_1
"Aku bisa membungkam mulutmu, yang kubutuhkan hanya tubuhmu untuk kupeluk. Bukan mulut terkutukmu yang berisik itu!" ia menatapku tajam. Hiks, aku takut. Reaksi ini di luar dugaanku. Aku punya ide gila lain. CUP!!! MUACH!!! Kucium dahi Valko. Matanya terlihat melotot, kurasa dia kaget dengan aksiku ini.
"Jika Tuan membekap mulutku...maka Tupai Jelek ini tidak bisa memanjakan Tuan dengan mulut mungilnya. Tupai ini tulus ingin meminta maaf pada Tuan...." ucapku manja dan memelas sambil memeluk tubuh Valko kembali.
"HUH!!!" dengus Valko. "MAY!" teriaknya kencang.
"I...i...ya, Tu...an...." Sekretaris May masuk dengan raut wajah takut.
"Batalkan pemecatan Bibi Ann!" teriak Valko. Apa berarti ide gilaku berhasil? Apa ini bisa jadi senjata untuk menjinakkan Serigala ini di masa depan? "Kau dengar Tupai! Aku sudah membatalkannya! Sekarang tutup mulutmu yang berisik itu!" ia kembali memeluk tubuhku dengan erat. Kali ini bahkan seperti memeluk sebuah guling kurasa. Kaki panjangnya menindih kakiku yang mungil. Sialnya, aku dan dia tak dibatasi apa pun, bersentuhan secara langsung. Hiks, tubuhku yang berharga dipeluk oleh Valko. "Kau bilang ingin meminta maaf padaku?! HUH?!" dengus Valko.
"Iya, Tuan. Tupai Jelek ini minta maaf," aku langsung kembali mengelus-elus dahi dan tubuh Valko. Sesekali dahinya kukecup. Hiks, bibirku yang murni dan berharga, maafkan aku.
DRET! DRET! DRET! Kurasakan getaran di saku celanaku. Saat kubuka mataku, jantungku rasanya ingin melompat keluar. Wajahku jaraknya sangat dekat dengan wajah Valko. Untung saja, bibir berhargaku ini tak bersentuhan dengan bibir Valko. Hiks, bibirku sudah sedikit ternoda akibat siasat gilaku tadi malam. Valko masih memeluk tubuhku dengan erat. Kaki mungilku bahlan masih terjepit di kakinya yang panjang. Kugeser kakiku dengan sangat hati-hati. Aku membalik badan dengan sangat hati-hati dan perlahan. Kuambil smartphone-ku dari saku celanaku. Astaga, sekarang jadwal bimbingan skripsiku! Aku harus berangkat pagi nih! Saat aku hendak bangkit....
"EHM!!!" terdengar suara Valko. Dia mengingau sambil menggerakkan tangannya untuk memeluk tubuhku lagi. Hiks, aku harus bimbingan hari ini Serigala Gila!
Apa yang harus kulakukan? Kuambil bantal di depanku dengan hati-hati. Sangat perlahan-lahan kugeser tubuhku ke bagian tepi tempat tidur. Guling itu perlahan dari atas kuletakkan dalam pelukan Valko. Apa ini berhasil? Saat aku hendak melangkah turun dari ranjang....
"EHM!!!" terdengar suara Valko. "KAU..." aku langsung berhenti melangkah.
Aku pun kembali ke kamar waktu itu, aku harus segera pulang ke rumah. Segala senjataku dalam menjadi pejuang skripsi masih ada di rumah orang tuaku. Saat aku masuk ke kamar itu....
"No...na...." nampak Bibi Ann sedang menyapu kamar itu. Dia terlihat salah tingkah saat menatapku. "Apa yang No...na lakukan di sini?" tanyanya. HUH! Dia bahkan tak berterima kasih padaku?
"Aku akan pulang ke rumah untuk suatu urusan! Jangan menghalangiku! Jika aku dihalangi maka aku akan kabur kembali dan aku akan melimpahkan kesalahan padamu dan para pelayan lain!" ucapku dengan angkuh sambil menunjuk ke arah Bibi Ann.
"Ampun, Nona. Ampun, tolong kasihani kami pelayan yang rendah ini. Tolong jangan kabur lagi, Nona. Tolong jangan buat Tuan Valko marah lagi. Kami pasti akan melayani Nona dengan sepenuh hati seperti kami melayani Tuan Valko....." ucap Bibi Ann. Aku tahu jika dia sedang menjilatku.
"Ya sudah, jangan ganggu aku!" ucapku. Segera kuambil pakaianku di dalam koper.
"Biarkan saya melayani Anda, Nona..."
__ADS_1
"Tak perlu, aku bisa mandi sendiri," jawabku ketus. Aku lebih suka melakukan apa pun sendirian. Meski di rumah orang tuaku ada pelayan tapi aku lebih suka melakukan hampir segala hal secara mandiri.
Seperti pikiranku tadi malam, aku memasukkan banyak sabun ke dalam bak mandiku. Hanya ada aroma lavender. Ya sudahlah tak apa-apa. Saat aku selesai dan ingin menggosok gigi. HAH?! Bahkan pasta gigi dan obat kumur pun beraroma lavender? Hiks, kurasa namaku harus berganti dari Zeta (mawar) menjadi Lavender (bunga lavender). Setelah selesai mandi, kupakai rok kain hitam dan kemeja flanel kotak-kotak. Aku mau menghadap dosen,jadi harus memakai kostum ini.
"No...na..." Sekretaris May nampak kaget melihatku turun dari lantai atas. Dia kurasa ketakutan seperti melihat hantu. "Mengapa Anda di sini? Nona, kembalilah...."
"Aku harus pulang ke rumah untuk bimbingan skripsi. Hari ini jadwal bimbinganku. Dosen pembimbingku sulit ditemui. Jadi, kuharap mengertilah...."
"Tapi, Nona. Tuan Valko akan marah jika tidurnya terganggu akibat Anda tak ada di sampingnya...."
"Dia takkan terganggu, dia masih...."
"TUPAI!!!" terdengar teriakan mengerikan seperti raungan singa. "DIMANA KAU?!" astaga, teriakannya seakan bisa membuat runtuh dinding rumah. DRAP! DRAP! DRAP! Tersengar suara langkah menuruni tangga. "TUPAI!" teriaknya. Dia masih membawa guling di tangan kanannya. Wajahnya terlihat amat murka. "Siapa yang memberimu ijin bangun sepagi ini?! HAH?! Ini masih jam 5 pagi! Kembali ke kamar...SEKARANG!!!" teriaknya sambil berkacak pinggang.
"Tuan..." kurasa aku harus merayu lagi seperti tadi malam. "Tuan, maafkan Tupai Jelek ini...." aku berakting memelas sambil bersimpuh di lantai. Bagi ratu akting teater kampus, hal seperti ini mudah bagiku. "Tuan, Tupai ini tidak ingin mengganggu tidur Tuan yang berharga. Tapi...bagaimana lagi...Tupai Jelek ini harus menyelesaikan skripsinya...." aku pura-pura hendak menangis. "Tupai ini harus bimbingan skripsi hari ini, Tuan. Tolong ijinkan Tupai ini pergi..." kumohon berhasilah. Aku ingin bebas sejenak dari Valko! Dia pasti harus berangkat ke kantor, tak mungkin dia bisa mengikutiku ke kampus.
"HUH! Kampus mana yang buka jam 5 pagi? Kau pikir aku bodoh?! Ayo, kembali!" ia tiba-tiba menarik tanganku dengan kasar.
"VALKO!" teriakku kencang. Astaga, aku memanggil namanya secara langsung lagi. Sudahlah, masa bodoh. Aku muak berakting lenah lagi. "Aku memang hanya bantal tidur bagimu! Tapi, aku juga manusia yang memiliki tanggungjawab! Biarkan aku pergi untuk bimbingan atau aku akan mengadukanmu pada kakekmu karena menghalangiku menyelesaikan pendidikanku! Ingat di perjanjian pra-nikah kau takkan menghalangiku untuk kuliah sesukaku! Ingat itu, Valko!" mungkin aku gila. Aku berani membentak Valko bahkan menunjuk ke arahnya secara langsung. Raut wajah Valko tak berubah. Dia hanya terdiam saja.
"HUH!" dengusnya. "May, siapkan mobil! Aku akan mengikuti Tupai Kecilku ini pergi!" perintah Valko. BRUK!!! Tiba-tiba saja dia sudah membuat tubuhku terpanggul di bahunya seperti karung. WHAT? Dia akan ikut ke kampus? HUA! Mengapa jadi seperti ini? Aku kan ingin bebas sejenak darinya.
"Tu...an..." panggilku lirih. "Bukankah Anda harus pergi ke kantor?"
"Aku mengambil cuti untuk bulan madu denganmu, Tupai Kecilku!" ucapnya sambil tersenyum licik. WHAT? Bulan madu? TIDAK!!! Apa yang harus kulakukan? 😣
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍