
Mobil ini terus melaju menembus jalanan yang ramai. Valko tertidur di pangkuanku seperti biasanya. Kurasa sekarang dia menjadi pangeran tidur yang makin kecanduan tidur. Tapi, tak masalah aku sudah terbiasa dengan hal ini. Di jendela mobil nampak bangunan gedung yang tak asing. Itu bangunan rumah sakit, tempat Ayah Mertua dirawat. Mobil ini memasuki area gedung rumah sakit itu.
"Nona, Tuan, sudah sampai," ucap Sekretaris May.
"Valko...." panggilku lirih sambil menyentuh ujung hidung Valko dengan jari telunjukku. "Hubby, bangun sudah sampai!" ucapku lagi. "Ayo, bangun! Bangun!" ucapku lagi sambil terus memencet ujung hidung Valko.
"Ah! Mama...." panggil Valko. Dia bangkit dari pangkuankua. Tangannya mengucek-ucek matanya. "Ternyata cuma mimpi...." ucap Valko sambil menghela napas.
"Ada apa?" tanyaku sambil membantu membenahi rambut Valko.
"Aku bermimpi bertemu Mama, Zeta. Aku dan Mama sedang berada di pantai. Mama ada di kejauhan. Dia menatapku sambil tersenyum. Kedua tangannya mengarah untuk memelukku. Aku berlari ke sana dengan penuh semangat. Saat aku hendak berlari, aku sudah terbangun. Padahal tadi sudah sangat dekat...." ucap Valko. Matanya nampak memendam rasa kecewa. Aku jadi merasa bersalah sudah membangunkannya.
"Ehm...maafkan a...ku, Hubby. Aku tak ta...hu...ji...ka...kau...." ucapku lirih.
"Sudahlah lupakan. Ini bukan salahmu, Zeta. Ayo, segera keluar. Papa pasti sudah menunggu kita," ajak Valko. Dia menggandeng tanganku. Aku dan Valko sudah turun dari mobil. "Biar aku saja yang membawa parselnya, May. Kau tunggu saja di sini," ucap Valko sambil mengambil parsel dari tangan Sekretaris May.
"Baik, Tuan," ucap Sekretaris May.
"Ayo, Zeta!" ucap Valko lagi. Tangan kirinya menggandeng tanganku. Tangan kanannya membawa parsel itu.
"Ehm, Tuan...." panggil Sekretaris May.
"Ada apa, May?" ucap Valko sambil menatap ke arah Sekretaris May.
"Ehm...tolong sampaikan salam saya untuk Tuan Kenrick, Tuan Fajar dan Nyonya Belenda," sahut Sekretaris May.
"Tentu," sahut Valko singkat.
__ADS_1
Valko berjalan dengan cepat memasuki gedung rumah sakit itu. Aku dan Valko menaiki lift. Untung saja lift ini hanya berisi kami berdua, tak ada pria lain. Jika ada pria lain, aku sudah membayangkan reaksi kecemburuan Valko.
Bagaimana ya keadaan Ayah Mertua? Kapan dia diperbolehkan pulang? Pertanyaan itu berputar di kepalaku. Pintu lift itu terbuka, sampailah ke sebuah lorong. Di lorong itu terdapat beberapa pintu. Valko membuka salah satu pintu.
"Ah, cucuku tercinta," ucap Nenek Belenda. Dia memeluk erat Valko. "Ah, Zeta Tersayang ternyata juga ada di sini," Nenek Belenda menghampiriku. Kucium tangan Nenek Belenda. Nenek Belenda mrmbalasnya dengan mencium kedua pipiku.
"Kau sudah datang, Nak," terdengar suara Ayah Mertua. Dia berusaha duduk bersandar di tempat tidurnya dengan bersandar pada bantal.
"Iya, Papa," Valko menghampiri Ayah Mertua. Dia mencium tangan Ayah Mertua. Oh, itu pemandangan yang membuat hatiku turut merasa tentram. "Ini kubawakan buah-buahan untuk Papa," Valko menaruh buah-buahan itu di atas meja.
"Kau tak perlu repot-repot. Kau datang kemari saja aku sudah sangat senang, Nak," Ayah Mertua memeluk Valko. "Ah, aku ijinkan memelukmu. Aku rindu padamu, Nak. Padahal baru sehari semalam kita tak bertemu," Ayah Mertua mencium dahi Valko. "Oh, Jagoan Kecilku, kau tetap saja membuatku gemas," Ayah Mertua mencubit kedua pipi Valko. "Betapa menggemaskannya dirimu," ucap Ayah Mertua.
"Papa, jangan lakukan ini di depan istriku. Aku malu...." ucap Valko lirih. Meski lirih tapi tetap saja aku bisa mendengarnya.
"Ah, aku tetap tak bisa menahan diriku untuk melakukannya," ucap Ayah Mertua. Dia mencium dahi Valko lagi.
"Jangan khawatir. Rasa sakit di kepalaku sudah banyak berkurang," sahut Ayah Mertua.
"Jangan khawatir, Cu. Dokter bilang kondisi ayahmu sudah stabil. Beberapa hari lagi perbannya sudah boleh dibuka. Sebentar lagi dia boleh pulang," sahut Nenek Belenda.
"Syukurlah," ucapku.
"Oh ya, Pa, Nek. May menitipkan salam untuk Papa dan Nenek. Oh ya, dimana Kakek?" tanya Valko.
"Kakekmu ada di kantor, Cu. Ehm, mau bagaimana lagi. Perusahaan keluarga tetap saja harus ada yang mengurus. Kasihan, suamiku sudah tua. Seharusnya menikmati hari tua yang tenang, tapi mau bagaimana lagi. Perusahaan itu tak ada yang mengurus," ucap Nenek Belenda.
Kurasa dia ingin menyindir Valko. Valko kan punya usaha sendiri. Kasihan juga sih Kakek Fajar tapi mau bagaimana lagi, Valko kan tak mungkin membelah diri seperti Amoeba.
__ADS_1
"Ah, aku dan Zeta harus segera pulang, Papa. Ini sudah sore, jam besuk hampir berakhir," ucap Valko. Kurasa dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan. "Aku pamit, Papa, Nenek," Valko mencium tangan Ayah Mertua. Aku pun melakukan hal yang sama.
"Tunggu, Cu," panggil Nenek Belenda. "Sebaiknya kau mengurus apa yang kita bicarakan kemarin. Jika kau belum ingin memikul tanggungjawab penuh dari kakekmu, setidaknya bantulah kakekmu. Pergilah sekarang, kau juga ada keperluan di sekitar daerah situ kan. Kudengar temanmu mengadakan acara di sekitar situ. Ah, ya, anggap saja pergi liburan dengan Zeta," ucap Nenek Belenda. Aku tak begitu paham apa maksudnya. Tapi, kurasa ini tentang pengelolaan usaha milik keluarga. "Zeta, kau pasti pusing kan mengerjakan skripsi kan? Aku pernah menjadi mahasiswi juga. Kau pasti butuh refreshing kan?"
"Ehm...." aku ragu menjawab apa.
"Ah, wajahmu sudah menjawab iya. Valko, istrimu butuh berlibur. Kurasa kau tak keberatan kan pergi ke sana? Asal kau tahu dari semua usaha yang dibangun oleh keluarga kita. Usaha inilah yang paling diimpikan oleh mendiang ibumu...."
"Usaha yang paling diimpikan Mama?" ucap Valko. "Kenapa ceritanya seolah jadi berbenturan seperti ini," Valko menghela napas. "Baiklah, aku akan pergi ke sana, Nenek."
"Ah, bagus. Jangan khawatir, kau tak akan banyak pekerjaan di sana. Anggap saja berlibur. Kau tinggal mengecek...." ucap Nenek Belenda.
"Iya, iya. Aku mengerti, Nek. Ayo, Zeta!" Valko menggandengku keluar dari kamar itu.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran rumah sakit, Valko tak berbicara. Aku jadi makin penasaran, usaha apa, ya? Kenapa Valko nampak ragu untuk diminta membantu. Nampak lobi rumah sakit di depan sana. Sebuah mobil ada di depan mobil itu. Nampak Sekretaris May membukakan pintu mobil. Valko dan aku segera masuk ke sana.
"May, siapkan pesawat! Aku akan pergi bersama Zeta sesuai keinginan Kakek! Kurasa ini saatnya menghadapi ketakutanku sendiri!" ucap Valko.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
__ADS_1
Thank you 😍